
Xi Wei lagi-lagi terbangun karena 'cermin mimpi' yang menghubungkan dirinya dengan Ayahandanya. Dia menatap keluar jendela dan menemukan kalau hari sudah siang. Suara berisik di luar, juga di dalam Wufalou tidak memungkinkan dirinya untuk tidur.
Meski Xi Wei masih merasakan sakit di dalam tubuhnya, dia merasa kalau dia itu baik-baik saja dan sangat bersemangat.
'Ayahanda berkata kalau aku harus berkultivasi ... tapi, aku tidak tahu harus memperdalam ilmu apa. Selain itu, elemen cahaya? Apakah itu familiar Ayahanda? Kupu-kupu, bunga plum, bunga teratai, dan daun-daun kering yang berguguran ... semuanya terasa sangat lembut dan elegan. Kalau aku, apakah aku bisa menciptakan familiar yang elegan seperti itu tidak ya?'
Walau Xi Wei masih berada dalam Deret Kultivator Tingkat Rendah,, tapi dia bisa menciptakan beberapa macam sihir.
Xi Wei melihat ke arah cahaya.
'Aku ingin mencobanya, aku ingin mencoba menciptakan familiar. Apakah aku bisa melakukannya?'
Entah memang dia bisa atau itu hanya sebuah kebetulan, Xi Wei berhasil menciptakan gelembung-gelembung padat dari cahaya. Meskipun begitu, dia merasa sedikit tidak puas karena tidak bisa melihat hal yang diinginkannya.
'Kira-kira Ayahanda berlatih berapa lama untuk bisa mencapai posisi Deret Dewa Kultivator ya?'
Di luar kamar, Xincai yang ingin membawakan Xi Wei makan siang kaget sekaligus takjub. Dia adalah orang pertama yang tahu elemen yang dimiliki oleh pemuda berkulit sawo matang. Dia tidak percaya dengan penglihatannya, kalau si Pemuda terikat dengan cahaya.
'Baru pertama kali aku melihat seseorang yang terikat dengan cahaya. Aku kira mereka hanya ada dalam mitos. Tapi, Xi Wei ... kau, dirimu ... orang yang sangat spesial!'
Xincai tersenyum senang karena akhirnya Xi Wei tahu elemennya. Selama ini, Tuan Putri Ketiga tahu kalau si Pemuda sedang mencarinya. Elemen miliknya.
'Aku turut senang, Xi Wei. Aku harap kau bisa memutuskan ilmu yang ingin kau perdalam.'
Xincai mengambil napas dan masuk ke dalam ruangan. Dia tidak ingin Xi Wei tahu kalau dia sudah memperhatikan semuanya dari luar ruangan.
"Bagaimana keadaanmu?"
Xi Wei mengalihkan perhatiannya pada Xincai. Dia tersenyum.
"Aku sangat baik."
"Kau terlihat senang. Ada apa, Xi Wei?"
"Entahlah ... aku tidak tahu alasan aku terlihat senang."
Sebenarnya, Xincai bingung dengan pernyataan Xi Wei dulunya. Dia ingat kalau sang Pemuda mengatakan dia tidak tahu elemen yang dimilikinya. Dia juga tidak pernah menunjukkannya. Entah kenapa hari itu tiba-tiba dia menunjukkannya.
"Benarkah? Tapi, baguslah. Raut wajahmu lebih baik. Hari ini Xiangheng memberikanmu bubur ayam khas Wufalou. Mahal loh! Jangan lupa berterima kasih kepadanya. Aku akan pergi dulu."
"Kau akan pergi kemana?"
Xincai tersenyum penuh arti kepada Xi Wei.
"R a h a s i a!"
Xincai menghilang dari balik pintu kamar. Xi Wei hanya bisa menggelengkan kepala menatap kepergian Tuan Putri Ketiga-nya yang masih sama manisnya seperti dulu.
'Waktu begitu cepat berlalu ....'
Angan Xi Wei melayang ke saat dia berada di Akademi Luqing, mencari masalah bersama Xincai dan Xiangheng. Saat-saat itu baginya sangatlah indah. Kedua orang itu sudah bagai belahan jiwanya.
'Semuanya sudah berlalu ... aku akan mengatakan apa yang baru saja aku dapatkan kepada mereka nanti.'
__ADS_1
Xi Wei melihat ke arah cahaya dan tersenyum hangat. Dia menikmati bubur yang diberikan oleh Xiangheng dan diantarkan oleh Xincai. Mereka berdua adalah yang terbaik bagi pemuda berkulit sawo matang.
