
Raden tak tunggu waktu lama, ia segera menyelesaikan pekerjaan di Korea kemudian pulang dengan pesawat jet pribadi.
Gelisah gundah gulana mengiringi setiap embusan napas. Alula sampai tak mau mengangkat telepon darinya, itu berarti sudah sangat kecewa padanya.
Alula bukan wanita yang diam jika tidak suka, tapi kalau sampai diam tak mau mengeluh lagi, sudah pasti kecewanya lebih dalam.
Malam harinya meminta jatah di atas ranjang lalu subuh nya sudah menghilang. Siapa yang betah dengan perlakuan suami seperti itu. Sekarang dia takut Galang akan menjadi ancaman.
Hanya delapan setengah jam waktu kotor untuk perjalanan dari Korea ke Indonesia, sore ini Raden sudah lagi menginjak halaman rumah besarnya.
Pengawal yang berjaga menundukkan kepalanya segan, turun dari mobil Raden terus melangkah menaiki anak tangga terasnya.
Raden masuk dan Kamar Karlina yang lalu ia tuju pertama kalinya. Kemarin Ayu bilang Karlina sakit, maka Raden lebih memilih menilik ibunya terlebih dahulu.
Pintu kamar Karlina ia dorong, rupanya Karlina duduk menatap jendela besar dengan pandangan kosong.
Raden mendekat dan menekuk lutut, mendongak menatap ibunya dengan mata nanar. "Ibu baik?"
Cukup lama Karlina terdiam kemudian ia teringat sesuatu untuk di celetukan.
"Ibu sudah lelah." Lirih dan tak bertenaga saat Karlina mengatakan itu.
"Lelah kenapa?" Raden genggam tangan ibunya mencoba mentransfer kekuatan.
"Terlalu banyak hal yang Ibu alami, sekarang di saat seperti ini, Romo mu bahkan tak pernah membesuk Ibu."
"Mungkin Romo segan atau malu."
Karlina tersenyum getir. "Tidak pantas di maafkan kesalahan Romo mu, tapi untuk membencinya pun Ibu tidak mampu, apa menurut mu Ibu wanita terbodoh di dunia ini?"
Raden menggeleng. "Ibu wanita terhebat yang pernah Raden kenal, Ibu wanita terkuat dan terbaik yang pernah Raden kenal. Untuk menjadi seperti Ibu, bahkan Ayu dan Alula pun tak akan pernah mampu dan tidak akan Raden biarkan mampu. Mereka harus bersikap realistis tidak melankolis seperti Ibu."
...----------------...
Di lain tempat beberapa saat kemudian, Alula duduk pada sofa halaman belakang, serbuk sari dari bunga-bunga miliknya cukup menentramkan jiwa yang lelah.
__ADS_1
Dia ayun Kaesang yang tertidur pulas di atas ayunan rotan setelah hari ini ikut kuliah dan menjadi pusat perhatian.
Mengurus bayi sambil kuliah, itu perjuangan luar biasa. Alula kuat menjalani keduanya dengan baik meskipun sering merengut saat suaminya sibuk.
"Kaka ipar." Arga menjatuhkan pantatnya tepat di sisi Alula. "Nih." Pemuda tampan itu menyodorkan satu buah buku usang, yaitu novel karya Hilman Hariwijaya.
"Apa ini?" Alula menerima dengan tatapan mengarah pada wajah tampan adik iparnya.
"Itu novel bagus tahun 1992." Kata Arga.
Alula sempat mengernyit saat melihat judul novel yang cukup estetika, lain judulnya dengan novel jaman sekarang yang mengangkat ranjang panas dan gairah untuk di kedepankan sebagai daya tarik pembaca.
"Olga sepatu roda?"
Arga mengangguk. "Iya, itu novel jaman Eyang gadis. Dulu sempat menjadi trend di era nya. Penulisan sastra yang apik untuk tahun Sembilan puluhan." Jelasnya.
"Kamu baik begini, karena aku kakak ipar mu atau ada maksud lain?"
"Dulu aku pernah merusak sketsa gambar, novel sekaligus komik mu kan? Jadi anggap saja novel ini gantinya. Nanti kalau aku punya novel dan komik bagus lagi, aku kasih lagi."
"Aku suka cerita, entah itu komik, novel atau pun film bahkan game yang ada runtutan story nya aku suka."
"Jadi apa cita-cita mu?"
"Apa saja, asal bisa di banggakan dan sesuai dengan passion ku."
