
Meja makan panjang itu sudah lengkap dengan peserta sarapan pagi. Abimanyu duduk di kursi utama seperti biasa dan Raden duduk di kursi utama sisi lainnya.
Alula di sisi kiri suaminya, Karlina di sisi kanan Raden, ayu di sisi ibunya sementara Arga di sisi kiri Alula.
Saat ada Raden, Abimanyu hanya di temani Eyang dan Lisya saja. Lelaki itu tahu, pasti anak-anak membencinya.
Kenapa kemarin masih baik, tapi sekarang Abimanyu merasa tersinggung dan kesepian. Apakah karena cinta pudar Karlina yang mulai dia ketahui?
Mereka makan dengan tenang tanpa suara. Selesai makan, barulah Abimanyu membuka obrolan. "Jadi Alula masih mau melanjutkan kuliah?"
Alula menoleh dengan tundukkan kepala reflek. "Iya Romo." Raden dan yang lainnya hanya mendengar.
"Hati-hati di jalannya, di tempat kuliah juga, ingat, ada cucu ku yang sedang berkembang di dalam perut mu." Tutur Abimanyu.
"Iya Romo." Sambung Alula patuh. Setidaknya meskipun berpoligami, Abimanyu masih menjadi mertua yang baik bagi Alula.
"Berita tentang keluarga mu hari ini sudah rilis, tidak usah cemas tentang pandangan orang terhadap mu, lanjutkan hidup mu seperti biasa, tidak akan ada yang bisa merendahkan mu hanya karena berita palsu." Kata Abimanyu.
Alula mengangguk. "Iya, Lula ucapkan terima kasih banyak." Raden ikut mengusap rambut istrinya, tanda ia juga bersyukur.
Abimanyu mengangkat ujung bibir dingin lalu bangkit dari duduk dan pergi setelah itu. Langkah gamang dia ayunkan. Entah akan seperti apa ia menjalani rumah tangga yang mulai tidak berada di bawah naungannya.
Di saat dirinya bahagia menyambut datangnya cucu pertama, Karlina justru semakin dingin saja padanya, berulang kali dia mendatangi kamar Karlina dan mencoba meminta maaf juga tanggapan tapi wanita itu terus menerus mencari alasan untuk tidak terlibat konfrontasi.
Entah kenapa, Lisya seolah tak menarik lagi baginya, dia mulai mencari hal yang selama ini melekat tanpa dia sadari dan tak ingin sekalipun dia kehilangannya.
Bahagianya, kesenangannya, kenyamanannya, rupanya masih sama yaitu datang dari Karlina. Lisya hanya obat di saat Karlina tidak lagi mampu membangkitkan semangat lelaki nya.
Setelah dirinya lelah dengan pencarian s e k s u a l, Abimanyu hanya ingin menikmati setiap embusan napas dengan mengobrol, bicara hati ke hati, bernostalgia, mengingat kembali masa muda sambil meminum teh bersama.
Tentu saja itu Syah, jika tidak berkhianat, kisah hidupnya akan memiliki happy ending jika tidak tergoda wanita lain.
Yang membuat Karlina bungkam dan tidak berniat mengakhiri kisahnya dengan happy ending adalah pengkhianatan dari seorang Abimanyu itu sendiri.
Abimanyu berdiri tepat di depan jendela besar kamar miliknya, menatap teras rumah yang akan di lewati semua anak-anaknya.
Sejenak Abimanyu mengingat kata-kata Karlina malam tadi sebelum tidur. Saat dirinya datang dan mencoba mengobrol dengan wanita itu setelah mengurus masalah Alula dan Emelly.
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan, supaya kamu mau bicara dengan ku?" Kata Abimanyu.
"Memangnya kita mau bicara apa?" Karlina hanya membelakangi suaminya yang duduk di sisi ranjang.
"Kamu membenci ku selama ini, dan aku baru menyadari, bertahun-tahun Lisya tinggal di sini dan kamu hanya diam saja, ku pikir kediaman mu sebuah tanda bahwa kau baik-baik saja. Ternyata kau membenciku Lin."
Karlina membalikkan badannya, menatap Abimanyu yang sendu. "Aku tidak membenci Mas Abi. Jika iya, pasti aku sudah pergi dari sini." Ujarnya.
"Tapi aku ada dan kamu tidak pernah mau bicara dengan ku. Bahkan tatapan mu seolah dingin padaku."
Karlina tersenyum getir. "Karena begitulah cara Mas menyiksa ku selama ini, sampai kapan pun aku tidak akan pergi dari rumah ini. Aku tidak akan minta bercerai sebelum Mas Abi sendiri yang menceraikan aku." Jelasnya.
"Tapi jangan berharap lebih, karena setiap hari kita akan terus seperti ini. Tidak ada lagi kesempatan untuk kita saling menghangatkan satu sama lain seperti sebelum Mas menikah lagi." Imbuhnya.
