
Selesai makan malam, Ying Yue langsung pergi entah kemana bersama Xincai. Xi Wei hanya bisa menatap kepergian mereka sambil mencuri sebuah manisan yang tadinya diberikan untuk Ying Yue—tidak akan ada masalah jika Ying Yue tidak menyadarinya.
Xi Wei berada di atas atap Wufalou, menatap bulan dan bintang yang bercahaya di atas langit sembari memikirkan sesuatu.
"Belum menentukan pilihan, Xi Wei?"
Xiangheng duduk di samping Xi Wei sembari menatap ke arah yang sama dengan pemuda berkulit sawo matang.
Xi Wei tidak menjawab pertanyaan Xiangheng. Dia tenggelam dalam dunianya sendiri.
Xiangheng juga mengerti kalau Xi Wei membutuhkan waktu untuk berpikir.
"Aku bertemu dengan Ayahku."
Xiangheng terkejut. Dia memelototi Xi Wei dan bertanya-tanya.
'Sepertinya aku salah mendengar. Dia bilang apa? Dia bilang bertemu dengan Ayahnya?'
"Aku benar-benar bertemu dengan Ayahku melalui cermin mimpi! Awalnya, aku juga tidak percaya. Aku merasa kalau alam bawah sadar sedang mempermainkan diriku. Tapi, itu terlalu nyata, Xiangheng ...."
Xi Wei mengangkat tangannya seolah-olah dia bisa menggapai bulan. Namun bukan itu yang dilakukannya. Pemuda berkulit sawo matang ingin menunjukkan elemen sihir yang dimilikinya kepada Xiangheng.
"Awalnya aku tidak tahu elemen apa yang kumiliki. Tapi, Ayahku memberi tahu."
Xi Wei membuka telapak tangan yang mengepal. Gelembung-gelembung padat yang bercahaya keluar dari dalam sana. Beberapa dari mereka meledak kecil. Itu dikarenakan si Pemuda masih belum bisa mengendalikan sihirnya.
"Kau?"
"Sudah kubilang. Ayahku juga yang memberitahu tentang elemen sihir yang kumiliki. Kalau tidak, seumur hidupku pun aku tidak akan tahu."
"Kau perlu belajar mengendalikannya, Xi Wei. Kau butuh Guru seperti Xincai."
"Aku tahu, Xiangheng ... tapi, aku masih bingung dengan ilmu yang ingin ku perdalam. Aku tidak seperti Xincai dan dirimu. Lebih tidak seperti Ying Yue yang bisa langsung dengan mudahnya mengatakan bahwa dia ingin memperdalam Ilmu Tenaga Dalam."
"Cobalah mengikuti jejak Ayahmu, Xi Wei. Biasanya keahlian yang dimiliki oleh seorang anak kebanyakan sama seperti orang tuanya."
Xi Wei terdiam selama beberapa saat.
"Ayahku adalah seorang Dewa Ahli Sihir Pedang."
"Itu h- apa?! De- Dewa?! Maksudmu Ayahmu sudah mencapai Deret Dewa Kultivator?!"
__ADS_1
"Ya ... seperti itu lah. Walau hanya dalam mimpi, entah kenapa rasanya sakit sekali saat terkena serangannya."
Xiangheng mulai mempertanyakan identitas Xi Wei.
'Apakah benar orang ini adalah anak Dewa?'
Xi Wei tertawa seakan tahu apa yang ada di dalam pikiran Xiangheng.
"Aku bukan anak Dewa. Ayahku juga terlihat seperti manusia biasa. Tapi, dia awet muda sekali. Orang yang menyeramkan."
Xi Wei saja bisa menyebutkan bahwa Ayahnya sendiri menyeramkan. Apalagi Xiangheng yang tidak tahu apa-apa.
"Turun kau Xi Wei!"
Xincai berteriak memanggil Xi Wei untuk turun dari atas atap. Dia sudah menunggu di bawah sambil berkacak pinggang.
Xi Wei melirik ke bawah dan merebahkan tubuhnya kembali ke atas platform atap. Si Pemuda tidak tertarik sama sekali.
Xincai menatap galak ke arah Xiangheng. Yang mendapatkan tatapan galak hanya bisa menghela napas dan mendorong Xi Wei sekuat tenaga.
Xi Wei yang terdorong langsung melompat turun ke bawah dan menatap marah ke arah Xiangheng.
"Maafkan aku, Xi Wei. Aku lebih memilih untuk melindungi nyawaku."
