
「Aku adalah buronan kerajaan. Tentu saja tidak boleh sembarangan bertindak. Apalagi menampakkan wajahku di depan publik. Meskipun sudah beberapa tahun berlalu, bagaimana jika ada yang mengenalku?」
Xi Wei berpikir, Perkataannya ada benarnya juga. Kalau dia mengekspos dirinya di depan publik, maka dia akan mendapatkan masalah besar. Sampai saat itu tiba, dia pasti akan mendapatkan hukuman penggal.
"Lalu, apakah kau memiliki rencana? Apakah kau berencana untuk tinggal di sini selamanya?"
Harus bersabar memang, mengingat Fu Cha Maorong tak bisa berbicara karena telah hidup di hutan bambu selama bertahun-tahun. Belum lagi sering terkena Racun Bambu Hitam yang membuatnya menjadi bisu total. Xi Wei sedikit lega karena dia sudah memasuki deret kultivator, walaupun masih di tingkat paling rendah, jadinya dia bisa mengatasi Racun Bambu Hitam yang belum sempat tersebar ke seluruh tubuh.
「Tentu saja tidak. Aku tak berencana untuk tinggal di sini selamanya. Tapi, apakah benar kalau kau adalah anak dari Kaisar terdahulu?」
Xi Wei berpikir tentang bagaimana cara meyakinkan Maorong bahwa dia adalah anak Xi Chen, Kaisar terdahulu. Kemudian dia ingat kalau Qing Chaguan pernah memberikannya sebuah plat yang terbuat dari giok.
Xi Wei mengeluarkan plat giok tersebut dari dalam kotak kayu kecil dan memperlihatkan benda itu kepada Maorong. Jika dia benar-benar seorang anggota dari Pasukan Nanxi, seharusnya dia tahu tentang plat ini, batinnya.
Maorong menatap plat giok dan Xi Wei secara bergantian. "A? A…. A?!" tidak terdengar jelas apa yang dikatakan oleh pria itu. Dia kemudian mengembalikan plat giok kepada Xi Wei dan meminta secarik kertas lagi dengan cara menunjukkan kepada pemuda berkulit sawo matang kertasnya yang sudah habis terpakai.
Xi Wei memberikan secarik kertas lagi dan Maorong buru-buru menulis sesuatu di atasnya.
「Ini milik Kaisar terdahulu. Bagaimana kau bisa memilikinya? Benda ini harusnya sudah musnah. Kenapa kau bisa memilikinya?」
Xi Wei menghela napas panjang. Dia berkata, "Ceritanya sangat panjang, yang terpenting adalah sekarang aku sedang mencari si Sialan Xi Chen. Walau dia adalah Ayahandaku, berani sekali dia meninggalkan diriku sendirian di Akademi Luqing."
__ADS_1
「Tidak mungkin Kaisar masih hidup!」
Xi Wei menatap Maorong dengan curiga. "Apa maksudmu dengan 'tidak mungkin'? Aku jelas melihatnya di dalam cermin mimpi, di sebuah daerah bernama Yong Ge. Pria tua aneh itu, dia bahkan masih dikelilingi oleh pohon-pohon plum di salah satu gunung di sana. Atas dasar apa kau bilang tidak mungkin," bantahnya.
「Aku tidak percaya. Saat peperangan terjadi, beliau terluka amat berat. Dihunus oleh pedang Kaisar yang berkuasa sekarang dari belakang, menembus organ vitalnya. Tidak mungkin beliau masih hidup!」
"Hidup atau tidak, aku harus mencari tahu. Orang mati tidak mungkin bisa bermimpi. Hanya ada dua kemungkinan. Jika dia tidak mati, atau aku yang gila," kata Xi Wei. "Sudah! Sudah! Kalau kau tidak percaya, kau boleh ikut aku mencari pria tua itu. Lebih penting lagi, kenapa kau bisa selamat?"
「Aku kabur dari medan perang diutus oleh Jenderal. Kemudian, aku sampai di hutan bambu ini. Aku diselamatkan oleh seorang kakek tua yang tinggal di sini. Mungkin, satu tahun setelah aku diselamatkan olehnya, dia meninggal dunia.」
"Jika kau diselamatkan oleh almarhum Kakek Tua itu, pasti ada sebuah gubuk kecil yang kau tinggali selama ini, kan? Antar aku ke sana."
