
Setibanya di Wufalou, tempat itu sudah tutup.
"Minggir!"
Xi Wei meneriaki Ying Yue dan Xiangheng yang ingin melihat keadaan Qingqing. Pemuda berkulit sawo matang meletakkan tubuh Qingqing di atas ranjang kayu dan memerintahkan Ying Yue untuk membalik tubuhnya.
"Balik tubuhnya!"
Ying Yue tidak tahu kalau Xi Wei sedang memerintahkan hal itu padanya sehingga dia diam saja.
"Kau tidak dengar apa kataku? Balik tubuhnya! Kau ingin Qingqing-mu mati karena racun?!"
"Eh ...?"
Ying Yue segera membalik tubuh Qingqing hingga terlungkup.
"Buka bajunya."
"Apa?"
"Kau tidak dengar? Buka bajunya."
"Kau ingin melakukan apa?"
"Kau ingin Qingqing selamat atau tidak?"
"Tentu saja aku ingin! Tapi, aku tidak akan membuka bajunya kalau kau masih di sini bersama pria mesum itu!"
Xiangheng kesal mendengarnya.
"Pria mesum ...?"
Xi Wei menghela napas dengan kesal dan memelototi Ying Yue dengan tajam.
"Apakah kau bisa Teknik Akupuntur?"
Ying Yue terdiam.
__ADS_1
"Kalau tidak bisa, lebih baik kau lakukan saja apa yang ku suruh. Aku bukannya ingin bermacam-macam. Aku di sini untuk menyelamatkan nyawanya. Kalau kau tidak ingin menyelamatkan nyawanya, maka akan kulakukan sendiri."
Ying Yue merobek baju bagian belakang Qingqing sesuai yang diperintahkan oleh Xi Wei. Sang Pemuda merasa lega karena Ying Yue mau mendengarkannya.
"Xiangheng, aku tahu kau memiliki Jarum Emas Obat Dewa. Kemarikan."
"Bai- eh?! Hah?!"
"Aku tidak ingin mendengar penolakan!"
Xi Wei mengulurkan tangannya sedari tadi, tapi Xiangheng tak kunjung memberikan apa yang diminta oleh pemuda berkulit sawo matang.
"Apakah kau tuli?!"
"Kau tahu tidak berapa yang harus ku habiskan demi membeli Jarum Emas Obat Dewa? Seenaknya saja kau memintanya kepadaku!"
"Aku pun tidak ingin mengemis seperti ini kepadamu! Kau tidak lihat dia sedang sekarat?! Kau akan membuang nyawa orang demi beberapa jarum yang tak ada gunanya bagimu itu, begitu?! Jikalau pun aku tahu keadaannya akan jadi seperti ini, aku tidak akan pernah menjual Bola Mata Ular Raksasa yang susah-susah kudapatkan pada orang lain! Kau kira aku sudi?!"
Bukan masalah pada Jarum Emas Obat Dewa yang akan dipinjamkan kepada Xi Wei ... Xiangheng lebih khawatir terhadap keadaan Sang Pemuda yang akan mengobati orang lain. Pengobatan Teknik Akupuntur yang digunakan oleh Xi Wei adalah teknik tingkat tinggi yang memerlukan konsumsi sihir yang amat besar. Itu dikarenakan kondisi Qingqing yang sudah sekarat dan berada di ambang kematian.
Sihir Xi Wei tergolong sangat terbatas dikarenakan dia masih berada dalam Deret Kultivator Tingkat Rendah. Sang Pemuda-lah yang memutuskan untuk tidak berkultivasi terlebih dulu.
Xiangheng menarik kerah baju Xi Wei. Emosinya juga sudah mencapai batasnya. Dia tidak bisa membiarkan Xi Wei mengorbankan nyawa sendiri. Dia sudah pernah melihat Xi Wei dalam keadaan sangat sekarat, dia hanya tidak ingin melihatnya lagi. Tidak untuk kedua kalinya!
"Sampai kapan kau akan menghadang diriku menyelamatkan orang lain?!"
"Kau juga harus memikirkan dirimu sendiri! Kau sangat keras kepala kau tahu tidak?! Kau sangat keras kepala hingga rasanya sangat sakit ...."
Xiangheng menitikkan air mata. Saat itu bertepatan dengan Ruofan dan Xincai datang. Xincai sepertinya sudah tahu apa yang terjadi di antara mereka. Tuan Putri Ketiga juga merupakan salah satu saksi mata atas maut yang hampir menjemput Xi Wei.
"Kenapa ...?"
