
Xi Wei terbangun karena Maorong yang membangunkannya.
"Xi Wei…?"
Xi Wei membuka matanya perlahan-lahan. Manik matanya berubah lagi menjadi warna biru langit yang indah.
Maorong kaget melihat perubahan warna mata yang dialami oleh Xi Wei, padahal dia sudah pernah melihatnya satu kali kemarin. Namun tetap saja, dia sangat kaget. Dia belum terbiasa dengan hal itu.
Xi Wei yang menyadari kekagetan Maorong pun bertanya dan mengejek, "Apa yang kau lihat, Paman? Kau seolah habis melihat sesosok hantu saja."
"Anda adalah hantu!" seru Maorong dengan kesal. Dia tidak menyangka kalau Xi Wei akan mewarisi sifat menyebalkan Ayahandanya. Dia lebih menyukai sifat Ibunda si pemuda yang lebih tenang dan terkesan tidak terburu-buru.
Xi Wei tertawa ringan, kemudian berkata, "Aku bukanlah hantu, Paman. Aku adalah manusia. Apakah Paman melihat perubahan ini lagi?"
Xi Wei menunjuk ke matanya yang masih berubah warna. Ternyata dia juga menyadari perubahan aneh yang terjadi pada manik matanya.
"Tidak perlu dikhawatirkan. Mungkin hal ini akan sering terjadi karena pengaruh dari sihirku," lanjut Xi Wei. "Apakah Ayahanda juga selalu seperti ini?"
Maorong menggelengkan kepalanya. Dia menjawab, "Yang Mulia tidak pernah mengalaminya secara acak. Dia bisa mengendalikan perubahan warna matanya. Anda berdua adalah anak dari cahaya—menurut pengakuan dari Kuil Suci Taiyang. Warna mata melambangkan tambahan elemen sihir yang bisa Anda berdua gunakan."
"Apa lagi yang kau tahu soal hal ini, Paman?" tanya Xi Wei.
Maorong pun bercerita, "Ayahanda Anda adalah orang yang hebat. Tidak hanya baik hati, dia juga senantiasa membantu rakyatnya. Beliau adalah orang yang tidak bisa duduk diam di atas singgasana sementara rakyatnya kacau balau. Beliau telah lama memasuki Deret Dewa Kultivator. Dan, warna mata beliau dapat berubah menjadi merah: yang artinya, beliau dapat mengendalikan segala jenis api. Karena bisa mengendalikan segala jenis api, beliau bisa meracik semua pil dari tingkatan terendah hingga tingkatan tertinggi."
Xi Wei merinding mendengar cerita Maorong. Namun ada satu pertanyaan terlintas di benaknya: Jika memang Xi Chen adalah orang sehebat itu, kenapa dia malah tidak bisa menyelamatkan jabatannya sebagai seorang Kaisar? Kenapa dia tidak bisa menyelamatkan seluruh keluarganya?
"Dan, kami telah lalai menyelamatkan beliau," lanjut Maorong, setelah beberapa saat terdiam. Dia memasang ekspresi sedih di wajahnya. "Kami telah lalai menjaga keluarga Kerajaan! Kami pantas mati!"
__ADS_1
Maorong menggila. Dia hampir saja memukul kepalanya sendiri ke tembok jika Xi Wei tidak segera memegangi kerah bajunya dan menariknya ke belakang.
"Bodoh sekali!" bentak Xi Wei. "Apa yang bisa kau perbaiki dari membunuh dirimu sendiri?! Kau kira akan datang keajaiban dari langit kemudian semuanya kembali menjadi sedia kala?! Sadarlah Paman Bodoh, sadar! Tidak akan ada hal yang berubah jika kau tidak ingin mengubahnya."
Napas Xi Wei tersengal-sengal karena kemarahan yang diluapkannya kepada Maorong. Dia tidak suka cara Maorong yang ingin menyelesaikan masalah hidupnya dengan membunuh dirinya sendiri. Menurutnya, itu sama sekali tidak realistis.
Xi Wei menarik kerah baju Maorong dan mengancamnya, "Jika sekali lagi kau berani berkata kau pantas mati, maka aku yang akan bertindak dan membunuhmu. Aku bersumpah, Paman."
