Mysterious Shender

Mysterious Shender
第五十集 : Gifts from Elena Ashvorsky


__ADS_3

Ying Yue menyelesaikan sarapannya dengan cepat. Dia melirik ke sana-sini, akan tetapi tidak menemukan Xi Wei dimana pun. Sang Putri mengalihkan pandangannya ke sudut lain ruangan tempat dimana Ruofan dan Xincai duduk tadinya. Dia menemukan mereka berdua masih ada di sana. Dia pun mendekati mereka.


"Kakak Xincai. Ruofan. Bolehkah aku duduk di sini?"


"Tentu saja. Apakah Xi Wei mempersulit dirimu, Adik Kesembilan?"


Ying Yue menggelengkan kepalanya.


"Tidak. Tapi, Kakak Xi Wei berkata akan membawa aku dan Ruofan pergi latihan di tempat itu."


Ruofan langsung merinding seketika mendengar hal itu.


"Oh? Aku juga sudah lama tidak pergi ke sana. Aku akan ikut. Tunggu sebentar. Aku akan berbicara kepada Xiangheng dulu."


Sepeninggalan Xincai, Ying Yue dan Ruofan tidak berbicara banyak. Mereka hanya saling menebak apa yang akan Xi Wei lakukan kalau mereka berdua tak bisa mengikuti arahan dengan baik, sesekali tertawa lepas, sesekali tertawa gugup, dan terdiam selama beberapa saat, lalu mencari topik lain untuk dibicarakan.


Tak lama kemudian, Xincai kembali dan mengajak mereka berdua pergi.


"Ada yang tahu dimana Xi Wei?"


Xincai bertanya saat mereka bertiga keluar dari Wufalou. Dan, saat itu juga Ying Yue dan Ruofan bisa melihat Xi Wei ada di belakang Xincai, mengetuk bahu Tuan Putri Ketiganya beberapa kali. Xincai langsung berbalik.


"Oh di sini kau rupanya. Tidak masalah jika aku ikut ke sana kan?"


"Tidak masalah. Kalau begitu, aku akan pergi dulu, aku akan menunggu kalian di sana."


"Oi!"


Belum apa-apa, Xi Wei sudah menghilang. Tiga orang yang ditinggal hanya bisa mengeluh dan menghela napas. Namun tak lama kemudian, pemuda berkulit sawo matang kembali. Dia mengangkat Ying Yue kemudian pergi lagi.


Ying Yue menatap tidak percaya.


"Kenapa?"


"Karena kau adalah calon istriku."


Ying Yue menggembungkan pipinya lantaran kesal dengan jawaban Xi Wei.


"Apakah tidak apa-apa meninggalkan mereka di sana?"


"Tujuanku adalah melatih dirimu. Tidak apa-apa jika mereka ditinggal. Bahkan jika mereka tidak datang."


Tak butuh waktu lama bagi Xi Wei untuk sampai di tempat itu. Dia membuka pintu gerbang tua dan membiarkannya terbuka agar Ruofan dan Xincai bisa masuk.

__ADS_1


"Apa tidak apa-apa jika tidak ditutup?"


"Di sini tidak ada barang berharga, juga banyak jebakan. Jika ingin masuk, aku hanya mempersilahkan. Aku tidak mempermasalahkan."


'Kakak Xi Wei memang kejam.'


Ying Yue tertawa gugup. Dia hanya bisa berharap kalau Xi Wei tidak akan menyiksanya ketika mereka sedang berlatih. Bicara soal menyiksa, sang Putri baru ingat dengan adegan di dalam cermin mimpi, dimana Xi Wei dan Xi Chen bertarung. Xi Wei dihajar habis-habisan oleh Ayahandanya sendiri.


'Setelah apa yang ku ketahui tentang dirinya, Kakak Xi Wei ternyata bisa kalah dengan seseorang. Tapi, tidak diragukan lagi kalau Ayah Kakak Xi Wei adalah seorang Tetua. Wajar saja kalau dia kalah.'


"Aku akan kalah dengan mereka yang sudah mengalami banyak pengalaman mengerikan di dalam medan perang ataupun sudah menghadapi berbagai macam Pesilat dari berbagai penjuru dunia."


Ying Yue merasa kalau Xi Wei adalah seorang peramal. Pemuda berkulit sawo matang bahkan bisa mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh Ying Yue.


