Mysterious Shender

Mysterious Shender
第四十一集 : Redemption for Xi Wei


__ADS_3

Ying Yue curiga dengan apa yang sedang direncanakan oleh Xi Wei dan Kakak Ketiganya. Dia menatap dengan awas.


'Lumayan. Instingnya mulai berkembang dengan bagus. Jangan lengah, Li Ying Yue!'


"Sekarang!"


Xincai memberi tanda kepada Xi Wei dan si Pemuda melesat maju menyerang Ying Yue secara mendadak.


Ying Yue yang kaget langsung melompat ke atas, mengandalkan instingnya untuk menghindari setiap serangan yang dilancarkan oleh Xi Wei. Xincai bisa melihat kalau Adik Kesembilannya memiliki reflektivitas yang bagus.


"Whoa!"


Ying Yue menunduk. Instingnya mengatakan kalau Xi Wei akan menjegalnya. Dia langsung mundur beberapa langkah ke belakang hingga tubuhnya menyentuh dinding rumah. Dia terpojok.


'Nah, sekarang bagaimana kau akan menghindari Xi Wei, Adik Ying Yue?'


Xincai menikmati serangan yang dilancarkan oleh Xi Wei dan pertahanan yang diciptakan oleh Ying Yue. Dia belum melihat tanda-tanda kalau Ying Yue akan mengeluarkan sihirnya secara mendadak—sebuah respon dimana seseorang terjebak dalam keadaan berbahaya, biasanya sihir akan menimbulkan ledakan kecil yang tidak berbahaya akibat tidak bisa dikendalikan.


Xi Wei menyeringai manis. Tidak disangka bahwa Ying Yue masih bisa menahan dua puluh lima persen dari serangan asli yang dilancarkannya.


'Bagaimana kalau aku naikkan persentase kecepatan menjadi tiga puluh? Apakah dia sanggup? Tidak ada yang tahu kalau belum dicoba!'


Ying Yue merasa kalau gerakan Xi Wei menjadi lebih cepat dari sebelumnya. Dia menggigit bibir bawahnya dengan gelisah.


'Kenapa ada orang secepat ini? Saat berhadapan dengan Xiao Zixuan juga ... kecepatannya tidak masuk akal! Kakak Xi Wei sangat cepat, juga kuat.'


Ying Yue memasang kuda-kuda untuk melenturkan refleks tubuhnya. Dia melakukannya dengan bagus sejauh yang diharapkan oleh Xi Wei dan Xincai.


'Ternyata pelatihan pertama yang kuberikan ada manfaatnya juga. Dia menjadi lebih menggunakan akalnya. Mari kita lihat dia bisa bertahan berapa lama.'


Ruofan dan Xiangheng menonton sambil mengupas kulit kacang dan memakannya. Mereka seperti sedang menonton pertunjukan silat. Mereka bahkan bertaruh.


"Menurut Kakak Senior, apakah Tuan Putri Agung bisa menahan yang lebih cepat dari ini?"


"Tidak."


"Menurutku, bisa."


"Kau tidak tahu saja. Xi Wei tidak pernah bermain-main walau sedang melatih seseorang."


"Semenyeramkan itu?"


"Ya."


Xi Wei tersenyum. Dia mematahkan pertahanan Ying Yue, menjegal kakinya hingga tubuh sang Putri kehilangan keseimbangan. Pemuda berkulit sawo matang segera menangkapnya sebelum Tuan Putri Agung-nya terjembab ke atas tanah.


Anak-anak yang sedang makan siang bertepuk tangan tidak serempak. Beberapa dari mereka berkomentar.

__ADS_1


"Hebat sekali!"


"Pertarungan yang bagus!"


"Kakak-kakak ini kuat sekali!"


"Aku ingin kuat seperti mereka!"


Xincai menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya.


"Tidak ada elemen sihir yang terlihat, Xi Wei. Tubuh Adik Ying Yue pasti tidak merespon adanya bahaya terhadap apa yang kau lakukan."


Xi Wei membantu Ying Yue berdiri tegak.


"Bagaimana dengan Meditasi Kultivasi?"


Semua orang langsung menatap ke arah Xiangheng. Terdiam selama beberapa saat.


"Benar juga! Kenapa tidak terpikirkan olehku tentang Meditasi Kultivasi? Terima kasih Xiangheng! Aku sangat mencintaimu!"


Xiangheng langsung berdeham keras. Wajahnya merona. Xi Wei, Ying Yue, dan Ruofan langsung menyeringai manis. Xincai baru sadar apa yang sudah dia katakan.


'Bagaimana kau bisa mengatakan itu di depan umum dengan tidak tahu malunya seperti ini?! Xincai, oh Fang Xincai!'


"Aku akan bawa dia jalan-jalan dulu. Lagipula, kau tidak sedang terburu-buru kan, Xincai?"


