Mysterious Shender

Mysterious Shender
第三十七集 : Meet Xi Chen in the Dream Mirror


__ADS_3

Ying Yue lega karena Xi Wei sudah sadar. Dia ingin sekali berterima kasih kepada Sang Pemuda karena sudah menyelamatkan nyawa Qingqing. Sang Putri sadar kalau saat itu adalah saat yang tidak tepat untuk berterima kasih kepada Xi Wei.


'Aku harus menunggu hingga Tuan Pendekar, tidak, Kakak Xi Wei merasa sehat. Aku akan berterima kasih secara layak kepadanya.'


Xi Wei menyadari kalau Ying Yue ada di sana. Meski dia sudah mengisyaratkan kepada Sang Putri untuk bergabung, tapi dia malah diabaikan. Ying Yue langsung beranjak pergi dari sana.


'Apakah aku membuat kesalahan? Sepertinya Li Ying Yue terlihat marah kepadaku.'


Xincai dan Xiangheng menyudahi acara berpelukan mereka dengan Xi Wei.


"Kau harus beristirahat. Aku lega karena kau sudah sadar. Jangan melakukan hal-hal yang tidak kami izinkan terlebih dulu. Kau harus ingat itu!"


Xi Wei tersenyum dan menganggukkan kepalanya pada Xiangheng. Xiangheng sudah bagai Ibunda yang cerewet bagi Xi Wei dan bagi Xincai—walau Selir Fang, Ibunda Kandung Xincai masih ada.


Selepas kepergian Xincai dan Xiangheng, Xi Wei melamun menatap ke arah langit-langit kayu sembari memikirkan tentang mimpi yang baru saja dialaminya.


"Ayahanda ... Ibunda ... mereka masih ada atau sudah meninggal dunia? Tapi, entah kenapa rambut bagian itu harus terpotong ...."


Sebenarnya, berpikir akan menyakiti kepala Xi Wei. Namun dia ingin sekali melanjutkan mimpi aneh yang sudah mendatanginya.


"Apakah benar mereka masih hidup?"


Xi Wei memejamkan mata dan tertidur. Tak lama setelah dia tertidur, dia kembali mendatangi tempat aneh nan indah itu.


Xi Wei memandangi segala penjuru dan berharap kalau dia bisa menemukan Xi Chen. Pandangannya berhenti di bawah sebuah pohon plum yang amat besar dengan banyak bunga-bunga plum yang bermekaran. Xi Chen sedang duduk bersila dan memejamkan matanya.


"Untuk apa kau datang kembali ke tempat ini? Apakah kau ingin merasakan 'surga' walau saatnya belum tepat?"


'Surga? Apa maksudnya?'


Xi Wei bingung dengan Xi Chen. Entah kenapa pemuda berkulit sawo matang merasa kalau dia tidak berada di surga, melainkan sedang berada di dalam mimpi yang tidak berujung.


"Kau siapa?"

__ADS_1


Akhirnya Xi Wei memberanikan diri untuk bertanya tentang Xi Chen. Dia penasaran, amat penasaran dengan pria yang berwajah sama sepertinya.


Xi Chen tertawa. Dia tidak menjawab pertanyaan Xi Wei, melainkan bertanya balik kepada sang Pemuda.


"Menurutmu, siapa aku?"


Xi Wei semakin bingung. Tentu saja dia tidak tahu. Xi Chen malah bertanya seperti itu kepadanya. Pria paruh baya yang aneh!


"Aku tidak tahu."


"Kalau begitu cari tahu!"


Xi Chen terkikik melihat ekspresi wajah Xi Wei yang sedang bingung. Matanya memicing. Itu tatapan yang menunjukkan ketidaksabaran, yang berharap kalau Xi Wei cepat menyadari siapa dirinya.


'Lihat akibatnya karena sudah mengabaikan instingku.'


Wajah Xi Wei berubah menjadi cemberut, setelahnya memamerkan senyuman manis yang sama dengan Xi Chen.


"Kau adalah Ayahandaku!"


Xi Chen tertawa.


Sebenarnya, bukan Xi Chen yang terlalu lemah, tapi keadaan mendesak-lah yang telah membiarkan dirinya kehilangan kekuasaannya. Di saat bersamaan, dia juga lega karena Xi Wei baik-baik saja dan terlihat sangat sehat.


Walau itu adalah mimpi aneh yang dialami oleh Xi Wei, tapi yang dirasakan sang Pemuda begitu nyata. Dia merasakan segala hal yang ada di sana. Kebahagiaan, kekecewaan, kesedihan, kemarahan, hingga angin yang berhembus, yang menyebabkan bunga-bunga plum merah muda berguguran ke atas air, serta riak air tenang yang tercipta akibat bunga-bunga yang jatuh di atasnya. Dia bisa merasakan semua itu.


