
Kriiiiiing.....
Di atas sofa putih pada rumah kaca, sepasang kekasih tengah dalam perjalanan menuju surga dunia, keringat mengucur, gelora asmara yang membuncah menggelumat, dinginnya malam yang di iringi rintikan hujan tak pula menjadi halangan buliran itu mengaliri lekukan tubuhnya.
Deru dera napas bersahutan, beriringan dengan gerakan naik turun wanita cantik nan seksi itu. Tatapan nakal yang berawal dari kesakitan pun terlukis.
Bastian duduk bersandar pada sofa dan Emelly berada di atasnya.
Emelly Missy, telah dalam peraduan erotis bersama sang kekasih, berbagai macam gaya telah mereka coba dan semuanya nikmat di rasa.
Sudah pernah merasakannya tapi bagi Emelly kali ini dia sadar dan mampu mengacungkan jempol untuk lawan duelnya.
Emelly sering kali penasaran, bagaimana cara Bastian menyentuhnya. Bagaimana ekspresi Bastian saat menikmatinya.
Rupanya lelaki itu benar-benar sangat tampan lagi gagah. Seolah-olah dirinya memberikan bongkahan batu berlian. Bastian terlihat bahagia.
"Kamu luar biasa Bas." Pujinya. Ruang sempitnya penuh oleh benda berotot milik Bastian.
"Sudah tidak sakit?" Bersuara parau pria itu menyeletuk. Setelah drama menangis sepertinya Emelly sudah sangat menikmatinya. Bahkan kini bergerak liar dan memimpin permainan.
"Tidak." Emelly menggeleng dan Bastian terkekeh kecil, "Aku menyayangi mu." Ucapnya pasrah. Sedari tadi Emelly yang bergerak dan Bastian menyandar menikmatinya.
"Bagaimana kalo aku tidak?" Sanggah Emelly.
"Akan aku buat kau juga menggilai ku!" Sahut Bastian. Sesekali membantu gerakan lutut Emelly yang mulai melemah.
Emelly tersenyum. "Seorang Casanova seperti mu pasti tidak sulit membuat wanita jatuh cinta." Katanya.
"Aku tidak punya perusahaan sendiri, tapi aku punya cinta dan kesetiaan yang bisa aku tawarkan padamu."
"Apa cukup?" Emelly mendekati bibir Bastian hingga napas mereka saling bersahutan.
Tatapan lekat jatuh pada iris coklat milik Emelly. "Jika kau tak mau menerima, terserah padamu." Lirihnya.
Kriiiiiing.....
__ADS_1
"Angkat saja dulu! Dari tadi mengganggu terus." Kesal Emelly cemberut.
Bastian terkekeh, baginya, kesal Emelly, marah Emelly bahkan senyum Emelly sangat menggoda, ia meraih celana dan merogoh ponselnya dari dalam saku, sesekali melepas desah saat Emelly dengan sengaja menghujam nya.
"Slowly, aku harus mengangkat telepon dari Bos." Kata Bastian tersenggal-senggal. Dia mulai menggeser tombol terima saat Emelly mengangguk setuju.
📞 "Kemana saja kau?" Bastian menjauhkan diri dari ponselnya mendengar sang Tuan berteriak, lalu kembali menempelkan pada telinga. Sementara Emelly masih sibuk naik turun bahkan terkesan tidak peduli.
"Maaf Bos, darurat." Terengah-engah Bastian menjawabnya. Tanpa sadar desah keduanya bertempur kembali saat sudah memasuki tahap yang begitu nikmat.
Tentu saja seseorang di seberang sana mendengar pergumulan mereka. "Agh, pelan-pelan." Lirih Bastian.
📞 "Ya Tuhan, Bas! Jadi kau bersama wanita mu lagi?"
"Bukan Bos, dia calon istri ku." Sanggah Bastian terkekeh. Pria itu melenguh panjang saat Emelly sengaja mempermainkan gelenyar candu nya. "Please, biarkan aku bicara." Bisiknya pada Emelly memelas.
