Mysterious Shender

Mysterious Shender
第三十六集 : Xi Wei is Awake


__ADS_3

Sudah tiga hari Xi Wei tidak kunjung membuka matanya setelah menyelamatkan nyawa Qingqing dari ambang kematian. Xiangheng dan Xincai tidak pernah melepaskan tatapan mereka dari pemuda berkulit sawo matang sekali pun. Mereka berdua bergantian dalam menjaga Xi Wei, berharap kalau Sang Pemuda akan cepat bangun.


Sehari yang lalu, Qingqing sudah sadar. Xincai membantu mencabut jarum-jarum yang ada di punggungnya. Ying Yue menangis lega. Namun Sang Putri masih merasa bersalah karena ingin menyelamatkan Pelayan Pribadi-nya, dia harus mengorbankan seseorang.


"Jangan terlalu dipikirkan. Xi Wei memang sangat keras kepala. Bahkan kami sendiri tidak bisa mencegahnya."


Meski sudah dikatakan seperti itu, Ying Yue tetap saja tidak bisa menerima. Dia menganggap hal itu sebagai bagian dari keegoisannya. Dia telah membuat Xi Wei berada dalam bahaya. Tidak ada yang bisa dia lakukan untuk menolong Xi Wei.


'Kami baru saja mengenal beberapa hari. Tapi, dia sangat baik. Dia mengorbankan nyawa untuk menyelamatkan Qingqing.'


Xiangheng menghela napas panjang. Dia sangat kesal dengan keputusan Xi Wei.


'Sudah dua hari kau seperti ini. Sudah dua hari, Xi Wei! Kau bodoh. Kau sangat bodoh! Kenapa?'


Xiangheng berharap mata Xi Wei yang saat itu tengah tertutup cepat-cepat terbuka. Xiangheng dan Xincai merasa tidak lengkap tanpa kehadiran Xi Wei di sisi mereka.


Xincai pelan-pelan meminumkan obat untuk Xi Wei. Dia meletakkan mangkuk ke atas meja dan menggenggam tangan Xiangheng yang sedang menggenggam tangan Xi Wei.


"Dia pasti akan segera sadar ...."


Xiangheng merasa sedikit lebih tenang ketika mendengar perkataan Xincai. Mungkin dia juga memiliki firasat kalau Xi Wei akan segera sadar.


Sementara itu, Xi Wei tengah bermimpi. Mimpi yang sangat aneh.


Xi Wei sedang berdiri di antara pohon-pohon plum yang bunganya bermekaran. Warna merah muda menghiasi pemandangan. Sang Pemuda merasa takjub dengan apa yang dilihatnya. Kemudian, dia sadar kalau-kalau dia sedang bermimpi.


'Apakah aku sedang bermimpi? Sepertinya begitu ... tapi, ini adalah mimpi yang sangat indah. Tempat ini sangat indah.'


Xi Wei berjalan hingga keluar dari hutan plum. Dia bisa melihat setapak jalan di antara hutan, daripada hutan lebih tepat disebut pohon plum. Pemuda berkulit sawo matang menyusuri setapak jalan itu hingga dia berhenti karena melihat bayangan Istana megah.


Di depan tangga Istana megah, Xi Wei bisa melihat seorang pria menggenggam tangan seorang wanita. Mata mereka mengisyaratkan cinta mendalam. Senyuman mereka sangat hangat. Yang membuat Sang Pemuda kaget adalah wajah pria itu sangat mirip dengannya. Yang berbeda hanyalah warna surai mereka. Sedangkan surai Xi Wei lebih mirip surai Sang Wanita.


Sang Pria juga membawa pedang kembar, sama seperti Xi Wei. Mereka memiliki banyak kesamaan.


"Aya ... Ayahanda ...?"


Pemandangan langsung berubah menjadi mengerikan. Kebun plum yang indah terbakar seketika. Malam itu amat mencekam.

__ADS_1


Xi Wei bisa melihat Sang Pria dan Sang Wanita berlari keluar dari Istana megah. Sang Pria membunuh semua orang yang menghalangi dan menjaga Sang Wanita yang sedang menggendong anak. Keadaannya sangat kacau. Bahkan bendera Kerajaan mereka yang ada di depan Istana terbakar habis.


"Sini Jialing!"


Sang Wanita yang bernama Jiaxin langsung melompat ke dalam gendongan Sang Pria.


"Xi Chen hati-hati!"