"Aku bukan seorang peramal, Adik Kecil. Tapi, kau bisa menyebutnya seperti itu. Aku hanya menebak isi pikiran yang mungkin saat kau berada di suatu tempat. Itu adalah trik psikologi manusia."


"Trik psikologi manusia?"


Xi Wei tersenyum. Sebelum dia menjawab keingintahuan Ying Yue, seseorang langsung menjawabnya.


"Trik psikologi manusia adalah sebuah trik dimana kita akan mengetahui perilaku, fungsi mental, dan proses mental manusia melalui pembelajaran dan prosedur ilmiah."


Xi Wei dan Ying Yue mengalihkan pandangan ke arah suara yang mereka dengar.


Ying Yue sedikit kaget karena menemukan Elena ada di sana tanpa suara.


Sebenarnya, Xi Wei tahu kalau Elena sedari tadi sudah ada di sana. Hanya saja dia tidak begitu memperdulikannya. Hari itu pastilah hari libur untuk Elena. Si Gadis Pirang memang suka mengunjungi Xi Wei tanpa kabar dan datang pergi bagai hantu sungguhan.


"Bagaimana kau bisa berada di tempat ini?!"


Elena tertawa ringan.


"Aku adalah seseorang yang menembus ruang dan waktu."


Ying Yue semakin tidak mengerti dengan jawaban yang diberikan oleh Elena.


'Apa maksud dari menembus ruang dan waktu?'


"Jangan mengatakan hal yang orang lain tidak akan mengerti, Elena."


"Tapi, kau mengerti kan?"


"Entahlah, terkadang aku juga tidak mengerti mengapa aku bisa mengerti."

__ADS_1


"Setiap penalaran manusia itu berbeda-beda. Entah kenapa aku yakin sekali kau adalah jiwa dari manusia zaman modern yang tidak sengaja terlempar ke zaman ini dan kehilangan ingatanmu."


Xi Wei dan Elena tertawa bersama. Ying Yue sendiri terdiam dan memasang tampang wajah terheran-heran. Sang Putri tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh dua orang itu.


"Apakah kau akan berlatih hari ini? Ini adalah hari liburku. Sangat melelahkan setelah sekian lama tidak libur."


"Bukan aku yang akan latihan, Elena. Dia yang akan melakukannya."


Xi Wei menunjuk ke arah Ying Yue menggunakan ibu jarinya. Dia tersenyum.


"Oh? Tuan Putri yang akan berlatih. Hebat sekali wanita di zaman ini. Mereka bisa berlatih."


"Apakah kau tidak pernah melakukannya?"


"Kau tahu ceritaku, Xi Wei."


Ying Yue sedikit cemburu dengan kedekatan Xi Wei dan Elena. Dia merasa seperti tidak ada dinding pembatas yang membatasi hubungan kedua orang itu. Sedangkan saat bersamanya, Xi Wei selalu saja terlihat dingin dan misterius. Dia tidak tahu apa yang salah hingga dia tidak bisa membuat pemuda berkulit sawo matang tertawa padanya seperti yang dilakukan si Gadis Pirang.


Xi Wei menyadari kalau Ying Yue menampakkan ketidaksukaan ketika dia berbicara dengan intens kepada Elena seperti itu.


'Sepertinya Adik Kecil ini sudah salah paham.'


"Oh iya, aku tidak akan berlama-lama di sini. Aku kemari hanya untuk mengantarkan beberapa makanan manis untuk kalian. Xi Wei, kau ingat aku pernah bercerita tentang 'wine', bukan?"


"Oh, aku ingat."


Elena mengeluarkan sesuatu dari dalam tas punggungnya.


"Ini."


Elena mengeluarkan sebotol wine dari sana, kemudian disusul lima macam wadah yang berbeda.


"Ini dari seluruh penjuru dunia. Aku sudah menyusunnya ke dalam tempat-tempat ini agar kau tidak bingung. Wine akan sangat cocok bila diminum bersama dengan manisan ini."


Elena menunjuk ke sebuah wadah berwarna kuning cerah yang entah berisi apa.


Xi Wei menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih, Elena. Aku akan mencoba barang yang disebut wine ini. Dan juga, beberapa manisan yang telah kau bawa."


"Aku akan sangat senang, Xi Wei. Kalau begitu, aku akan pergi dulu, sampai jumpa!"


Xi Wei dan Ying Yue melihat Elena menghilang di depan mata mereka.

__ADS_1


__ADS_2