
Ying Yue melakukan satu per satu arahan Xi Wei dengan baik. Pada awalnya saja. Entah apa yang merasuk ke dalam pikirannya hingga dia menjadi tidak fokus. Itu bisa membahayakan nyawanya. Apalagi dia sedang berada di dalam sebuah Arena Tantangan!
Meski Ying Yue tidak bisa fokus, dia tetap berusaha untuk mendengarkan arahan Xi Wei dengan seksama. Sang Putri memaksakan diri terlalu jauh. Mendengar suara pemuda berkulit sawo matang saja tidak bisa. Suara Xi Wei terdengar pecah di telinga. Dia tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan dirinya.
'Ada apa denganku? Kenapa aku merasa pusing sekali? Apakah aku mengonsumsi makanan yang salah sebelum datang ke sini?'
Ying Yue berhenti di tengah jalan.
Untung saja Xi Wei peka. Dia menyadari ada yang tidak beres dengan Ying Yue. Dia segera berbalik dan mengangkat Ying Yue.
"Tuan Putri Agung!"
Qingqing palsu berteriak histeris. Xi Wei penasaran apakah Sang Gadis Pelayan palsu tidak capek memainkan drama yang begitu rumit dan membosankan untuk membuat Ying Yue terperdaya.
Saat itu, jebakan keluar dari tempatnya. Xi Wei bergerak dengan sangat cepat dan berhasil menyelamatkan diri sendiri serta Ying Yue. Namun sayang sekali, rambut panjangnya terpotong. Itu mengisyaratkan hal lain.
'Ah .... Kenapa bagian itu yang terpotong? Apakah karena Li Ying Yue adalah takdirku? Atau ... atau, orang tuaku masih hidup?'
Dalam tradisi Chizi, memanjangkan rambut sebelah kanan adalah untuk mengingat bahwa seseorang merupakan anak yatim-piatu. Namun jika rambut itu terpotong dengan alasan yang tidak jelas, bisa berarti kedua atau salah satu dari orang tuanya masih hidup, bisa juga berarti bahwa dirinya akan segera menikah.
Xi Wei mengabaikan tentang rambutnya yang terpotong dengan alasan tidak jelas terlebih dulu. Menurutnya, keselamatan Ying Yue lebih penting.
Xi Wei mengecek denyut nadi Ying Yue. Masih normal, tidak dalam keadaan serius atau kritis. Pemuda berkulit sawo matang menghela napas. Jika saja dia tidak peka dan terlambat menyelamatkan Sang Putri, kepalanya tidak akan aman dan dia akan menjadi buronan di Negeri Yinying.
Qingqing palsu tidak pergi dari sana―tentu saja dia tidak akan berani pergi. Dia beranggapan kalau Ying Yue masih belum menyadari kalau dia bukanlah Qingqing yang asli―padahal tidak demikian, Ying Yue sudah tahu kalau dia itu palsu.
Xi Wei menekan titik akupuntur Ying Yue untuk menjaganya tetap sadar. Dia tahu kalau Sang Putri diberikan obat bius secara diam-diam oleh Pelayan Pribadi-nya yang palsu. Pemuda berkulit sawo matang juga membisikkan satu hal padanya.
"Kau pura-pura tidur saja. Kalau waktunya tepat, langsung sadar dan serang dia."
__ADS_1
Ying Yue tentu saja mengerti. Dia itu pandai. Dia membiarkan otot-otot di tubuhnya tetap kaku, seolah-olah tak sadarkan diri.
Qingqing palsu mendekat ke arah mereka berdua.
"Tuan Putri? Apakah dia baik-baik saja?"
"Kau masih bisa berpura-pura. Kau tidak takut kalau Li Ying Yue akan menyadari bahwa kau itu palsu?"
Xi Wei terkekeh pelan, mencemooh Qingqing palsu yang kurang pandai. Meskipun Qingqing palsu adalah seorang Assassin yang handal, tapi dia tetap akan kalah dari Xi Wei, mengingat kalau pemuda itu sangat misterius dan tidak masuk akal.
Qingqing palsu memperhatikan Ying Yue yang memejamkan matanya dan sepertinya sudah tertidur akibat obat bius yang diberikannya secara diam-diam, tapi dia tidak menyadari bahwa Xi Wei menekan akupuntur dan menjaga Ying Yue tetap sadar.
