
Emelly menangis, mungkin sudah tidak ada rasa malu karena minuman memabukkan itu.
"Kenapa kepolosan selalu di anggap baik? Dan kenapa yang terlihat kaya selalu menjadi peran antagonis nya?" Lirihnya namun karena mic di bibirnya seisi ruangan mendengar suara itu.
Semua orang berbalik haluan, dari yang memuji keberuntungan Alula menjadi mencibir Alula Humaira.
"Jadi anak pelakor?"
"Papa." Lirih Alula nanar. Raden memeluk istrinya setelah memberikan kode kepada pengawalnya untuk mengondisikan Emelly.
Emelly di seret keluar setelah membuat kekacauan. Di pelaminan Alula setengahnya pingsan. Raden bergegas membawa istrinya masuk dengan cara menggendongnya.
Semua orang ricuh dengan gunjingan mulutnya masing-masing sementara Abimanyu mengutus beberapa antek-anteknya untuk mengikuti Aryan yang sepertinya akan melakukan sesuatu saat ini.
Alula tidak begitu saja Abimanyu terima tanpa saringan semestinya, sebelumnya lelaki bangsawan itu sudah mengecek seberapa layak menantunya itu di publikasikan dan Alula di nyatakan lolos setelah mengetahui seluk beluk keluarganya.
Di sudut tempat juga ada Bastian yang mulai mengambil peran, dia berjalan mengikuti Aryan yang sudah pasti bertindak saat merasa keluarganya di permalukan.
Lupakan kekacauan ini. Dalam kamar pengantin Alula justru menangis dengan pandang kosong.
Karlina mengondisikan menantunya, sementara pengawal membantu Raden mengganti pakaian.
Alula juga harus berganti pakaian di bantu pelayan dan Karlina secara langsung, bukan apa-apa tapi sengaja Karlina lakukan itu sambil memberikan penuturan pada Alula yang tengah dalam keadaan hamil. Terbukti dengan adanya wanita itu Alula menjadi lebih tenang.
Mengetahui kenyataan pahit bahwa ayahnya menikah dengan wanita lain, Alula syok, dia sangat memuja kesetiaan seorang Fajar.
Lalu malam ini Emelly bilang di hadapan semua orang bahwa Yasmin adalah pelakor? Alula tak mau menerima. Faktor kehamilan membuat Alula lebih rapuh dari sebelumnya.
Raden rapih dengan handuk kimono nya pengawal pun di perintahkan untuk keluar, ia berjalan menyusul ibu dan istrinya masuk ke dalam kamar mandi, rupanya Karlina dan beberapa pelayan sudah berhasil melucuti seluruh riasan ala bangsawan yang Alula kenakan.
"Biar Raden yang membantu Lula mandi Buk."
Karlina mengangguk menoleh pada putra pertamanya. "Baiklah, Ibu keluar," Karlina beralih pada mantunya. "Jangan berpikir macam-macam, percaya kan sama Romo mu, dia bisa mengatasi ini dengan baik." Tuturnya.
__ADS_1
Karlina tahu bagaimana cara seorang Abimanyu jika tentang pembersihan nama baik.
Alula mengangguk lebih lega setelah Karlina memberitahu nya tentang bagaimana silsilah keluarganya.
Sempat Eyang dan Abimanyu membicarakan hal tersebut bersama Aryan sebelum di rencanakan resepsi pernikahan.
Abimanyu tak mau ada kendala di kemudian hari, maka asal usul keluarga Alula pun harus dia telusuri. Tujuan nya ya untuk saat-saat seperti ini, Abimanyu akan ada solusi untuk penangkalnya nanti.
Alula terkejut, rupanya diam-diam Aryan yang ikut berkontribusi membantunya melewati tahap seleksi sebagai calon menantu di keluarga bangsawan ini.
Karlina keluar dari tempat itu kemudian Raden mendekati Alula untuk membantunya mandi berendam air hangat dengan wewangian aromaterapi agar lebih mudah merelaksasi kan pikiran.
Raden melucuti satu helai kain yang masih Alula pakai, lalu mendudukkan Alula pada bathub berisi racikan aromaterapi kemudian dirinya menanggalkan handuk kimono miliknya dan menyusul istrinya.
Tidak akan mungkin bisa tidur jika belum menenangkan pikiran, Raden lebih memilih mengajak Alula berbicara dari hati ke hati agar wanita hamil itu lebih membuka lagi pikirannya.
