
Pagi harinya, Maorong menemukan Xi Wei tengah bermeditasi di bawah sinar matahari di atas atap gubuk kecil yang mereka tinggali. Dia bisa melihat kalau tubuh pemuda berkulit sawo matang menyerap sinar matahari perlahan-lahan. Dia pernah melihat hal itu satu kali: saat Xi Chen melakukan Meditasi Kultivasi.
Ayah dan anak memiliki potensi yang sama, pikir Maorong.
Tanpa mengganggu kegiatan Xi Wei, Maorong menimba air di sebuah sumur tua di dekat gubuk. Dia berencana untuk berburu dan memasak sesuatu untuk dirinya dan Xi Wei.
Xi Wei sendiri tahu kalau Maorong akan pergi keluar. Padahal dia sedang memejamkan matanya dengan erat. Dia pun bertanya kepada Maorong, "Ingin kemana, Paman Fu Cha?"
Maorong yang kaget langsung menatap Xi Wei dan menemukan bahwa pemuda—yang harus disebut keponakan—itu masih memejamkan matanya. Dia menjadi sedikit khawatir kalau Xi Wei itu adalah hantu—dia memang adalah hantu.
Ingat perkataan orang-orang di Akademi Luqing? Xi Wei adalah hantu yang bisa datang dan pergi sesuka hatinya.
"Saya akan pergi berburu, Pa-"
Sebelum Maorong sempat menyebutkan embel-embel yang terdengar menggelikan di telinga Xi Wei, si pemuda langsung membuka matanya dan menatap tajam ke arah orang yang harusnya disebut Pamannya.
Maorong langsung salah tingkah dan mengubah panggilannya, "Xi… Wei…?"
Xi Wei kembali memejamkan matanya, tidak peduli dengan Maorong yang akan pergi berburu atau kemana pun itu.
Maorong menghela napas lega. Menurutnya, tatapan mata Xi Wei dengan tatapan mata Xi Chen itu sama-sama menyeramkan. Dia pun pergi dari sana untuk berburu—biasanya dia akan makan apa pun yang bisa dia dapatkan; jika dia mendapatkan kelinci, maka dia akan makan daging kelinci, atau ketika dia mendapatkan manusia yang berbuat jahat, maka dia akan makan daging manusia. Namun dia tidak memerlukan manusia lagi karena penyakit Racun Bambu Hitam-nya telah disembuhkan
__ADS_1
Xi Wei bersiul pelan ketika Maorong sudah tidak terlihat di radar indera keenamnya lagi. Dia masih memejamkan matanya. Dengan cepat, dia sudah sampai pada Deret Kultivator Tingkat Menengah.
Gaohei melayang-layang di udara, kemudian mendarat tepat di sebelah Xi Wei. Dia berkicau, "Kuk! Kuk…?"
Xi Wei langsung menepuk pelan kepala Gaohei. Dia membuka matanya perlahan dan menatap tajam ke arah Gaohei, yang juga menatap tajam ke arahnya. Dia pun berkata, "Sampaikan salamku kepada Kakak Senior Wang. Ini."
Xi Wei menyelipkan secarik kertas kecil di antara paruh Gaohei. Dia melanjutkan, "Aku tidak memerlukan balasan darinya. Aku hanya ingin dia tahu isi surat ini. Setelah kau mengantarkan ini kepadanya, pergilah ke Li Ying Yue. Aku tahu dia memberikan sesuatu kepadamu dan kau menolaknya. Kau harus minta maaf akan hal itu."
Dengan perasaan jengkel, Gaohei pun terbang ke angkasa. Menghilang di langit luas tak berunjung.
Xi Wei melompat dan berdiri tegak di atas tanah. Dia masuk ke dalam gubuk untuk mengistirahatkan dirinya. Dia sudah begadang sepanjang malam untuk menaikkan tingkatnya menjadi Deret Kultivator Tingkat Menengah. Dia masih berpegang pada pendirian dimana dia akan bisa paling tidak menyeimbangi Xi Chen yang sudah mencapai Deret Dewa Kultivator. Memikirkan senyuman menyebalkan Ayahandanya sudah membuat kepalanya berasap-asap.
