
"Jangan senang dulu, kalian berdua. Baru saja memecahkan dan melewati dua rintangan itu bukanlah suatu hal yang harus dibanggakan!"
Ying Yue dan Ruofan berhenti menikmati kesenangan mereka karena peringatan dari Xi Wei. Mereka memikirkan satu hal yang sama tentang pemuda berkulit sawo matang: Kejam.
"Masih ada sekitar enam lagi rintangan yang harus kalian hadapi. Maka dari itu, jangan lengah ya! Aku percaya pada kalian!"
Xincai lebih baik dibanding Xi Wei. Dia masih bisa memberikan dorongan semangat untuk Ying Yue dan Ruofan.
"Baiklah! Kami sudah selesai!"
***
"Bagaimana? Apakah kalian menikmati Tantangan Ilusi Diagram Fengshui?"
Xincai tertawa keras sambil mengejek Adik Kesembilannya dan Ruofan. Mereka berdua terlihat sangat pucat. Bahkan lebih pucat dibandingkan dengan dirinya yang pertama kali dikerjai oleh Xi Wei di dalam Arena Tantangan itu.
"Menikmati apanya?! Aku dan Tuan Putri Agung hampir saja mati karena kalian mengerjai kami."
"Hei! Aku tidak ikut-ikutan mengerjai kalian. Kenapa aku juga ikut terseret ke dalam? Seharusnya kau protes kepada Tuan Putri-mu yang pandai ini saja."
Xi Wei tidak terima ketika Ruofan mengatakan secara tidak langsung kalau dia juga ikut-ikutan dalam mengerjai mereka. Dia sudah berbaik hati mencegah hal itu terjadi, tapi kecerobohan Ying Yue dan Ruofan sendiri yang membuat mereka hampir kehilangan nyawa.
"Tetap saja! Kenapa kau mengatakannya saat kami sudah yakin dengan jalan yang akan kami ambil?! Kenapa tidak dari awal saja?! Terlihat sekali bahwa kau itu sengaja!"
Xi Wei menghela napas. Dia tidak ingin berdebat panjang dengan Ruofan. Dia memilih untuk diam saja sementara si Gadis Assassin terus-terusan menyalahkannya. Dia tidak mengindahkan hal itu.
__ADS_1
Xi Wei menatap ke arah langit, petang sudah tiba.
"Sebaiknya kalian segera pulang ke Wufalou. Malam sudah hampir tiba. Tidak baik kalian terus berada di luar. Terutama Xincai dan Ying Yue."
Xincai melipat kedua tangannya. Dia seolah tak ingin pulang.
"Bagaimana denganmu? Apakah kau tidak akan ikut dengan kami? Apa yang sedang kau pikirkan? Kau pasti sedang merencanakan sesuatu tanpa sepengetahuan kami, kan, Xi Wei?"
Xi Wei menghela napas panjang. Dia sudah tahu pada akhirnya rencananya harus terekspos. Namun pemuda berkulit sawo matang memang sudah siap untuk mengatakannya.
"Aku memang sedang merencanakan sesuatu. Semenjak bertemu dengan Ayahandaku di cermin mimpi. Juga ketika mengetahui elemen sihir yang kumiliki. Aku ingin mempercepat proses pencarian mereka. Aku ingin cepat menemukan mereka. Aku ingin cepat tahu jati diriku. Lagipula, kau dan Adik Kecil ini akan pulang ke Istana secepatnya, bukankah begitu?"
"Tunggu sebentar! Kau tidak boleh seperti ini. Kau tidak akan berpamitan dengan Xiangheng? Dia akan sedih jika tahu kalau kau tidak menceritakan dan menjelaskan bahwa kau ingin mempercepat rencanamu! Kau ini masih menganggap kami sebagai temanmu tidak sih?!"
Xi Wei terdiam. Yang dikatakan Xincai ada benarnya. Hanya saja, dia memang sudah merencanakan sejak dulu. Si Pemuda tidak akan mengacaukan rencana yang telah dibuatnya.
Xi Wei diam seribu bahasa sambil memikirkan sesuatu. Dia tidak ingin Xincai dan Xiangheng khawatir. Lagipula, menurutnya, itu bukanlah perpisahan selamanya. Itu hanya akan menjadi perpisahan sementara. Seharusnya kedua temannya itu tidak perlu khawatir.
"Kenapa kau diam saja?! Jawab aku, Xi Wei! Apakah kau masih menganggap kami adalah temanmu? Atau, kau sudah melupakan semuanya?"
