
Pria aneh dan gila itu perlahan berjalan mengitari Xi Wei sambil menggeram. Dan, pemuda berkulit sawo matang merasa ada yang aneh dengannya. Bukan dalam konteks yang buruk, tentu saja.
Dia bukanlah seseorang yang belajar Ilmu Hitam. Tapi, kenapa dia harus memakan daging manusia dan meminum darah mereka? Sejenis racun? Atau, penyakit? Tidak, tidak juga. Menilik dari tempatnya hidup yang penuh dengan Sihir Ilusi, dia pasti pernah melakukan kultivasi. Apa yang terjadi pada orang ini? pikir Xi Wei.
Tidak ada waktu untuk berpikir lebih panjang, pria itu maju menyerang Xi Wei.
Xi Wei mengelak dari serangan pria itu. Dia berdecak kesal. "Oi!" serunya. "Bisakah kau mengatakannya lebih dulu saat kau ingin menyerang? Aku menjadi kesulitan kalau seperti ini."
Pria itu marah dan serangannya menjadi semakin membabi buta. Serangannya mirip sekali dengan serangan cakar makhluk buas. Mungkin karena hal itu dia disebut sebagai Makhluk Buas Hutan Bambu Meifang.
Karena tidak memiliki pilihan lain, Xi Wei akhirnya menggunakan pedang yang masih terbalut di dalam sarungnya. Alih-alih membunuh pria itu, dia lebih penasaran dengan apa yang telah terjadi padanya.
Pria itu mengulurkan tangannya untuk mencekik leher Xi Wei. Si Pemuda langsung memukul tangannya dan mundur beberapa langkah ke belakang.
"Kau sudah gila, ya? Kudengar setiap kali ada orang yang masuk ke sini kau selalu memakan daging dan meminum darah mereka. Memangnya enak? Kenapa tidak ikut saja denganku pergi ke Meifang untuk mencari makanan?" tanya Xi Wei.
Tepat setelah Xi Wei mengucapkan kalimatnya, pria itu meraung marah. Dia melihat ke arah pemuda itu dan mengeluarkan lengkingan panjang yang menyakiti telinga.
Xi Wei berdecak. Sudah gila orang ini. Memangnya apa yang salah dengan membawanya ke Meifang? Daripada dia makan manusia di sini, batinnya.
Xi Wei berbalik menyerang dan memukuli pria itu. Setiap serangannya dapat ditangkis dengan mudah, seolah-olah pria itu tidak merasakan sakit di sekujur tubuhnya yang dipukuli oleh si pemuda. Si pria justru berusaha untuk merebut pedang dari tangan Xi Wei.
__ADS_1
Xi Wei tidak tinggal diam. Dengan segenap kekuatan, dia menendang perut pria itu hingga dirinya terdorong beberapa langkah ke belakang. Akan sangat sulit mengalahkannya hanya dengan adu fisik seperti ini. Kulitnya sangat keras, sudah selevel dengan Ular Berbisa Raksasa yang kulawan! pikir Xi Wei.
Dengan menggunakan kesempatan ketika kewaspadaan Xi Wei melemah, si pria berhasil mencakar lengan kirinya. Pemuda itu meringis, kemudian menyadari kalau di kuku-kuku panjang pria itu terselip racun.
Racun? Xi Wei berdecak kesal. Tangannya serasa seperti kesemutan, kemudian perlahan-lahan terasa terbakar. Dia menyadari racun apa yang dimiliki oleh si pria setelah melihat pohon-pohon bambu yang menjulang tinggi dari sudut matanya. Racun Bambu Hitam. Sial! Di sini saja aku bisa terperangkap dalam Sihir Ilusi, bagaimana aku bisa lupa kalau di dalam hutan bambu seperti ini akan ada Racun Bambu Hitam?
Xi Wei mulai serius berhadapan dengan lawannya. Dia tidak memiliki banyak waktu untuk meladeni si pria. Jika tak segera diobati, Racun Bambu Hitam akan tersebar di seluruh tubuh dan membuatnya menjadi lumpuh.
Sambil mengelak dari serangan si pria, Xi Wei membuka kotak kayu besar yang dibawanya. Dia mengambil jarum biasa dan menusukkan jarum itu ke dalam lengan kirinya. Setiap kali sebuah jarum menembus kulitnya, dia merasakan sakit yang teramat sangat.