Xi Wei menunjuk ke arah Ying Yue dan memasang tampang polos di wajahnya.


"Baguslah kalau begitu. Ayo kita pergi, Ying Yue!"


"Oh? Baiklah."


Ying Yue menganggukkan kepala dan berjalan di belakang Xi Wei.


"Lihat gaya Adik Kesembilan. Dia seperti kita saat baru pertama kali berkenalan dengan Xi Wei."


Xincai terkekeh kecil.


Xiangheng mengangguk dan meminum sup kaldu yang dibawa oleh Ruofan untuknya dan Tuan Putri Ketiga.


Ruofan hanya bisa menatap bergantian ke arah mereka yang sedang membayangkan masa lalu.


Waktu selalu berjalan begitu cepat.


"Kemana Kakak Xi Wei akan membawaku?"


Xi Wei dan Ying Yue sudah keluar cukup jauh dari perumahan kumuh. Sang Tuan Putri Agung juga tahu kalau si Pemuda sedang membiarkannya melihat 'dunianya'.

__ADS_1


"Bersenang-senang. Bukankah kau bilang kau Ingin Tanghulu? Juga, kau memiliki sesuatu yang belum dikatakan kepadaku."


'Sesuatu yang belum dikatakan kepadanya ...?'


Ying Yue bingung. Kemudian menyadari kalau maksud Xi Wei adalah 'menebus' apa yang sudah dilakukan oleh pemuda berkulit sawo matang.


'Ternyata dia sudah tahu. Dia hanya menunggu aku mengatakannya. Dasar curang!'


Ying Yue melipat kedua tangan di depan dada dan menggembungkan pipinya. Khas jika seorang Tuan Putri Agung Li Ying Yue sedang marah.


"Cepat ke sini! Apakah kau tidak ingin manisan ini?"


Di tangan Xi Wei sudah ada manisan Tanghulu yang entah dari mana datangnya. Ying Yue tentu saja langsung berjalan cepat ke hadapan Xi Wei dan merebut manisan itu dari tangan si Pemuda.


Xi Wei tersenyum saat Ying Yue memasukkan manisan ke dalam mulutnya dengan wajahnya yang merona.


'Dia ini jujur sekali ya. Tapi, berkatnya aku menjadi tujuan untuk pulang ....'


"Untuk apa kau melihat ke arahku seperti itu? Dasar kau orang mesum!"


"Hah? Aku orang mesum? Aku sudah berbaik hati memberikanmu sebuah manisan. Lagipula, aku tidak melihat ke arah yang aneh."


Ying Yue tertawa. Xi Wei mengelus kepalanya seperti biasanya. Entah kenapa sang Putri merasa aman kalau ada Xi Wei di sisinya.


"Jadi, kau ingin penebusan seperti apa?"


Xi Wei berhenti di sebuah kedai camilan. Dia menunjuk ke dalam.


"Kau membawa uang kan?"


"Tentu saja! Aku tidak akan lupa lagi!"


"Baguslah kalau begitu aku ingin beli beberapa macam barang di sini."


Ying Yue melihat ke arah kedai camilan tersebut. Entah kenapa ada sesuatu hal yang membuatnya tidak nyaman.


"Kenapa?"


"Aku tidak tahu. Tapi, perasaanku tidak begitu bagus."


"Karena ini bukan kedai camilan biasa."


Ying Yue menatap ke arah Xi Wei dengan tatapan tidak percaya.


'Apa maksud Kakak Xi Wei dengan 'bukan kedai camilan biasa'? Lalu, kedai camilan seperti apa ini?'


"Sebuah legenda yang amat jauh di sana. Dikabarkan kapal yang dimakan oleh ujung dunia tidak pernah kembali ke asalnya. Satu tahun kemudian, mereka kembali. Tapi, orang-orang menganggap mereka sebagai orang yang sudah mati. Semua awak kapal yang kembali ke daratan tempat mereka berasal bisa berbahasa asing. Tidak diketahui penduduk lokal. Mereka yang kembali mengatakan satu hal yang sama. Mereka kembali dari 'Tir Na Nog'. Di Negeri Yinying, hanya ini satu-satunya kedai camilan yang menjual barang dari daratan bernama 'Tir Na Nog'. Selain itu, di sini juga menjual barang dari Negeri nan jauh bernama 'Atlanta'."

__ADS_1


"Tir Na Nog?"


"Orang-orang yang kembali menyebutkan nama lainnya, Negeri Seribu Kastil, Irlandia. Tanah dimana tersimpan banyak sekali buku berharga yang disebut 'Buku Iblis' dan kitab-kitab kuno. Tir Na Nog, salah satu Negeri kuno selain Daratan Tiongkok yang penduduknya percaya akan legenda, mitos, dan sihir."


__ADS_2