Mysterious Shender

Mysterious Shender
第六十一集 : Correspondence


__ADS_3

Sudah tengah malam, tapi Xi Wei tidak bisa tidur karena terus memikirkan apa yang sudah terjadi pada Maorong. Apa yang membuat pria paruh baya yang terkena Racun Bambu Hitam itu bisa berbicara dengan lancar seakan-akan dia sudah diobati menggunakan tanaman Bambu Emas Berdaun Putih? Pertanyaan itu terus berkecamuk di dalam pikirannya.


Maorong, yang ada di seberang sana dan tak jauh dari tempat Xi Wei berada, sudah tidur dengan sangat pulas. Tanpa suara pula.


Apa yang sudah terjadi kepada Wakil Jenderal Fu Cha Maorong? Kenapa tiba-tiba saja dia sembuh dari Racun Bambu Hitam? Bukan, apa yang sebenarnya sedang bersembunyi di dalam diriku? pikir Xi Wei sembari menatap ke telapak tangannya. Masih ada bekas luka tusukan kecil jarum di telunjuknya.


Xi Wei memutuskan untuk tidak memikirkannya lebih jauh. Semua pemikiran itu membuat kepalanya sakit. Jika semesta memang menghadiahkan suatu kelebihan kepadanya, maka dia akan sangat senang karena sudah berhasil menyelamatkan nyawa seseorang.


Meskipun sudah tidak memikirkan apa yang terjadi pada Maorong, pikiran Xi Wei bercabang hingga membawanya pada kejadian dia mengatakan hal yang tidak seharusnya dikatakan kepada Li Ying Yue.


Meskipun yang tertarik pada awal perkenalan mereka adalah Ying Yue, tapi yang menyumpahkan sebuah perjanjian pernikahan itu adalah Xi Wei. Dan kemudian dia pun berpikir, apakah dia sudah menjadi seseorang yang munafik karena melanggar janji yang telah dibuatnya? Mungkin begitu.


Menyelamatkan nyawa orang dan mengkhianati janji sendiri adalah dua hal yang sangat berbeda. Xi Wei jelas tahu itu. Apakah aku perlu menuliskan sebuah surat permintaan maaf kepada Li Ying Yue atas perkataanku? tanyanya.


Xi Wei beranjak dari ranjang kayu tempatnya menenggelamkan diri dalam dunia kecilnya—pikirannya. Dia mengambil secarik kertas dan kuas, berusaha merangkai kata-kata indah—yang tentunya bukan hanya sekadar omong kosong—tak lupa dibumbui dengan permintaan maaf dan perasaan yang mendalam.


Namun Xi Wei bukanlah seorang pria yang romantis. Dia itu pria dingin berusia awal dua puluh tahun yang baru pertama kali merasakan perasaan yang begitu besar terhadap seorang gadis berusia akhir enam belas tahun. Dia bisa muntah memikirkan kata-kata manis yang menggelitik lambungnya untuk segera menaikkan kembali sisa makan malam yang belum tercerna ke kerongkongannya.


Pada akhirnya, Xi Wei hanya menulis sebuah permintaan maaf yang singkat, padat, dan jelas, yang khas sekali menunjukkan bahwa yang menuliskannya adalah dirinya.


Xi Wei menyambar sebuah peluit angin dari dalam peti, kemudian meniupkannya.


Gaohei, seekor burung hantu hutan yang pernah muncul di hadapan Xi Wei dan Ying Yue di pasar malam, menukik ke arah pemuda berkulit sawo matang dengan kecepatan tinggi. Ia mendarat sempurna di bahu Xi Wei.


Xi Wei mengelus kepala Gaohei, kemudian mengikatkan surat permintaan maaf itu ke kakinya. Dia berbisik, "Kau ingat gadis yang pernah kau temui saat kau terbang kepadaku di pasar malam? Antarkan surat ini kepadanya."

__ADS_1


Dan seakan-akan mengerti perkataan Xi Wei, Gaohei pun terbang menjauh, kemudian menghilang sama sekali di balik rimbunnya dedaunan bambu dan gelapnya malam.


...***...


Di dalam kamar mewahnya, Ying Yue membolak-balikkan halaman demi halaman sebuah buku. Sudah dua hari ini dia tidak bisa tidur nyenyak. Dia terus berpikir tentang perkataan Xi Wei kepadanya. Hal itu membuatnya merasa tidak tenang.