Lengan Xi Chen teriris pedang.


"Pegangan yang erat!"


Dengan satu tangan yang bebas, Xi Chen mencabut pedang dan segera menebas dada prajurit. Keadaan sangat kacau. Darah berceceran dan mayat tergeletak dimana-mana.


"Kejar mereka!"


Xi Wei mengarahkan pandangannya ke arah lain.


"Kaisar yang sekarang ...?"


"Ayahanda ... Ibunda ...."


Segalanya langsung menghitam setelahnya. Kemudian, Xi Wei bisa melihat seseorang tengah berdiri di antara kegelapan itu. Xi Chen.


Xi Chen berjalan maju, Xi Wei mengikutinya dari belakang. Pria itu berjalan masuk ke dalam sebuah cahaya. Saat Xi Wei ikut masuk, segalanya langsung berubah.


Xi Wei dapat melihat pemandangan yang tidak bisa diucapkan keindahannya dengan kata-kata. Dia melihat pohon plum yang bermekaran di atas air. Di sudut matanya, dia menangkap bayangan seseorang. Pemuda berkulit sawo matang langsung melemparkan Pandangan ke arah orang itu. Xi Chen juga tengah melihatnya.


Xi Chen menyeringai manis.


"Ternyata anakku sudah besar."


Xi Wei bisa mendengar Xi Chen berkata-kata. Walau dia tahu Sang Pria hanya mengatakan hal itu untuk dirinya sendiri.


"Ayahanda ...."


Xi Chen bergerak cepat dan mengarahkan salah satu dari pedang kembar yang dimilikinya ke leher Xi Wei.

__ADS_1


"Bangun, tempatmu bukan di sini!"


Meskipun Xi Wei tidak ingin bangun dan ingin menikmati waktu lebih lama dengan Xi Chen di dalam mimpinya, dia tidak bisa melakukan hal itu.


Xi Wei tersentak bangun dan hal itu langsung menyakiti dirinya.


Xincai dan Xiangheng kaget karena tiba-tiba Xi Wei terbangun seperti itu. Mereka langsung menidurkan Xi Wei perlahan-lahan. Namun Xincai dan Xiangheng mengembuskan napas lega.


"Syukurlah kau akhirnya bangun!"


Xincai dan Xiangheng memeluk Xi Wei.


Xi Wei masih kaget, tapi dia sangat bersyukur karena dia memiliki teman-teman yang sangat memperhatikannya.


"Sudah berapa lama aku terbaring tidak berdaya bagai mayat hidup?"


"Sudah tiga hari."


Xi Wei melirik ke luar jendela. Hari sudah hampir menjelang pagi.


"Hah ... benar-benar."


Xincai menjitak kepala Xi Wei. Dia marah karena pemuda berkulit sawo matang selalu saja mengutamakan orang lain. Dia tidak begitu setuju sama seperti Xiangheng. Apalagi Qingqing dan Xi Wei tidak saling mengenal.


"Untuk apa kau melakukan hal itu, Fang Xincai?!"


Xi Wei meneriaki Xincai sambil mengelus kepalanya yang sebenarnya tidak ada sakitnya sama sekali. Xincai hanya menjitak dengan pelan.


"Lain kali jangan sembrono lagi! Kau tidak tahu aku sangat khawatir?! Bagaimana jika kau tidak bisa membuka matamu lagi?! Bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi padamu ...?"


Xincai menangis histeris. Xiangheng memeluk Tuan Putri Ketiga-nya. Pemilik Wufalou menatap tajam ke arah Xi Wei yang tidak pernah ingin mengutamakan diri sendiri lebih dulu. Pemuda berkulit sawo matang hanya bisa menghela napas panjang.


Xi Wei perlahan-lahan bangun dan menempatkan diri di posisi duduk yang nyaman. Dia membuka lebar kedua lengannya dan membiarkan kedua teman, bukan, sahabat baiknya jatuh ke dalam pelukannya.


"Aku berjanji, aku tidak akan membahayakan diriku sendiri lagi. Kali ini yang terakhir. Aku tidak akan mengulangi kesalahan ini lagi. Aku tidak akan membuat kalian menangis lagi. Aku akan belajar kultivasi agar kalian tidak melarang aku melakukan hal itu."


Walau Xincai dan Xiangheng tidak akan pernah percaya pada ucapan Xi Wei yang satu itu, tapi di saat bersamaan mereka merasa sangat lega karenanya.

__ADS_1


__ADS_2