Mysterious Shender

Mysterious Shender
第六十六集 : Xi Wei's Little Wish in the Bamboo Grove


__ADS_3

Selesai menikmati makan siangnya, Maorong pun bertanya kepada Xi Wei, "Xi Wei, kapan Anda memiliki rencana untuk pergi dari sini? Jikalau pun Anda pergi, apakah Anda bisa membawa saya bersama dengan Anda?"


Xi Wei berpikir selama beberapa saat, kemudian dia pun berkata, "Aku akan mengajak Paman. Aku tidak bisa membiarkan Paman seorang diri di sini. Tapi, mau ikut atau tidak itu semua adalah pilihan Paman."


Xi Wei melanjutkan, "Aku adalah orang yang sangat sensitif. Aku hanya berharap satu hal: Paman tidak membebani diriku saat aju sedang 'memulai perburuan'."


Maorong tidak begitu mengerti dengan perkataan Xi Wei tentang 'memulai perburuan'. Itu adalah sebuah kiasan yang sedikit… aneh! Ya, aneh.


"Maksudku adalah aku suka melakukan perburuan yang mempertaruhkan nyawa," kata Xi Wei. Dia membuat Maorong sedikit merinding.


Mirip sekali dengan Yang Mulia Kaisar Xi Chen, pikir Maorong. Angannya melayang hingga sampai di saat dia masih menjadi Wakil Jenderal kamp Nan Xi. Dia dan Jenderal Besar sering menemani Xi Chen pergi berburu. Dan, buruannya juga tidak main-main. Dia sampai hanya bisa melongo melihat Xi Chen membunuh Rajawali Hitam Raksasa seorang diri.


"Ini adalah sebuah hutan bambu," gumam Xi Wei. Dia menatap ke arah Maorong kemudian bertanya, "Apakah di sini ada sebuah gua kecil? Aku ingin pergi berburu sesuatu."


Maorong awalnya tidak mengerti mengapa Xi Wei ingin mencari sebuah gua kecil di hutan bambu yang begitu luas. Kemudian, dia pun menyadari satu hal: kalau sepertinya si pemuda berkulit sawo matang akan berburu Ratu dari ras serangga yang bernama Kunang-Kunang Cahaya Api Biru.


Maorong langsung melarang Xi Wei, "Anda sama sekali tidak boleh pergi ke sana!"


"Berarti Paman tahu di hutan bambu ini ada sebuah gua kecil tempat dimana Kunang-Kunang Cahaya Api Biru tinggal, bukankah begitu?" tanya Xi Wei.


Xi Wei berbicara sambil mengasah sebuah batu kecil hingga membentuk mata anak panah. Dia terlihat sangat santai. Tidak ada ketakutan yang tersirat maupun tersurat di manik matanya yang seindah cahaya sang fajar. Maorong sampai dibuat sakit kepala olehnya.

__ADS_1


"Pokoknya Anda tidak boleh ke sana! Anda tidak tahu betapa berbahayanya tempat itu. Anda tidak boleh sampai pergi ke sana," kata Maorong bersikeras tidak memperbolehkan Xi Wei untuk pergi ke tempat itu.


Xi Wei berdecak kesal. "Paman!" serunya sambil menatap Maorong dengan tatapan tajam. "Jika Paman tidak ingin dan tidak mengizinkan diriku untuk pergi ke sana, maka aku juga tetap harus pergi. Aku tahu Paman mengkhawatirkan keselamatanku. Tapi, aku bisa menjamin keselematanku sendiri. Jika Paman tidak yakin, Paman boleh ikut dan menonton."


Maorong tentu saja tidak akan bisa menolak Xi Wei. Si pemuda dan Ayahandanya itu sama saja: titah mereka adalah mutlak, tidak boleh diganggu gugat jika tidak ingin terkena masalah.


Maorong pun menyerah dan berkata, "Saya akan membawa Anda ke sana. Tapi, dengan satu syarat: saya berharap Anda akan berhenti jika Anda sudah tidak sanggup melawan Ratu dari Kunang-Kunang Cahaya Api Biru. Jika tidak, saya tidak akan pernah akan membawa Anda ke sana."


