Mysterious Shender

Mysterious Shender
第五十二集 : Advanced Exercises


__ADS_3

"Kakak Xi Wei apakah tahu cermin mimpi itu apa?"


Xi Wei terlihat berpikir sesaat.


"Cermin mimpi adalah dunia ilusi yang dibuat oleh seseorang. Ayahanda bisa membuatnya. Tapi, aku tidak tahu caranya."


"Aku yakin Kakak Xi Wei pasti bisa membuatnya."


"Aku bukannya tidak bisa. Tapi, tidak tahu. Itu adalah dua hal yang berbeda. Tapi, aku tahu ada satu hal yang mirip dengan cermin mimpi."


"Apa itu?"


"Namanya adalah ruang hampa."


"Oh, aku tahu! Itu adalah tempat dimana orang bertarung tanpa menyakiti satu sama lain. Tempat itu juga sangat efektif untuk melatih teknik yang ingin dikuasai. Ruang hampa juga bisa dijadikan tempat untuk latihan kultivasi."


"Memang benar seperti itu, tapi teknik yang dikuasai tidak akan sebagus ketika melatihnya di dunia nyata. Oleh karena itu, aku kurang menyukainya."


"Kakak Xi Wei terlalu pesimis. Kenapa tidak mencobanya? Tidak ada yang salah dengan ruang hampa. Itu hanya tergantung pada bagaimana penalaran seseorang. Kau dan Elena yang memberitahuku tentang hal itu."


Ying Yue sedikit cemburu ketika menyebutkan nama Elena. Xi Wei menyadarinya dan terkekeh pelan. Pemuda berkulit sawo matang baru tahu kalau Adik Kecilnya yang satu itu gampang sekali cemburu. Dia cukup mengerti tentang perasaan Ying Yue.


'Saat itu dia juga begini. Dia cemburu dengan Fang Xincai, Kakaknya sendiri. Tapi, ya ... jika aku berada di posisinya pun aku akan melakukan hal yang sama.'


"Apa yang sedang Kakak Xi Wei pikirkan?"


"Tidak ada."


"Oh ... baiklah."


Xi Wei menghela napas lega.


'Sepertinya akan sulit bagiku untuk fokus berlatih. Ying Yue yang seperti ini membuatku khawatir.'


"Kapan kita akan memulai latihannya?"


"Sekarang."

__ADS_1


***


Xi Wei dan Ying Yue bersama membuka matanya perlahan. Latihan mereka sudah selesai dan mereka menemukan Ruofan dan Xincai masih melanjutkan latihan mereka.


"Ternyata mereka juga datang. Oh ya, Ying Yue."


Ying Yue langsung mengalihkan perhatiannya pada Xi Wei yang memanggilnya.


"Ya? Ada apa, Kakak Xi Wei?"


"Apakah kau sudah bertanya kepada Xincai kapan kalian akan kembali ke Istana?"


Ying Yue menggelengkan kepalanya.


"Belum. Tapi, menurut surat dari Kakak Xincai, kami akan kembali sekitar dua atau tiga hari lagi."


Xi Wei terlihat berpikir selama beberapa saat.


"Kalau begitu, mari ikut aku ke sebuah tempat."


"Eh? Apakah tidak apa-apa meninggalkan mereka di sini seperti ini?"


"Kau ini berhati dingin, ya ...."


Xi Wei tertawa. Memang benar dia berhati dingin. Jadi, dia tak akan memungkirinya.


"Mari kita lewati Arena Tantangan Pertama dulu."


Ying Yue sedikit khawatir kalau-kalau Xi Wei menyuruhnya untuk duet melewati Arena Tantangan Pertama yang dulunya pernah dia kacau kan. Kekhawatirannya terbukti dengan perkataan Xi Wei yang mengajaknya untuk berduet. Namun di satu sisi, dia senang karena pemuda berkulit sawo matang mempercayainya.


"Kau khawatir tentang duet yang kacau kemarin? Jangan terlalu dipikirkan! Kau sudah bagus melakukan semua arahan. Hanya saja Wei Ruofan mengacaukannya sedikit dengan obat bius."


"Tetap saja itu adalah kesalahanku."


Xi Wei menepuk pelan kepala Ying Yue dan berusaha untuk menyemangatinya, walau lebih terdengar sebagai sebuah ejekan.


