
Hari yang ditunggu-tunggu sudah tiba. Baik Xi Wei maupun Ying Yue, walau berpijak di tempat yang sama sekali berbeda, tapi hati mereka tetap berusaha untuk mengerti satu sama lain. Terutama Ying Yue, dia tahu ada sebuah kesulitan yang sedang menimpa pemuda berkulit sawo matang hingga tak bisa mengatakan hal yang sebenarnya. Namun Ying Yue tetap percaya kalau Xi Wei akan kembali dan akan menjelaskan semuanya kepadanya.
Saat ini, Xi Wei sedang dilanda oleh gejolak kecemasan yang luar biasa. Dia sedang berpikir, apakah keputusannya mengatakan hal yang begitu kasar kepada Ying Yue sudah benar. Dia tak kunjung mendapatkan jawabannya, juga tak bisa berpikiran jernih. Dia merasa sangat bersalah.
Aku ingin minta maaf kepada Li Ying Yue, pikir Xi Wei. Tapi, semuanya sudah terlambat. Dia sudah pergi dan aku…, aku juga akan pergi. Tak tahu berapa lama lagi aku harus membuatnya menunggu. Apakah aku menyesal?
Xi Wei bergegas kembali ke Wufalou, ingin melihat Li Ying Yue dan Fang Xincai, serta Wei Ruofan dan Wei Xiangheng untuk terakhir kalinya. Dia merasa bersalah karena sudah bersikap demikian kepada Xincai dan Xiangheng, lebih bersalah lagi pada Ying Yue.
Setibanya tak jauh dari Wufalou, Xi Wei bisa melihat kereta kuda yang berjejer di depan tempat itu. Ying Yue dan Xincai sudah masuk ke dalam. Kereta melaju dan meninggalkan halaman Wufalou. Xiangheng melambaikan tangan dengan ekspresi wajah sedih. Semua hal itu membuatnya kian merasa bersalah.
Tidak ada waktu untuk memikirkan kesedihan, Xi Wei. Kau ingin menjalankan misimu untuk mencari Ayahanda dan Ibunda, batin Xi Wei. Dia memasang ekspresi dingin itu lagi, ekspresi dingin yang tidak disukai oleh Xincai dan Xiangheng. Dia sudah memutuskan untuk membuang semua rasa yang ada pada dirinya mulai saat ini juga. Jika aku tidak melakukannya, maka aku tidak akan pernah menemukan Ayahanda dan Ibunda. Itu akan lebih menyakiti diriku sendiri maupun orang-orang di sekitarku.
Xi Wei memalingkan tatapannya dari Wufalou. Mulai saat ini sampai aku kembali, aku tidak akan pernah menjalin hubungan dengan siapa pun, aku tidak akan mengingat apa pun yang sudah kulalui bersama dengan kalian.
Xi Wei tahu dia adalah orang paling egois di dunia, tapi tidak ada yang bisa dia lakukan di posisinya yang seperti ini. Dia tak ingin menyakiti diri sendiri, lebih tak ingin menyakiti orang-orang yang sudah mempercayainya.
Dari awal, aku memang sudah sendiri. Seharusnya hal ini tidak menjadi masalah bagiku.
__ADS_1
Xi Wei bergegas pergi dari sana sebelum Xiangheng menyadari kalau dia ada di dekatnya.
Xiangheng merasa ada yang sedang memperhatikannya. Dia pun melirik ke sana-sini, tapi tidak menemukan siapa pun di sana. Apa tadi itu Xi Wei? Kalau benar, kenapa dia menghindar? batinnya.
Walau sebenarnya Xiangheng sedikit kecewa dan marah dengan Xi Wei, tapi dia ingin sekali mendapatkan ucapan sampai jumpa. Sepertinya hal itu tidak akan terjadi ya? Padahal aku cuma ingin melihatnya untuk terakhir kalinya.
Xiangheng bergegas masuk ke dalam Wufalou untuk menjalankan bisnisnya yang sempat tertunda. Dia dan Xincai juga sudah sepakat untuk tidak membahas tentang pernikahan sampai Xi Wei benar-benar kembali.
Xi Wei sekali lagi melirik ke arah Distrik Maolong dari kejauhan, sebelum memasuki sebuah hutan bambu lebat yang akan membawanya pergi ke Meifang. Bukan tanpa alasan pemuda berkulit sawo matang akan pergi ke Meifang.
