
"Aku tidak tahu apa yang kau maksud dengan Dewa, Adik Kecil."
"Matamu juga berbeda dari orang lain. Tidak salah lagi, kau pasti adalah Dewa yang turun ke bumi kan, Kakak Xi Wei?"
Xi Wei tertawa dan mengelus kepala Ying Yue.
"Aku bukan Dewa. Banyak hal yang tidak ku ketahui di dunia ini. Aku hanyalah manusia biasa yang ingin menikmati duniawi. Bukan Dewa seperti yang ada dalam pikiranmu."
Ying Yue memasang tampang polos.
"Tapi, manusia meskipun berkultivasi, mereka tidak akan bisa memiliki elemen cahaya. Karena hanya Dewa Langit dan para Penjaga Matahari yang memiliki elemen itu. Aku memang hanya membacanya melalui sebuah buku yang menceritakan legenda. Tapi, tidak pernah ada sekte yang memiliki elemen cahaya."
'Ada! Tentu saja ada ... aku pernah membacanya saat berada di Kuil Suci Taiyang. Juga, Ayahanda dan Ibunda ... mereka adalah bukti sekte yang menganut elemen cahaya pernah ada. Hanya saja, mereka sudah tidak tersisa lagi di muka bumi. Mungkin ... mungkin aku generasi terakhir yang mereka miliki.'
Xi Wei menatap ke luar jendela. Cahaya matahari begitu terik, dibalut angin sepoi-sepoi yang berhembus dari timur ke barat. Itu mendamaikan hati pemuda berkulit sawo matang. Dan, karena si Pemuda melamun, dia jadi tidak mendengar ocehan Ying Yue yang ingin membalas kebaikannya.
Saat sadar, Xi Wei melihat Ying Yue pergi karena marah. Dia hanya bisa tersenyum canggung meratapi kemarahan dan kepergian sang Putri.
'Maafkan aku karena tidak mendengarkan dirimu, Li Ying Yue.'
Xi Wei dapat mendengar teriakan histeris Ying Yue yang mengguncang Wufalou. Daripada teriakan, lebih tepat disebut dengan kata umpatan.
"Kakak Xi Wei bodoh! Sangat bodoh! Sangat bodoh dan sangat jahat!"
Xi Wei tertawa. Dia juga bisa mendengar Xiangheng yang memprotes ke Ying Yue.
"Jangan mengacau di tempatku, Nona!"
Xi Wei sudah seperti menguping pertengkaran rumah tangga saja.
"Aku tidak peduli! Kalian, para pria, benar-benar sangat menyebalkan. Sangat menyebalkan sampai ingin ku pukul!"
"Jika kau memiliki masalah dengan orang itu, jangan menyeret semua pria yang ada."
"Memang begitu. Bukankah begitu, Kakak Xincai?"
'Dia bahkan menyeret Fang Xincai ke dalam masalahnya. Benar-benar Adik Kecil ini ... pandai sekali memojokkan seseorang.'
Xi Wei bisa menebak kalau Xincai akan membela Ying Yue. Itu benar adanya.
"Tentu saja. Aku selalu setuju dengan perkataan Adik Kesembilan!"
"Fang Xincai, kau jangan ikut-ikutan!"
"Sebagai Kakak yang baik tentu saja aku harus membela adikku sendiri!"
Pertengkaran entah akan berlanjut sampai kapan. Namun Xi Wei sangat senang karena ada yang mengusir kesepiannya dengan pertengkaran persahabatan. Dia merasa sangat beruntung memiliki mereka semua.
__ADS_1
***
Di sisi lain Negeri Yinying, di tempat keramat yang tidak diketahui keadaannya oleh orang luar, Xi Chen membuka matanya perlahan. Cahaya matahari langsung menusuk indera penglihatannya.
"Akhirnya Anda bangun dari tidur lama Anda."
Xi Chen segera bangkit dari posisi terlentang. Kepalanya langsung berdenyut saat dirinya berada di posisi duduk.
"Jangan sembarangan bergerak dulu!"
Xi Chen terkekeh pelan.
"Memang istriku ini yang paling pengertian."
Jialing langsung menyentil kening Xi Chen, membuat sang Pria meringis kesakitan. Dahinya memerah dan sang Wanita sangat puas dengan ekspresi wajahnya.
"Sakit, Jialing ...."
"Kenapa Anda sangat susah untuk diatur?"