"Jangan bilang kamu juga gemar baca novel erotis jaman dulu." Alula menuding dengan tepukan buku yang mendarat pada paha Arga.
"Tapi jangan salah, mereka menulis itu bukan karena berotak kotor, yah memang perlu otak kotor untuk menuliskan hal yang seperti itu."
"Novel jaman dulu lebih banyak yang erotis. Kamu tahu kenapa, ada penulis yang sampai menulis dalam pengantar buku nya, dia mengaku di zaman nya, orang menulis kisah erotis karena didorong rasa lapar. Bayaran selembar kisah erotis bernilai satu dolar sungguh lumayan untuk membeli sesuatu pengganjal perut. Dia berpendapat rasa lapar menuntun kepada fantasi seksual, bukan kepada energi melakukan kuasa seksual."
"Oya? Kasihan sekali, tapi setidaknya sekarang banyak forum untuk mereka penulis menjadi dirinya sendiri, mengekpresikan yang mereka ilusi kan." Sambung Alula.
Arga tersenyum. "Kamu juga tetap semangat, komik yang kamu buat sudah sangat bagus. Aku menyukai cara mu membuat karakter tokoh mu. Jiwa komedi mu juga sangat menggelitik, jangan berhenti berkarya hanya karena melahirkan seorang anak. Di luar sana masih banyak animator bahkan komikus perempuan yang sudah memiliki banyak anak dan tetap eksis sampai sekarang." Tutur nya.
__ADS_1
"Aku tidak tahu, akan mendapat dukungan dari suamiku atau tidak." Lirih Alula sendu.
"Ehm." Raden berdiri tepat di sisi sofa yang Arga dan Alula duduki.
Wajah tak bersahabat mulai terusung. Kemarin Galang sekarang adiknya sendiri yang mencoba mendekati istrinya. Setidaknya Arga juga sangat tampan, bisa saja Alula terpincut jika sering bersama, apa lagi pembicaraan mereka nyambung karena memiliki kegemaran yang sama.
Raden diam tapi Arga tahu pesan tersirat dari Mas nya yang mengusir tanpa bicara. "Ok, gue pergi." Dia angkat tangan dan bangkit dari duduk kemudian pergi.
Alula berpaling arah. Alula diam saja. Wanita itu justru beralih pada ayunan Kaesang.
Raden duduk di sisi Alula, tak ada yang ingin dia lakukan selain menyentuh istri kecilnya, tak pernah bisa mangkir, baru melihatnya saja Raden sudah tidak mampu mengondisikan tangannya yang meraba pelan paha mulus Alula.
"Mammi sama Kaesang baik?"
Raden perlu membujuk istrinya dengan hal yang pasti akan membuat Alula luluh. Kendati di acuhkan. Dia meraih perut Alula pelan agar tidak menyakiti bekas jahitan. Dia peluk wanita itu dari belakang.
Bibirnya menempel pada cuping telinga Alula, tangannya iseng mengusap lembut kaki mungil Kaesang. "Mammi ada waktu hari ini? Ada yang mau Papi tunjukkan." Bujuknya merayu.
Usaha penting di lakukan. Agar keutuhan rumah tangga tetap terjaga. "Sayang mandi, dandan yang cantik, kita pergi ke suatu tempat." Ajaknya.
Alula melirik kecil. "Apa memangnya? Makan malam romantis di Restoran mewah? Belanja di butik atau apa? Lula males."
"Hey. Memangnya hanya itu saja yang bisa suami mu berikan? Ayolah, Mammi pasti suka." Sergah Raden.
Alula menarik sudut bibirnya. "Ujungnya juga Papi yang minta sesuatu nantinya. Biasanya juga gitu, Mammi protes terus di ajak dinner romantis, lalu berakhir di tempat tidur, sudah biasa."
Raden tergelak renyah. "Ya Tuhan, hapal sekali rupanya istriku." Ujarnya. Dia gemas dan mempererat pelukannya.
"Ini lain Yank, ada sesuatu yang perlu kamu kunjungi, dan tempat ini sengaja Papi buat jauh sebelum Kaes lahir. Sesuatu yang berbeda dari makam malam romantis, sesuatu yang mungkin akan membuat mu menyerahkan diri padaku saking senangnya."
Alula berpikir keras di balik kediamannya.
...----------------...
...Terimakasih saran nya, leher ku ringan sekarang. Terimakasih partisipasi komentar dan like nya ❤️...
__ADS_1