
Ruang rawat Nanggala siang ini kedatangan teman-teman sekolahnya. Tidak banyak, teman-temannya di sekolah kan hanya mereka. Ya, Rasen, Haksa dan juga Yora.
Jangan lupakan Jerga dan bunda Yewina juga yang ada di antara mereka.
Yora baru pertama kalinya menjenguk Nanggala, dan dia sejak tadi menatap sedih lelaki itu, tidak tega saja rasanya. Nanggala yang baik hati.
"Masih ada yang sering sakit, Na?"
Yang di tanya mendongak, yang sejak tadi masih di suapi camilan oleh gadis di sampingnya, "udah nggak kok." Gelengnya sambil tersenyum.
Rasen-pun menganggukkan kepalanya mengerti. Lelaki itu tidak tahu tentang pembengkakan otak, tidak ada yang tahu kecuali Yewina dan Jerga. Tidak ada yang di beritahu, itu perintah Nanggala sendiri.
"Bunda? Nanti Acca boleh nyicipin masakan Bunda lagi, 'kan?" tanya seseorang di sana dengan puppy eyes-nya yang di buat-buat.
Yewina terkekeh mendengarnya, "iyaa, nanti Bunda masakin lagi buat Haksa." Jawabnya dan membuat si empu bersorak senang.
"Nggak usah nyusahin Bunda lo! Nyicipin apaan tadi aja habis di lo semua makanannya!" sinis Rasen ancang-ancang melempar kembarannya dengan vas bunga di hadapannya.
Haksa tidak menjawabnya, lelaki itu hanya menanggapinya dengan memasang wajah songongnya, tentu saja membuat semua yang berada disini terkekeh melihat perdebatan kedua kembar itu.
Ah, sekarang ini kenapa semua memanggil Yewina dengan sebutan bunda?
Tidak apa. Yewina juga senang mendengarnya. Mereka semua anak-anak yang baik.
Hingga tawa mereka sedikit teralihkan dengan pintu kamar ini yang di buka oleh seseorang dari depan. Siapa lagi? Siapa lagi yang berkunjung? Teman-teman Nanggala hanya mereka.
"Ngapain dia?" bisik Yora kepada Rasen yang duduk di sampingnya.
"Lebih-lebih dia. Ngapain dia kesini?" sahut Rasen berbisik sebal ketika matanya menangkap sosok Yunan yang berjalan di belakang Gasta.
Ke empat orang yang baru saja memasuki kamar rawat Nanggala itu masih terdiam dengan pandangan yang sedikit menunduk. Tidak tahu ingin berkata apa, terlebih Yunan, Senno dan juga Alwan.
"Wah, kalian? Makasih ya udah kesini?"
Ucapan senang Nanggala membuat Rasen, Haksa dan juga Yora menatapnya tak percaya. Kenapa lelaki itu baik sekali sih? Kenapa dia baik sekali dengan orang-orang yang pernah jahat kepadanya?
Kalau dengan Gasta, Haksa dan Rasen memang biasa saja, lelaki itu kan memang kini seperti lebih banyak bermain dengan mereka.
"Temen-temen Nanggala juga, ya?" Yewina juga menyambutnya dengan ramah.
Wanita itu lalu mendekat ke arah mereka bertiga, "Makasih ya udah jengukin Nanggala?"
Tangan Yewina mengusap bahu ke empatnya bergantian dan berakhir di bahu Yunan. Entah kenapa ada perasaan bersalah serta perasaan sakit di hatinya ketika ibu dari Nanggala itu mengusap lembut bahunya dengan senyum manisnya.
Benar-benar membuat mereka kikuk sendiri.
"Ayo duduk sama yang lain?" ajak Yewina yang sudah melangkah mendahului mereka.
Ketiganya mengangguk kecuali Yunan, lelaki itu berjalan mendekati ranjang Nanggala membuat empunya semakin tersenyum menatapnya.
Wajah dan mata Yunan tidak seperti biasanya ketika menatapnya. Lebih teduh.
Sesampainya di sampingnya, Nanggala menatap lelaki itu yang masih diam tak bergeming. Pandangannya lalu turun ketika tangan kanan itu terulur kepadanya.
Nanggala tersenyum, dia menerima uluran tangan itu dengan senang hati, tentu saja membuat Yunan mulai menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyuman tipis.
