NANGGALA AKSHA

NANGGALA AKSHA
09. Under The Rain


__ADS_3

"Hai?"


Gadis berambut panjang itu mendekat ke arah bangku yang penghuninya terlihat tengah menunduk, lalu langsung saja ia duduk di sebelahnya.


"Kayaknya kesepian. Gue temenin boleh, 'kan?"


Kheylin tersenyum, namun gadis yang duduk di bangku sebelahnya ini hanya diam dan masih setia menundukkan kepalanya. Tetapi dapat dia lihat, gadis itu sempat meliriknya dengan ekor matanya.


Sorot mata Jia ketakutan, hal itu membuat Kheylin tersenyum tipis dan mulai memegang tangan yang di letakkan di atas paha itu. Namun dia sedikit terkejut kala gadis itu langsung menepis tanganny. Bibirnya terkekeh kecil.


"Gue turut sedih sama lo yang sekarang ...," nadanya khawatir, "tapi gue seneng." Bisiknya kemudian.


Kheylin tersenyum sinis, benar-benar tidak seperti tadi saat ia baru menyapa.


"Lo itu udah nggak guna hidup disini, kenapa nggak coba mati aja?"


Mati. Kenapa semua orang menginginkannya untuk mati? Apa memang itu cara yang terbaik untuknya?


"Atau mau gue bantu?" Tangannya terulur untuk mengambil boneka putih yang Jia pegang dengan sebelah tangannya.


"Jangan!" teriaknya cukup keras dan mengambil lagi bonekanya, "jangan ...."


Teriakan itu tentu saja membuat seisi kelas yang mulai ramai menatap ke arah kedua gadis itu, bisa terbilang ramai karena jam istirahat sebentar lagi memang akan usai.


Sedari tadi, Jia menunggu lelaki itu. Kemana dia? Kenapa belum kelihatan sampai sekarang ... Kenapa belum kembali ke kelas sampai sekarang ....


Lalu pikirannya buyar setelah gadis bertubuh tinggi itu memainkan beberapa helai rambutnya.


"Lo itu pantes mati tau nggak? Sampah."


Tangan Kheylin dengan tiba-tiba menarik rambut Jia yang sejak tadi di elusnya dari belakang, perhatian anak lain yang tadi sempat teralihkan sekarang tertuju kepada mereka lagi.


"Aaaaa jangan!!"


Jia berusaha melepaskan diri, sedikit memberontak namun secara tidak sengaja tangannya mengenai pipi Kheylin yang duduk di sebelahnya. Dia beranjak dari duduknya untuk berdiri dengan tubuhnya yang semakin gemetar.


Plak!


Tubuh itu dengan cepat juga berdiri dan langsung melayangkan tangannya ke pipi Jia yang berdiri di hadapannya. Hal itu pun sontak membuat semua orang yang ada disini membulatkan matanya menatap kedua gadis disana.


"Kheylin!"


Teriakan itu membuat mata semua anak menatap gadis yang beberapa detik lalu itu berlari memasuki kelas, dengan cepat menepis tangan yang masih mencengkram erat kerah Jia.


"Lo apaan sih?!"


Yora yang tadi baru memasuki kelas langsung terkejut karena dia melihat bagaimana gadis itu menampar sahabatnya.


"Ra, lo nggak usah munafik. Cari apa lo masih mau sahabatan sama dia?"


Kheylin tersenyum sinis mendekatkan diri kepada Yora.


"Oh, atau lo mau cari perhatian sama Jerga? Mau dapetin perhatiannya?"


"Munafik banget sih lo?"


Yora yang di katakan seperti itu pun menatapnya bingung. Bisa-bisanya Kheylin menyimpulkan seperti itu?


"Lo yang bilang sendiri sama gue kalo lo suka sama Jerga. Jadi ini trik lo 'kan, supaya bisa ngambil hatinya? Dengan ngurusin cewek sakit jiwa itu?"


"Lo nggak usah sok baik, Ra. Gue tau semuanya."


"Cukup, Lin!"


Rentetan pernyataan dan pertanyaan yang di buat gadis itu membuat Yora semakin geram dan mengepalkan tangannya.


"Emang bener, 'kan?" Kekehnya lagi sinis.


