
"Ternyata anakku sudah memiliki orang yang ingin dilindungi olehnya! Calon menantuku itu cantik sekali ... sayang Ayahnya adalah orang yang licik. Ya, aku akan membahasnya dengan Jialing nanti."
Dunia cermin mimpi Xi Chen berangsur-angsur hilang dengan kepergiannya.
***
Rintik hujan mulai turun membasahi segala sesuatu yang dilewati. Gemuruh terdengar dan kilat juga terlihat di atas langit yang terhias awan nan kelabu.
Xi Wei membuka mata perlahan, terganggu oleh suara rintik hujan. Dia menemukan Ying Yue yang tertidur bersama dengannya.
'Jadi, yang tadi itu adalah nyata?'
Ying Yue juga terganggu karena suara hujan. Kelopak matanya terbuka dan menyisakan netra hitam legam bagai langit malam yang dipuja oleh pemuda berkulit sawo matang.
'Dia cantik.'
"Oh. Maaf, Kakak Xi Wei."
'Tadi itu apa? Dunia yang indah, dua Kakak Xi Wei ...? Mimpiku aneh sekali ya?'
Ying Yue tidak menyadari kalau dia sudah tersedot masuk ke dalam cermin mimpi Xi Chen bersama dengan Xi Wei. Dia hanya menganggapnya sebagai mimpi aneh saja.
"Tidak apa-apa. Kenapa kau bisa berada di sini? Bagaimana latihan yang kau jalani dengan Fang Xincai, Adik Kecil?"
Ying Yue duduk tegak dan memandang lurus ke dalam mata Xi Wei. Si Pemuda tertawa kecil dan mengelus kepala sang Putri.
"Apakah ada masalah?"
Ying Yue mengangguk dengan tegas.
"Masalah apakah itu hingga kau harus mencari orang aneh ini?"
Ying Yue memejamkan matanya sejenak. Dia memperlihatkan elemen sihirnya yang bergabung menjadi dua bagian. Familiar miliknya belum terlihat karena dia baru saja mempelajari ilmu sihirnya.
Xi Wei melihat sekilas keanehan sihir yang dimiliki oleh Ying Yue. Pemuda itu sudah paham kenapa sang Putri memiliki dua jenis sihir yang sudah bergabung menjadi satu kesatuan.
"Elemen giok adalah tanda bahwa kau adalah keturunan Keluarga Kerajaan. Elemen api adalah elemen asli yang kau miliki. Karena ada beberapa gangguan yang kau alami pasca kelahiran dirimu, sihir itu akhirnya bergabung menjadi satu kesatuan. Kaisar pasti menyadari hal ini melalui Guru Spiritual Istana. Maka dari itu, dia menobatkan dirimu sebagai Tuan Putri Agung dan menaikkan derajat Mendiang Selir Li."
__ADS_1
Ying Yue ber-oh ria mendengar penjelasan dari Xi Wei. Namun dia tetap bertanya-tanya. Agar tidak salah pengertian, sang Putri ingin melempar banyak pertanyaan kepada pemuda berkulit sawo matang.
"Bertanyalah, daripada kau sesat di jalan."
Xi Wei seakan-akan tahu apa yang ada di dalam pikiran Ying Yue.
"Jika elemen api adalah sihir asliku, berarti Kakak Xincai juga memiliki elemennya?"
Xi Wei menatap Ying Yue dan tertawa ringan. Tawanya dihentikan oleh rintik hujan yang jatuh ke atas kepalanya. Walau pohon tempat mereka berteduh berdaun lebat, tetap saja tidak bisa menahan hujan yang kian waktu kian deras.
"Bagaimana jika kita masuk dulu ke dalam? Sepertinya badai petir akan terjadi."
Baru saja Xi Wei berkata 'sepertinya badai petir akan terjadi', kilat terlihat amat jelas dan gemuruh terdengar memekakkan telinga. Ying Yue menutup telinga ketakutan.
Xi Wei mengangkat tubuh Ying Yue dan bergerak secepat mungkin. Mereka sampai di depan pintu Wufalou tidak sampai satu kedipan mata. Bahkan air hujan tidak sempat membasahi mereka. Pemuda berkulit sawo matang membawa sang Putri masuk ke dalam. Terlihat Ruofan, Xincai, dan Xiangheng sedang berkumpul di salah satu meja dengan cahaya lilin yang menemani mereka.
Xi Wei tidak memilih untuk bergabung bersama mereka bertiga. Dia belum menjawab pertanyaan Ying Yue. Dan, sang Putri tidak akan senang kalau-kalau si Pemuda mengabaikannya seperti yang dilakukannya saat jam makan siang.