"Jika kau berpikir pesimis terus tentang dirimu, bagaimana bisa kau mengalahkan Jenderal Wang dan Xiao Ziling? Kau harus percaya diri, walau masih kalah jauh, Li Ying Yue."

__ADS_1


Namun dorongan semangat bagai ejekan itu telah mempengaruhi Ying Yue untuk tetap berpikiran positif. Dia tentu saja tidak ingin dijodohkan lagi oleh Kaisar. Tidak sampai Xi Wei kembali, setelah janjinya terpenuhi—sukses dalam mencari Xi Chen dan Jialing.


"Aku bisa melakukannya!"


Ying Yue menatap Xi Wei bagai ada kobaran api di matanya. Xi Wei tersenyum karena sang Putri yang tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan.


'Seandainya jika aku bisa seperti Li Ying Yue ..., kurasa aku aku telah menemukan Ayahanda dan Ibunda. Tapi, ya sudahlah. Aku juga sudah berjanji akan menemukan mereka. Jika Ying Yue begitu positif dia bisa mengalahkan Kakak Senior dan Xiao Ziling, maka aku juga harus bisa menepati janji yang telah ku buat.'


"Sekarang, mari kita mulai!"


Xi Wei melesat ke depan dan memberikan arahan kepada Ying Yue yang melesat maju setelah mendapatkan aba-aba dari pemuda berkulit sawo matang. Duet mereka sangat bagus, bagai sebuah tarian indah yang sengaja dipamerkan di bawah sinar lembayung senja. Gerakan lembut dan penuh energik milik Xi Wei berpadu sempurna dengan gerakan damai dan elegan milik Ying Yue.


"Percepat temponya, Li Ying Yue."


Ying Yue melakukan segalanya dengan baik di bawah arahan Xi Wei. Mereka berdua sampai dengan lancar di akhir Arena Tantangan Pertama. Tuan Putri Agung kelihatan sangat senang karena berhasil melakukan semua perintah si Pemuda dengan benar.


Di ujung garis mulai Arena Tantangan Pertama, Xincai berdiri tegak dan menatap mantap ke arah Xi Wei dan Ying Yue. Seperti yang bisa dilihat, dia dan Ruofan sudah menyelesaikan latihan mereka dalam ruang hampa. Ruofan sendiri sudah berada di jalur penonton, jalur yang ditunjuk oleh Xi Wei untuknya ketika dirinya dan Ying Yue pertama kali dibawa ke tempat tersebut.


"Tunggu aku! Beraninya kau akan meninggalkan diriku lagi, Xi Wei! Dasar!"


Xincai berteriak dan mengepalkan tangannya. Dia sangat ingin membogem mentah wajah Xi Wei karena sudah bertindak seenak jidatnya. Tentu saja Xincai tidak serius. Itu hanya bentuk kekesalannya saja.


"Lagipula kau tahu kami akan pergi kemana. Apakah aku harus menunggumu lagi, Tuan Putri?"


Baru kali ini Xi Wei menyebut Xincai dengan panggilan Tuan Putri. Biasanya, disuruh saja si Pemuda tidak ingin mengatakannya. Xincai tahu suasana hatinya sedang bagus. Ying Yue pasti sudah memberikan dorongan tidak biasa kepada Xi Wei. Tuan Putri Ketiga bisa tahu itu.


"Tentu saja kau harus menungguku!"


"Jangan banyak bicara, cepat kemari atau aku tinggal kau!"


Xincai memasang kuda-kuda dengan baik. Dia melesat maju ke depan. Mata Ying Yue memang bisa mengikuti kecepatan gerakan Xincai, tapi dia sama sekali tidak menyangka kalau gerakan Kakak Ketiganya akan terasa sangat lembut, bagai kepakan sayap seekor capung.


"Itu adalah kelebihan yang dimilikinya. Xincai memang cepat, juga akurat dan tepat. Dia dan Xiangheng adalah rekan terbaik yang aku miliki. Mereka adalah orang-orang yang hebat."


Ying Yue bisa melihat sebuah senyuman tulus berkembang di wajah Xi Wei. Dia pun ikut tersenyum karenanya.


Xincai berhenti tepat di depan Xi Wei dengan tangan yang terulur tepat di depan leher si Pemuda.

__ADS_1


"Lumayan, Fang Xincai. Kau berkembang banyak."


__ADS_2