"Tau apa lo tentang gue?" tanya Yora dengan tubuh semakin mendekat, "gue nggak kayak lo. Gue nggak kayak lo yang ninggalin sahabatnya sendiri di saat dia lagi susah."


"Gue nggak kayak lo yang dengan gampangnya langsung berubah sikap dari malaikat ke iblis, diri lo yang asli. Dan gue bener-bener nggak nyangka."


"Jadi siapa yang munafik disini?" pungkasnya kemudian.


Kheylin menatap tajam gadis di hadapannya itu, tangannya pun ikut terkepal. Dan Yora sama sekali tidak peduli gadis di hadapannya menatapnya dengan sengit. Memang itu faktanya.


Kheylin, dulu adalah sahabat dekat Jia dan juga Yora, mereka sangat dekat. Gadis itu dulu sangat baik, apalagi parasnya yang juga cantik, mempunyai tubuh bak model, membuat gadis itu mempunyai banyak teman. Tetapi ya tetap saja, sahabat terdekat gadis itu adalah Jia dan Yora.


Persahabatan mereka terkenal di sekolah ini, mereka bertiga sangat terkenal dengan wajah-wajah cantiknya. Namun, memang Jia dulu lebih terkenal dari pada Kheylin. Mereka sering pergi bersama, bermain bersama, makan bersama, sering sekali melakukan hal-hal bertiga.


Tetapi entah kenapa, ketika Jia mengalami masalah hingga terganggu mentalnya saat itu, Kheylin langsung merubah sikapnya, langsung berubah drastis seakan-akan mereka berdua dulu tidak pernah saling mengenal. Dengan Yora saja, gadis itu perlahan menjauhinya.


Bisa-bisanya dia seperti itu? Atas dasar apa?


Malu karena berteman dengan orang dengan gangguan mental? Ah, jika memang seperti itu, Yora akhirnya melihat sosok Kheylin yang sebenarnya. Sosok yang hanya baik di depan, dan sangat busuk di belakang.


Dasar bermuka dua.


"Terus apa urusannya sama lo?"


"Iblis lo, Lin."


Yora sejak tadi menggenggam erat tangan Jia di belakangnya, dia merasakan tangan itu gemetar. Dia tidak tega.


"Sedang apa kalian?"


Semua mata tertuju kepada seseorang yang baru saja memasuki pintu kelas bagian depan, lantas ketika menyadari siapa yang masuk, semua anak kelas berlari dan duduk di bangku masing-masing.


Sama halnya dengan kedua gadis yang sejak tadi saling menatap tajam itu.


Kheylin kembali ke tempat duduknya yang berada di ujung kiri sana. Sebelumnya, di sinilah bangku gadis itu, di samping Jia, satu bangku dengan Jia. Hingga dia memilih pindah tempat duduk menjadi di dekat tembok.


"Ada yang lihat Nanggala?"


Suara Shandy beberapa detik yang lalu membuat semua anak yang ada di kelas menolehkan kepala mereka ke bangku yang kosong di sana.


Kosong, penghuninya tidak ada. Hanya ada Jia yang tengah menggigit kuku jarinya sendiri di sebelah bangku kosong itu.


"Rasen?"


"Tidak, Pak."


Rasen-pun sama bingung dan khawatir. Kemana Nanggala? Tidak biasanya dia menghilang seperti ini, sampai melewatkan jam pelajaran. Yang dia tahu Nanggala anak yang sangat rajin.


Shandy mengangguk pelan, dia penasaran juga kemana anak itu pergi.


Dari pandangan Shandy, Nanggala itu anak yang pintar, baik, anak yang sangat ramah juga. Beberapa hari yang lalu saat anak itu mendaftar di sekolah ini, Shandy sekilas membaca data diri Nanggala yang lelaki itu bawa. Sedikit merasa kasihan dengan anak itu.


Nanggala mendaftar bersama dengan wanita yang berkata dia adalah budhe-nya.


Ya, budhe Thalia, wanita yang menemani Nanggala mendaftar sekolah kala itu. Dia juga bercerita sedikit kepada Shandy, jika Nanggala adalah anak yang pekerja keras, di saat tidak ada keluarga yang berada di sampingnya.