Xi Wei menghela napas panjang. Aku tentu saja tidak akan bisa menerima tawaran untuk berhenti sebelum mendapatkan apa yang aku inginkan. Tapi, aku bisa berbohong, pikirnya.


"Baiklah, baiklah. Aku akan menepati janji dengan Paman untuk tidak memaksakan diriku jika aku sudah tidak sanggup melawan serangga-serangga itu," kata Xi Wei.


Tentu saja yang dijanjikan oleh Xi Wei hanyalah sebuah kebohongan. Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak kabur dari perburuan yang sudah dimulainya.


Xi Wei sedikit kesal karena dirinya lagi-lagi merupakan cerminan dari Xi Chen. Sepertinya dia tidak bisa hidup tenang jika Xi Chen benar-benar belum menghilang. Namun ada istilah yang menyebutkan bahwa buah yang jatuh tidak akan jauh dari pohonnya, dia merasa kalau istilah itu sangat tepat untuk menggambarkan dirinya dan Xi Chen.


Walaupun Maorong sedikit curiga dengan perjanjian yang telah disebutkan oleh Xi Wei, dia tetap harus membawa si pemuda ke tempat itu: gua kecil di dalam hutan bambu. Dia juga tidak bisa menolak permintaan Xi Wei akan hal itu. Dia tahu kalau Xi Wei merupakan orang yang keras kepala sama seperti Xi Chen. Dia hanya tidak ingin diamuk oleh Xi Wei.


Maorong bertanya, "Menurut Anda, kapan Anda ingin berangkat menuju ke pedalaman hutan bambu untuk mencari Kunang-Kunang Cahaya Api Biru?"


"Sekarang."

__ADS_1


"Ba- apa?! Sekarang?!"


Maorong langsung memelototi Xi Wei karena si pemuda mengatakan hal yang sangat tidak diduga-duga. Dia langsung berkata, "Tidak boleh! Anda sama sekali tidak boleh pergi berburu tanpa persiapan yang matang!"


"Ini adalah persiapan matang," kata Xi Wei sambil mengangkat busur dan anak panah yang dibuatnya sendiri. Dia sudah memasukkan Mantra Sihir ke dalam dua benda yang akan digunakannya. Dia juga membawa pedang kembar miliknya.


"Panah itu… bukankah itu panah milik Jenderal Besar Wang Wanqian?" tanya Maorong sedikit kaget.


"Apakah kau tidak tahu siapa yang sudah membuat panah ini, Paman? Apakah menurutmu aku hanyalah seorang bocah ingusan yang tidak bisa berbuat apa-apa?" Xi Wei balik bertanya kepada Maorong.


"Anda…? Anda adalah orang yang telah membuat panah ini?"


Maorong terlihat tidak percaya dengan Xi Wei.


"Aku adalah orang yang praktis, Paman. Apakah Paman ingin sebuah senjata? Aku bisa membuatkan seperti yang Paman inginkan. Tapi, jangan sekarang."


"Kau bahkan bisa membuat Mantra Sihir?"


"Aku bisa melakukan apa yang Ayahandaku bisa lakukan. Dia bisa meracik pil? Aku bisa Teknik Akupuntur. Dia bisa Teknik Telapak Taiyun? Aku bisa Teknik Kurong. Dia bisa membedakan obat dan racun? Aku juga bisa melakukannya! Dia adalah pengrajin nomor satu? Maka aku adalah pengrajin nomor satu setelah generasinya. Aku bisa melakukan apa yang bisa dilakukan oleh nya! Aku tidak akan kalah darinya dalam segi apa pun. Tidak akan pernah!"


Maorong mengagumi sifat Xi Wei yang mirip seperti Xi Chen. Rasanya tidak ada yang perlu ditakutkan ketika mereka berdua ada. Menurutnya, mereka berdua adalah sosok yang sangat mengerikan, tapi di saat bersamaan juga sangat mengesankan.

__ADS_1


"Sekarang adalah generasiku. Bukan, sekarang adalah generasi kami. Kami akan membuktikan kepada dunia kalau kami tidak akan pernah kalah dari generasi-generasi sebelumnya," kata Xi Wei.


Maorong bisa melihat kobaran api semangat melalui manik mata yang seindah cahaya sang fajar. Dia juga jadi bersemangat.


__ADS_2