Mysterious Shender

Mysterious Shender
第二十七集 : Arrive At Wufalou and Meet Wei Xiangheng


__ADS_3

Xi Wei langsung ditarik oleh Ying Yue. Sang Putri menggamit lengan pemuda berkulit sawo matang seakan-akan tidak rela untuk melepaskannya.


Xincai langsung tertawa. Amat keras pula. Hingga menyebabkan orang-orang melirik aneh kepadanya. Beberapa dari mereka berbisik halus—tentu saja mereka tak berani berkata keras-keras, bagaimana pun Xincai adalah Tuan Putri Ke-Tiga Negeri Yinying.


Wajah Ying Yue merah padam, antara malu dan marah. Entah kenapa dia tidak terbiasa melihat kedekatan Kakak Ke-Tiga-nya dengan pemuda berkulit sawo matang.


Xi Wei menepuk pelan kepala Ying Yue untuk menenangkan Adik Kecil-nya yang satu itu.


"Tidak disangka Adik Ke-Sembilan memiliki perasaan terhadap orang menyebalkan ini. Tidak perlu takut Kakak Xincai akan merebutnya. Dia sudah pernah menolak."


Xincai malah terlihat senang saat mengatakan bahwa Xi Wei sudah pernah menolaknya. Tidak ada kesedihan sama sekali.


Ying Yue tertegun mendengar Xincai. Sebagai seorang wanita, pasti sangat sulit ketika seseorang menolaknya. Namun Xincai malah bersikap sebaliknya. Xi Wei juga tidak menolak untuk mendekatinya sebagai seorang sahabat.


'Kakak Ke-Tiga terlihat sangat senang walau Tuan Pendekar sudah menolaknya. Dia juga tidak menjauh sama sekali. Dia menganggap Tuan Pendekar sebagai sahabatnya. Kalau itu aku ... kalau itu aku, apakah aku bisa melakukannya?'


"Sepertinya Xi Wei juga suka Adik Ke-Sembilan. Jaga Adik Ying Yue-ku baik-baik, Xi Wei, atau aku akan memenggal kepalamu."


Xi Wei tersenyum. Dia masih saja sama menyebalkannya.


"Tentu saja aku akan menjaga Adik Kecil ini dengan baik. Jika tidak, Fang Xincai akan membunuhku."


Xincai tertawa. Tuan Putri Ke-Tiga itu sudah terbiasa dengan sikap menyebalkan Xi Wei, bahkan sampai sudah kebal terhadap godaan menyebalkan miliknya. Tidak heran kalau Sang Pemudi tak lagi marah terhadap segala perlakuan menyebalkan Xi Wei.


"Untuk apa kalian pergi ke Wufalou dan mencari 'orang itu'? Tidakkah kau tahu kalau orang itu sudah tidak ingin berurusan dengan politik maupun persilatan? Tapi, harus diakui dia menganggap adanya hutang budi padamu, juga padaku."


"Ceritanya sangat panjang, Xincai."


"Oi! Sudah kukatakan berkali-kali. Jika berada di luar, panggil aku dengan benar! Tuan Putri, panggil aku Tuan Putri. Jangan langsung memanggil dengan nama!"


"Aku tidak mau."


"Benar-benar orang ini. Bahkan kau memanggil seorang Putra Mahkota dengan nama. Apa yang membuatmu bisa mengakui Keluarga Kerajaan?"


"Kalau kalian melampaui pikiranku, seperti Pangeran Ziling."

__ADS_1


"Kau bahkan menganggap Adik Ke-Tujuh. Bagaimana bisa kau tidak menganggap diriku ini, hah?"


Xincai mencubit pipi Xi Wei hingga Sang Pemuda berteriak kesakitan.


"Kau kasar sekali!"


'Dilihat dari mana pun, Kakak Ke-Tiga dan Tuan Pendekar amat cocok ....'


Xi Wei semakin mengacak-acak rambut Ying Yue lantaran tahu apa yang dipikirkan oleh Sang Putri.


"Kau itu sama sekali tidak bisa berpikiran yang baik-baik kalau melihat sesuatu yang baru. Dasar!"


Ying Yue ingin membalas Xi Wei, tapi juga dia merasa tidak nyaman dengan Xincai. Dia takut kalau Kakak Ke-Tiga-nya itu masih menyimpan perasaan terhadap pemuda berkulit sawo matang.


"Kita sudah sampai di Wufalou."


Ruofan mengingatkan kalau mereka sudah berada di depan Rumah Makan Wufalou.