Ying Yue sengaja membuka jendela ruangan agar dia tidak merasa sesak di tengah pencariannya akan ketenangan pikiran. Walau sudah berusaha fokus membaca sebuah buku pun, dia tetap saja tidak bisa menepis pemikiran negatif tentang perkataan Xi Wei.


Apakah kakak Xi Wei sangat membenciku? tanya Ying Yue di sela-sela membaca.


Pertanyaan itu membuat Ying Yue pasrah dan akhirnya menutup bukunya. Dan ketika dia berjalan ke arah jendela untuk menutupnya, Gaohei mendarat tepat di bingkai jendela dengan ekspresi tak berdosa.


"Ah…?"


Ying Yue teringat akan sesuatu saat dia dan Xi Wei berada di pasar malam. Pemuda berkulit sawo matang memperkenalkan burung hantu itu sebagai Gaohei kepadanya.


Seakan-akan Gaohei mengerti bahasa manusia, dia merentangkan sayapnya dan mengangkat satu kakinya yang terikat sebuah gulungan kertas kecil.


Ying Yue melepaskan gulungan kertas kecil itu, kemudian membacanya, "Aku minta maaf karena telah mengatakan sesuatu yang kejam kepadamu malam itu.". Dia langsung tahu kalau itu dari Xi Wei. Entah ada setan apa yang merasukinya, sebuah senyuman mengembang di wajah manisnya.


Gaohei masih setia menunggu di sana, barangkali Ying Yue ingin mengirimkan balasan kepada Xi Wei.


Ying Yue menuliskan sebuah balasan kepada Xi Wei. Dia mengikatkan balasan itu di kaki Gaohei.


"Tunggu sebentar, Gaohei," Ying Yue berkata saat melihat Gaohei akan merentangkan sayapnya dan bersiap untuk terbang.

__ADS_1


Gaohei menunggu seperti yang diperintahkan oleh Ying Yue.


Ying Yue mengobrak-abrik lemari kecil dan mengeluarkan sebuah mangkuk kecil berisi biji gandum. Dia menyodorkan benda itu kepada Gaohei.


Gaohei malah mengabaikan dan langsung terbang ke langit. Lagipula, mana ada burung hantu yang ingin memakan biji-bijian seperti burung pipit atau burung omnivora lainnya. Mereka dilahirkan untuk berburu mangsa hidup—tidak hanya cacing, atau ulat, atau serangga kecil.


"Hei! Kenapa kau tidak memakannya?! Ini biji gandum berkualitas tinggi, tahu?! Benar-benar…."


...***...


Gaohei bisa melihat kalau Xi Wei sedang bersantai di atap bambu gubuk kecil milik kakek tua yang diceritakan Maorong. Ia pun mendarat di sebelah Xi Wei, tapi seberusaha mungkin untuk tidak menarik perhatian pemiliknya.


Xi Wei membuka matanya perlahan. Dia langsung terduduk dan melirik ke arah Gaohei. "Cepat sekali kau," celetuknya. "Apakah Li Ying Yue sudah membalas?"


Gaohei tidak melakukan hal lucu yang dilakukannya di hadapan Ying Yue. Dia mengabaikan pertanyaan Xi Wei seolah menyuruh si pemuda menggunakan kedua matanya yang masih sehat untuk melihat.


Xi Wei dapat melihat gulungan kertas yang berbeda dari miliknya terikat di kaki Gaohei. Dia segera menangkap burung hantu hutan itu dan melepaskan gulungan dari kakinya.


"Kuk! Kuk!" Gaohei berkicau. Mungkin dia marah karena diperlakukan dengan buruk oleh Xi Wei.


"Aku kan menyuruhmu untuk tidak menggodaku," sahut Xi Wei sambil menjulurkan lidahnya.


Xi Wei membuka gulungan kertas itu dan membacanya: "Tidak apa-apa. Mungkin kakak Xi Wei memiliki masalah yang belum dapat dijelaskan. Aku akan selalu menunggumu.". Dia tersenyum kikuk setelah membaca kalimat terakhir.


"Pergilah, Gaohei. Tugasmu sudah selesai," kata Xi Wei sambil memandangi langit malam yang ditaburi oleh bintang. Rembulan tidak muncul, karena fase bulan baru.

__ADS_1


Gaohei melirik ke arah Xi Wei, kemudian terbang menjauh.


Adik Kecil, aku minta maaf ya!


__ADS_2