Mysterious Shender

Mysterious Shender
第六十集 : Very Suspicious


__ADS_3

Maorong menganggukkan kepalanya dengan cepat berulang kali. Asalkan bisa sembuh, asalkan bisa sembuh, jika taruhannya adalah potongan nyawa pun akan kuberikan, pikirnya.


"Pengobatan pertama adalah pengobatan total. Dalam pengobatan ini, kau tenang saja, tidak akan memotong nyawamu. Tapi, ada satu hal yang perlu kau tahu. Pengobatan total ini memerlukan sebuah benda yang sangat mahal. Ada lima elemen jika dikaitkan dengan Fengshui. Api, air, udara, kayu, dan logam. Aku membutuhkan satu benda berelemen kayu untuk mengeluarkan racun di dalam tubuhmu. Tidak ada efek samping dan kau bisa berbicara dengan normal. Benda itu harganya sangat mahal jika dibeli di perlelangan. Kabar baiknya, kau bisa membantuku mencarinya. Nama benda itu adalah Inti Sari Tumbuhan. Tumbuhan di sini pun bukan tumbuhan sembarangan. Namanya Bambu Emas Berdaun Putih. Dan ia juga harus sudah hidup di atas sepuluh puluh tahun," Xi Wei menjelaskan.


"Jangan bahas hal ini dulu. Mari lanjutkan ke pengobatan yang kedua," kata Xi Wei. "Pengobatan kedua ini merupakan pengobatan total juga. Bisa membuatmu kembali berbicara. Tapi kabar buruknya, nyawamu hanya akan bertahan hingga lima belas tahun walau kau adalah seorang yang berada di Deret Kultivator Master. Pada saat sebelum kematian, kau akan merasakan sakit yang teramat sangat. Tapi, bisa hidup lima belas tahun sampai mendatang adalah hal yang bagus juga."


Maorong tampaknya lebih tertarik dengan penawaran pertama Xi Wei. Namun dia tidak yakin bisa menemukan tanaman Bambu Emas Berdaun Putih yang disebutkan oleh pemuda berkulit sawo matang.


"Kemudian, yang ketiga, kau tidak perlu melakukan pengobatan apa pun, cukup minum Sup Pereda Sakit yang kubuat. Walau penyakitmu sering kambuh dan tak bisa berbicara, umurmu akan tetap panjang. Tiga hal ini adalah penawaran terbaik yang bisa kuberikan kepadamu. Sudah kubilang kalau setiap pengobatan ada resikonya sendiri. Kau harus memikirkan semuanya baik-baik."


Maorong menghela napas sambil berpikir keras tentang pengobatan yang ditawarkan oleh Xi Wei. Dia sangat ingin bisa sembuh. Itu artinya dia hanya akan memikirkan dua pilihan, antara tawaran pengobatan pertama atau kedua. Dia akan mengabaikan yang ketiga.


"Kau tidak perlu terburu-buru, Tuan Maorong. Berpikirlah pelan-pelan. Kemudian, ikut saja bersamaku. Aku akan mencari Ayahanda. Dia masih hidup. Kalaupun dia ditusuk menggunakan pedang, aku tidak yakin dia akan mati semudah itu. Dia adalah pria yang menyeramkan," kata Xi Wei.


"Dan, kalau kau memilih pilihan pertama, kau harus membantuku mencarinya. Aku memiliki banyak waktu luang, tenang saja. Walau aku memiliki janji dengan seseorang, tapi aku tidak membuat waktu yang pasti atas perjanjian itu. Karena dulunya kau adalah bawahan Ayahanda, juga menjadi pengabdi yang setia pada rakyat di negeri, aku akan membantumu."

__ADS_1


Maorong menganggukkan kepalanya. Dia terlihat senang. Anak ini, sama baiknya dengan Yang Mulia dulunya. Selalu memikirkan orang lain. Bahkan rakyat kala itu sangat sejahtera ketika kekuasaan berada di tangannya. Sekarang… sekarang saat Kaisar kurang ajar itu berkuasa, dia tidak pernah meninggalkan Istana megahnya untuk melakukan ekspedisi ke desa terpencil. Rakyat hidup amat sengsara karena pajak yang tinggi. Sungguh tak tahu malu!