Sama halnya dengan Jia, ada rasa haru dan senang, ada juga rasa sesak ketika mengingat hal-hal yang dulu Yunan lakukan kepada lelaki itu. Pun dengan Jerga, rasanya masih kesal dengan Yunan sampai sekarang.
"Lo juga bego!"
Ucapan Haksa yang sedikit keras kepada Senno dan Alwan itu membuat Yewina menoleh dan menatapnya memperingati, lantas seketika langsung membuat lelaki itu memasang wajah di imut-imutkannya lagi.
BRAK!
"Kak Nanggala!"
"Kak Nanggalaaa!!"
Semua yang ada disini di kejutkan lagi dengan pintu yang terbuka dengan keras itu, lali di susul oleh suara melengking yang sangat memekakan telinga.
"Siapa lagi dah tuh dua bocah!"
Haksa yang tadinya duduk langsung berdiri sambil berkacak pinggang, dia menatap garang dua anak yang baru saja berlari masuk dan langsung memeluk tubuh Nanggala disana.
"Huwaaa Kak Nanggalaa!!"
Mereka semua memejamkan mata meringis. Aduh, suaranya sangat melengking, apa anak itu lupa kalau ini rumah sakit?
"Heh bocil, berisik lo! Diem!" suara Haksa tak kalah keras.
"Ish, Cleo kan sedih liat Kak Nanggala sakit!" sahut anak itu tidak terima, dia tiba-tiba langsung terdiam ketika matanya bertemu dengan mata si pembicara, "kok Kakak item sih?"
Haksa melotot tak percaya, "astagfirullah mulutnya. Lo anak siapa sih, hah?!"
Langkahnya berjalan dengan cepat ke arah anak itu berada sambil mengangkat sebelah tangannya guna ingin menaboknya. Ingin sekali Haksa mengikat bibir anak itu, juga anak yang sejak masuk tadi terus menangis disana.
"Sa, anaknya pak Shandy."
Jawaban Nanggala seketika membuat Haksa menghentikan langkahnya dan menurunkan kembali tangannya, bersamaan dengan dua orang yang baru saja memasuki kamar ini, membuat lelaki itu langsung membalikkan tubuhnya dan berlari ke arah Yewina berada dengan wajah imutnya lagi.
__ADS_1
Shandy dan Iresh. Iresh lah dokter yang merawat Nanggala selama beberapa hari ini.
"Bundaaaa, Acca laper~!" serunya sembari aegyo manja.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
...───• ~⸙ᰰ~ •───...
Sore ini langit sangat cerah di pandang dengan mata, sangat cocok untuk jalan-jalan keluar dan menghirup udara segar juga menikmati waktu senja.
Seperti halnya Nanggala dan juga Jia, keduanya tengah berjalan-jalan di sekitaran rumah sakit dengan Jia yang mendorong kursi roda Nanggala.
Jia begitu senang, karena di lihatnya Nanggala ini semakin sehat dan sembuh. Hal yang membuat gadis itu sangat bahagia. Apalagi dengan adanya kedatangan sahabat-sahabatnya tadi, yang membuat lelaki itu banyak tersenyum ceria.
"Na, cari tempat yang teduh, ya?" tanyanya sedikit mencondongkan tubuh ke depan.
Nanggala hanya menjawabnya dengan anggukkan sambil tersenyum, langsung saja membuat gadis itu mendorong lagi kursi rodanya dan mencari tempat yang teduh.
Hari ini tidak boleh pergi keluar lama-lama oleh dokter Iresh. Entahlah, Jia-pun tidak tahu. Dia kira Nanggala memang sudah lebih sehat dari kemarin-kemarin, dan ini juga sudah empat hari berlalu.
Hingga sampailah mereka di bawah pohon yang tidak terlalu besar ini, serta terdapat kursi panjang juga disana.
"Nala mau duduk di kursi? Biar Jia bantu." Tanyanya tersenyum.
Lelaki itu terkekeh lalu mengangguk, "boleh, Nala mau duduk di samping Jia."
Jawaban itu membuat Jia mengangguk dan mulai membantu Nanggala berdiri dari kursi rodanya, lalu menuntunnya dengan hati-hati untuk duduk di kursi panjang di depannya, pun dengan dia yang mulai mendudukkan dirinya di samping lelaki itu.
Jia merasa, saat menuntun tubuh Nanggala tadi terasa sedikit berat. Apa tubuh lelaki itu sangat lemas?