Itu yang Thalia katakan ketika Nanggala di panggil oleh guru lain untuk melengkapi lagi data dirinya. Tidak mungkin juga dia berkata seperti itu saat anak itu berada bersamanya.


Shandy maupun Thalia tidak ada yang tahu bila Nanggala sekolah dengan uang Dharma. Bagaimana mungkin Nanggala mengatakan itu?


Shandy sedikit bingung memang saat Nanggala meminta kepadanya untuk duduk satu bangku dengan gadis bernama Jia nantinya. Muridnya yang baru saja masuk sekolah lagi dengan gangguan mentalnya. Namun kata Nanggala, dia mengenalnya, dia sahabatnya yang sudah seperti saudara, dan akan menjaganya. Akhirnya pun pria itu mengizinkannya.


Dia benar-benar terharu mendengar cerita dari Thalia. Nanggala yang pekerja keras, Nanggala yang tidak pernah menyerah, selalu tersenyum dalam keadaan apapun.

__ADS_1


Dia sejenak merasa kasihan. Seberat itu kehidupan Nanggala Aksha.


.......


.......


.......


Bell pulang sekolah baru saja berbunyi, semua anak bergegas untuk membereskan alat-alat sekolah mereka. Sama halnya dengan Yora, gadis itu tengah mengemasi barang-barang milik Jia.


Jia sejak selepas kejadian istirahat tadi benar-benar menjadi lebih pendiam, melamun, cemas, dan tangannya juga gemetar.


Rasen menoleh ke belakang, di langkahkannya kakinya mendekat ke bangku mereka sambil menghembuskan napasnya panjang. Nanggala, sejak istirahat tadi, lelaki itu belum juga kembali ke kelas. Dia khawatir, khawatir terjadi apa-apa dengan lelaki itu.


Nanggala sudah di kenal dengan orang yang berani melawan Yunan. Dia hanya tidak ingin lelaki itu juga menjadi korban Yunan yang gila itu.


"Nala ...."


Suara itu membuat Rasen dan juga Yora menatap gadis yang sejak tadi terdiam, kepalanya menoleh lagi mengikuti arah pandang gadis itu.


Lelaki yang tadi mereka khawatirkan.


Lelaki itu melangkah sedikit lemas ke hadapan mereka, membuat Rasen yang sejak tadi memang berdiri refleks memajukan kakinya.


"Na?"


"Lo dari mana?"


"Lo nggak papa??"


Nanggala yang mendengar itu pun menghentikan langkahnya di depan Rasen, padahal tujuannya dia ingin langsung menghampiri Jia.


"Eh? Gue nggak papa kok. Tadi dari UKS, pusing."


Rasen yang mendengar itu hanya mengangguk. Tidak, dia tidak sepenuhnya percaya. Dan lagi, kemana seragam sekolahnya? Kenapa Nanggala memakai baju olahraga? Matanya masih mengamati lelaki yang sudah duduk di bangkunya sendiri itu.


"Jia, maafin Nala, ya? Tadi Nala pusing jadi ke UKS."


Gadis itu mendongak menatap Nanggala, matanya benar-benar menyorotkan rasa khawatir. Jia khawatir dengan Nanggala. Kepalanya mengangguk pelan. Sebenarnya ingin bertanya, tetapi perasaan takut masih menyelimutinya.


Nanggala tersenyum sendu melihat itu, "pulang sekarang?"


Jia lagi-lagi mengangguk, tubuhnya mulai berdiri saat lelaki itu menggenggam tangannya, di lanjutkan dengan Nanggala yang membantu gadis itu memakai tas.


"Eum, kita pulang dulu ya?"


Rasen mengangguk mendengar itu. Dia membiarkan mereka pulang, tidak mungkin juga dia bertanya sekarang dengan Nanggala tentang apa yang sebenarnya terjadi. Ada Jia. Tidak sekarang.


"Hati-hati, Na."


Nanggala mengangguk pelan dan melemparkan senyum simpulnya kepada Rasen dan Yora yang sejak tadi menatapnya.


Rasen bisa melihat itu, dia bisa melihat ada luka sobek yang sudah mengering di kening sebelah kanan Nanggala. Luka yang sepertinya sudah di basuh bersih dengan air, tanpa di obati atau apapun. Dia menatap sendu lelaki yang berjalan melewatinya itu. Apa yang sebenarnya terjadi dengannya?