"Aku berharap saat malam tiba kau bisa menjawab penawaran mana yang kau pilih," kata Xi Wei. "Aku juga ingin mempersiapkan hati untuk mengobati seseorang. Tapi, tenang saja. Kalau kau tidak bisa menjawabnya hari ini, kau boleh menjawabnya besok atau lusa. Ya..., selama yang kau mau. Aku tidak akan menyalahkan dirimu. Pilihan itu harus dipikirkan baik-baik."


Maorong menganggukkan kepalanya. Tiba-tiba saja dia mengerang keras. Sepertinya efek dari penyakitnya kambuh. Dia tampak sangat kesakitan sampai membuat Xi Wei merasa tidak tega.


Xi Wei menyayat telapak tangannya sendiri hingga darah mengalir deras. Dia menampung darahnya di mangkuk arak dan segera memaksa Maorong untuk meminumnya.


Karena sudah sangat kesakitan, walau sadar itu adalah darah Xi Wei, Maorong tetap meneguknya. Darahnya… kenapa… kenapa rasanya sangat berbeda dengan darah manusia yang kuminum…? Aku ingin lebih. Tidak, tidak boleh!


Xi Wei menarik kembali tangannya dan segera berdiri ketika Maorong tersadar. Dia tidak mempermasalahkannya. Hidup dengan racun di tubuh hingga menyebabkan efek samping pasti sangat sengsara, si pemuda mengerti perasaan itu. Dia sangat sensitif ketika melihat orang lain menderita.


Maorong merasa sangat bersalah karena telah melakukan hal yang tidak sopan pada Xi Wei. Dia mengintip aktivitas yang dilakukan pemuda itu dari balik dinding bambu gubuk tua yang tak berpintu. Dia bertanya-tanya apakah Xi Wei marah dengannya. Namun raut wajah yang ditunjukkan oleh si pemuda sangatlah tenang dan damai. Tidak ada kebencian atau kejijikan tersirat maupun tersurat di sana.


Maorong sedikit kaget karena manik mata Xi Wei yang berubah warna, dari warna sinar matahari pagi yang cerah menjadi warna biru langit yang tenang dan damai. Yang Mulia, Yang Mulia juga seperti itu. Mata yang indah, aneh, juga sangat misterius. Sebenarnya, siapa Yang Mulia itu? Apakah dia Dewa? Atau, Iblis? Atau, makhluk langit lain? Pangeran juga sama seperti Yang Mulia. Mereka berdua adalah orang baik yang sangat misterius, pikirnya.

__ADS_1


Xi Wei menimba air dari sumur tua di dekat gubuk. Dia bisa melihat pantulan matahari yang sudah mencapai puncaknya di dalam ember kayu. Kemudian, dia bisa melihat pantulan wajahnya sendiri. Dia kaget karena manik matanya yang berubah warna. Dia bahkan tidak percaya sama sekali.


Ada apa denganku? Ada apa dengan mataku? Xi Wei menutup matanya. Dan ketika membukanya, warnanya sudah kembali seperti semula. Dia tidak mengerti akan apa yang terjadi dan menyebabkan perubahan warna pada manik matanya.


"Tuan Muda?" Maorong memanggil Xi Wei. Ya, walau Xi Wei juga tidak suka, tapi itu lebih baik dibandingkan jika pria itu memanggilnya 'Pangeran'.


"Ada apa?" tanya Xi Wei tanpa melihat ke arah Maorong. "Jika kau ingin meminta maaf soal yang terjadi baru saja lebih baik tidak usah. Aku yang menyuruhmu melakukannya. Kau tidak salah sama sekali. Abaikan saja kejadian tadi. Jika kau merasa sakit lagi, jangan sungkan untuk memberitahu."


Maorong terdiam selama beberapa saat. Dia kaget karena lidahnya sudah tidak keluh dan dia bisa berbicara dengan normal. Xi Wei sendiri juga kaget dan langsung melotot ke arahnya.


"Kau…?!"


Maorong membuka mulutnya lagi, ingin mengatakan sesuatu. "Tuan Muda Xi Wei?" dia buru-buru menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dia juga heran kenapa dia bisa berbicara.


Xi Wei semakin tidak percaya dengan apa yang dilihat dan didengarnya. Dia bertanya-tanya, Apa yang terjadi? Apa yang sebenarnya sedang terjadi?! Kenapa tiba-tiba saja Fu Cha Maorong bisa berbicara?! Tidak mungkin karena meminum darahku, kan?

__ADS_1


__ADS_2