
Ruofan dan Xincai memang datang. Namun sudah sangat larut. Xi Wei dan Ying Yue sedang berfokus pada latihan mereka sehingga Xincai menyuruh Ruofan untuk tidak mengganggu mereka. Baru pertama kalinya pemuda berkulit sawo matang melaksanakan latihan kultivasi. Sepertinya ada ucapan yang mempengaruhi si Pemuda untuk melakukannya. Xincai merasa sangat lega.
Ruofan tertarik dengan wadah unik yang diberikan oleh Elena kepada Xi Wei sebagai hadiah. Dia juga bertanya-tanya tentang cairan yang ada di dalam botol kaca.
"Kakak Xincai, coba lihat ini."
Ruofan menunjuk ke arah lima wadah unik dan satu botol kaca. Dan, Xincai langsung mengerti kalau hari itu adalah hari libur Elena. Tidak heran jika si Gadis Pirang akan mengunjungi Xi Wei dan membawakannya beberapa manisan ataupun camilan aneh lainnya.
"Itu adalah hadiah dari Elena untuk Xi Wei."
Ruofan bertanya-tanya. Dia tidak tahu siapa itu Elena, walau Xi Wei, Xincai, dan Xiangheng pernah menyebutkannya ketika si Pemuda pulang bersama Ying Yue dan membawa beberapa camilan aneh yang entah dari mana didapatnya.
"Tidak perlu terlalu dipikirkan. Nah! Kau coba satu manisan ini. Aku bisa yakin kalau kau akan menyukainya."
Xincai menjejali mulut Ruofan dengan salah satu manisan dari wadah berwarna biru. Manisan dari Atlanta. Yang benar saja, Ruofan langsung tertarik dengannya.
"Apa ini? Sangat enak!"
"Benar, kan?"
Xincai tersenyum puas melihat ketertarikan Ruofan. Namun dia sendiri tidak berani mengambil dan mencicipinya. Dia tahu bagaimana Xi Wei kalau mengamuk.
"Lebih baik kita ikut mereka latihan."
"Eh?"
Ruofan sedikit kaget karena Xincai menyuruhnya untuk ikut latihan bersama dengan Xi Wei dan Ying Yue.
__ADS_1
"Tapi, aku tidak bisa berkultivasi ...."
Ruofan menundukkan kepalanya. Dia merasa kecewa karena tidak bisa melakukan apa yang orang lain bisa.
"Setiap orang bisa berkultivasi, Wei Ruofan. Kau hanya belum menemukan waktu yang pas dan guru yang bisa membimbing saja. Jika kau mau, aku bisa membimbing dirimu."
Ruofan menatap ke dalam mata Xincai. Matanya berkaca-kaca, tapi mengisyaratkan keraguan untuk memulai. Dan, itu membuat Tuan Putri Ketiga tidak tahan dengannya.
"Jika kau menginginkannya, kau harus bisa mengatakan 'Iya' kepadaku. Jangan ragu untuk memulai sesuatu. Jangan menjadi seorang pecundang. Kau lebih dari apa yang kau bayangkan!"
Xincai memberi sebuah nasihat yang tidak pernah didapat oleh Ruofan dari orang mana pun. Sang Gadis Assassin tersenyum dan menganggukkan kepala.
"Iya, aku mau, Guru Xincai!"
"Kalau begitu, duduklah dan ikuti arahan yang kuberikan. Pertama-tama, kemari kan tanganmu. Lakukan seperti mereka."
"Kau adalah seorang Assassin. Teknik apa yang ingin kay perdalam, Adik Ruofan?"
Ruofan berpikir selama sesaat. Dia memang mempelajari dua teknik yang sangat kuat untuk seorang Assassin. Teknik pertama bernama Bayangan dalam Kegelapan. Teknik ini sangat unik karena bisa membuat penggunanya menghilang ditelan kegelapan di sudut ruangan atau ruang gelap yang hanya disinari selama beberapa saat. Namun tidak bisa dipakai jika tidak bisa menemukan kesempatan yang cocok. Teknik kedua bernama Awan Putih. Tidak jelas ini teknik seperti apa, tapi teknik ini berada pada dua tingkatan di atas Bayangan dalam Kegelapan. Ruofan sendiri juga sudah tidak ingat dia mempelajari teknik Awan Putih dari mana atau dari siapa.