Sedangkan Nanggala, tangannya terus menggenggam tangan gadis yang berjalan di sampingnya. Koridor sudah lumayan sepi, kepalanya lalu menoleh ke samping kemudian di rapikannya rambut gadis itu yang sedikit berantakan tertiup angin sore ini.


Awan hitam sudah bergerumul di atas sana. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan.


"Jia, main ke taman yuk sama Nala?"


Matanya masih setia menatap gadis itu hingga si empunya menoleh dan menatapnya. Sedetik kemudian kepala itu mengangguk menyetujui ajakannya.


Nanggala tersenyum melihanya. Sekarang bukan sekadar genggaman, lelaki itu menautkan jari-jarinya pada jari-jari Jia. Keduanya terkekeh bersama sebelum Nanggala membawa tubuh mereka berlari kecil untuk cepat sampai di taman yang tidak terlalu jauh dari sekolah.


Nanggala kira tidak terlalu jauh, tetapi ternyata sejauh ini jika berjalan kaki.


Hingga mereka sudah sampai di taman dan lumayan sepi, karena memang sebentar lagi akan hujan. Kepalanya menoleh dan menatap Jia disampingnya, bibirnya terangkat untuk tersenyum.


Tangannya terangkat untuk merapikan rambut gadis itu lagi, juga menyeka keringat yang sedikit membasahi keningnya.


Jia menggeleng, senyum gadis itu sejak tadi tidak pernah luntur.


Sesenang itukah gadis itu dia ajak bermain?


Sepanjang perjalanan mereka tadi memang di isi oleh bercandaan mereka.


"Nanti kalo hujan, kita pulang ya?"


"Hey?"


Nanggala terkekeh saat pertanyaannya tidak sekalipun Jia jawab, matanya masih memandang luasnya taman. Gadis itu benar-benar terlihat senang, hingga tangkupan kedua tangannya di pipi itu membuat Jia yang tadi asik sendiri itu menoleh dan menatap matanya.


Jia mengangguk lagi dan tersenyum, membuat Nanggala sangat gemas dan mengacak puncak kepalanya pelan.


"Gih main."


Jia seketika tersenyum senang dan langsung berlari pergi dari hadapannya, membuatnya terkekeh lagi.


Dasar gadis itu.


Nanggala berjalan di belakang Jia, takut terjadi apa-apa, karena gadis itu berlari sambil bertingkah seperti anak kecil. Ya ampun, dia sangat gemas dengan gadis itu. Bisa dia lihat, Jia berhenti di sebuah ayunan di sana, dia pun melangkah mendekat.


"Jia naik, Nala yang dorong dari belakang, oke?"


Nanggala berjalan ke belakangnya, dan mulai mendorong ayunan itu perlahan.


Ah, sial.


Matanya meringis ketika dia merasakan nyeri di tangan kanannya. Luka yang di buat oleh Dharma masih terasa nyeri, apalagi tadi siang juga tangannya lagi-lagi menjadi korban tendangan dan injakan Yunan serta teman-temannya.


Nanggala mengabaikan rasa sakitnya dan terus mendorong pelan. Hingga lama-lama dorongannya sedikit mengencang, membuat gadis di depannya itu tertawa dengan senang. Meskipun nyeri di tangannya semakin menjadi, Nanggala tidak memperdulikan itu. Dia senang membuat gadis itu senang, hatinya terasa hangat melihatnya.


Sudah berlalu beberapa menit merika bermain di taman, hingga rintik air dengan perlahan turun dari atas sana. Nanggala mendongakkan wajahnya.


"Jia, hujan!"


Tangannya dengan cepat menarik tangan gadis itu untuk menjauh, Nanggala berlari untuk menemukan tempat berteduh. Kakinya membawanya ke pohon besar di sudut taman ini, pohon terdekat.


Nanggala menatap Jia di sebelahnya, tangannya mulai membersihkan baju gadis itu yang tadi sempat basah terkena hujan. Lalu beralih ke rambut hitam panjang itu, di usapnya pelan membuat sang empu memejamkan matanya gemas.


"Nala juga basah."


Kegiatannya terhenti, dan matanya menatap mata itu.


