
Ying Yue membawa Jialing menjauh dari Xi Wei dan Xi Chen. Dia ingin membiarkan ayah dan anak itu menyelesaikan masalah pribadi mereka. Sang Putri tidak menyangka kalau pemuda berkulit sawo matang bisa berkata seperti itu. Meskipun itu bisa dipahami Xi Wei berkata seperti itu karena dia tidak pernah mendapatkan perhatian kedua orang tuanya, tapi tetap saja hal itu tidak boleh dan tidak akan diindahkan oleh Ying Yue.
'Kakak Xi Wei keterlaluan sekali ... walau aku bisa memahami perasaannya hidup di dalam limpahan kasih sayang orang lain. Tapi, perbuatan dan perkataan seperti ini tidak dapat ditoleransi!'
Ying Yue memapah Jialing dan mendudukkannya di bawah sebuah pohon plum yang cukup jauh dari posisi Xi Wei dan Xi Chen. Sang Putri ingin menghibur Ibunda si Pemuda, tapi dia tidak tahu harus memulainya dari mana.
"Terima kasih, Nona Muda ...."
Ying Yue menatap Jialing, lalu menggelengkan kepalanya.
"Saya tidak berbuat apa-apa. Anda tidak perlu berterima kasih, Nyonya."
"Saya merasa yang dikatakan anakku itu ada benarnya. Kesalahan yang saya dan suami saya perbuat merebut kebahagiaannya untuk memiliki sebuah keluarga. Dia juga tidak mendapat kasih sayang orang tua sendiri."
"Meskipun begitu, hal itu tidak boleh dibenarkan. Seorang anak harus menghargai orang tuanya, begitu pula sebaliknya. Saya mengerti perasaan Kakak Xi Wei yang berat menerima kenyataannya. Tapi, tidak seharusnya dia mengatakan hal yang sedemikian jahatnya."
"Nona, Anda terlalu baik, juga terlalu polos akan dunia. Jika semua orang berpikiran sama seperti Anda, dunia akan damai."
Ying Yue tersipu malu.
"Siapa nama Anda, Nona Muda?"
"Li Ying Yue. Ying Yue, Nyonya."
Jialing sedikit kaget mendengarnya.
'Anak dari Li Aiyin? Rupanya waktu berlaku begitu cepat, anak-anak kami sudah tumbuh besar.'
Jialing mengarahkan pandangannya ke Xi Chen yang memukuli anaknya habis-habisan. Dia merasa iba kepada Xi Wei.
'Anak itu seharusnya mendapatkan perlakuan yang lebih layak ... sudah saatnya pergi.'
__ADS_1
"Kakak Xi Chen!"
Xi Chen berhenti memukuli Xi Wei dan mengarahkan pandangannya ke arah Jialing. Si Wanita sudah berhenti menitikkan air mata.
"Ayo kita pulang ...."
Jialing berdiri dan menunggu Xi Chen.
"Sekali lagi terima kasih, Nona."
Xi Chen berhenti dan menatap tajam ke arah Xi Wei. Karena si Pria tidak bisa menolak permintaan Istrinya Tercinta, dia pun meninggalkan pemuda berkulit sawo matang yang terkapar tidak berdaya sendirian di sana.
Walau Xi Wei merasakan sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya akibat ulah dari Ayahandanya sendiri, dia masih sempat berteriak keras.
"Kalian tunggu saja, Ayahanda, Ibunda! Aku akan menemukan kalian walau kalian berada di ujung dunia sekali pun!"
Xi Chen bisa melihat sebuah senyuman lembut menghiasi wajah Jialing. Dia tidak mengerti dengan jalan pikiran Xi Wei yang berbelit dan rumit, tapi dia bisa tahu kalau anak semata wayangnya itu tidak benar-benar membencinya dan Jialing. Si Pemuda hanya tidak tahu harus berekspresi seperti apa ketika dihadapkan dengan kata 'Keluarga'.
Pada akhirnya, Xi Wei hanya bisa melihat sosok Xi Chen dan Jialing yang menghilang serta dirinya yang terlempar keluar dari cermin mimpi Ayahandanya tanpa mendapatkan kata-kata apa pun.