Ying Yue hanya mengekori Xi Wei saja.
"Apakah tidak apa-apa kita dan mereka duduk terpisah seperti ini?"
Ying Yue sedikit tak mengerti dengan Xi Wei. Terlihat sekali kalau dia bukanlah orang yang tidak pandai bersosialisasi. Namun dia lebih memilih untuk menjauhkan diri dari keramaian.
"Sebenarnya, keadaan seperti itu bukanlah sesuatu yang umum di masyarakat."
Xi Wei memulai penjelasannya atas pertanyaan yang diajukan Ying Yue.
"Apakah kondisi seperti ini berbahaya?"
"Dikatakan berbahaya juga tidak, dikatakan tidak berbahaya juga tidak. Kondisi ini menguntungkan pemiliknya untuk mendapatkan dua sihir sekaligus, meningkatkan kekuatan sihirnya menjadi dua kali lipat dari orang yang hanya memiliki satu jenis elemen sihir. Tapi, elemen sihir yang tergabung ini bisa saja menyerap nyawa pemiliknya. Kondisi seperti ini akan terjadi jika kau tidak bisa mengendalikannya dengan baik."
"Bagaimana dengan familiar? Kakak Xi Wei menyebutkannya tadi. Apa kegunaan dari familiar sehingga orang-orang memilikinya? Kakak Xincai juga punya."
"Kau memerlukan familiar untuk membantumu menciptakan sihir yang kuat. Misalkan saja, yang menjadi familiar milikmu adalah Phoenix, maka jarak sihirmu bisa diatur sesuai dengannya. Kegunaan familiar adalah memperbesar ruang penyerangan menggunakan sihir dan jarak serangan sihir itu sendiri."
"Apakah familiar tercipta sendiri?"
__ADS_1
"Kau yang menciptakan mereka, Adik Kecil. Tapi, kau juga harus menyesuaikannya dengan batas sihirmu. Kau tidak boleh kelelahan. Kau juga tidak boleh menguras energi sihirmu. Atau tidak, kau akan berakhir sama seperti diriku yang terbaring di atas tempat tidur selama beberapa hari."
Ying Yue menghela napas panjang.
"Bagaimana dengan orang itu?"
Xi Wei tentu saja tahu maksud dari orang itu. Xi Chen, tentunya.
"Kenapa kau ingin tahu?"
Wajah Ying Yue merona.
"Habisnya ...."
"Habisnya? Apa?"
Ying Yue melirik ke arah Ruofan, Xincai, dan Xiangheng yang asyik dengan percakapan mereka sendiri. Dia pun berbisik kecil kepada Xi Wei.
"Habisnya dia adalah Ayahmu, kan?"
Xi Wei tertawa ringan. Dia menganggukkan kepalanya.
"Kenapa? Apakah kau malu sudah bertemu Calon Mertua sebelum waktunya?"
Xi Wei tidak tahu malu dan malah mengatakannya dengan keras hingga terdengar oleh tiga orang yang sedang berbincang-bincang. Ternyata mereka fokus menguping pembicaraan pemuda berkulit sawo matang dengan Ying Yue.
"Kakak Xi Wei!"
Ying Yue langsung berdiri. Wajahnya semerah tomat matang dan hanya Xi Wei yang menyadari hal itu dikarenakan keadaan ruangan yang remang-remang.
"Sudah larut malam, aku akan beristirahat dulu. Kakak Xi Wei jangan lupa istirahat dengan cukup."
Xi Wei tersenyum manis.
'Kau sudah mengacaukan tidurku, Adik Kecil. Tapi, tak apa lah, kau juga menyelamatkan diriku dari cermin mimpi orang itu. Benar-benar ... kenapa ada Ayah sepertinya? Pria Tua itu sangat kejam, bahkan pada anaknya sendiri.'
Ying Yue masuk ke dalam kamar dan menutupi wajahnya memakai kedua telapak tangannya. Dia tidak berhenti merona sedari tadi.
__ADS_1
'Jadi, benar ...? Itu adalah Ayah Kakak Xi Wei? Kenapa aku bisa sampai memimpikan hal seperti itu? Atau, aku tidak sengaja masuk ke dalam mimpi Kakak Xi Wei? Apa yang kamu pikirkan Li Ying Yue? Sekarang sudah saatnya tidur!'
Ying Yue menutupi dirinya dengan selimut, memejamkan mata, dan tertidur.