Mysterious Shender

Mysterious Shender
第四十九集 : Xi Wei's Feeling


__ADS_3

Saat Xi Wei membuka matanya, dia menemukan kalau posisinya sudah berpindah agak jauh dari tempatnya semula berada. Saat itu dia berada di bawah sebuah pohon rindang. Pemuda berkulit sawo matang menemukan Ying Yue yang sedang tertidur dan menjadikan pahanya sebagai alas untuk kepalanya.


'Bagaimana dia bisa menemukanku di tempat ini?'


Ying Yue membuka matanya perlahan. Dia melihat ke arah Xi Wei yang juga sedang melihat ke arahnya. Dia tersenyum.


"Kau sudah bangun, Kakak Xi Wei?"


Xi Wei langsung terduduk membelakangi Ying Yue. Dia menghela napas karena kaget dengan Ying Yue yang tiba-tiba saja tersenyum manis padanya. Wajah pemuda berkulit sawo matang merona.


"Kakak Xi Wei?"


Xi Wei menutup wajahnya memakai kedua telapak tangannya.


'Padahal dulu aku tidak seperti ini ... Adik Kecil ini, kira-kira apa yang spesial dari dirinya, ya?'


Angan Xi Wei melayang hingga sampai pada saat dia masih berada di Akademi. Banyak sekali perempuan yang mengaguminya hingga mejanya selalu penuh dengan surat yang dianggapnya tidak berguna. Setelah kelas selesai, dia akan membakarnya di hadapan para siswa/siswi lainnya—yang menandakan bahwa dia tidak tertarik sama sekali.


Begitu pun, siswi-siswi di Akademi tidak berhenti mengirimkan surat cinta mereka. Saat itu, yang paling berani adalah satu siswi yang masuk saat dirinya seumuran dengan Ying Yue yang ada di hadapan Xi Wei. Fang Xincai. Secara terang-terangan, dia mengungkapkan cintanya kepada Xi Wei di hadapan banyak murid. Tetap saja hati baja si Pemuda tidak tersentuh sama sekali.


'Sekarang aku malah menyukai Adik Kecil ini. Apa yang menarik dari d-'


Xi Wei terjungkal dari duduknya karena melihat Ying Yue yang menatapnya dari dekat.


"A- a- apa yang kau lihat?"


Ying Yue memicingkan matanya.


"Kau terlihat aneh dan mencurigakan, Kakak Xi Wei. Apakah tidurmu nyenyak? Apakah mimpimu aneh?"


"Tidak! Aku tidur dengan nyenyak dan tidak bermimpi sama sekali."


"Lalu, kenapa kau aneh sekali?"


"Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja."


Xi Wei berubah menjadi normal lagi. Wajah dan tatapan dinginnya membuat Ying Yue sedikit khawatir karena kesulitan untuk memahami jalan pikiran si Pemuda.


"Kau membuat aku khawatir, Kakak Xi Wei."

__ADS_1


Xi Wei tidak begitu kaget mendengar Ying Yue berkata demikian. Dari yang sudah-sudah, pemuda berkulit sawo matang tahu kalau sang Putri memang merupakan tipe orang yang sangat blak-blakan. Ying Yue tidak akan merahasiakan sesuatu yang sedang dirasakannya.


"Apa yang membuatmu khawatir?"


"Kau terlalu misterius hingga aku tidak bisa menebak apa yang sedang kau pikirkan."


"Aku tidak sedang memikirkan apa pun."


Ying Yue tentu tahu kalau Xi Wei berbohong. Namun dia tidak bertanya lebih lanjut lagi karena tahu kalau itu adalah penolakan dari si Pemuda.


"Kalau begitu, aku akan kembali ke Wufalou dulu. Kakak Xi Wei juga jangan lupa mencari makanan untuk sarapan."


Ying Yue berdiri dan menepuk pelan 'Hanfu' yang sedang dipakainya. Dia berjalan santai meninggalkan Xi Wei.


"Tidak. Aku akan kembali ke Wufalou bersamamu."


Xi Wei berdiri dan langsung mengejar Ying Yue.


Sepanjang perjalanan menuju Wufalou Xi Wei dan Ying Yue hanya terdiam. Tidak ada yang mereka bicarakan sama sekali. Meskipun canggung, tapi mereka tidak ada niat untuk memecahkan kecanggungan itu.