"Hebat sekali Tuan Pendekar bisa tahu kalau aku bukanlah Qingqing, yang bahkan Tuan Putri Agung sendiri saja tidak tahu."
Xi Wei tersenyum.
Qingqing palsu langsung memelototi Xi Wei.
'Orang ini, dari mana dia tahu kalau aku bertemu dengan Pangeran Xiao Zixuan? Apa jangan-jangan dia membuntuti saat aku keluar? Tidak mungkin. Walau dia cepat, dia tidak akan kembali ke posisi yang sama!'
Xi Wei menguap lebar.
"Aku tahu kau berpikir bahwa aku tidak mungkin membuntuti dirimu. Aku memang tidak melakukannya. Tapi, kau harus tahu kalau di antara bawahan-bawahan pasti ada seorang pengkhianat."
"Kau ...!"
Qingqing mengeluarkan sebilah pisau dan melekatkannya di leher Xi Wei.
Saat itu adalah saat yang tepat untuk menciduk Qingqing. Namun Xi Wei buru-buru berkata-kata. Hal itu mengisyaratkan kepada Ying Yue agar tak cepat bertindak. Sepertinya hal yang harus diketahui olehnya.
__ADS_1
"Aku hanyalah seorang pendekar kecil lulusan Akademi Luqing. Jika bisa mengalahkan seorang Nona sepertimu, mau ditaruh kemana mukamu itu?"
Ying Yue masih pada posisinya. Xi Wei tidak perlu melirik terus-menerus ke arah Sang Putri karena dia tahu kalau Sang Putri pasti mengerti maksudnya.
Sedangkan Qingqing, dia makin murka mendengar Xi Wei. Namun dia tidak bisa membunuh pemuda berkulit sawo matang, jika Ying Yue sadarkan diri dan tak menemukan Sang Pemuda dimana pun, Sang Putri akan dengan sangat cepat mencurigai identitasnya. Dia juga tahu sia-sia saja dia berusaha untuk membunuh Xi Wei.
"Aku sangat penasaran dengan kelakuan Permaisuri, Xiao Zixuan, dan dirimu akan Mendiang Selir Li dan Mendiang Tabib Mei."
Ketika mendengarnya, mata Ying Yue berkaca-kaca. Dia bisa merasakan kalau sebentar lagi akan ada air yang keluar dari kelopak matanya. Hanya saja, dia tetap berusaha menahan sekuat tenaga dan menenangkan diri sendiri agar tidak ketahuan. Agar bisa mendengar lebih banyak.
Xi Wei tahu waktunya tidak tepat. Itu akan mengubah persepsi Ying Yue akan segala hal. Dia berusaha menahannya, tapi dia paham Ying Yue bukanlah gadis yang mudah dihadapi. Maka dari itu, Sang Pemuda tidak memiliki pilihan lain.
Qingqing palsu terkejut dengan perkataan Xi Wei.
'Tidak mungkin. Yang tahu hanya aku, Putra Mahkota, dan Permaisuri saja. Bagaimana caranya orang di luar Istana tahu tentang hal ini?'
Qingqing palsu menekan pisaunya hingga menyebabkan kulit leher Xi Wei terkelupas dan darah segar mengalir tidak deras, setetes demi setetes. Pemuda berkulit sawo matang tidak menghindar seolah-olah sudah memiliki persiapan.
"Katakan! Siapa kau?!"
"Kau hanya perlu menjawab pertanyaanku saja. Aku tahu semua hal yang kalian rencanakan. Juga tentang Xiao Zixuan yang ingin menyingkirkan Li Ying Yue."
Qingqing palsu mulai terganggu mentalnya. Xi Wei memang pandai membuat orang kesal, tapi dia juga pandai memanipulasi pikiran seseorang.
"Apa yang ingin kau ketahui kalau kau tahu semuanya?!"
Xi Wei tersenyum dan memainkan batu-batu kecil yang ada di lantai tempat itu. Dia melempar beberapa batu kecil ke Arena Tantangan Pertama dan hal itu menyebabkan jebakan menjadi aktif.
"Katakan saja kepadaku bagaimana cara kalian membunuh Mendiang Selir Li dan menjebak Mendiang Tabib Mei. Sama seperti batu kecil itu, kau sudah masuk perangkap yang kubuat."
__ADS_1