
Xi Chen yang semula diam saja, pada akhirnya tertawa keras terbahak-bahak. "Kau bilang apa, Nona? Kau bilang akan membantu Xi Wei balas dendam? Jialing sudah memperkirakan kau akan mengatakan seperti itu, tapi aku sungguh tidak menyangka bahwa kau akan mengatakannya secara langsung seperti ini," katanya.
"Apa… apa yang salah dari pernyataanku itu?!" seru Ying Yue bertanya. Dia tentu saja tidak terima kalau dirinya ditertawakan hanya karena kata "ingin membantu Xi Wei balas dendam".
"Anda yakin bisa membantu Xi Wei balas dendam? Anda harus tahu resiko lain, Nak," Jialing memperingatkan Ying Yue tentang apa yang harus dihadapi oleh sang Tuan Putri Agung jika dia memang benar-benar ingin membantu Xi Wei.
"Saya bukanlah orang yang hanya akan berbicara omong kosong, Nyonya. Jika saya sudah memutuskan untuk melakukan sesuatu, maka saya tetap akan melakukannya, walaupun saya sendiri tahu saya akan menghadapi resiko yang sangat besar," kata Ying Yue.
"Bukan hanya itu masalahnya!" tandas Jialing. Dia jelas tidak ingin Ying Yue membantu Xi Wei membalaskan dendam atas nama kedua orang tuanya, alias dirinya dan Xi Chen sendiri.
"Saya tahu apa yang Nyonya khawatirkan," debat Ying Yue. "Saya tahu Nyonya mengkhawatirkan bagaimana keadaan saya ketika sudah berhasil membantu Kakak Xi Wei balas dendam terhadap Ayahanda saya sendiri. Ibunda kandung saya, Mendiang Selir Li, dia adalah salah satu korban dari kekerasan Permaisuri dan ketidaktahuan Ayahanda. Bisa dikatakan kalau saya menyimpan dendam terhadap Kaisar dan Permaisuri."
Jialing terdiam selama beberapa saat. Xi Chen sendiri memejamkan mata dan mungkin tertidur. Mereka berdua seperti sedang membahas sesuatu di dalam batin mereka. Melakukan telepati.
Pada akhirnya, Jialing pun berkata, "Saya dan Tuan Besar yang satu ini tidak akan menghalangi Anda dan Xi Wei. Tapi, ketahuilah satu hal, Nak: jika Anda merasa hal itu sudah tidak pantas dilakukan dan pada akhirnya kalian berada di jalur yang berbeda, biarkanlah kalian melakukan apa yang kalian berdua yakini. Berkonfrontasi dengan cara yang wajar itu tidak apa-apa. Kalau begitu, kami pamit dulu."
Ying Yue bisa melihat Xi Chen dan Jialing perlahan-lahan menghilang dari pandangannya. Dia menundukkan kepalanya dan Cermin Mimpi yang didatanginya pun melemparnya keluar dari sana.
Ying Yue terbangun dan kaget karena melihat Gaohei sedang menatap intens ke arahnya. Dia pun langsung bangkit dari tidurnya dan menatap ke arah Gaohei, kemudian bertanya, "Kau datang lagi. Apakah Kakak Xi Wei yang menyuruhmu untuk datang ke sini?"
Gaohei menganggukkan kepalanya sebagai jawaban "ya".
"Apakah kau membawa surat dari Kakak Xi Wei untukku?"
Gaohei memutar kepalanya secara cepat—dari seratus delapan puluh derajat hingga kembali menjadi semula—dan hal itu sedikit menyeramkan hingga membuat Ying Yue merasakan kengerian tersendiri.
__ADS_1
"Lalu, untuk apa kau kembali? Apakah kau mendapatkan perintah dari Xi Wei untuk menyampaikan sesuatu kepadaku?"
Gaohei terdiam selama sesaat, mungkin sedang berpikir tentang sesuatu—menurut Ying Yue. Tak lama setelahnya, ia kembali menganggukkan kepala.
"Meskipun kau adalah burung hantu yang hebat, bisa mengerti bahasa manusia dan memberikan jawaban, tapi kau tetaplah seekor burung hantu. Aku tidak bisa menebak semua bahasamu. Seharusnya Kakak Xi Wei memberikan sebuah surat untukku sebagai gambaran dari perintahnya."
