
"Wei Xiangheng? Kau kenapa?! Apakah kau sakit? Apakah ada orang yang menindas dirimu? Kalau kau sakit atau memerlukan bantuan, jangan sungkan untuk menghubungi aku! Paham?!"
Xincai langsung panik ketika melihat wajah pucat Xiangheng. Dia memang selalu begitu, terkadang melebih-lebihkan padahal tidak ada yang berbahaya sama sekali.
"Aku tidak apa-apa. Aku hanya kelelahan dan terserang flu. Beristirahat kurang dari sehari dan minum obat pasti akan sembuh. Jangan berlebihan, Fang Xincai."
Xi Wei tahu kalau saat itu Xincai menyukai Xiangheng, lebih dari Xincai menyukai dirinya. Bukannya cemburu atau apa pun, tapi menilik dari sikap Xiangheng, Tuan Putri Ke-Tiga itu akan susah mendapatkan hatinya.
"Ada apa kalian mencari diriku?"
Xiangheng mengalihkan pandangan ke arah Ruofan. Dia sedikit kaget, tapi tidak menunjukkannya. Dia tentu tidak akan melupakan Junior-nya yang satu itu.
"Bahkan sampai Adik Ruofan ada di sini. Apa yang kalian inginkan dariku pastilah berhubungan dengan Putra Mahkota."
"Aku tidak ikut-ikutan. Mereka yang bilang kalau mereka ingin mencari dirimu. Aku hanya suka makanan di sini. Xi Wei akan mentraktir."
Xincai langsung bersikap pasif terhadap urusan tiga orang yang ditemuinya di jalanan Distrik Maolong dengan Xiangheng.
"Jadi, apa yang kalian inginkan? Aku berharap bisa membantu dengan kondisi seperti ini."
Xiangheng menyambar sapu tangan yang terikat di pinggang Xincai. Dia menutup hidung dan mulutnya menggunakan sapu tangan itu.
"Oi! Itu sapu tangan milikku yang amat berharga! Beraninya kau mengambilnya tanpa izin!"
Xiangheng melirik ke arah Xincai dan mengabaikan seruannya.
"Lagipula sapu tangan ini aku yang berikan ke dirimu. Kenapa harus mendapatkan izin darimu dulu?"
Ying Yue langsung mengerti kalau Xincai menyukai Xiangheng. Namun dia tahu teman Kakak Ke-Tiga-nya itu tidak akan peka terhadap perasaannya jika tidak diberitahu.
'Seharusnya tidak apa-apa. Kakak Ke-Tiga bahkan berani menyatakan perasaan terhadap Tuan Pendekar. Masa dia tidak bisa menyatakan perasaan terhadap orang ini?'
"Tetap saja harus mendapatkan izinku! Kau sudah memberikannya kepadaku. Itu sudah menjadi milikku."
Wajah Xincai merona dan Xi Wei hanya bisa menggelengkan kepalanya ketika ditatap oleh Xiangheng.
"Kalian belum menjawab pertanyaan yang ku ajukan."
"Daripada menjawab pertanyaan dulu, lebih baik kau menyiapkan beberapa lauk untuk makan malam kami. Aku, Adik Kecil, dan Adik Ruofan belum makan dari siang."
Xi Wei menolak untuk menjawab jika Xiangheng tidak memberikan mereka lauk untuk makan. Pemuda berkulit sawo matang juga memperingatkan Ruofan untuk tidak menjawab Kakak Senior-nya.
"Baiklah. Baiklah. Pelayan!"
__ADS_1
Seorang Pelayan datang dan Xiangheng langsung menyuruhnya untuk menyediakan lauk yang paling enak untuk mereka. Lauk yang paling enak juga berarti yang paling mahal.
"Oi! Aku tidak ingin membayar semahal itu!"
"Aku akan memotong setengah harga, bagaimana?"
"Setuju!"
Xi Wei sangat senang jika mendengar tentang potongan harga. Dia tentu saja akan langsung menyetujuinya. Jarang sekali Xiangheng akan memberikan potongan harga.
"Nih! Aku kembalikan sapu tangan milikmu."
Xiangheng menyodorkan sapu tangan kepada Xincai, yang langsung ditolak oleh Tuan Putri Ke-Tiga.
"Tidak sopan sekali kau! Cuci dulu baru kau kembalikan lagi kepadaku! Aku tidak akan senang jika barang milikku dikotori seperti ini. Kau pasti juga sama."
Xiangheng menghela napas. Dia tersenyum dan menyimpan sapu tangan itu di sakunya.