"Kalau begitu, kau harus memilih. Apakah kau ingin memperdalam Bayangan dalam Kegelapan atau Awan Putih? Jika kau bertanya kepadaku, aku lebih menyarankan kau melatih teknik Awan Putih. Aku pernah mendengarnya, teknik ini diwariskan oleh seorang Assassin paling hebat dalam sejarah. Orang yang bertemu dengannya adalah orang yang sangat beruntung. Tapi, dia sudah lama meninggal dunia. Dia juga tidak memiliki murid yang bisa meneruskan keahliannya. Maka dari itu, ada satu jawaban pasti. Kau adalah anaknya, kau melihatnya saat kau masih bayi. Oleh karena itu, kau tidak mengingatnya sama sekali."
Ruofan tertawa ringan.
"Tidak mungkin aku adalah anak dari seorang Assassin yang hebat, Guru Xincai. Itu terlalu berlebihan. Tapi, sesuai dengan arahan yang Guru berikan. Aku akan memperdalam teknik Awan Putih saja."
"Bagus. Tolong panggil aku Kakak. Aku tidak pantas dipanggil dengan sebutan Guru. Ilmu yang kumiliki tidak sebanding dengan para Tetua yang sudah mengajar anak nakal ini."
__ADS_1
***
Sebelum Ruofan dan Xincai datang, Xi Wei dan Ying Yue sudah lebih dulu bercengkrama tepat setelah kepergian Elena.
"Apakah Kakak Xi Wei benar-benar tidak ingin mempelajari dan memperdalam ilmu? Kakak juga pasti sudah mendengar dari Ayahmu sendiri kalau kau tidak akan bisa melanjutkan perjalanan di Dunia Silat tanpa memperdalam ilmu."
Xi Wei mengembuskan napas perlahan. Di satu sisi, dia senang karena Ying Yue sangat memperhatikannya. Di sisi lain, dia tidak tahu harus memperdalam ilmu apa. Yang si Pemuda tahu, Xi Chen memperdalam ilmu pedang bernama Tarian Bunga Plum. Ilmu pedang itu berada di tingkat Dewa, tapi rasanya Ayahandanya sangat mudah dalam mempelajarinya. Pemuda berkulit sawo matang menjadi 'minder' karenanya.
"Ayahanda, dia mempelajari ilmu pedang bernama Tarian Bunga Plum. Ilmu itu membutuhkan sisi dari orang yang lembut dan tenang. Dia memilikinya. Tapi, tidak denganku."
Ying Yue menggembungkan pipinya dan menyentil dahi Xi Wei. Dia tidak suka dengan seseorang yang bersikap pesimis padahal belum memulai sesuatu.
"Bagaimana jika Kakak Xi Wei mempelajari ilmu pedang bernama Tarian Ilusi Cahaya? Teknik itu bisa menyeimbangi Tarian Bunga Plum milik Ayahmu."
Ying Yue sebenarnya memberikan saran yang bagus kepada Xi Wei, tapi si Pemuda masih saja pesimis dengan dirinya sendiri. Sang Putri tahu dengan sikap seperti itu, Xi Wei tidak akan pernah bisa maju.
"Kau harus berhenti merendahkan diri sendiri!"
Ying Yue mulai mengamuk karena sikap Xi Wei yang labil. Dia tidak ingin pemuda berkulit sawo matang menyesal karena sudah melewatkan banyak kesempatan yang diberikan kepadanya karena kebodohannya sendiri.
Xi Wei kaget karena diamuk oleh Ying Yue seperti itu. Baru kali ini, ada orang yang begitu perhatian padanya. Walau dulunya Xincai dan Xiangheng berbuat demikian, tapi mereka sudah menyerah sejak lama karena si Pemuda begitu keras kepala.
"Kau harus menentukan sekarang atau kau akan menyesal selamanya, Kakak Xi Wei!"
Ying Yue mengingatkan Xi Wei pada perkataan Xi Chen tempo hari di dalam cermin mimpi. Ayahandanya juga berkata hal yang sama kepadanya. Dia berterima kasih karena Ying Yue sudah mengingatkannya.
"Aku akan mempelajarinya. Tarian Ilusi Cahaya, aku akan mempelajari dan memperdalam ilmu itu!"
__ADS_1
Ying Yue tersenyum puas karena Xi Wei sudah bersemangat untuk berkultivasi.