"Kau mencuri dengar?!"
"Tidak! Aku melihatnya siang tadi saat akan mengantarkan makan siang untukmu. Sekarang tidak ada alasan untukmu untuk tidak belajar kultivasi."
Xincai menarik kerah Xi Wei dan menyeretnya pergi ke dalam Wufalou. Pemuda berkulit sawo matang hanya bisa meronta, tidak bisa menolak apalagi menentang bagaimana keras kepalanya Tuan Putri Ketiga.
"Aku belum tahu apa yang ingin ku pelajari ...."
"Kau harus bisa menentukan!"
"Tidak!"
Xi Wei terlepas dari cengkraman Xincai. Dia langsung menghilang dari pandangan Tuan Putri Ketiga. Dan, Xincai hanya bisa menghela napas panjang.
Xi Wei duduk di atas pohon sambil memegangi kedua kakinya seperti orang Indian.
'Kenapa aku harus belajar berkultivasi kalau aku belum mengetahui ilmu apa yang harus ku pelajari dan perdalam?'
__ADS_1
Xi Wei menampakkan ekspresi sedih. Di saat bersamaan juga terlihat kalau dia sedang marah. Dia hanya tidak menyangka kalau Xincai akan menyeretnya dengan cara seperti itu. Dia tidak suka.
'Aku belum ingin melakukannya ....'
Xi Wei memejamkan mata, kemudian tertidur.
Sekali lagi, Xi Wei masuk ke dalam dunia cermin mimpi milik Xi Chen. Dia merasa takut sekaligus takjub.
"Kenapa kau datang lagi?"
Xi Wei menemukan bahwa Xi Chen sedang memejamkan matanya di bawah salah satu pohon plum yang paling dekat dengannya. Pemuda berkulit sawo matang menghela napas. Bukan keinginannya untuk masuk ke dalam cermin mimpi milik Xi Chen.
"Aku juga tidak tahu kenapa setiap kali aku tertidur, aku pasti tersedot masuk ke tempat ini. Seharusnya aku yang bertanya kepada Ayahanda kenapa aku bisa berada di sini."
Xi Chen membuka matanya perlahan-lahan.
"Sudahi pencarian yang ingin kau lakukan. Aku dan Jialing tidak akan pernah menemui dirimu."
"Aku tidak mau!"
Xi Chen memelototi Xi Wei.
"Aku tidak akan berhenti sampai menemukan Ayahanda dan Ibunda!"
Xi Wei terlihat sangat tidak senang ketika Xi Chen menyuruhnya berhenti mencarinya dan Jialing. Si Pemuda tidak ingin berhenti, juga tidak akan pernah berhenti.
"Kau itu keras kepala sekali ya! Dengarkanlah orang tua ini berbicara. Kau harus berhenti. Jika kau melanjutkan pencarian terhadap kami, kau harus melatih sihirmu."
"Aku belum tahu. Tapi, aku tidak akan berhenti mencari!"
'Ternyata anakku keras kepala sekali. Benar-benar mirip Ibundanya ... atau, mirip aku sendiri di masa muda, ya?'
"Dengar, Xi Wei. Kau tidak akan bisa menemukan kami jika kau melatih dirimu setengah-setengah. Walau kau punya banyak bakat. Walau kau bisa bergerak cepat. Semua itu belum cukup. Kau harus menentukan sekarang. Detik ini juga. Kau memiliki teman yang berbakat dan bisa membantumu agar lebih mudah dalam berkultivasi. Aku tahu itu. Jangan menolaknya."
"Aku tidak tahu ...."
"Dengar ini baik-baik. Aku tidak akan segan menusuk dirimu hari ini. Aku bersungguh-sungguh anakku. Jika kau tidak memiliki keinginan untuk hidup, maka kau tidak pantas kuakui. Lebih tidak pantas lagi diakui oleh Jialing. Bertahanlah baik-baik dan pikirkanlah selama kau bertarung denganku."
Xi Chen mengeluarkan pedang dari sarungnya. Xi Wei langsung panik karena dia tidak memiliki senjata apa pun. Yang bisa dilakukannya hanya menghindar.
'Gunakan otakmu, anakku.'
__ADS_1
Xi Wei menyadari kalau mereka sedang berada di dalam cermin mimpi. Mimpi adalah tempat dimana orang-orang bisa melakukan ataupun meminta hal yang mereka inginkan. Walau itu sangat mustahil sekali pun.
'Karena ini adalah mimpi, maka aku ingin sebilah pedang!'