Jia terkekeh kecil lalu ikut menepuk dan mengusap-usap baju olahraga Nanggala. Benar-benar mengikuti apa yang Nanggala lakukan kepadanya tadi, dan Jia beralih mengusap lembut rambut berponi milik lelaki itu. Mengacaknya kecil.


Nanggala tersenyum menatap mata Jia yang masih sibuk membersihkan sisa-sisa air yang membasahinya, hingga gadis itu berhenti dan mereka terkekeh bersamaan.


Si lelaki mengusap pipi itu, ada tetesan air hujan di sana.


"Maafin Nala, ya? Jia jadi kehujanan."


Gadis itu mendongak lagi, lalu menggeleng, "Jia seneng. Jia seneng hujan-hujanan sama Nala."


"Jia ... seneng ada Nala."


Nanggala menatap senyum manis itu dengan mata sendu ketika suara Jia mulai melirih. Mata mereka saling menatap.


"Eum ... Makasih, Nala udah mau jadi temen Jia."

__ADS_1


Matanya memanas. Gadis itu mengatakannya dengan wajah sedihnya, jujur membuatnya tidak tega melihatnya.


"Nala yang makasih, Jia udah mau nerima Nala jadi temen Jia." ungkapnya.


"Sahabat."


Nanggala terkekeh melihat gadis itu yang sudah tersenyum kembali.


"Jia ... boleh minta tolong ....?"


Lelaki itu mengangkat alisnya, menunggu apa yang akan gadis itu ucapkan selanjutnya.


"Tetep ... Sama Jia ... Jangan tinggalin Jia ...."


"Jia cuma punya Jerga sama Nala ...."


Nanggala terdiam mendengar itu. Dadanya mendadak sesak, matanya kembali memanas, jantungnya berdegup dengan kencang.


Di tatapnya lembut mata di hadapannya, "Nala juga minta, tetep bersama Nala ... Jangan benci Nala atau tinggalin Nala juga, apapun yang terjadi."


Gadis itu tersenyum. Tatapan keduanya memang seperti sama-sama takut kehilangan. Jari-jari mereka saling bertautan lagi, kemudian Nanggala membawa gadis itu untuk berjongkok. Mungkin dia akan di sini untuk beberapa waktu, sampai hujannya mereda. Dia tidak mau gadis itu sakit.


Tangan kiri Nanggala yang menganggur itu dia gunakan untuk meraih kepala Jia, memiringkannya pelan untuk bersandar dipundaknya. Gadis itu pun menurut, di sandarkannya kepalanya pada pundak Nanggala.


Nanggala sebenarnya sejak tadi menahan perih di beberapa bagian ditubuhnya, lengannya, punggungnya, dan bagian keningnya yang sobek akibat tadi beberapa kali dia benturkan ke dinding.


Sangat perih terkena air hujan. Namun dia sejak tadi menahannya, dia tidak mau membuat gadis itu tahu dan khawatir.


Cukup dia saja yang merasakan sakit ini.


.......


.......


Bunyi musik keras itu menemani malam yang dingin ini, dengan hujan yang masih setia turun dari pukul sepuluh malam tadi.


Sekarang jam menunjukkan pukul sebelas malam. Semakin malam, tempat ini akan semakin ramai. Nanggala merasakan badannya sangat remuk, lama-lama juga badannya terasa semakin pegal. Padahal yang biasanya dia kerja seharian pun, badannya tidak akan sepegal ini.


Entahlah.


Dua orang yang baru saja duduk di hadapannya itu membuyarkan lamunannya. Nanggala dengan cepat mengangguk dan tersenyum ketika salah satu dari seseorang itu memesan minuman kepadanya. Dengan telaten dia mulai meracik minuman untuk kedua pengunjung Cafe malam ini.


Nanggala sepertinya sudah pernah mengatakan, dia memang bekerja di Cafe jika malam hari, terkadang juga sampai dini hari. Pekerjaannya di sana berada di belakang meja bartender, dia yang membuatkan minuman dan semacamnya. Dengan satu pekerja lain tentu saja.


Dan mungkin dia juga sudah pernah mengatakan, disini juga ada minuman beralkohol, seperti bir dan semacamnya.


