
Ying Yue kembali lagi tersedot ke dalam cermin mimpi Xi Chen. Kali itu, Xi Wei tidak ada di sana. Hanya ada dirinya dan Ayah dari pemuda berkulit sawo matang. Hal itu sangat tidak disangka, juga membuatnya gugup.
"Kau adalah anak dari Xiao He Wang, bukankah begitu, Nona Manis?"
Ying Yue bisa merasakan kengerian menusuk ke dalam jiwanya ketika Xi Chen menyebut nama Ayahandanya. Sang Putri merasa kalau Ayah Xi Wei dan Kaisar memiliki dendam lama yang belum sempat diselesaikan.
'Entah ada dendam apa yang dimiliki Paman ini dengan Kaisar. Aku hanya bisa berharap kalau-kalau jiwaku masih utuh setelah mimpi ini berakhir ....'
"Nona, apakah aku boleh bertanya?"
"Eh? Tentu saja boleh."
Sejujurnya, Ying Yue ingin segera kabur dari tempat itu. Namun entah kenapa dia tidak bisa bangun. Lebih tepatnya, seperti ada sesuatu yang menghalanginya untuk bangun.
"Apa arti Xi Wei bagimu?"
Ying Yue sedikit kaget karena Xi Chen menanyakan hal itu kepadanya. Sang Putri sendiri pun tidak tahu apa jawaban yang pantas diberikan untuk Pria Tua yang ada di hadapannya. Dia pernah memikirkannya satu kali, tapi dia tidak tahu pasti harus menganggap Xi Wei sebagai apa di dalam hidupnya.
"Entahlah. Kenapa Tuan bertanya seperti itu?"
"Apakah kau percaya dengan apa yang dia janjikan terhadapmu?"
Ying Yue memelototi Xi Chen dengan galak. Walau pria tua itu dan Xi Wei adalah orang yang sama sekali berbeda, sang Putri merasa kalau mereka memiliki satu kesamaan, yaitu: Sama-sama pandai membuat orang-orang merasa sebal, di saat bersamaan juga membuat mereka merasa nyaman.
"Janji adalah sebuah kata-kata yang keluar dari bibir seseorang. Aku tidak pernah percaya, juga tidak pernah tidak percaya terhadap janji yang diucapkan oleh seseorang kepadaku. Lagipula, janji seseorang yang sebenarnya itu hanya diketahui oleh orangnya masing-masing. Untuk apa aku menempatkan diriku sendiri berada dalam keadaan yang membingungkan?"
Xi Chen sedikit terkejut mendengar jawaban yang diberikan oleh Ying Yue.
'Tidak ada bedanya dengan Jialing. Ayah dan anak ... apakah harus memiliki selera yang sama seperti ini?'
"Bagaimana jika dia mengkhianati dirimu?"
"Itu urusan paling belakang. Aku dan Kakak Xi Wei baru saja menjalin hubungan aneh dan rumit ini. Lebih baik menikmati prosesnya. Walau begitu, bukan berarti aku akan memaafkannya jika dia mengkhianati diriku."
"Anak ini pandai sekali berkata-kata. Tapi, sama sekali tidak mirip Ayahnya. Siapa Ibumu?"
"Mendiang Selir Li Aiyin."
__ADS_1
'Oh, Adik Li. Tunggu ... dia bilang apa? Mendiang ...?'
Melihat ekspresi Xi Chen, Ying Yue bisa menebak kalau pria itu mengenal Ibundanya.
"Apakah Tuan mengenal Mendiang Ibunda Kandungku?"
"Menurutmu, apakah aku mengenal Ibunda Kandungmu?"
Ying Yue terlihat berpikir sesaat.
'Aku tahu kalau Tuan ini mengenal Kaisar. Tentu saja dia juga akan mengenal Mendiang Ibunda. Tapi, entah kenapa aku merasa kalau Tuan ini tidak ingin mengatakan apa pun. Mirip sekali dengan Kakak Xi Wei.'
"Aku tidak ingin tahu sih ... tapi, aku ingin tahu tempat ini. Juga, kenapa aku bisa bertemu dengan Tuan sebanyak dua kali. Padahal aku meyakini bahwa yang kulihat tadinya hanyalah sebuah mimpi."
Ying Yue menatap sekitarnya. Damai sekali tempat itu, juga indah dan tak akan bosan walau dipandang selamanya. Namun tentunya, dia tidak ingin terjebak di sana dan tidak bisa bangun lagi.
"Maaf kalau begitu, Nona Manis. Aku tidak tahu kenapa kalian berdua bisa tersedot masuk ke dalam cermin mimpi yang ku ciptakan."