Xi Wei sesekali melirik ke arah Ying Yue yang tersenyum kepada para penduduk yang mereka lewati. Sedangkan dirinya sendiri memakai tudung jubah untuk menghindari orang-orang.


'Mengapa Kakak Xi Wei tidak ingin memperlihatkan wajahnya kepada orang-orang? Padahal dia tampan, juga ... mata dan rambutnya unik.'


Xi Wei hanya tidak ingin orang-orang takut kepadanya. Rambut putih dan manik mata berwarna kuning matahari pagi yang cerah, manusia mana yang memiliki penampilan seperti itu ...? Saat kecil, pemuda berkulit sawo matang sering diejek monster hanya karena dia sedikit berbeda. Dan, Chaguan lah yang sering menyelamatkan dirinya dari bully-an orang-orang.


Xi Wei dan Ying Yue sampai di Wufalou. Terlihat Ruofan dan Xincai yang sedang bercengkrama. Xiangheng sendiri pastinya sudah berada di posisinya dan sedang bekerja. Si Pemuda dan sang Putri duduk di meja paling pojok yang jaraknya cukup jauh dari Ruofan dan Xincai. Pelayan mengantarkan teh ke tempat mereka. Xi Wei memesan lebih dulu tanpa ditanya oleh Pelayan.


"Aku ingin memesan tiga mantou dan saus khas Wufalou."


"Aku akan memesan yang sama seperti Tuan ini."


"Baiklah. Enam mantou dan dua khas Wufalou akan segera datang."


Ying Yue tidak berhenti menatap ke arah Xi Wei yang masih memakai tudung jubahnya walau mereka sudah berada di dalam Wufalou. Mungkin karena pelanggan di tempat itu sangat ramai.


"Kenapa kau melihatku seperti itu?"


Ying Yue sedikit kaget.

__ADS_1


"Memangnya aku tidak boleh melihat Kakak Xi Wei?"


Xi Wei terdiam. Dia tidak menjawab pertanyaan Ying Yue.


'Yah ... Kakak Xi Wei terlalu cuek. Mungkin dia hanya tidak bisa mengekspresikan perasaannya.'


Memang benar kalau Xi Wei tidak bisa mengekspresikan perasaannya, tapi tidak seburuk itu.


Pelayan datang membawa pesanan Xi Wei dan Ying Yue.


"Silahkan mantou dan saus khas Wufalou."


"Terima kasih."


Ying Yue tersenyum.


"Terima kasih."


Xi Wei mengatakan hal yang sama dengan Ying Yue.


Ying Yue tersenyum.


'Setidaknya Kakak Xi Wei ada sisi baiknya. Walau terkadang perkataannya buruk dan tidak dapat ditoleransi. Tapi, dalam beberapa hal, terutama menolong orang, dia tidak sungkan sama sekali.'


"Maafkan aku atas kejadian di cermin mimpi."


Ying Yue menatap Xi Wei sambil mengunyah mantou yang sudah dicelupkan ke dalam saus khas Wufalou—sang Putri melihat pemuda berkulit sawo matang melakukannya, dia hanya mengikutinya.


"Tidak masalah. Kau harus meminta maaf jika bertemu lagi dengan mereka. Aku tahu kalau kau tidak bermaksud mengatakannya, Kakak Xi Wei. Maksudku, setiap orang punya kejenuhan tersendiri. Kata-kata itu tercipta karena kau jenuh. Tetap saja itu bukan sesuatu yang baik untuk dikatakan. Apalagi kepada orang yang lebih tua."


Xi Wei memakan mantou yang ada di tangannya.


'Baru kali ini aku diceramahi oleh seseorang yang lebih muda dariku. Dilihat dari segi mana pun, mentalnya sangat kuat. Tidak seperti diriku yang cepat tersinggung ....'


Ying Yue tahu Xi Wei sedang memperhatikan setiap gerak-geriknya. Namun dia tidak merasa tersinggung sama sekali.


"Setelah kau selesai sarapan, panggil Ruofan. Aku akan melatih kalian di tempat itu."


Ying Yue tercengang karena mantou yang tersisa dua sudah hilang entah kemana. Dia menatap punggung Xi Wei.

__ADS_1


'Kakak Xi Wei benar-benar hantu. Bahkan memakan sesuatu saja sangat cepat! Sepertinya, dia tidak mengunyah makanannya ....'


__ADS_2