"Aku tidak tahu apa yang menghubungkan dirimu dengan mimpiku, anakku. Tapi, aku senang melihat kau baik-baik saja."


"Eh? Aku kira ini adalah mimpiku ...."


"Ini adalah sebuah cermin mimpi, anakku. Tempat ini sangat cocok dijadikan tempat pelatihan."


Xi Chen mencabut pedang dari sarungnya dan memotong-motong bunga hingga yang tersisa hanyalah kelopak-kelopak dan bagian inti bunga yang sudah terpisah.

__ADS_1


Xi Wei memang cepat, tapi dia tidak bisa melakukan seakurat yang dilakukan oleh Xi Chen. Dia hanya bisa menganga ketika melihat Xi Chen memotong semua bunga-bunga yang berjatuhan tanpa melewatkan satu pun.


Xi Chen tiba-tiba saja menggunakan Sihir Pedang kepada Xi Wei, membuat pemuda berkulit sawo matang terlempar cukup jauh ke belakang.


Walau Xi Wei sudah mengaktifkan Sihir Pelindung menggunakan pedangnya, dia tidak bisa menahannya. Dia masih berada dalam Deret Kultivator Tingkat Rendah.


'Serangan ini ... hanya Deret Dewa Kultivator yang bisa melakukannya. Walau ini hanyalah mimpi, kenapa rasanya sakit sekali?!'


"Oh? Masih mencapai Deret Kultivator Tingkat Rendah? Entah apa yang ada di dalam pikiranmu hingga kau tidak ingin berkultivasi."


Xi Wei menatap tajam ke arah Xi Chen.


"Bisa tidak Ayahanda tidak melakukan hal yang membahayakan nyawaku?!"


Xi Chen hanya tertawa dan menggelengkan kepalanya.


Xi Wei duduk bersila mengikuti gaya Ayahandanya di tempatnya terkapar. Dia menatap ke arah Xi Chen yang berada cukup jauh darinya. Dia merasa kalau melihat Xi Chen melalui cermin mimpi belum cukup. Bisa jadi itu adalah ilusi yang diciptakan oleh alam bawah sadarnya. Apalagi terakhir kali sang Pemuda melihat Xi Chen pastilah ketika kejadian yang ada di dalam mimpinya itu terjadi. Saat itu dia masih bayi. Bahkan mungkin belum berumur setengah tahun.


"Aku tidak ingin berkultivasi karena aku tidak tahu siapa Ayahanda dan Ibunda."


Xi Chen membuka mulut dan hendak berkata-kata. Namun sesuatu terlintas di dalam benaknya hingga dia mengurungkan niatnya.


"Aku ingin tahu aku itu siapa. Aku ingin tahu kenapa aku itu spesial. Aku bahkan tidak tahu elemen apa yang kumiliki. Untuk itu, aku belum boleh berkultivasi. Aku tidak ingin salah memilih ilmu."


Mata Xi Wei berkaca-kaca ketika mengatakannya. Dia melihat ke arah Xi Chen yang memandangi wajah anaknya dalam diam.


Xi Chen menghela napas panjang. Dia beranjak bangkit dari duduknya.


"Kau lihat hal ini baik-baik, anak tidak sopan!"


Xi Chen menyebutnya tidak sopan karena dia menggunakan kata 'kau' kepada orang tuanya sendiri.


Xi Chen memainkan pedangnya dan sihir tidak hanya melingkupi pedangnya, tetapi juga dirinya. Sihir itu amat indah di mata Xi Wei, menari-nari bersama dengan gerakan pedang yang ditunjukkan oleh Ayahandanya. Tak hanya itu, beberapa bayangan kupu-kupu, bunga plum, bunga teratai, dan daun-daun berguguran muncul dan berterbangan di udara. Itu pertama kalinya Xi Wei melihat sihir yang amat hebat.

__ADS_1


Xi Chen bergerak semakin dekat dengan Xi Wei yang masih duduk bersila. Pedangnya kembali terarah ke leher anaknya.


"Kau dengar ini baik-baik, Xi Wei. Nama Ayahmu adalah Xi Chen. Nama Ibumu adalah Sun Jialing. Xi Chen dan Jialing sama-sama memiliki kekuatan sihir berelemen cahaya. Xi Chen mewakili siang dan Jialing mewakili malam. Kami adalah kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Kau adalah anak Xi Chen dan Jialing. Kau memiliki elemen cahaya. Berkultivasi-lah menggunakan elemen itu. Apa pun ilmu yang kau pelajari, jangan permalukan kedua orang tuamu!"


__ADS_2