「Tapi, jalan menuju sana dipenuhi oleh Bambu Hitam. Jika kau bersikeras ingin ke sana pasti akan terkontaminasi.」
Xi Wei menunjuk ke arah lengan kirinya yang ada bekas luka cakar, kemudian melanjutkan, "Aku akan baik-baik saja. Kau juga tidak perlu mencari tabib. Aku bisa menyembuhkan racun di dalam tubuhmu. Tapi, kau harus memikirkan metodenya baik-baik. Aku akan menjelaskannya nanti."
「Maafkan aku. Aku telah berlaku kasar pada Pangeran.」
"Pangeran apanya? Jangan panggil aku dengan embel-embel menggelikan itu. Kau hanya perlu memanggilku Xi Wei. Lagipula sekarang aku sama sepertimu, hanya rakyat biasa," kata Xi Wei. "Tunggu apa? Ayo pergi!"
Maorong menundukkan kepala dan menjadi pemandu jalan untuk Xi Wei.
__ADS_1
Tak lama kemudian, mereka sampai di sebuah gubuk kecil di tengah hutan seperti perkiraan Xi Wei. Letaknya cukup strategis, berdiri dengan kokoh di samping sebuah sungai. Kicau burung merdu juga terdengar.
Xi Wei menatap ke sekeliling. Ternyata ada tempat seperti ini juga, Fengshui-nya sangat bagus. Aku bisa mencoba Meditasi Kultivasi di sini, pikirnya.
"A… a…," Maorong mempersilahkan Xi Wei untuk masuk ke dalam gubuk kecil itu. Sementara dia pergi keluar untuk mengambil beberapa kayu bakar.
Xi Wei melihat penataan di dalam gubuk kecil itu, sangatlah rapi. Mungkin merupakan hasil dari pelatihan yang dijalani oleh Fu Cha Maorong di kamp Nanxi. Pemuda itu mendengar dan menilik dari cerita Xincai kalau Nanxi adalah kamp prajurit yang paling sulit untuk dimasuki. Jika tidak ada bakat dalam bela diri atau menyusun strategi, pastilah tidak bisa memasukinya.
Xi Wei sudah bertarung dengan Fu Cha Maorong, harus diakui kalau Nanxi benar-benar terdiri atas para prajurit hebat. Sayang sekali, sayang sekali. Kejayaan mereka harus runtuh sekarang. Padahal Kaisar sekarang bisa memanfaatkannya jika tahu cara mengendalikan para pasukannya, pikirnya.
Xi Wei melihat Maorong mengangkat kayu bakar dan membuangnya ke tempat pembakaran. Pria itu memasak seteko teh untuk si pemuda. Padahal aku sudah bilang untuk tidak memperlakukanku seperti ini. Sangat tidak nyaman. Tapi, siapa pun akan syok jika tahu aku adalah anak dari Kaisar terdahulu. Takhta Kerajaan seharusnya jatuh kepadaku. Tapi, aku tidak menginginkannya. Itu hanya akan membuat sakit kepala.
"Orang berkuasa belum tentu selalu berada di atas, rakyat biasa belum tentu selalu berada di bawah. Saat ini pemerintah sedang kacau-balau, berkuasa atau tidak, tetap saja harapan tidak akan sesuai dengan kenyataan."
Xi Wei mengalihkan pandangan ke arah Maorong yang terbengong melihatnya. "Apa?" tanyanya. "Apakah aku ada salah bicara?"
Maorong menggelengkan kepalanya. Dia memberikan dua jempol kepada Xi Wei untuk memuji kalau sajaknya sangat bagus.
Maorong mematikan api dan meletakkan teko yang masih panas di atas meja. Dia menuangkan teh ke dalam gelas dan menyodorkannya kepada Xi Wei. Dia terlihat ragu walau ingin duduk. Belum ada perintah dari pemuda berkulit sawo matang.
"Kenapa kau masih berdiri? Aku kan sudah bilang jangan sungkan denganku. Ayo duduk! Kau ini… membuat orang menjadi tidak nyaman saja," kata Xi Wei.
__ADS_1
Maorong duduk di sebelah Xi Wei, tapi masih saja bersikap sangat sungkan kepada si pemuda. Namun tentu saja Xi Wei tidak akan kehabisan akal.