Mysterious Shender

Mysterious Shender
第四十五集 : Ying Yue Helps Xi Wei


__ADS_3

Ying Yue menghela napas panjang. Latihannya baru saja selesai. Begitu pun, Xincai harus memaksanya agar elemen sihirnya bisa terlihat. Awalnya, dia dan Xincai tidak percaya dengan elemen sihir yang dimiliknya. Setelah waktu berlalu cukup lama, mereka akhirnya menyerah dan melatih kultivasi Ying Yue.


Xincai menyarankan Ying Yue agar bertanya tentang penyebabnya kepada Xi Wei. Tuan Putri Agung bertanya-tanya, kenapa harus Xi Wei. Jawaban yang didapatnya juga masuk akal, mengingat kalau tadi siang Xi Wei sangat pandai menjelaskan dan menjawab keingintahuan seseorang.


"Kau harus bertanya kepadanya. Dia itu menghafal sebagian besar ilmu yang ada di dunia. Aku juga tidak akan percaya jika dia tidak menjelaskan ketika bertemu dengan Elena. Kau beruntung karena dia memilih dirimu, Adik Kesembilan."


Namun yang menjadi masalah adalah Ying Yue tidak dapat menemukan Xi Wei dimana pun. Dia sudah mencari di semua tempat di Wufalou. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Xi Wei dimana pun.


'Kemana perginya Kakak Xi Wei? Salah Kakak Xincai ... kenapa Kakak Xincai harus memaksa Kakak Xi Wei hanya karena dia sudah mengetahui elemen sihirnya? Mempelajari dan berkultivasi kan bukan sesuatu yang harus dipaksakan ....'


Saat Ying Yue mulai menyerah dan tidak akan mencari Xi Wei lebih lanjut, sang Putri mendongak ke atas pohon untuk melihat langit malam dan saat itulah dia menemukan pemuda berkulit sawo matang yang mematung di atas pohon.


"Kakak Xi Wei!"


Ying Yue memanggil, tapi tidak ada satu pun jawaban dari Xi Wei. Dia memanggil untuk kedua kalinya dan hasilnya tetap sama.


Karena kesal, Ying Yue pun melompat naik ke atas pohon dan memandangi Xi Wei. Seberisik apa pun dia atau apa pun hal aneh yang dia lakukan, itu tidak mengundang maupun mengganggu Xi Wei dan kesadarannya.


Ying Yue menggenggam tangan Xi Wei. Entah kenapa dia mulai merasa bahwa kantuk sedang menyerangnya. Dia pun tertidur bersama dengan Xi Wei.


Ying Yue tersedot masuk ke dalam cermin mimpi Xi Chen.


'Dimana ini?'


Ekspresi yang ditampakkannya sama seperti ekspresi Xi Wei ketika mengetahui bahwa ada dunia yang sangat indah, bagai surga.


Ying Yue bisa mendengar pertarungan dua orang. Saat menoleh, dia menemukan dua Xi Wei dengan warna surai yang berbeda sedang bertarung. Xi Wei yang dia tahu babak belur. Wajah si Pemuda penuh dengan luka dan darah.

__ADS_1


"Kakak Xi Wei!"


Karena Ying Yue yang muncul entah dari mana, Xi Wei melepaskan pandangannya dari Xi Chen dan melihat ke arah sang Putri. Saat itu juga Xi Chen mengambil kesempatan untuk menjatuhkan Xi Wei.


"Jangan lengah walau ada seseorang di sini!"


Xi Chen mengarahkan pedang ke depan leher Xi Wei untuk kesekian kalinya.


***


Keinginan Xi Wei terkabul, sebilah pedang yang sering digunakan olehnya muncul di hadapannya. Walau pemuda berkulit sawo matang sudah mendapatkan sebilah pedang, dia tidak boleh lengah ataupun senang. Orang yang sedang dihadapinya adalah Ayahnya sendiri. Ayahnya itu merupakan seseorang yang berada dalam Deret Dewa Kultivator.


'Bagus sekali. Karena kau tahu dan paham bahwa ini adalah mimpi, kau bisa meminta apa pun yang kau inginkan. Tapi, tidak dengan kemenangan.'


Xi Chen mengeluarkan sihir tebasan pedang. Xi Wei terlempar ke belakang karenanya.