"Kalau begitu aku akan mengembalikannya kapan-kapan."
"Besok aku akan datang lagi untuk mengambil sapu tangan itu."
"Baiklah, sesuai keinginanmu saja. Aku tidak tahu harus bagaimana menghadapi dirimu."
Ying Yue sepertinya sudah mengerti hubungan rumit antara Xincai dan Xiangheng. Sang Putri tahu kalau Kakak Ke-Tiga-nya menyukai Xiangheng, tapi Xiangheng juga menampakkan sikap demikian.
"Kau pasti belum mengatakan apa pun kan?"
Xiangheng terdengar tersirat sekali ketika bertanya tentang hal itu. Sebagai seorang wanita, Ying Yue yakin intuisinya tak salah lagi.
"Apakah itu penting?"
Xincai terlihat tidak peduli, tapi wajahnya sudah merona. Yang artinya dia sebenarnya belum dan ingin memberitahu. Dia hanya tidak tahu harus memulainya dari mana.
"Bagiku itu penting."
"Terserah saja."
Xi Wei dan Ying Yue tertawa. Mereka saling menatap dan tidak menghentikan tawa.
"Dasar! Seperti aku tak tahu kalian saja! Kalau sudah memiliki hubungan bilang saja. Tak perlu malu-malu seperti ini. Jangan lupa mengundang jika kalian akan menikah!"
Wajah Xincai dan Xiangheng sama-sama merona. Xi Wei terlalu dini mengatakan tentang pernikahan. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa mereka berdua sudah memikirkan sampai ke arah itu.
__ADS_1
"Kau juga jaga Adik Ke-Sembilan baik-baik. Kalau tidak, aku akan membunuhmu."
"Tentu saja aku akan menjaganya dengan baik. Tapi, sepertinya aku harus merepotkan kalian untuk beberapa dekade ke depan."
Xi Wei terlihat sangat serius ketika mengatakannya. Itu membuat Xincai dan Xiangheng khawatir.
"Apa yang ingin kau lakukan?"
"Mencari jati diri. Guru sudah memberikan kepadaku sebuah petunjuk tentang siapa diriku sebenarnya. Aku harus menjawab panggilan untuk itu."
Xincai menarik tangan Xi Wei dan Xiangheng. Dia menyatukan keduanya bersama dengan tangannya.
"Apa pun yang terjadi kita bertiga adalah teman baik, sudah sehidup-semati. Aku akan mendukungmu, Xi Wei."
Xiangheng menyeringai manis.
"Aku juga akan mendukungmu, Xi Wei."
Xi Wei merasa dirinya begitu beruntung memiliki Xincai dan Xiangheng. Pemuda berkulit sawo matang tidak lupa akan eksistensi Ying Yue. Dia juga menarik tangan Ying Yue untuk bergabung ke dalam sana.
"Aku berharap kalian bisa menjaga Adik Kecil ini untukku sementara waktu. Aku akan kembali untuknya secepat mungkin."
Ying Yue merona. Dia senang karena Xi Wei memperhatikannya.
"Tentu saja. Dia adalah Adik Ying Yue-ku yang manis."
Pelayan membawa beberapa lauk yang dipesan oleh Xiangheng untuk mereka. Mereka juga menyudahi acara manis itu.
Ruofan merasa sedikit asing berada di antara para pasangan yang menjalin hubungan sehidup-semati. Di saat bersamaan dia juga senang.
"Lauk sudah datang. Jawab pertanyaan yang belum dijawab itu!"
Xiangheng amat penasaran dengan apa yang diinginkan oleh ketiga orang yang datang bersama, terkecuali Xincai, hingga harus meminta bantuannya.
"Tidak bisakah kau membiarkan kami makan malam dulu?"
"Tidak."
"Tanya Adik Senior-mu. Dia yang pantas menjelaskan segalanya. Walau kau sudah tahu ceritanya, tapi ada bagian yang ingin diselesaikan oleh Adik Kecil."
Ruofan melirik ke arah Xi Wei.
"Mari bicarakan hal itu setelah makan malam, Kakak Senior."
__ADS_1
"Apa yang mereka katakan ada benarnya. Ayo kita makan malam dulu!"
Xincai juga setuju dengan Xi Wei dan Ruofan. Karena Tuan Putri Ke-Tiga sudah berkata seperti itu, Xiangheng hanya bisa menurutinya. Baik Xi Wei maupun Xiangheng tidak akan bisa mengalahkan betapa keras kepalanya Xincai.