"Wei Xiangheng! Keluar kau! Ayo bertarung denganku, Fang Xincai!"


Xincai bersemangat sekali. Dia adalah orang pertama yang masuk ke dalam Wufalou. Dan, dengan tidak tahu malunya, dia berteriak keras memanggil seseorang. Seseorang yang dikenal Ruofan sebagai 'Kakak Senior'-nya.


"Kau baru tahu kelakuan Kakak Ke-Tiga-mu kan? Aku mengenalnya ketika dia belajar selama satu dekade di Akademi Luqing. Kelakuannya sama seperti Elang Bulu Api, liar dan tidak terkendali. Tapi, sama sekali tidak berniat untuk melukai orang lain."


"Seberapa dekat kau dengan Kakak Ke-Tiga?"


Ying Yue penasaran. Juga bertanya karena dia cemburu dengan Xincai yang bisa-bisanya dekat 'sekali' dengan Xi Wei.


"Aku, Xincai, dan Xiangheng kenal di Akademi Luqing. Kami bertiga sudah bagai direkatkan oleh takdir. Seberapa jauh pun kami bertiga berpisah, takdir selalu mempertemukan kami di satu tempat yang sama. Bisa dikatakan hubungan kami sudah bagai keluarga, saudara kandung."


'Bahkan Kakak Ke-Lima pun tidak begitu dekat dengan Kakak Ke-Tiga. Xi Wei dan orang bernama Xiangheng, mereka beruntung sekali. Aku juga begitu. Kakak Ke-Tiga amat menyayangiku.'


"Xincai, dia sering menceritakan dirimu hingga aku bosan. Katanya Adik Ke-Sembilan-nya sangat cantik, sangat baik, sangat ini dan itu. Aku percaya apa yang dikatakan Xincai itu benar adanya. Hanya saja Adik Ke-Sembilan-nya masih terlalu muda."


Ying Yue langsung meninju bahu Xi Wei.

__ADS_1


"Enak sekali kau berkata kalau aku masih terlalu muda. Lagipula, seberapa tua dirimu?"


"Umurku itu sama dengan Kakak Ke-Tiga-mu. Umurku dua puluh tahun. Kau baru enam belas tahun, tapi berani sekali mengatakan bahwa kau sudah dewasa."


Ying Yue menggembungkan pipinya.


"Wei Xiangheng!"


Xincai tidak menyerah. Dia akan berteriak hingga pemilik nama yang dipanggil menunjukkan wajahnya.


"Kau tidak akan pernah berhasil memanggil Xiangheng. Lagipula mana ada orang yang ingin keluar ketika dipanggil oleh seorang wanita galak sepertimu."


Xi Wei mendekati Xincai dan mengejeknya.


"Tuan Putri, jangan mencari masalah lagi di Wufalou. Juragan Wei benar-benar sedang beristirahat. Dia baru saja pulang dari Meifang di selatan."


Seorang Pelayan di Wufalou juga berusaha untuk menahan Xincai. Namun dia tidak cukup cakap dalam beradu mulut dengan Tuan Putri Ke-Tiga.


"Xiangheng yang aku tahu tidak akan lemah seperti ini. Wei Xiangheng! Keluar kau! Xiangheng!"


Xi Wei menghela napas. Dia juga tidak akan bisa mengalahkan semangat Xincai jika sudah seperti itu. Dia hanya bisa membujuk Xiangheng agar cepat keluar ke hadapan mereka.


Xi Wei mendekati Pelayan yang sedang berusaha untuk membujuk Xincai. Dia mengeluarkan sebuah kantongan kecil. Dia memberikan kantongan kecil dan memberikan dua keping uang logam kepada Sang Pelayan.


"Tolong berikan ini kepada Wei Xiangheng. Katakan saja dari Fajar Gemilang."


"Baik, Tuan. Akan segera saya sampaikan kepada Juragan Wei."


Selepas kepergian Sang Pelayan, Xi Wei memanggil seorang pelayan lagi untuk menyediakan tempat duduk bagi mereka di ruang pribadi. Dia memberikan dua keping uang logam agar segera dilaksanakan.


"Semuanya, silahkan ikut saya."


Sang Pelayan membawa mereka menuju tempat pribadi.


Tak lama setelah mereka masuk ke dalam ruang pribadi, seseorang datang. Dia adalah Wei Xiangheng.

__ADS_1


"Yo, Xiangheng! Berani sekali kau mengabaikan seorang Fang Xincai ya!"


Namun sepertinya Xiangheng terlihat tidak begitu sehat.


__ADS_2