📞 "Sial, asisten tidak sopan! Sekarang baca pesan ku Bas! Atau aku pecat!" Raden mematikan sambungan telepon setelah berteriak.
"Astaga, Bos marah besar." Ada gelak kecil saat berucap.
"Aku buka pesan teks dulu." Bastian membuka satu pesan teks dari Raden, dan mengernyit dahinya seketika itu juga.
"Ada apa?"
Bastian mendongak. "Nyonya muda terpeleset."
"Benarkah?"
"Aku harus ke rumah sakit Emelly. Cukup bermain-main nya, biar aku yang menyelesaikan permainan ini."
Emelly lalu turun dan membelakangi Bastian, membiarkan Bastian mengambil alih kemudi untuk pencapaian ke puncak surga dunianya.
Dari posisi ini Bastian akan lebih mudah menggapai akhir dari kenikmatan ini. Dua tangan sekaligus meremat buah yang menggantung nan besar kepunyaan Emelly.
Erangan kembali tersiar, Bastian menyeringai, dengan langkah ini dia akan membuat seorang Emelly jatuh cinta padanya.
__ADS_1
...----------------...
Di sisi lain, Arga menghubungi beberapa bodyguard milik Abimanyu yang biasanya dia tolak jika sampai mengikuti. Kali ini Arga menelepon untuk memberikan tugas tambahan.
Arga duduk di atas kursi kemudi, menatap ke arah pintu masuk utama sebuah klab malam elit. Dia masih di sana sampai detik ini, ada sesuatu yang perlu dia intai dan selidiki.
Barusan dia melihat, Lisya sang ibu tiri berdandan bag super model dan duduk di kursi bartender.
Pantas saja, akhir akhir ini Lisya sering beralasan ingin pulang ke rumah orang tua. Jadi ini alasannya, agar lebih bebas mencari mangsa.
Apa karena sekarang Abimanyu tidak menemaninya tidur, Lisya sudah gatal sentuhan seorang lelaki.
Lalu bagaimana dengan Karlina yang setia meski tak mendapat sentuhan dari Abimanyu selama Lisya menguasainya.
Arga penasaran, apa alasannya Lisya mencari berondong dengan penawaran yang mahal, kenapa ada perempuan seperti Lisya ini. Di berikan jatah bulanan tinggi lalu untuk bersenang-senang dengan pemuda lain.
📞 "Halo Tuan muda."
"Aku perlu bantuan mu. Datang ke klab PrimeBB sekarang juga, ada yang harus kamu selidiki." Titahnya.
📞 "Baik Tuan muda."
Arga mematikan panggilan, lalu meraup perlahan wajahnya, menyadarkan punggung pada joknya. Terdengar menghela napas berkali-kali.
"Kenapa aku masih saja kasihan sama Romo? Padahal dia sudah mengkhianati Ibu bertahun tahun." Gumamnya lirih.
Tak akan pernah ada kebencian seorang anak, meski apa pun alasannya, sebab setitik kasih yang dia rasakan akan menciptakan sebuah penghormatan yang menggunung.
Normalnya seorang anak akan memiliki sifat yang sama, yaitu menyayangi orang tua. Kendati dengan cara yang berbeda saat menunjukkan cintanya.
Selama ini, meskipun mendua, Abimanyu masih menjadi ayah yang baik bagi putra-putrinya. Itu lah alasan Raden, Arga dan Ayu masih menghormati lelaki tersebut.
📥 "Lo bilang nggak mau, kenapa nyuruh gue ngawasin ni Tante?" Pesan dari Boy yang baru saja Arga terima.
📤 "Gue mau tahu, malam ini dia ngobrol dan bertemu siapa saja. Jangan tanya kenapa dulu, ini darurat." Balas Arga.
__ADS_1
📥 "Siap." Boy mengakhiri percakapan mereka dengan kata itu.