Dari hadapannya Raden tersenyum menatap Alula yang sama-sama sudah tenggelam di balik air susu dengan racikan aromaterapi tak lupa pula di taburi kelopak bunga mawar merah khas pengantin baru.
"Jangan terus berpikir buruk, Baby tidak seperti yang Emelly tuduhkan. Mungkin tidak sekarang, tapi besok atau lusa berita malam ini akan tertutup dengan berita kebenaran."
"Kenapa Bang Aryan tidak pernah memberitahu Lula masalah ini? Apa dia menganggap Lula anak kecil yang tidak perlu di beri tahu tentang hal ini?"
Raden beringsut, membuat Alula berada di atasnya, ia duduk bersandar pada bathub besar itu sedang Alula menyandar padanya.
Tubuh inti mereka menyatu tapi tidak untuk melakukan hubungan, "Dengar, Bang Aryan melakukan itu semua, bukan karena menganggap Baby tidak berhak tahu. Lebih tepatnya adalah, tidak ingin membuat luka pada hati polos adik-adiknya, cukup dia yang merasakan sakitnya. Seperti aku yang juga akan melakukan hal sama jika berada di posisinya." Jelasnya.
"Tapi ini berita yang sangat penting Om."
"Ssuutt, ini lah salah satu alasan Bang Aryan tidak memberi tahu mu. Baby ini masih terlalu sulit mengerti keadaan, Baby selalu berpikir buruk. Coba pikirkan bayi kita, jangan buat dia stress sebelum waktunya." Raden berikan kecupan di leher istrinya.
"Maaf."
Raden tersenyum, dia yakin besok pagi media sudah memberitakan kabar lain. Maka tak ada yang harus dia cemaskan.
__ADS_1
Melihat kecantikan dan kepolosan tubuh Alula. Sapuan jemari Raden mulai beranjak menyisir seluruh lekukan mulus wanita hamil itu.
Alula mengernyit sambil bergulir tubuhnya menatap sang suami. "Om tidak berniat mengajak malam pertama kan? Lula sudah hamil."
"Tidak sayang. Kita nikmati saja momen malam pengantin kita dengan saling memberikan sentuhan hangat seperti ini."
Alula melingkarkan tangannya pada tengkuk lelaki itu. "Om sabar kan?"
"Sangat sabar." Raden cubit dagu manis Alula lalu memagut lembut bibir mungil itu. Biarlah malam pesta pernikahan ini kacau tapi besok akan ada hal baru yang menutup hoaks tersebut.
...----------------...
Di lain tempat beberapa jam kemudian. Aryan telah berada di atas motor gede milik Nakula. Dia sempat pulang ke rumah untuk mengambil sesuatu yang sangat penting bagi kehidupan keluarga nya.
Aryan meninggalkan acara pesta juga adik-adik dan anak istrinya. Aryan merasa sudah harus berbicara. Dia sudah lelah terus diam saja.
Aryan mengarahkan motornya menuju sebuah hunian mewah. Rumah yang sangat dia kenal sebab dahulu Aryan sering kali memasuki rumah itu, yah setidaknya saat dirinya masih anak-anak.
Aryan memarkir motornya, membuka helm dan berjalan cepat menuju pintu utama rumah besar ini.
Mengetuk pintu berkali-kali tak pula di buka, Aryan berjalan ke arah halaman mengambil satu batu yang di jadikan hiasan kolam ikan.
Aryan mempersiapkan ancang-ancang penuh keyakinan, dengan menggenggam batu besar itu. Dia arahkan pandangan ke atas dan melemparkannya tepat mengenai jendela kaca.
Praaank....
Suara gaduh terdengar Aryan melihat sosok Emelly mendekati jendela dan memandang marah ke arahnya.
Aryan menyeringai, sudah pasti setelah ini Emelly turun dan membukakan pintu.
Benar saja, tak berapa lama Emelly keluar dengan nada berang. Namun bukannya meladeni Emelly, Aryan justru masuk ke dalam rumah itu tanpa permisi.
Emelly murka mengikuti langkah kaki cepat Aryan ke dalam. "Siapa kamu hah? Kenapa berani sekali masuk rumah ku!"
__ADS_1
"Kalau kau mau tahu siapa aku, biar seseorang yang menjelaskan nya padamu!"