Sial! Seandainya aku memiliki jarum akupuntur, sakit ini akan berkurang banyak, batin Xi Wei. Dia sedikit menyesal karena tidak membeli jarum akupuntur di toko obat terlebih dulu.
Xi Wei menahan lengan pria itu, kemudian berhasil merebut sesuatu darinya. Sebuah gelang aneh yang sudah buram dan kusam. Ini…? Rasanya aku mengenalnya. Gelang ini…, gumamnya.
Pria itu mengerang keras, yang membuat Xi Wei menyadari informasi dari gelang yang sudah direbutnya.
Aku sudah tahu! Gelang ini, gelang ini adalah milik Pasukan Pengabdi Kaisar terdahulu. Gelang yang mengikat persaudaraan di antara para prajuritnya. Kaisar terdahulu, berarti… Ayahanda…, batin Xi Wei. Orang ini adalah anggota dari Pasukan Nanxi.
"Kau! Kau adalah anggota Pasukan Nanxi kan? Katakan kepadaku!" seru Xi Wei. "Katakan kepadaku apa yang sudah terjadi di dalam Istana dulu!"
Pria itu berhenti menyerang Xi Wei. Matanya melebar. Sepertinya memang benar dia dulunya adalah anggota Pasukan Pengabdi Raja yang terkenal, Pasukan Nanxi.
__ADS_1
"Katakan padaku, dimana Ayahanda sekarang? Kau pasti tahu karena kau adalah Pasukan Nanxi. Katakan kepadaku!" Xi Wei mendesak pria itu agar memberitahukan kepadanya dimana Xi Chen berada sekarang.
Bukannya menjawab, pria itu malah meneteskan air mata. Sepertinya dia ingin berbicara, tapi dia tak bisa melakukannya.
Xi Wei menggosok gelang kotor itu hingga bisa melihat ukiran nama dari pria itu. Fu Cha Maorong. Pemuda itu tahu, Fu Cha Maorong adalah seorang wakil jenderal di Pasukan Nanxi. Dia pernah mendengar Xincai bercerita tentang Pasukan Nanxi.
Maorong berhenti menyerang Xi Wei. Sedangkan pemuda itu, dia muntah darah, yang berwarna hitam pekat. Racun sudah berhasil keluar dari tubuh Xi Wei.
Sekarang adalah saat bagi Xi Wei untuk bertanya tentang segala hal yang ingin diketahui olehnya, tapi sadar kalau Maorong sudah terkontaminasi oleh Racun Bambu Hitam. Lidahnya menjadi keluh, pasti tak bisa menjawab pertanyaan si pemuda.
"Kau masih bisa menulis, kan?" Xi Wei bertanya. Dia mengeluarkan secarik kertas, sebotol tinta hitam, dan sebuah kuas dari dalam kotak kayu, kemudian memberikannya kepada Maorong.
Maorong menganggukkan kepalanya. Dengan tangan gemetar, dia mengambil kuas dan kertas. Dia menunggu Xi Wei untuk bertanya kepadanya. Apalagi setelah mendengar kata 'Ayahanda' dari mulut pemuda berkulit sawo matang, dia menjadi percaya kalau Xi Wei adalah anak dari Xi Chen—faktanya begitu.
"Apa yang kau lakukan di hutan bambu ini?" tanya Xi Wei. "Kudengar dari penduduk sekitar bahwa ada makhluk buas yang berkeliaran dan suka memakan daging dan meminum darah manusia. Apakah itu dirimu?"
Maorong berpikir selama sesaat, kemudian menuliskan jawaban di atas kertas. Ketika sudah selesai, dia menunjukkannya kepada Xi Wei.
Xi Wei membacanya.
「Benar. Aku hidup di sini. Karena sudah terkena Racun Bambu Hitam, tubuhku sering sakit. Kalau tidak minum darah, maka tak akan sembuh. Maka dari itu, di setiap kesempatan yang ada dan bertemu dengan orang jahat aku selalu membunuh mereka.」
__ADS_1
"Bagus sekali kau, kupikir kau membunuh orang baik. Hampir saja aku memenggal kepalamu karena tahu kau melakukan kejahatan. Tapi, hal itu juga tak bisa dibenarkan. Kenapa kau tidak pergi ke desa dan meminta tolong kepada tabib di sana saja?"
Maorong menuliskan jawaban atas pertanyaan Xi Wei.