Xincai menepuk bahu Ruofan dan menggelengkan kepalanya. Dia tahu perasaan Xiangheng. Dia juga tidak ingin Xi Wei mengalaminya untuk kedua kalinya. Tuan Putri Ketiga tidak akan sanggup melihatnya.
"Aku tetap harus melakukannya."
Sekeras kepalanya Xincai, Xi Wei lebih keras kepala lagi darinya. Sudah dibuktikan dengan tekadnya yang tidak akan berhenti sebelum Qingqing diselamatkan.
__ADS_1
"Kenapa kau keras kepala sekali?!"
"Kau tidak ingin aku menyelamatkannya? Baiklah. Aku akan pakai jarum biasa saja."
Walau jarum yang biasanya digunakan untuk menyulam tidak seefektif jarum akupuntur, tapi tetap bisa menjadi jarum penyelamat nyawa.
"Tidak usah diselamatkan. Kalau begitu tidak usah diselamatkan saja!"
Setelah Ying Yue berteriak, dia langsung keluar dari ruangan. Dia tidak akan sanggup melihat baik Xi Wei maupun Qingqing tidak bisa diselamatkan. Sang Putri amat marah karena mereka tidak bisa memutuskan sesuatu, begitu juga dirinya sendiri.
"Keluar kalian!"
Xi Wei mengusir semua orang yang ada di sana untuk keluar dari ruangan. Dia sudah bertekad akan menyembuhkan Qingqing. Tidak ada lagi yang bisa menghalangi pemuda berkulit sawo matang yang kepalanya keras layaknya seekor banteng.
Xi Wei mengeluarkan jarum biasa yang digunakan untuk menyulam. Dia tahu dia harus ekstra hati-hati menggunakannya. Ketebalan antara jarum akupuntur dan jarum biasa itu sangat besar.
Xi Wei menghela napas panjang dan mulai menusukkan satu per satu jarum biasa ke punggung Qingqing.
'Aku harus melakukan ini dengan cepat.'
Xi Wei tahu dia tidak akan bertahan lama. Sihirnya tidak cukup untuk melakukan Teknik Akupuntur yang akan menyelamatkan nyawa seseorang yang berada di ambang kematian.
Darah segar keluar perlahan-lahan dari sudut bibir Xi Wei. Karena sihir yang tidak cukup, maka sebagai gantinya nyawa Sang Pemuda-lah yang dipertaruhkan. Tubuhnya terasa terbakar. Hal itu amat menyakitkan. Namun dia harus menyelesaikan tusukan demi tusukan di punggung Qingqing.
Air mata Xiangheng tidak berhenti mengalir ketika mengamati keadaan Xi Wei dari depan pintu ruangan yang sedikit terbuka. Xincai juga sama, dia meremas lengan baju Xiangheng hingga bentuknya kusut tak beraturan. Untuk kedua kalinya mereka melihat pemuda berkulit sawo matang begitu. Hati mereka serasa dirobek-robek.
'Dua tusukan lagi. Bertahanlah sebentar lagi! Kau bisa melakukannya! Xi Wei, kau bisa!'
Saat tusukan terakhir telah ditanam di punggung Qingqing, Xi Wei langsung terjatuh. Sang Pemuda kehilangan kesadarannya. Darah mengalir deras dari dalam mulutnya.
Sebelum kepala Xi Wei terbentur ke atas lantai kayu yang keras, Xiangheng membuka pintu dengan kasar dan berlari untuk menangkapnya. Pemilik Wufalou bersama dengan Xincai memeluk Xi Wei dengan erat, menyalurkan kesedihan mereka melihat keadaan Sang Pemuda.
"Sudah selesai. Tidak apa-apa, Xi Wei. Sudah selesai ... tidurlah. Istirahat yang panjang dan tenang ...."
Ying Yue dan Ruofan mengintip ke dalam ruangan. Mereka terkejut melihat banyaknya darah yang tercecer di lantai kamar Wufalou.
Ying Yue bisa melihat Xiangheng mengelap darah yang keluar dari mulut Xi Wei menggunakan lengan bajunya. Wajah pemuda berkulit sawo matang amat pucat. Akhirnya Sang Putri tahu kenapa Xiangheng sangat marah ketika mendengar ucapan Xi Wei yang ingin menyelamatkan Qingqing.
__ADS_1
"Semua adalah salahku ... aku tidak bisa menjaga Qingqing dengan baik. Aku salah. Tuan Pendekar, kenapa harus menyelamatkan orang sampai seperti ini? Kenapa? Tuan Pendekar bodoh!"