Maorong bisa melihat tidak ada keraguan di mata Xi Wei ketika mengatakannya. Dia jadi mengerti, hal yang dilakukannya hanya akan membebani anak dari mantan Kaisar yang pernah dilayaninya. Dia tentu saja tidak ingin dianggap sebagai beban oleh Xi Wei.
"Baiklah, saya sudah mengerti. Saya akan berusaha yang terbaik agar Anda bisa hidup tenang. Saya tidak akan pernah melakukan hal bodoh lagi," kata Maorong.
Hal yang disampaikan oleh Maorong membuat Xi Wei jauh lebih tenang. Si pemuda tentu saja tidak menginginkan adanya hal tidak mengenakkan untuk dilihat. Dia masihlah seorang manusia yang memiliki perasaan jijik dan bersalah mengenai segala sesuatu hal.
Bicara soal perasaan bersalah, Xi Wei jadi galau soal perkataan yang sudah dikatakannya kepada Ying Yue. Dia tidak seharusnya mengatakan hal itu secara terburu-buru. Namun hal itu juga bukan menjadi salahnya. Dia sudah memiliki hal ini baik-baik.
Xi Wei terlalu asyik tenggelam di dalam dunianya sendiri hingga dia tidak sadar dirinya dipanggil oleh Maorong.
"Ah…? Maaf, apakah kau memanggilku?" tanya Xi Wei. Dia seperti orang linglung. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan setelah sadar dari lamunannya akan masalah dia tiba-tiba saja menjauh dari Ying Yue dan Xincai.
Maorong sendiri pun menjadi khawatir dengan keadaan Xi Wei. Dia bisa melihat kalau Xi Wei sedang memikirkan sesuatu yang memberatkan dirinya sendiri. Dan, dia tahu kalau masalah itu hanya bisa diselesaikan oleh si pemuda seorang diri.
"Sudah saatnya makan, Xi Wei," kata Maorong.
Sebenarnya, Maorong tidak terbiasa menyebut Xi Wei menggunakan namanya. Lagi pula, Ayahanda Xi Wei adalah mantan Kaisar yang pernah dilayaninya. Akan sulit baginya untuk tidak memasukkan embel-embel ketika memanggil nama Xi Wei.
"Benar, kita belum sarapan pagi tadi," kata Xi Wei. "Ayo makan!"
__ADS_1
...***...
Ying Yue menutup mata dan tertidur tak lama kemudian.
Tidak tahu bagaimana caranya Ying Yue bisa sampai di dalam Cermin Mimpi Xi Chen. Dia memutar kepalanya ke sana-sini dan menemukan sosok Xi Chen tengah duduk sambil bermain dengan puluhan kupu-kupu yang berasal dari cahaya.
Kakak Xi Wei dan Ayahnya memiliki keunikan mereka tersendiri. Mata mereka begitu indah. Tak hanya itu, mereka juga hebat, pikir Ying Yue.
"Kau sudah datang rupanya," kata Xi Chen.
"Apakah Tuan yang memanggil saya ke tempat ini?" tanya Ying Yue.
Xi Chen menatap ke arah Ying Yue, matanya perlahan-lahan berubah warna menjadi merah. Sang Tuan Putri Agung terhenyak karena melihat manik mata pria paruh baya itu berubah warna.
Xi Chen menutup matanya, dia membukanya kembali dan segalanya berubah menjadi normal kembali. Dia berkata, "Maafkan aku, Tuan Putri Agung. Terkadang aku tidak bisa mengendalikan kemarahanku sehingga membuat orang-orang menjadi takut."
Ying Yue malah merasa kalau Xi Chen sengaja memperlihatkan manik matanya yang bisa berubah warna.
"Tuan belum menjawab pertanyaan saya," kata Ying Yue berani. Dia tidak ingin terlihat lemah di depan calon mertuanya.
"Tidak perlu terburu-buru, Nona."
Jialing keluar dari balik pohon plum dengan langkah pelan. Dia memberikan kesan seperti orang yang tidak terburu-buru. Satu hal lagi: dia sangat anggun dan cantik.
"Salam kepada Nyonya," sapa Ying Yue.
"Tidak perlu terlalu formal, Tuan Putri Agung. Saya dan mantan Kaisar Yongheng memiliki sesuatu untuk dikatakan. Jadi, saya mohon kepada Anda untuk mendengarkan baik-baik. Setelah itu, Anda boleh memutuskan jawabannya," kata Jialing.
__ADS_1