'Sial. Ini sakit sekali. Memang benar dia adalah Ayahanda. Tapi, kenapa rasanya dia benar-benar akan menjadi musuhku?'


Xi Wei bangkit lagi. Dia tentu saja tidak ingin kalah dari Pak Tua yang dia tak tahu umurnya berapa. Dia hanya ingin membuktikan kepada Xi Chen kalau dia tidak selemah yang diumpatkan pria itu kepadanya.


Xi Wei menambah kecepatannya hingga lima puluh persen dari persentase maksimal kecepatan yang bisa dicapainya. Tetap saja, seolah-olah itu tidak berguna bagi Xi Chen.


"Jika hanya kecepatan, aku juga bisa melakukannya!"


Xi Chen membentak Xi Wei dan memperlihatkan kecepatan yang dimilikinya kepada si Pemuda. Napas Xi Wei terengah-engah karena Ayahandanya tidak memberinya waktu untuk mengambil napas sama sekali.


Ketika sudah mencapai batas pertahanan yang dimilikinya, Xi Chen melumpuhkan Xi Wei. Sulit sekali melawan Xi Chen, padahal si Pria Tua tidak menggunakan sihirnya sama sekali.

__ADS_1


"Aku tidak boleh menyerah."


Xi Wei bergumam kepada dirinya sendiri untuk menyemangati dirinya sendiri.


'Masih ada orang yang harus kucari, masih ada orang yang ku janjikan sebuah pernikahan dan perlindungan. Jika aku kalah dari Pak Tua ini, aku akan malu. Li Ying Yue ... aku harus bisa menjadi lebih kuat untuk melindunginya!'


Walau semangat Xi Wei terus membara layaknya api yang tidak akan pernah padam, dia tetap kalah dari Xi Chen. Pemuda berkulit sawo matang merasa kalau dia sudah ditakdirkan untuk kalah dari Ayahandanya sendiri.


'Tidak! Aku tidak boleh menyerah! Ada seseorang yang sedang menungguku.'


Sekali lagi Xi Wei bangkit dan sekali lagi pula Xi Chen berhasil menjatuhkannya. Xi Wei bahkan tidak pernah menyentuh Xi Chen sama sekali. Pria Tua itu masih saja terlihat segar-bugar dan penuh energi.


Walau sudah terjatuh beberapa kali, Xi Wei tidak ingin menyerah. Dia tetap bangkit dan memerangi Xi Chen.


Xi Chen menyukai semangat yang diperlihatkan oleh anaknya, tapi itu tidak akan cukup untuk sekedar melindungi seseorang.


"Kau tidak akan bisa melindungi seseorang hanya dengan kemampuanmu yang seperti ini. Jika kau mendapatkan orang yang lebih kuat darimu, kau akan merasa malu. Seorang pria tidak boleh kalah dari wanita yang dicintainya."


Xi Wei tentu saja tahu apa maksud Xi Chen. Maka dari itu, dia tidak akan pernah menyerah. Semangatnya untuk mendapatkan pengakuan dari Ayahnya tidak akan pernah padam.


Saat Xi Wei sudah di ambang batas kemampuannya, entah dari mana suara Ying Yue yang memanggil namanya terdengar sangat jelas di telinganya. Dia langsung mengalihkan perhatiannya untuk melihat Ying Yue yang muncul entah dari mana. Pada akhirnya, dia kalah lagi karena hal itu.


'Aku benar-benar tidak berguna. Apa gunanya jika aku hanya bisa menemukan Li Ying Yue tapi tidak akan pernah bisa menjaganya? Aku ingin segera sembuh dari rasa sakit ini.'


Xi Wei dapat mendengar Xi Chen berkata-kata. Walau hanya di dalam cermin mimpi, tapi tubuhnya yang penuh luka dan darah yang sudah mengering bagaikan nyata.


Ying Yue memeluk Xi Wei yang kelelahan.

__ADS_1


"Lanjutkan saja di lain hari. Jangan sekarang. Kau membutuhkan istirahat, Kakak Xi Wei."


Kata-kata yang dibisikkan Ying Yue ke dalam telinga Xi Wei bagaikan sebuah pengantar tidur. Pemuda berkulit sawo matang memejamkan mata bersama dengan sang Putri. Mereka berdua menghilang dari pandangan Xi Chen.


__ADS_2