"Kenapa kau tidak masuk? Sampai kapan kau akan berdiri di luar sana dan hanya menatapku seperti itu, Adik Kecil?"
Xi Wei menatap ke arah Ying Yue yang sedang mengintip ke dalam. Dia terkekeh gemas dengan kelakuan Ying Yue yang amat lucu.
"A ... aku ketahuan ya ...."
Xi Wei tersenyum.
'Benar, aku masih memiliki Adik Kecil yang manis ini. Aku tidak perlu takut kesepian lagi. Aku sudah berjanji akan membahagiakan dirinya.'
Ying Yue masuk ke dalam kamar dengan wajah merona. Dia duduk di samping Xi Wei yang sedang menikmati makan siangnya.
"Terima kasih karena sudah menyelamatkan Qingqing."
Xi Wei tersenyum dan meletakkan mangkuk di atas meja. Dia menepuk pelan kepala Ying Yue.
"Tidak masalah."
Wajah Ying Yue semakin merah.
"Apakah tidak sakit?"
"Ya?"
"Apakah itu tidak sakit? Darah yang keluar banyak sekali ...."
Xi Wei menggelengkan kepalanya dan tertawa ringan.
"Tidak sakit sama sekali."
"Bohong!"
"Eh?"
"Kau sedang berbohong!"
Xi Wei memasang tampang polos, berpura-pura tidak mengerti dengan perkataan Ying Yue. Jika harus jujur, dia lebih baik bertarung dengan banyak Ular Raksasa Chizi daripada harus mengalami pendarahan internal yang begitu hebat seperti yang sudah dilakukannya sebelum tak sadarkan diri.
"Pasti sangat sakit, kan?"
Xi Wei menghela napas panjang.
"Kau tidak perlu memikirkannya, aku sudah tidak apa-apa sekarang."
'Apanya yang tidak apa-apa? Xi Wei, oh Xi Wei ... kenapa kau harus berbohong di depan Adik Kecil ini? Agar dia tidak sedih.'
Ying Yue masih saja menunjukkan tatapan sedihnya. Dia ingin menebus rasa sakit Xi Wei. Namun terlalu malu untuk mengatakannya kepada pemuda berkulit sawo matang.
"Kenapa? Apakah kau ada sesuatu yang harus diungkapkan?"
"Kau sudah berjanji."
__ADS_1
"Eh?"
"Kau sudah berjanji akan mengajari aku berbagai hal."
Xi Wei baru ingat kalau dia sudah tak sadarkan diri selama tiga hari. Selama itu jugalah Ying Yue tidak mendapatkan pengajaran apa pun darinya. Sang Pemuda harus mengalihkan pembicaraan.
"Bagaimana dengan surat untuk Kaisar? Apakah Xincai sudah menulisnya?"
Ying Yue sedikit kecewa karena Xi Wei mengalihkan pembicaraan.
'Aku anggap kau tidak ingin memintaku menebus Qingqing, Tuan Pendekar.'
"Kakak Xincai sudah menuliskannya. Balasannya datang semalam. Kaisar mengizinkanku untuk tinggal bersama Kakak Xincai sementara waktu."
"Kalau begitu, aku bisa dengan leluasa membawamu pergi kemana saja!"
Xi Wei terlihat sangat senang ketika mengatakannya.
"Ah!"
Mata Ying Yue teralihkan. Dia bisa melihat ada gelembung-gelembung padat yang terbuat dari cahaya mengelilingi Xi Wei.
'Jangan-jangan, itu elemen cahaya? Tidak mungkin! Masa ...? Masa Tuan Pendekar adalah seorang Dewa?!'
"Ada apa?"
Xi Wei terlihat bingung dengan Ying Yue. Pemuda berkulit sawo matang juga tidak sadar bahwa sihirnya muncul secara mendadak karena dia senang. Dia belum bisa mengendalikannya dengan baik lantaran baru tahu tentang hal itu.
"Tadi ... ada cahaya yang mengelilingi dirimu. Sekarang sudah hilang ...."
"Oh? Eh? Kau melihatnya?"
Xi Wei sedikit panik karenanya.
"Aku melihat sekilas. Tapi, sepertinya bukan hal besar."
Xi Wei merona.
"Hei, Tuan Pendekar."
"Apa? Panggil aku Kakak Xi Wei."
"Baiklah, Kakak Xi Wei."
'Begitu lebih enak didengar.'
"Kakak Xi Wei."
"Ya? Ada apa?"
"Apakah Kakak adalah seorang Dewa?"
Xi Wei melirik dengan tatapan aneh ke arah Ying Yue. Dia tidak mengerti. Apanya yang seorang Dewa?
__ADS_1