Xincai meletakkan tangannya di bahu Xi Wei dan menggoyangkan tubuh si Pemuda. Namun tetap tidak ada respon darinya sampai Xi Wei menepis tangan Tuan Putri Ketiga dengan lembut.
"Aku akan pergi setelah ini, Xincai. Tapi, aku berjanji kalau aku akan kembali. Aku minta maaf jika aku mengecewakan dirimu. Sampaikan permintaan maaf dariku juga untuk Xiangheng. Aku berharap ketika aku kembali, kalian tetap menganggap aku ada. Terima kasih karena sudah menjadi teman terbaik untukku."
Xi Wei langsung melesat dan menghilang setelah mengatakan salam perpisahan yang tidak ada manis-manisnya itu. Dia sebenarnya merasa sangat berat, hanya saja dia harus bisa menahannya.
__ADS_1
'Maafkan aku, Fang Xincai, Wei Xiangheng!'
"Xi Wei! Kembali kau! Xi Wei! Brengsek!"
Bahkan setelah diteriaki beberapa kali oleh Xincai, Xi Wei tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Dia terlihat sangat putus asa, kemudian dia teringat akan keberadaan Ying Yue yang bisa membuat Xi Wei kembali. Dia langsung menarik kerah baju Adik Kesembilannya.
"Panggil dia kembali! Cepat panggil dia kembali, hanya kau yang bisa melakukannya! Adik Kesembilan, panggil Xi Wei kembali! Aku mohon ... aku mohon panggil dia kembali ...."
Xincai jatuh ke atas tanah. Dia menarik Hanfu milik Ying Yue dan menangis tersedu-sedu. Dia tidak ingin Xi Wei pergi seperti itu. Dia tidak ingin pemuda berkulit sawo matang pergi dengan cara mendadak seperti itu. Namun tampaknya, tidak ada lagi hal yang bisa dia lakukan selain meratapi kepergian si Pemuda yang begitu mendadak. Dia tidak rela!
"Kenapa ...? Kenapa kau tidak memanggilnya kembali?! Kenapa?! Hanya kau! Hanya kau yang bisa menghalanginya! Kenapa kau tidak melakukannya?! Kenapa kau membiarkan Xi Wei pergi?! Kenapa ...?!"
"Itu adalah keputusannya. Bahkan kalau itu aku, kalau aku yang menghalanginya untuk tidak pergi, dia tetap akan pergi. Dia ingin mencari jati dirinya, dia ingin tahu siapa dirinya. Aku menghargainya. Itu sebabnya aku tidak memanggilnya kembali. Kau juga harus menghargai keputusannya, Kakak Ketiga. Kau harus bisa menghargai keputusan yang diambil oleh Kakak Xi Wei."
Xincai marah mendengar jawaban yang diberikan oleh Ying Yue. Dia langsung berdiri dan menarik kerah baju Adik Kesembilannya. Di matanya terlihat kobaran api yang meluap-luap, ingin dilampiaskan.
"Tahu apa kau?! Tahu apa kau soal Xi Wei?! Tahu apa kau soal pertemanan yang kami jalani dan hal apa yang telah kami alami selama ini?! Kau hanya orang baru yang kebetulan dipilih olehnya! Kau tidak tahu apa-apa! Kenapa kau berlagak seolah kau akan tahu perasaanku dan Xiangheng?! Kau kira karena kau diakui oleh Xi Wei kau bisa merasa he-"
Sebuah tamparan keras oleh Ying Yue mendarat di pipi Xincai, untuk menyadarkan Tuan Putri Ketiga bahwa dia tidak memiliki hak untuk mengatur hidup Xi Wei walau pemuda itu adalah temannya.
"Ya, aku memang tidak tahu apa-apa. Setidaknya, aku bukan orang yang egois seperti kau, Kakak Xincai. Aku menghargai keputusan Kakak Xi Wei."
Ying Yue tahu kalau Xi Wei tidak benar-benar pergi. Pemuda berkulit sawo matang ada di satu tempat yang tidak terlihat, mengawasi dan mendengarkan mereka.
Ruofan hanya bisa diam dalam keadaan yang amat rumit itu. Dia tahu dia tak berhak ikut campur, juga tak berhak berkomentar apa pun—apalagi untuk merusak suasana. Dia cukup sadar diri.
__ADS_1
"Aku akan pulang. Wei Ruofan, mari kita pergi."