
Xi Wei menurunkan Ying Yue sembari berpikir.
'Wei Caozai, ya? Sepertinya ini adalah daat yang tepat untuk menggunakan 'orang itu'. Kebetulan sekali dia ada di Distrik Maolong.'
"Kita tidak usah langsung pergi ke tempat Qingqing. Kudengar di Distrik Maolong ada sebuah Rumah Makan yang terkenal. Wufalou. Antar aku ke sana."
"Apa yang ingin kau perbuat?"
Ying Yue sama sekali tidak menyetujui pemikiran Xi Wei. Sang Putri tidak tahu kenapa pemuda berkulit sawo matang tidak ingin langsung menyelamatkan Qingqing, tapi dia sendiri tidak bisa menunggu lama. Dia terlalu khawatir dengan keadaan Pelayan Pribadi-nya yang satu itu.
"Tenang saja. Aku berjanji tidak akan mengecewakanmu soal Qingqing. Aku yakin dengan bantuan seseorang, kita bisa memindahkannya dengan mudah."
"Bantuan seseorang?"
Ying Yue dan Ruofan saling menatap.
"Kalian akan tahu. Terutama Adik Ruofan. Aku yakin kau akan segera tahu orang yang ku maksud. Sampai saat itu tiba, jangan lupa untuk menjaga rahasia ini."
Xi Wei berjalan lebih dulu dari Ying Yue dan Ruofan.
"Memangnya Tuan Pendekar tahu dimana letak Wufalou?"
Xi Wei menyeringai manis.
"Tentu saja aku tahu. Aku sudah pernah ke Distrik Maolong. Karena kau lama, lebih baik aku pergi dulu. Jangan lupa tunjukkan jalan untuk Adik Kecil."
Xi Wei benar-benar meninggalkan Ying Yue bersama dengan Ruofan. Sang Pemuda masuk ke gerbang seorang diri. Sayang sekali ada pemeriksaan di gerbang.
"Tunggu sebentar! Apa yang kau bawa di dalam peti? Juga kenapa harus memakai jubah?"
'Oh astaga! Kenapa harus ada pemeriksaan? Jika ada orang dalam, aku akan sangat beruntung.'
"Biarkan dia masuk."
Ying Yue dan Ruofan sudah menyusulnya.
'Oh iya, bagaimana aku lupa tentang seorang Tuan Putri Agung. Dasar! Aku sudah semakin tua.'
"Kau lagi ... kau itu siapa?"
'Oh astaga! Para Pengawal di luar Distrik Fenghua memiliki nyali yang amat besar. Bahkan mereka tidak mengenal Li Ying Yue.'
__ADS_1
Xi Wei tertawa keras. Itu membuat orang-orang bingung. Namun tidak dengan Ruofan yang menggelengkan kepalanya dan Ying Yue yang membuka tudung jubah. Sang Putri menunjukkan Liontin Emas khas Keluarga Kerajaan Yongheng yang diberikan untuk seorang Tuan Putri Agung.
Para Pengawal langsung menundukkan kepala. Pengawal yang besar nyalinya tadi langsung memberi 'kou tou' kepada Ying Yue.
"Maafkan hamba. Hamba tidak tahu kalau Tuan Putri Agung akan berkunjung ke Distrik Maolong. Kasihani hamba, Tuan Putri!"
"Berani sekali kau bertanya siapa aku? Walau aku menjadi hantu, kau juga tidak boleh mengatakan hal yang amat kasar kan?"
Ying Yue melipat kedua tangannya. Dia memicingkan mata dan menatap tajam ke arah pengawal yang sudah menghinanya sebagai Keluarga Kerajaan.
"Hamba minta maaf. Hamba tidak tahu. Mohon Tuan Putri Agung memaafkan!"
Ying Yue menghela napas panjang.
"Sudahlah. Buka jalan untuk mereka berdua. Juga untuk orang-orang yang akan masuk ke Distrik Maolong untuk beberapa waktu ke depan sampai aku menghilang dari pandangan kalian."
"Baik. Baik. Akan kami laksanakan, Tuan Putri Agung!"
"Sudah kukatakan kalau Tuan Putri kita ini paling baik hati. Kalau sekiranya yang ada di sini adalah Tuan Putri Ke-Tiga, Fang Xincai, bawahan itu pasti sudah dihukum pecut."
Ying Yue menggembungkan pipi mendengar perkataan Xi Wei. Bagaimana pun juga, Fang Xincai adalah Kakak Ke-Tiga yang baik baginya.