"Aku ada hanya untuk anak-anak dan janji ku pada almarhum ayah-ayah kita. Selebihnya terserah Mas Abi. Kalau memang Mas Abi mau menceraikan ku karena tidak lagi mau memberikan hak mu. Aku ikhlas." Timpalnya.
Abimanyu memejamkan matanya, mengingat kata-kata ironi yang malam tadi berderai dari mulut istri pertamanya.
Apakah harus ada perceraian setelah bertahun-tahun lamanya hidup bersama di bawah atap yang sama? Tapi jikalau tidak bercerai, sangat tipis kemungkinan Karlina memaafkan dirinya.
Tin tin...
Sekejap lamunan Abimanyu membuyar, saat matanya menatap kearah mobil sport berwarna merah, di depan teras sana Alula dan Raden sudah menaiki mobilnya.
Raden terus menerus memberikan ciuman kecil pada Alula. Memperlakukan wanita mungil itu secara baik.
Terlihat sekali Alula manja dan Raden memanjakan wanita mungil itu.
Seandainya saja cara Abi menjaga Karlina seperti Raden pada Alula yang tak pernah menuntut sempurna, seperti bisa memasak, menyetrika, mencuci pakaian, dan lain sebagainya, pasti Karlina akan terus terlihat menarik sampai tidak ada sedikitpun kesempatan untuk dia tertarik dan tergoda wanita lain.
Raden benar, jika sudah mampu menyewa banyak pelayan, lalu kenapa masih menuntut satu orang istri mengerjakan ini dan itu untuknya? Jika waktu istri hanya untuk mengurus rumah tangga. Lalu kapan punya waktu berdandan nya? Merawat dirinya? Bermanja-manja nya?
Karlina tidak akan pernah bisa membuat ranjangnya berderit seperti Lisya jika pekerjaan rumah tangga telah menguras tenaga.
...----------------...
Dari tempatnya, tak sengaja Raden menatap ayahnya yang masih setia bergeming memandangi dirinya bersama Alula. Ada kekosongan hati yang Raden tangkap dari wajah sendu ayahnya.
__ADS_1
Apa pun sesal itu. Semua sudah Raden serahkan pada Karlina, dia tak mau lagi ikut campur urusan rumah tangga orang tuanya. Biarkan kali ini Abi menyelesaikan kisah cinta segitiga nya. Entah itu Lisya yang di lepas atau Karlina yang terlepas.
Yang pasti, Raden masih putranya, sampai kapan pun Abimanyu ayah Raden. Tak ada mantan ayah atau pun anak kendatipun kedua orang tua harus berakhir berpisah.
"Malam ini aku mohon izin Bos. Aku ada perlu sebentar." Suara Bastian membuat pandangan Raden beralih dengan kening yang mengerut.
"Mau kemana? Ke rumah pemilik gelang kaki mu yang kemarin?"
"Kenapa Bos sudah mirip Mak Mak komplek? Terlalu kepo! Sudah ku bilang itu urusan ku." Sanggah Bastian.
"Aku penasaran saja. Apakah dia yang membuat seorang Bas tidak mau menikah?"
"Lula juga penasaran." Imbuh Alula menimpa.
"Meskipun aku tidak ingin berbagi cerita padamu Bos, tapi aku pastikan ucapan mu benar." Kata Bastian.
Alula membulat matanya. "Wah, siapa sih yang sudah merebut hati Casanova satu ini?"
"Jangan senang begitu Nyonya muda, karena kami hanya akan memiliki akhir kisah yang sad ending." Cetus Bastian.
"Kenapa?" Alula dan Raden menyeletuk bersamaan.
"Kami tidak akan pernah pantas bersama. Aku dan dia sangat berbeda. Dia wanita baik-baik dan aku hanya pecundang." Ungkap Bastian.
Alula mengernyit. "Hei. Kenapa Om Bas jadi melankolis begini? Perjuangkan cinta Om, dan menikah lah. Hidup bukan soal bersenang-senang saja, ada masa tua yang harus di jalani bersama pasangan, mengobrol, membicarakan masa depan anak-anak dan hal seru lainnya yang tidak boleh di lewatkan, menunggu ajal datang akan terasa menyenangkan jika bersama yang tersayang."
"Seperti aku dan Baby." Sela Raden menyengir.
"Setia dulu, baru bilang begitu." Protes Alula.
"Masih meragukan ku?" Cubitan di kedua pipi Alula dapati.
"Ada yang namanya puber ke dua, tapi saat itu terjadi sama Om, Lula mau menjelma menjadi wanita yang super seksi." Alula berbicara lengkap dengan gestur seksinya.
"My good girl." Raden melabuhkan kecupan lembut pada bibir mungil wanita itu.
Bastian hanya menggeleng ringan. "Norak."
__ADS_1