'Aku salah mengatakan hal itu kepada mereka. Bagaimana bisa aku mengatakan kalau aku tidak akan menghormati mereka hanya karena mereka tidak pernah menjaga diriku dan aku tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari mereka? Bagaimana pun juga, seperti kata Adik Kecil, mereka adalah orang tuaku. Aku harus lebih memperhatikan kata-kata sendiri.'
Pintu kamar Xi Wei dibuka secara paksa. Ying Yue berjalan dengan tempo cepat ke arah Xi Wei yang mematung melihatnya.
"A-"
Belum sempat Xi Wei bertanya apa maksud kedatangan Ying Yue di ruangannya, sang Putri sudah terlebih dulu menjitak kepala pemuda berkulit sawo matang. Dengan sekuat tenaga, tentu saja.
"Sakit! Apa yang kau l-"
Jitakan kedua mendarat ketika Xi Wei belum sempat menyelesaikan kata-katanya. Ying Yue terlihat sangat marah dengan si Pemuda.
__ADS_1
"Li Ying Yue!"
Xi Wei menahan lengan Ying Yue yang akan mendaratkan jitakan ketiga. Dia dan Ying Yue sama-sama menatap tajam ke dalam mata masing-masing.
Xi Wei akhirnya mengerti kalau Ying Yue masih sangat marah dengan perkataannya di dalam cermin mimpi Xi Chen. Walau itu bukan ditujukan untuk sang Putri, entah kenapa dia tetap marah pada Xi Wei.
"Aku minta maaf atas kata-kataku."
Ying Yue melepas paksa tangannya dari cengkraman Xi Wei.
"Kau harusnya meminta maaf kepada orang tuamu. Kau benar-benar suka sekali membuat orang lain marah!"
"Aku sedang tidak ingin membahas benar dan salah dengan dirimu, Adik Kecil ...."
Xi Wei langsung pergi dari hadapan Ying Yue melalui jendela. Ying Yue hanya bisa melihat kalau Xi Wei melompat dari satu atap rumah penduduk ke atap rumah penduduk lainnya dengan cepat, lalu menghilang ditelan gelapnya malam.
Ying Yue menghela napas.
"Dasar keras kepala!"
Xi Wei berhenti ketika menemukan tempat yang pas untuk menenangkan pikirannya. Dia merebahkan tubuh di atas padang rumput yang amat luas. Sambil menatap ke arah langit yang diterangi cahaya bulan dan bintang, dia merenung tentang kesalahan yang sudah diperbuatnya.
Namun, ketenangan Xi Wei terganggu karena suara grasak-grusuk yang aneh. Dia berdecak kesal dan menatap ke arah semak-semak yang bergoyang. Tidak ada yang muncul.
Tak lama kemudian, Xi Wei bisa mendengar suara tiga pria yang sedang berbicara. Dia tidak bermaksud untuk menguping, tapi memang telinga saja yang terlalu tajam.
Ternyata ketiga pria itu adalah Wei Caozai, Xianwu, dan An Ye. Xi Wei hanya bisa menghela napas mendengar apa yang sedang mereka rencanakan. Walaupun tidak berhubungan dengannya, tapi merencanakan pemberontakan terhadap Putra Mahkota adalah kesalahan besar.
Caozai memang memiliki jumlah pasukan yang bisa dikatakan banyak. Belum lagi pasukannya adalah para pesilat yang memiliki keahlian dalam meracuni. Namun jika Kaisar mengetahui hal itu, Caozai akan dianggap sebagai ancaman dan Wanqian pasti akan diperintahkan untuk membasmi mereka.
Walau Caozai adalah Ahli Racun, dia tidak akan bisa menandingi peringkat pertama di daratan Yinying, Wang Wanqian.
__ADS_1
'Apakah aku harus melaporkan hal ini pada Kakak Senior? Atau, tidak? Entahlah. Apa aku minta saran dari Li Ying Yue saja? Kira-kira dia masih marah denganku tidak ya? Karena dia menyukai manisan, sepertinya aku harus memberinya manisan dulu agar dia tidak marah. Tapi, Elena tidak tahu kapan akan datang lagi ....'
Xi Wei memejamkan mata dan tertidur. Kali itu, dia tidur dengan nyenyak tanpa tersedot ke dalam cermin mimpi Xi Chen.