"Dia tentu saja akan baik terhadapmu. Bagaimana jika terhadap Adiknya sendiri?"
"Kakak Ke-Lima? Tuan Putri Fang Yunhuo? Tentu saja dia juga baik terhadap Kakak Ke-Lima. Hanya saja Kakak Ke-Tiga katanya lebih baik terhadap diriku."
"Tentu saja Tuan Putri Fang Xincai akan baik terhadapmu. Bagaimana pun ketika kau masih kecil, dia sangat sering mengunjungimu dan mengajarimu Tata Krama Kerajaan."
"Kenapa kau tahu segalanya? Bahkan sampai masa kecil-ku pun ...."
"Hanya isu yang beredar di masyarakat. Lagipula, kedekatan seorang Li Ying Yue dengan Fang Xincai sudah tak bisa dipungkiri, bukankah begitu, Xincai?"
Xi Wei mengalihkan pandangannya ke belakang mereka bertiga. Seorang pemudi yang berusia sama dengannya tersenyum.
"Kakak Ke-Tiga?!"
Ying Yue melihat ke arah Xi Wei dan Xincai. Dia kebingungan.
'Apakah Kakak Ke-Tiga dan Xi Wei saling kenal?'
"Tuan Putri Ke-Tiga!"
__ADS_1
Ruofan langsung memberi hormat kepada Xincai.
"Oh? Siapa Nona Manis ini? Apakah dia temanmu, Xi Wei? Berdirilah. Aku merasa tidak enak mendapat penghormatan dari orang lain."
Xincai terlihat tertarik dengan Ruofan.
"Tidak enak apanya. Kau sering memaksaku untuk memberi hormat kepadamu. Tapi, kau selalu saja kalah dariku."
"Oi! Sial sekali aku. Tapi, kemenangan nol dan kekalahan lima puluh satu tidak akan bisa dihindari jika bertaruh denganmu. Kau ini masih saja licik sekali, Xi Wei. Selain itu, di luar seperti ini kau seharusnya memanggilku 'Tuan Putri', Bodoh."
Xi Wei tertawa keras.
"Oh ya, dia bukan temanku. Namanya Wei Ruofan. Dia adalah Adik Seperguruan dari 'orang itu'. Dan, aku membutuhkan bantuannya."
"Oh? 'Orang itu' ya? Berarti kau akan pergi ke Wufalou? Ajak aku juga! Aku belum makan malam."
"Kau yang traktir, Xincai?"
"Oi! Pelit sekali kau! Aku sudah mentraktir dirimu hampir seratus kali. Kau belum pernah mentraktir diriku sama sekali."
"Itu karena kau terus kalah dariku. Bagaimana aku bisa mentraktir dirimu? Kau harus menang dulu dariku."
"Ayolah, Xi Wei! Kau baru saja melelang Bola Mata Ular Raksasa. Bahkan yang beli adalah Guru Besar Qing. Kau mendapat kompensasi yang amat besar dari Guru Besar Qing. Jangan pelit!"
"Nah begitu dong!"
Xincai merangkul Xi Wei.
"Singkirkan tanganmu, Xincai!"
"Kau harus memanggilku Tuan Putri, bukan Xincai!"
Mereka berdua terlihat sangat akrab, seakan sudah kenal satu sama lain selama bertahun-tahun.
Ying Yue dan Ruofan tidak tahu apa gerangan yang sudah terjadi antara Xi Wei dan Xincai. Namun satu hal yang bisa dipastikan, Tuan Putri Agung cemburu dengan kedekatan Xi Wei dan Xincai. Sang Putri tidak berhenti memicingkan mata ke arah Kakak Ke-Tiga-nya.
Xincai merasa ada yang memperhatikan pun mengalihkan pandangan ke arah Ying Yue. Dia sudah tahu kalau Adik Ke-Sembilan-nya menyukai Xi Wei. Jadi, kali itu dia mencoba untuk menggodanya. Tuan Putri Ke-Tiga dan pemuda berkulit sawo matang memiliki satu kedekatan lain. Dia akan menggunakan itu untuk membuat Ying Yue semakin cemburu.
Xincai mencium pipi Xi Wei. Xi Wei langsung memelototi Xincai dan menaikkan sebelah alisnya. Tradisi mereka itu didapat dari daerah Liangfang, sebuah tempat di barat daya Negeri Yinying.
Xi Wei melirik ke arah Ying Yue yang wajahnya merah padam dan bersiap meledak. Sang Pemuda pun tidak segan untuk mencium pipi Xincai. Di saat bersamaan, Ying Yue benar-benar meledak.
__ADS_1