
Ying Yue dan Xincai memasuki gerbang Distrik Fenghua dengan selamat. Namun ada hal yang mengganjal di hati Tuan Putri Agung, dia disergap perasaan buruk tentang Xi Wei—sekarang si pemuda sedang melawan Fu Cha Maorong, mantan anggota kamp Pasukan Nanxi.
"Ada apa, Adik Kesembilan?" tanya Xincai, yang sedikit panik ketika melihat wajah Ying Yue memucat. "Apakah kau sedang mengkhawatirkan Xi Wei? Tenang saja, dia akan baik-baik saja. Dia juga bukan pria yang tidak akan menepati janjinya."
Ying Yue menggelengkan kepalanya untuk mengatakan kepada Xincai kalau dia baik-baik saja, dia tidak sedang mengkhawatirkan Xi Wei. Tentu saja itu adalah dusta. Dia sangat khawatir. Juga, dia sangat sedih mengingat apa yang telah Xi Wei katakan kepadanya.
Kakak Xi Wei… apakah kau baik-baik saja? Kenapa aku sangat khawatir? Kakak Xi Wei… kenapa semalam kau terlihat sangat marah sampai mengatakan hal yang kejam kepadaku? pikir Ying Yue.
"Kita sudah memasuki Distrik Fenghua. Dari sini saja puncak Istana sudah terlihat," Xincai menyingkap sedikit dari kain jendela kereta. Dia melihat keluar dari memberitahu Ying Yue tentang keadaan sekitar. Namun sepertinya Tuan Putri Agung tidak mendengarkan.
Ying Yue tenggelam dalam pikirannya sendiri. Dia kebingungan dengan kemarahan yang ditunjukkan Xi Wei kemarin malam. Dia tidak ingat kalau dia pernah mengatakan sesuatu yang aneh. Dia merasa kalau Xi Wei tahu sesuatu yang tidak berkenan untuk diberitahukan.
"Kakak Xincai," panggil Ying Yue. Dia ingin menanyakan soal Xi Wei. Namun sedikit takut-takut kepada Xincai. Apalagi mengingat kalau Xincai pernah menyukai Xi Wei.
"Ya, ada apa Adik?" Xincai memasang ekspresi polos dan menunggu Ying Yue berbicara.
Pada akhirnya, Ying Yue mengurungkan niatnya untuk menanyakan tentang Xi Wei. Dia mengalihkan pembicaraan, "Apakah kita sudah dekat dengan Istana?"
Xincai tertawa kecil. "Sudah," jawabnya. "Jika kau ingin menolak pernikahan yang diberkahi oleh Ayahanda, maka kau harus berusaha, Adik Kesembilan. Tidak perlu gugup. Kau cukup mengingat apa yang sudah diajarkan si Brengsek Xi Wei itu kepadamu. Semua ajarannya sangat berguna."
Bahkan Kakak Xincai berani memarahi Kakak Xi Wei dengan kata 'brengsek'. Kalau itu aku, aku tidak mungkin akan berani melakukannya, kan? pikir Ying Yue.
"Adik Ying Yue, kau terlihat aneh hari ini. Apakah ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu? Apakah kau sedang memikirkan Xi Wei lagi?" tanya Xincai. Dia terlihat sangat cemas.
"Aku tidak sedang mengkhawatirkan Kakak Xi Wei," jawab Ying Yue. "Sebenarnya, kemarin malam aku bertemu dengannya. Dia menyampaikan ucapan sampai jumpa kepada Kakak Xincai dan Kakak Xiangheng. Hanya saja…," ucapannya tiba-tiba berhenti dan itu membuat Xincai penasaran.
__ADS_1
"Hanya saja…?"
"Hanya saja dia mengatakan kepadaku untuk tidak memberitahu kalian. Aku sedikit menyesal," dusta Ying Yue. Sebenarnya bukan seperti itu, dia ingin mengatakan yang sebenarnya, kalau Xi Wei berkata kepadanya dia tak bisa menikahinya. Hanya saja lidahnya terlalu keluh.
Aku ingin tahu alasannya. Aku yakin kalau Kakak Xi Wei kembali dia akan memberiku alasannya. Sampai saat itu tiba… sampai saat itu tiba aku tidak akan menyerah untuk menentang Kaisar! pikir Ying Yue.
Kereta kuda yang ditumpangi oleh Ying Yue dan Xincai berhenti tepat di depan gerbang Istana. Salah satu orang dari barisan prajurit yang berdiri paling depan berseru, "Lapor! Tuan Putri Ketiga Fang Xincai dan Tuan Putri Agung Li Ying Yue sudah kembali!"