Untuk mencapai daerah Yong Ge, Xi Wei harus menempuh perjalanan dari Distrik Maolong ke Meifang—untung saja dia memiliki urusan dengan Li Ying Yue dan Wei Ruofan sehingga berhasil menempuh ke Distrik Maolong. Dan dari Meifang, dia harus berputar ke arah Liangfang. Terus maju hingga mencapai bagian barat dari Negeri Yinying, Yong Ge.
Xi Wei menyeringai dingin. Apanya yang makhluk aneh? Menurutku, sosok aneh itu adalah manusia yang terkena penyakit aneh, ataupun berlatih Ilmu Hitam, batinnya.
Dengan langkah santai dan teratur, Xi Wei memasuki hutan bambu itu. Walau sebenarnya kepalanya sangatlah kacau, tapi dia berusaha untuk terlihat baik-baik saja. Dia tidak ingin mencampur-adukkan segala urusan yang sama sekali berbeda.
Semakin jauh Xi Wei masuk ke dalam hutan bambu itu, semakin aneh pula rasanya. Dia melihat ke sekeliling. Rasanya sangat aneh, pikirnya.
__ADS_1
Dengan salah satu pedang kembar, Xi Wei mengukir di salah satu pohon bambu sebagai tanda bahwa dia sudah melalui tempat itu. Kemudian, dia melanjutkan perjalanannya.
Keanehan itu semakin jelas ketika Xi Wei melihat ukiran di bambu yang tadi dibuatnya. Dia berdecak kesal kemudian melihat sekeliling. Tidak ada yang aneh. Namun rasanya dia seperti berjalan di dalam labirin.
Apakah aku bisa menggunakan sihirku? Tapi, kekuatan sihir milikku masih terlalu lemah. Biasanya untuk memecahkan sebuah Sihir Ilusi diperlukan kekuatan sihir yang cukup besar. Tidak ada yang tahu hasilnya sebelum mencoba!
Xi Wei menggenggam erat pedangnya dan menebas udara kosong. Segala hal di sana berubah. Ternyata dia sudah masuk jauh ke dalam hutan bambu akibat ilusi yang diciptakan oleh sesuatu, atau seseorang. Pantas saja tidak ada yang berhasil keluar dan berakhir mati mengenaskan di dalam sini. Sihir Ilusi ini akan sangat mengganggu jika tidak menemukan sumbernya.
Xi Wei berjalan ke arah berlawanan hingga dia kembali ke jalur yang sebenarnya. Dia menghela napas karena belum apa-apa dia sudah dihadapkan dengan sesuatu yang sulit.
Gemersik bambu akibat angin yang tertiup kencang membuat Xi Wei menjadi waswas dengan apa yang akan dihadapinya. Dia merasa ada sesuatu yang tidak benar dengan jalur hutan bambu tersebut.
Sebuah geraman buas dan cukup panjang di sekitarnya membuat Xi Wei semakin yakin dengan perasaannya sendiri. Aku harus cepat-cepat keluar dari sini! Ini sudah tidak benar, tapi kalau bisa menemukan sosok makhluk aneh itu dan mengalahkannya, aku bisa menjual beberapa hal ke perlelangan. Uang yang kubawa sepertinya tidak akan cukup, pikirnya.
Semua orang suka dengan uang, Xi Wei adalah salah satunya. Namun kesukaannya akan uang itu berbeda dengan kerakusan dan ketamakan. Dia hanya sedang memperkirakan biaya hidup dan biaya perjalanan selama dia mencari Xi Chen dan Jialing. Wajar saja jika dia menyukai benda yang disebut uang untuk memenuhi segala keperluannya.
Xi Wei berjalan perlahan, selangkah demi selangkah. Dia ingin melihat sosok seperti apa yang akan mengganggunya untuk pergi ke Meifang. Dia juga akan menganggap hal itu sebagai latihan pertama—selain Ular Raksasa Chizi tentu saja—selangkah lebih maju untuk mengalahkan Xi Chen.
__ADS_1
Baru saja beberapa belas langkah Xi Wei melangkah, dia sudah dihadapkan dengan sesosok pria berwajah buas dan menggeram layaknya seekor babi hutan raksasa yang tengah marah. Rambutnya tumbuh tak karuan dan bagian putih di matanya memerah. Pria buas itu memakai baju serba compang-camping yang sekiranya pernah dilihat oleh Xi Wei entah dimana.
Xi Wei tidak merasa takut sama sekali. Ketakutannya sudah hilang semenjak dia kecil. Dia menyeringai manis. Ternyata manusia ini yang disebut Makhluk Buas Hutan Bambu Meifang….