"Cermin mimpi?"
"Kau sama seperti Xi Wei, Nona."
"Aku adalah aku. Kakak Xi Wei adalah dirinya sendiri. Bagaimana bisa Tuan bisa bilang kami itu sama?!"
'Aku menarik kembali kata-kataku. Dia sama sekali tidak mirip dengan Jialing. Sikap Jialing lebih halus dan lebih lembut.'
"Kau emosional sekali, Nona."
"Tuan yang menyebalkan! Bagaimana bisa Tuan menyimpulkan kalau dua orang yang berbeda itu sama?"
Xi Chen tertawa.
'Aku sudah salah menyimpulkan selera anakku. Dia sama sekali tidak memilih orang yang sikapnya sama dengan Ibunya sendiri. Benar, dia tidak pernah diasuh dan dibesarkan oleh Jialing ... wajar jika seleranya berbeda. Tapi, Nona ini terlihat sekali bisa bersanding dengan Xi Wei. Baguslah.'
"Xi Chen! Jangan kau dekati calonku!"
Xi Wei datang kembali ke cermin mimpi Xi Chen. Dia bahkan berani menyebut nama Ayahnya terang-terangan. Ying Yue yang mendengarnya menggelengkan kepalanya dan menatap tajam ke arah pemuda berkulit sawo matang.
__ADS_1
"Tidak sopan sekali kau, Kakak Xi Wei!"
Xi Wei mengangkat Ying Yue dan memindahkannya sejauh mungkin dari Xi Chen.
Karena marah Xi Wei memanggilnya menggunakan nama, Xi Chen tanpa ragu langsung melesat maju ke arah Xi Wei. Di genggamannya sudah ada sebilah pedang yang siap menebas leher orang yang membuatnya kesal.
"Karena tidak pernah diajari tata krama oleh orang tuamu sendiri kau jadi tidak tahu cara menghormati orang yang lebih tua ya, Xi Wei."
Mata Xi Wei berapi-api. Dia memerangi pedang Xi Chen menggunakan pedangnya sendiri. Memang bagai pinang dibelah dua, baik Xi Wei maupun Xi Chen suka sekali membawa dan memakai pedang kembar.
"Kau dan Ibunda yang meninggalkan diriku di Akademi Luqing. Aku hanya akan mengakui mereka yang sudah bersusah-payah membesarkan diriku daripada mereka yang masih hidup tapi tidak pernah menginginkanku!"
***
Mangkuk kayu berisi bubur yang ada di tangan Jialing tiba-tiba saja jatuh. Perasaannya buruk. Entahlah, tapi pikirannya saat itu dipenuhi oleh wajah Xi Wei. Dia mendengar dari Xi Chen kalau Xi Wei sangat mirip dengan suaminya. Hanya warna surainya saja yang sama dengan si Wanita.
'Kenapa perasaanku buruk sekali? Apa yang sudah terjadi? Apakah Xi Wei terkena masalah? Xi Chen bilang kalau dia sering bertemu Xi Wei dalam cermin mimpinya. Xi Chen akan memperlakukan dirinya dengan baik, kan?'
Jialing segera membereskan bubur yang tumpah. Dia tidak bernafsu makan.
Setelah membereskan tumpahan bubur, Jialing kembali ke kamar dan menemukan Xi Chen memejamkan mata dalam posisi meditasi. Si Wanita tahu kalau Xi Chen sedang menenangkan diri di dalam cermin mimpinya.
"Kakak Xi Chen ...?"
Jialing menggenggam tangan Xi Chen. Hal serupa yang pernah terjadi pada Ying Yue juga terjadi kepadanya. Tiba-tiba rasa kantuk datang dan dirinya tersedot ke dalam cermin mimpi suaminya.
"Kau dan Ibunda yang meninggalkan diriku di Akademi Luqing. Aku hanya akan mengakui mereka yang sudah bersusah-payah membesarkan diriku daripada mereka yang masih hidup tapi tidak pernah menginginkanku!"
Jialing baru saja sampai di belakang Xi Wei dan Ying Yue. Si Wanita mendengarnya, mendengar kata-kata yang keluar dari mulut anaknya. Dia merasa ... sangat patah hati.
Xi Chen kaget karena Jialing ada di sana.
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Xi Wei.
Saat Xi Wei menoleh, dia melihat Ibundanya sudah mengucurkan air mata.
Sebagai seorang wanita, Ying Yue bisa merasakan perasaan patah hati Jialing.
__ADS_1
Satu lagi tamparan keras yang mendarat di pipi lain Xi Wei. Kali itu oleh Ying Yue.
"Kau harus memperhatikan kata-katamu, Kakak Xi Wei."