Kemudian, salah satu prajurit yang berdiri paling belakang berlari ke dalam Aula Utama untuk melaporkan kepada Kaisar, yang sedang bercengkrama ringan dengan Permaisuri.
"Lapor! Yang Mulia, Tuan Putri Ketiga dan Tuan Putri Agung sudah kembali."
"Eh?" Kaisar terlihat sangat senang mendengarnya. "Ternyata Xincai masih tahu pulang. Aku sangat senang. Aku sangat senang. Kau boleh pergi."
"Kasim Yue, cepat, cepat panggilkan Fang Xincai dan Li Ying Yue!" Kaisar terlihat sangat senang, sampai terburu-buru menyuruh Kasim Yue untuk memanggil Ying Yue dan Xincai.
Ibu dan anak sama-sama merupakan ular. Paras yang sama, perilaku yang sama pula. Jangan sampai Li Ying Yue merusak rencanaku. Dia tidak boleh tinggal lama di dalam Istana, pikir Permaisuri.
Kasim Yue buru-buru berjalan di sepanjang lorong Istana. Untung saja Ying Yue dan Xincai tepat berada di depan sana. Dia langsung meneriaki mereka berdua, "Tuan Putri Ketiga, Tuan Putri Agung!"
Kasim Yue sampai di hadapan mereka, menundukkan kepala, kemudian berkata, "Maaf mengganggu waktunya, Tuan Putri Ketiga dan Tuan Putri Agung. Hamba tahu kalau kalian berdua baru saja pulang dari perjalanan panjang. Tapi, Kaisar meminta kepada kalian untuk menghadap."
Xincai dan Ying Yue saling bertatapan. Xincai menghela napas panjang. "Kami sudah mengerti. Terima kasih, Kasim Yue. Kami akan mengganti pakaian, kemudian akan menghadap Ayahanda."
"Terima kasih banyak, Tuan Putri Ketiga. Ah, kalau begitu, hamba pamit dulu."
__ADS_1
"Silahkan. Kami tidak akan mengantar."
Saat Kasim Yue sudah berjalan cukup jauh, Xincai pun berbisik kepada Ying Yue, "Kau harus ingat apa yang kukatakan, Adik Ying Yue. Selama Permaisuri ada di sana, lebih baik kau tidak membicarakan pembatalan pernikahan dengan Ayahanda. Dia itu licik dan dapat mempengaruhi orang lain."
"Tenang saja, Kakak Xincai. Adikmu ini bukanlah orang yang bodoh. Apa pun nasehat yang Kakak Xincai berikan, Adik akan mendengarnya," Ying Yue balas berbisik.
"Baiklah. Kita harus buru-buru mengganti pakaian, kemudian menghadap. Jangan biarkan Ayahanda menunggu lama," kata Xincai. "Aku pergi dulu ya!" dia segera pergi dari hadapan Ying Yue.
Ying Yue menghela napas panjang. Dia tahu akan berat baginya untuk membatalkan keputusan Kaisar jika Permaisuri ada di tempat. Aku harus mencari kesempatan. Aku tidak boleh membiarkan Permaisuri bertindak seenaknya. Apalagi dia, dia yang sudah membunuh Ibunda! Dendam ini akan kubalas!
Ying Yue juga segera pergi dari sana.
"Xincai memberi salam kepada Ayahanda, Ibunda Permaisuri."
"Ying Yue memberi salam kepada Kaisar, Ibunda Permaisuri."
Raja tertawa. "Ayo duduk, anak-anakku!" titahnya. Dia sangat senang karena Ying Yue dan Xincai datang mengunjunginya.
"Terima kasih, Ayahanda."
"Terima kasih, Kaisar."
***
Sementara itu, di gubuk kecil di tengah hutan bambu, Xi Wei menegak teh yang disodorkan oleh Maorong untuknya. Dia menatap tajam ke arah pria itu. Pemuda berkulit sawo matang sedikit bimbang, ingin juga tidak ingin mengatakan pengobatan terhadap Racun Bambu Hitam. Namun dia tidak memiliki pilihan lain.
__ADS_1
"Baiklah. Aku harus memberimu tiga pilihan dalam menjalani pengobatan terhadap Racun Bambu Hitam yang ada di dalam tubuhmu. Setiap pengobatan akan memiliki resikonya tersendiri. Kau harus memikirkannya baik-baik," kata Xi Wei.