Xi Chen tersenyum penuh arti. Dia menarik Jialing ke dalam pelukannya.
"Yang Mulia!"
"Kau selalu saja sopan. Aku sudah bukan seorang Kaisar. Tidak perlu begitu sungkan terhadap diriku. Panggil namaku."
"Yang Mulia, saya tidak bisa memanggil Anda dengan nama. Meskipun saya berasal dari Kuil Suci di daerah utara, saya tetap merupakan penduduk biasa. Berasal dari kasta yang amat rendah."
"Tidak! Kau harus belajar, Jialing. Kita sudah menjadi suami-istri selama dua puluh dua tahun. Apakah kau tidak lelah karena harus memanggilku dengan amat sopan?"
Jialing tersenyum manis. Dia tidak menanggapi ucapan Xi Chen. Menurutnya, tidak baik jika dia memanggil si Pria dengan nama. Dia mempelajarinya sedari dia kecil. Dan, itu tidak pantas.
"Daripada membahas itu, lebih baik Anda menceritakan apa yang Anda lihat di dalam mimpi Anda. Anda terlihat senang ketika bermimpi."
Xi Chen sedikit tidak suka karena Jialing selalu mengalihkan pembicaraan. Namun tidak ada hal yang bisa dia lakukan. Sang Pria sangat mencintai wanitanya.
"Aku bertemu dengan anak kita, Xi Wei, dalam cermin mimpi. Dia sangat lemah, bahkan untuk menahan satu serangan dariku saja dia tidak mampu. Entah apa yang ada di dalam pikiran anakmu hingga dia masih bingung ingin memperdalam ilmu seperti apa."
Jialing tertawa licik. Matanya memicing. Xi Chen tahu sebentar lagi sang Wanita akan membandingkan Xi Wei dengan dirinya yang dulu.
"Ah! Jangan dibahas!"
Wajah Xi Chen merona merah karena malu.
"Saya bahkan belum mengatakan apa pun, Yang Mulia."
Wajah Xi Chen merah padam.
__ADS_1
"Jika kau tidak ingin memanggil namaku. Coba panggil dengan sebutan 'Kakak'."
Wajah Jialing juga merona merah.
'Akhirnya dia mengatakannya ....'
"Kakak ... Xi ... Chen ...?"
"Ah ...?"
Wajah kedua insan itu merona.
"Rasanya sedikit aneh ... tapi, itu lebih baik dibanding kamu memanggilku Yang Mulia. Aku sudah bukan Kaisar seperti dulu lagi."
Xi Chen menatap ke luar jendela. Matanya dipenuhi bayangan pohon plum dengan bunganya yang bermekaran. Dia tersenyum.
'Jialing, maaf membuatmu bekerja begitu keras dan melelahkan. Pria milikmu yang satu ini benar-benar tidak berguna ya ...?'
Jemari Jialing menyapu lembut wajah Xi Chen. Matanya penuh cinta menatap ke dalam mata si Pria. Yang pada akhirnya, Jialing hanya mengecup kening Xi Chen.
"Pikiran Anda sedang kacau, Kakak Xi ... Chen."
Xi Chen langsung mengambil alih keadaan.
"Karena kau sudah berani menggodaku, maka jangan salahkan aku!"
***
Di jalanan Distrik Maolong, Ying Yue meremas jubah pemberian Xi Wei—yang awalnya diberikan Caihong kepada pemuda berkulit sawo matang. Dia menghela napas panjang dan raut wajahnya terlihat sedang kecewa.
'Pada akhirnya, aku tidak berhasil mengatakan tentang penebusan pada Kakak Xi Wei. Eh ...? Sejak kapan aku memanggilnya Kakak?! Menyebalkan sekali ....'
"Tanghulu! Manisan Tanghulu!"
Perhatian Ying Yue selalu teralihkan karena Tanghulu. Sang Putri mendekati penjual Tanghulu.
"Nona, ingin beli manisan Tanghulu?"
"Iy-"
Belum sempat Ying Yue menjawabnya, dia langsung ditarik akan pergi oleh seseorang.
"Maaf, Xianwu. Tapi, aku tidak akan membiarkan rencana kalian berhasil."
Xi Wei! Dia datang di saat yang tepat!
Penjual Tanghulu palsu. Xianwu, dia hanya bisa berdecak kesal kemudian menghilang dari pandangan semua orang.
__ADS_1