My Posesif Rich Man

My Posesif Rich Man
S t u d i o


__ADS_3

Alula berdandan cantik, kali ini Raden menyarankan dirinya memakai busana kasual, karena bukan makan malam romantis tapi suatu tempat kesukaan Alula yang dia bangun jauh sebelum Kaesang lahir.


Alula mengenakan kaos merah muda longgar di padukan dengan celana pendek putih dan sepatu berwarna senada.


Kaesang sengaja di tinggal bersama beberapa baby sitter barunya, sore tadi Raden yang membawa pengasuh terbaik Kaesang dengan bayaran cukup tinggi.


Setidaknya Alula tidak terlalu lelah karena beberapa pengasuh ikut membantunya.


Kaesang penurut, kalau sudah di berikan ASI eksklusif pasti tertidur, jika tidak pun asal di ajak bermain hal baru bocah kecil itu diam.


Malam ini Raden dan Alula pergi tanpa Kaesang. Seperti biasa, ada beberapa mobil pengawal yang mengikuti mobil mereka, semenjak kejadian di kamar hotel, Raden selalu memperketat penjagaan agar Alula terus aman dan nyaman.


Alula turun dari mobil dan pandangan langsung menyisir setiap sudut, bahkan mendongak menatap logo A-studio di atas bangunan berlantai empat itu.


Bangunan mewah yang di kelilingi kaca transparan, Raden sengaja membuat bangunan ini lebih fotogenik karena pengembang perusahaan ini anak-anak muda.


Setelah cukup dengan pergulatan batin yang bertanya-tanya Alula menoleh menatap Raden yang tersenyum menatapnya kebingungan.


"Ini apa? Dan untuk apa Papi bawa Mammi ke sini?"


Raden tersenyum. "Ini milik mu dan Arga."


"Hah?" Alula tak mampu berkedip. Miliknya dan Arga? Yang benar saja! "Maksud Papi?"


"Lebih baik. Sekarang kita masuk." Raden meraih tangan mulus Alula kemudian menariknya masuk melewati pintu geser otomatis.


Suasana malam membuat bangunan mewah ini terkesan glamor dengan lampu-lampu terang dan banner menyala.


"Papi, ..."


Raden menghentikan langkah tepat di tengah-tengah lobby bangunan, dia memposisikan tubuhnya di belakang Alula.


Sementara Alula sendiri masih terus mengerut kening kebingungan mencari tahu apa yang sebenarnya Raden ingin lakukan.


Raden peluk Alula dari belakang lalu menunjukkan satu pintu kaca hitam di sudut tempat. Ada dua pintu masuk kantor ini, satu di pojok kanan dan satunya lagi di pojok kiri.


Sepertinya kedua pintu itu sangat berbeda sekali dari kondisi dan isi ruangan dalamnya. Bisa di lihat sebelah kiri serba merah muda sementara di sisi kanan serba hitam putih.


"Yang pink itu milik mu sayang, di sana sudah di lengkapi dengan peralatan canggih dan ruangan kerja nyaman yang memungkinkan para seniman animasi mu bekerja maksimal dan menghasilkan gambar-gambar yang tampak hidup."


Alula tercengang mendengar uraian kata dari bibir suaminya. "Seniman animasi ku?"


Raden mengangguk. "Yah, milik mu Sayang. Goresan demi goresan membentuk objek dari yang datar menjadi tiga dimensi." Jelasnya.


"Dan tentu semua itu juga tidak bisa jalan tanpa piranti lunak generasi terkini yang canggih. Makanya, Papi juga mendukung Arga untuk mengembangkan perusahaan software sesuai keinginan nya di sebelah studio animasi mu."


"Dengan begitu, Sayang bisa memakai software yang Arga kembangkan untuk pembuatan animasi."


"Benarkah?"


"Hmm." Angguk Raden tersenyum. Sesekali menyerang pipi Alula karena rindu yang masih menggelayuti.

__ADS_1


"Boleh Mammi masuk studio nya?" Alula masih sibuk dengan rasa penasaran.


"Boleh." Kembali Raden menggandeng Alula untuk di bawa masuk ke dalam studio animasi barunya.


Tempat serba merah muda yang cukup estetika. Mulai sekarang Alula tidak perlu lagi repot-repot mendatangi studio animasi milik keluarga Galang. Dia sudah menjadi owner.


Studio mewah permohonan Alula yang ingin Raden penuhi setelah menjadi seorang suami dan beranjak sebagai seorang ayah.


Raden mau Alula tidak kehilangan masa mudanya. Raden mau Alula menjadi komikus dan animator terbaik seperti harapan Alula.


Alula merotasi kan pandangan yang menakjubkan baginya, di mana pen tablet berukuran super besar teronggok di setiap sudut dan meja kerja.


"Kapan ini di buat?"


Alula menoleh kagum. Dan Raden menikmati setiap ekspresi wajah bahagia yang Alula kemukakan.


"Sebenarnya masih kurang dua puluh persen lagi untuk bisa di pakai, tapi karena Mammi ngambek terus dari kemarin, terpaksa malam ini juga Papi bawa Mammi ke sini." Ujarnya.


Alula menyengir. "Maaf."


Raden menggeleng sambil mendekat. "Aku yang salah. Maaf sudah mengacuhkan mu. Padahal sesukses apa pun aku, hidup tidak akan berwarna tanpa tercinta, terkasih dan tersayang seperti mu."