Gaohei langsung memutar kepalanya dengan cepat kembali. Bukan sebagai jawaban "tidak", bukan juga karena dia sedang iseng dan ingin mengerjai Ying Yue. Hanya saja dia sedang mengatakan kepada Ying Yue kalau dia tidak boleh melakukan hal itu.
Ying Yue bertanya, "Kenapa aku tidak boleh melakukan hal itu?" Dia tampaknya mengerti dengan apa yang sedang dikatakan oleh Gaohei.
Gaohei menaikkan sedikit paruhnya dan menajamkan tatapan matanya. Ia sedang berkata kepada Ying Yue kalau Xi Wei akan marah kepadanya jika sang Tuan Putri Agung melakukan hal itu.
Dan, seolah-olah Ying Yue benar-benar tahu apa yang sedang dimaksudkan oleh Gaohei, dia pun tertawa ringan, kemudian berkata, "Kau takut dimarahi oleh Kakak Xi Wei? Aku rasa dia tidak akan marah kepadamu hanya karena sedikit masalah kecil. Dia sepertinya bukanlah orang yang suka marah."
"Ya, baiklah, baiklah. Jadi, apa yang ingin kau sampaikan kepadaku, Gaohei?"
Gaohei sedikit memiringkan kepalanya. Ia bingung bagaimana cara meminta maaf yang benar terhadap Ying Yue. Kemudian, burung hantu hutan yang cerdas itu akhirnya menemukan sebuah cara yang tepat.
Gaohei terbang menuju ke atas lemari portabel kayu yang dibuka oleh Ying Yue malam tadi. Dia memperlihatkan gerakan membuka dan menutup lemari, lalu diikuti gerakan menyodorkan sesuatu.
Ying Yue akhirnya tahu kalau Gaohei ingin meminta maaf kepadanya karena sudah mengabaikan kebaikannya atas biji gandum mahal yang diberikan, tapi ditolak oleh burung hantu hutan itu.
Ying Yue pun tertawa ringan, kemudian berkata, "Tidak apa-apa. Aku menerima permintaan maaf darimu. Seharusnya aku lebih cerdas dan tidak memberikan makanan burung beo kepadamu. Aku baru saja menyadari bahwa kau adalah seekor burung hantu."
Wajah Gaohei langsung cemberut karena Ying Yue berkata kalau dia baru menyadari ia adalah seekor burung hantu.
__ADS_1
"Kuk!" Gaohei berkicau dengan nada tinggi, kemudian terbang melewati pintu jendela kamar Ying Yue yang terbuka. Ia kesal karena tidak Tuannya, juga tidak pasangannya sama-sama menyebalkannya.
Ying Yue belum saja menuliskan surat untuk Xi Wei, tapi Gaohei sudah terbang saja. Dia berteriak keras, "Gaohei! Kembali kau!"
Teriakannya itu sampai didengar oleh Jenderal Wang Wanqian yang sedang bertugas dan berpatroli keliling Istana. Dia pun segera mendekati kamar Ying Yue dan mengetuk pintu.
"Tuan Putri? Tuan Putri…? Apakah Anda baik-baik saja?" tanya Wanqian.
Ying Yue yang mendengar ketukan di pintunya dan suara sang Jenderal Besar langsung membuka pintu kamar. Dia bisa melihat kalau ada banyak orang yang berdiri tegak di depan pintu kamarnya. Dia sedikit kaget karenanya.
"Ada apa?" tanya Ying Yue.
Wanqian langsung berdiri tegak dan berkata, "Saya mendengar Anda berteriak, Yang Mulia. Makanya saya datang ke sini untuk memastikan kalau Anda baik-baik saja."
"Saya baik-baik saja, Jenderal Besar. Tapi, ada hal yang ingin saya tanyakan kepada Anda," kata Ying Yue. "Silahkan masuk, Jenderal."
"Silahkan, Tuan Putri."
...***...
Xi Wei harus mengakui kalau masakan Maorong sangatlah enak seperti masakan dari tangan seorang perempuan. Dia baru pertama kali memakan masakan seperti ini, kecuali di Akademi Luqing dan Wufalou milik Wei Xiangheng.
"Apakah Xi Wei tidak menyukai masakan yang saya buat?" tanya Maorong dengan ekspresi wajah khawatir. Khawatir kalau si pemuda berkulit sawo matang tidak akan menyukainya.
"Ini enak sekali, Paman!"
__ADS_1