Saat Xi Wei memejamkan matanya dan bersiap untuk tidur, saat itu juga dia baru saja teringat kalau dia akan menyasar di dalam Cermin Mimpi Xi Chen lagi. Walau itu hanya perasaannya saja, tapi dia kurang menyukainya. Menurutnya, perasaan itu sangatlah menyeramkan.
Seumur hidupnya, bahkan ketika dia bersama dengan gurunya sendiri, Qing Chaguan, Xi Wei tidak pernah disebut sebagai pecundang. Atas dasar apa Xi Chen, si sialan itu, menyebutku sebagai pecundang? Bukankah dia seharusnya berkaca pada dirinya sendiri? tanyanya marah.
Sial, aku ngantuk sekali. Apakah aku harus menahan rasa kantuk ini? Tapi, Ayahanda sialanku itu tidak akan membiarkan diriku tidur dengan tenang, pikir Xi Wei.
Xi Wei tenggelam dalam pikirannya sendiri. Dan, tak berapa lama kemudian dia pun tertidur.
Yang benar saja, baru juga dikatakannya bahwa dia tidak ingin masuk ke dalam Cermin Mimpi Xi Chen, tapi hal yang terjadi sangat tidak sesuai dengan harapannya. Dia malah terlempar ke dalamnya sekali lagi. Dia hanya bisa mendengus pasrah.
__ADS_1
Xi Chen sendiri sudah ada di sana. Mungkin sedang menunggu kedatangan Xi Wei.
"Oh, sudah datang rupanya. Bagaimana dengan perkembangan yang kau alami?" tanya Xi Chen. Dia sepertinya berusaha untuk tidak menjadi orang yang menyebalkan. Namun sekali lagi dia gagal. Menyebalkan sudah menjadi ciri khasnya tersendiri bagi Xi Wei—begitu juga dengan Xi Wei yang menyebalkan menjadi ciri khas tersendiri bagi sahabat-sahabatnya.
"Tidak begitu baik," Xi Wei menjawab. Dia pun juga tidak ingin menjadi 'orang asing' yang menyebalkan bagi Xi Chen. Lagi pula, mereka berdua sejatinya adalah ayah dan anak.
"Kulihat kau sudah mencapai Deret Kultivator Tingkat Menengah," celetuk Xi Chen sambil memainkan pedang kembar miliknya.
Xi Wei tentu tahu arti dari ketika seorang Xi Chen memainkan pedang: si pemuda harus bersiap-siap menghadapi Ayahandanya dalam sesi pertarungan yang tidak seimbang. Dia harus bersiap untuk dihajar habis-habisan.
Namun sepertinya dugaan Xi Wei salah. Xi Chen sama sekali tidak berniat untuk menyerangnya. Ayahandanya dengan santai memejamkan mata dan tidur di bawah pohon plum yang bunganya sedang berguguran.
Xi Wei menghela napas panjang.
Setidaknya, aku tidak perlu bertarung dengannya hari in-
Xi Wei sudah berpikir dia tidak perlu lagi bertarung dengan Xi Chen sekarang. Namun keinginannya tidak terkabulkan lantaran Ayahandanya ternyata menyerangnya secara batin. Dia sampai muntah darah karenanya.
Xi Wei menatap marah ke arah Xi Chen. Dia benar-benar tidak menyangka kalau dia akan mendapatkan serangan dadakan seperti ini. Dia mengerang keras, "Ayahanda sialan!"
Entah bagaimana caranya Xi Chen, yang sedang memejamkan mata bisa berada di sebelah Xi Wei hingga membuat tekanan yang mendera anaknya semakin kencang. Dia memang tidak mengatakan apa-apa. Namun di wajahnya tersungging sebuah senyuman manis yang sangat menyebalkan.
__ADS_1
Tiba-tiba saja tekanan yang mendera Xi Wei berhenti. Si pemuda langsung menatap ke arah Ayahandanya, tapi Xi Chen sudah tidak berada di sana. Dia merasa sedikit lega, akan tetapi juga merasa kehilangan. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya dirasakannya sekarang.
Mungkin Xi Wei merasa sedikit kegelisahan?