Alula menarik sudut bibirnya. "Baru nyadar? Ya Tuhan, kemana ajah kemarin?"


Raden tergelak kecil. "Terima kasih sudah mau repot-repot hamil putra ku, mengurusnya juga menyayangi dirinya. Maafkan aku, mulai sekarang, janji, aku akan selalu ada untuk mu. Kecuali kalau memang harus pergi, tolong beri suamimu doa yang terbaik." Katanya.


Alula terdiam tersenyum.


Alula mengangguk kemudian melingkarkan tangan pada tengkuk gagah Raden. "Di maaf kan tapi sesuai janji, harus di laksanakan."


Raden mengangguk setuju. "Pasti. Baby menyukainya?"


"Sangat suka. Terima kasih, ini sangat luar biasa. Jadi Mammi bisa mengumpulkan temen-temen animator di sini kan?"


"Tentu saja, ajak mereka bergabung dan kalian bisa dengan tenang menciptakan suatu maha karya. Studio ini akan menjadi studio animasi pusat dengan fasilitas terlengkap. Menjadi studio kreatif dan animasi terbesar di kawasan Asia, ratusan talent animator akan menggawangi perusahaan ini."


"Bicara masalah kedepannya, Papi sudah bicarakan dengan beberapa teman yang memiliki studio animasi terkemuka di beberapa negara, Mammi bisa langsung menggarap proyek terkenal besutan mereka."


"Serius?" Alula membulat matanya.


"Serius, mereka pernah melihat sampel animasi yang pernah Mammi buat. Dan mereka menyukainya."


"Terima kasih Papi." Alula menarik tengkuk suaminya, kemudian memberikan kecupan hangat di bibir sensual Raden.


Raden juga membalasnya karena gairah sudah semakin menggunung. Belitan bibir mereka menghasilkan suara kecapan erotis.


Raden menyudutkan Alula pada salah satu meja. Elusan menggoda Alula arahkan pada bagian paling sensitif suaminya, gemas dengan itu dia pun meremas nya hingga mengeluarkan desah merdu sang Raden.


"Jangan menggodaku di sini Sayang." Raden berusaha menghentikan cumbu mesra istrinya namun Alula masih tetap melanjutkan.


Kantor ini masih sepi dan tidak ada orang selain mereka. Jadi untuk apa bingung. Mereka bisa melakukan kapan saja tanpa halangan di sini.

__ADS_1


Raden benar, saking bahagianya Alula sampai tak sadar bahwa mereka tidak sedang berada di rumah.


Kancing kemeja Raden Alula lepas satu persatu, sementara mata keduanya saling bertemu. Ada gairah menggebu yang tertanam di nanar nya netra hijau Raden.


Wajah Alula memesona, tak pernah bisa Raden membuang hasrat membara Nya saat bersama dengan istri kecilnya. Tubuh yang semakin berisi, sintal begitu menggemaskan.


Kaos oblong milik Alula pun dia lepas. Hingga tersuguh lah buah kenyal yang menantang gairahnya. "Seksi."


Alula tersenyum. "Tidak mudah menjadi istri yang baik, dan mungkin hanya ini yang bisa Alula berikan untuk laki-laki bergelimang harta seperti mu."


Tak menunggu lama, Raden tersenyum seraya membalikan tubuh Alula yang dia hadapkan pada meja kerja.


Dari belakang Raden akan memulainya tentunya setelah menurunkan separuh celana pendek milik Alula juga celana jeans hitam miliknya.


Rindu yang menggelumat memaksanya untuk menagih itu. Sempat kesulitan mencari jalan di mana pintu nikmat istrinya. Tapi Alula sedikit membungkuk mencoba memberikan akses terbaik bagi suaminya.


"Ah aw."


Lamat-lamat desah pun mulai terdengar, membuat Raden semakin bersemangat. Sayangnya belum apa-apa ponsel miliknya sudah berdering.


Alula menoleh. "Sayang."


"Hmm?" Raden seolah malas jika harus mengangkat telepon padahal sebentar lagi goal.


"Kaes menangis kah?"


"Tidak tahu,.." Acuh Raden.


"Coba angkat, siapa tahu Ibu atau Ayu." Alula membalik tubuhnya lalu membetulkan posisi pakaiannya.


Meski tak ingin Raden tetap melakukan hal yang Alula perintahkan, merogoh saku dan meraih ponsel miliknya. Rupanya Arga yang menelepon.


"Arga, tumben."


"Coba angkat."


"Yah." Raden menggeser tombol terima dan menyapa kesal.


📞 "Ibu di rumah sakit, dokter bilang harus operasi."


"Operasi?" Melotot seketika netra hijau Raden. Gemetar tubuhnya mendengar berita itu. Sore tadi Karlina bilang hanya penyakit biasa lalu sekarang kenapa harus di operasi?


📞 "Yah, sekarang aku sama Ayu di rumah sakit, Kaesang aku tinggal dengan Bang Bas di rumah."


"Bas datang?"


📞 "Ada Emelly juga bersamanya."


"Aku ke rumah sakit sekarang." Berwajah cemas Raden menutup telepon. Ia beralih menatap Alula nanar. "Ibu di rumah sakit dan harus operasi."


"Kok bisa?"

__ADS_1


__ADS_2