Dia juga tak jarang di minta seniornya untuk melayani mereka. Bukan melayani dengan maksud itu, melayani pengunjung untuk membawakan pesanan-pesanan mereka ke tempatnya. Karena waiters disini terkadang sangat kewalahan.


Apalagi Cafe ini juga di lengkapi dengan ruang karaoke yang berada di lantai dua, jadi Nanggala juga biasanya mengantarnya ke sana.


Sudah siap dengan minuman buatannya, Nanggala tersenyum manis kepada kedua orang itu. Dia di sini tidak pernah melakukan hal yang tidak-tidak. Bekerja ya bekerja, dia tidak pernah lalai. Meskipun tempat ini menyajikan minuman beralkohol, dia hanya bekerja. Tidak lebih.


Dan juga dia berharap, teman sekolah, atau guru-gurunya tidak ada yang tahu dia bekerja disini.


Nanggala menundukkan kepalanya. Dia menarik lagi kata-kata 'tidak pernah lalai disini'.


Sepertinya tanpa sadar dia pernah. Tanpa sadar.


Benar-benar di bawah kesadarannya. Itu terjadi beberapa bulan yang lalu, namun dia tidak ingat semua kejadiannya. Nanggala tidak bisa mengingat, kepalanya benar-benar pusing saat itu.


Dan semuanya benar-benar menghantuinya selama ini. Dia sering bermimpi kejadian itu, namun dia sama sekali belum bisa mengingat.


"Na, anterin ini ke meja nomor 14 ya?"


"Oke, Kak."


Nanggala menerima nampan berisi beberapa minuman dan camilan yang di berikan teman satu line di area meja bartender ini. Kakinya melangkah ke tempat menuju meja yang tadi Jayden tunjuk itu.


Jayden, lelaki keturunan Amerika-Indonesia, mahasiswa akhir yang bekerja bersamanya disini.


Setelah sampai disana, Nanggala-pun sedikit membungkukkan tubuhnya dan meletakan minuman-minuman itu dimeja, di susul dengan camilan lainnya. Tatapannya masih sibuk dengan kegiatannya, tanpa menatap beberapa pengunjung yang kini tengah menatapnya.


"Woy, miskin!"


Suara itu ... Hanya satu orang yang biasa memanggilnya seperti itu. Kepalanya lalu perlahan mendongak.


Dan benar saja.


Lelaki itu tertawa tak percaya, "ternyata lo kerja di sini?"


"Hebat hebat!" sahut yang lainnya.


Kepalanya lalu menoleh ke samping kiri, menatap Gasta yang kini tengah menepuk-nepuk lengannya. Nanggala menegapkan lagi tubuhnya, matanya menatap orang-orang yang berada di meja ini. Yunan, dan ketiga temannya, lalu beberapa perempuan yang duduk di antara mereka.


Yang Nanggala takutkan terjadi juga. Dia berharap lelaki itu tutup mulut dengan pekerjaannya.


Tetapi itu Yunan. Apakah bisa dia percaya?


"Seorang Nanggala yang polos, ternyata bekerja di tempat kayak gini." Yunan tersenyum sinis di sana.


"Jangan bilang ke sekolah."


"Apa? Gue nggak denger."


Nanggala sedikit menundukkan kepalanya, "jangan bilang ke sekolah." Lanjutnya lagi.


Yunan yang mendengar itu terkekeh sinis.


"Oke. Karena gue baik, gue nggak akan bilang."


Nanggala juga heran kenapa Yunan dan teman-temannya memesan bir. Bukannya itu tidak boleh? Dan mereka juga masih di bawah umur.


Yunan beranjak dari duduknya dan menghampiri Nanggala di sana dengan tersenyum miring.


"Nanggala kita udah nggak polos lagi, guys!"


Tawanya dan di ikuti tawa teman-temannya di belakang.


Tangan Yunan beberapa kali menepuk pipi Nanggala, tetapi lama-lama lelaki itu menepuknya dengan keras, lebih seperti tamparan.


Nanggala meringis.


Dia benar-benar berharap tidak akan ada apa-apa setelah ini.


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


...• To be continued •...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...Humm, Yunan bisa di percaya ngga yaa??...

__ADS_1


...Terus dukung author yaa, vote dan komen sebanyak-banyaknya~!...


__ADS_2