Nanggala tersenyum menatap gadis itu dari samping, kedua tangannya sedikit meremas celana pasiennya. Ah ... Gadis itu tidak boleh tahu jika dia sudah kesulitan berjalan. Dia tidak ingin gadis itu khawatir.
"Na? Langitnya cerah banget, ya? Jia seneng deh, Nala udah makin sehat." Senyumnya sangat manis mengucapkan kesenangannya itu.
Lelaki itu terkekeh, "Nala juga seneng kalo Jia seneng." Balasnya.
Keduanya lagi-lagi larut dengan cuaca sore ini yang cerah. Angin berhembus sejuk.
"Jia, kalo misalnya Nala pergi ... boleh, ya?"
Kata-kata itu tentu saja membuat Jia menoleh dengan cepat dan menatapnya marah, "pergi kemana?!" sergahnya cukup keras.
Nanggala terkekeh kecil. Kenapa jawabannya sama dengan Jerga kemarin? Haha, sesaat dia merasa deja vu. Dia lupa kalau mereka itu kembar.
"Jangan marah-marah gitu nanti tambah cantik." Godanya tersenyum.
Nanggala hanya tertawa kecil. Ah, gemas sekali gadis itu.
"Nala mau pulang, ke Bandung. Nggak papa, ya?"
Ekspresi wajah Jia kini berubah sedih. Kenapa? Kenapa lelaki itu mau pergi? Kenapa lelaki itu mau pulang? Sedangkan dia berada disini, dan juga ingin terus bersama lelaki itu.
"Udah jangan sedih ... Nala cuma kangen sama ayah," tangannya terangkat mengelus lembut rambut panjang itu, "Nala bakal kesini lagi. Kan Nala cuma pulang ... sebentar, bukan pindah."
"Nala bakal pulang kesini lagi dan dateng ke pertunangan kalian." Senyumnya manis meyakinkan gadis itu.
Jia yang awalnya merasa sedih, kini merubah raut wajahnya menjadi tidak suka. Dia tidak suka pertunangan itu, dia tidak suka ada yang membahas itu, apalagi Nanggala. Dia tahu lelaki itu pasti sakit mengatakannya.
Memang, Maldev adalah lelaki yang baik. Maldev baik kepadanya, sejak dulu bahkan sampai sekarang.
Waktu lalu lelaki itu pernah mengobrol dengannya lagi masalah pertunangan, dan Maldev benar-benar membebaskannya. Lelaki itu membebaskannya membatalkan pertunangan atau tidak, dan juga membebaskannya untuk memilih siapa.
Bahkan dia ikut berbicara kepada Dharma untuk membatalkannya.
Maldev tahu, gadis itu pasti sangat ingin membatalkannya dan juga pasti memilih Nanggala.
Namun Dharma. Masih sulit dengan pria itu.
"Jia tahu nggak?" tanya Nanggala kemudian membuat gadis itu melirik ke arahnya lagi.
"Jia itu cahaya buat gelapnya Nala."
"Jia itu bahagia buat kesedihan Nala."
"Dan Nala sayang sama Jia."
"Na ...."
Lelaki itu mengangkat kedua alisnya, senyuman lembut masih tersungging di bibir sedikit pucatnya.
Dapat Nanggala lihat Jia tidak mengatakan apapun setelah memanggil namanya tadi. Yang dia lihat malah wajah gadis itu yang semakin mendekat ke arah wajahnya, hingga hembusan napas hangatnya bisa di rasakan mengenai kulit wajahnya.
Nanggala memejamkan matanya kala bibir lembut itu menabrak bibirnya. Hanya sebentar hingga gadis itu mulai menjauhkan lagi wajahnya dari sana.
Kedua mata Nanggala terbuka perlahan, sebuah senyuman manis dia tunjukkan kepada Jia, pun dengan gadis itu yang tentu saja membalas senyumannya.
Di posisikannya tubuhnya lebih mendekat ke samping, Jia mulai menyandarkan kepalanya di dada kanan lelaki itu, serta kedua tangan yang juga melingkar lembut di pinggang itu.
Nanggala yang menerimanya tentu saja langsung membalasnya, memeluk tubuh gadis itu dari samping, mengelus punggung itu lembut sambil sesekali mengecupi kening itu hangat.
__ADS_1
"Na."
"Hm?"
Hening sejenak. Jia tengah mengatur napasnya yang terasa tercekat, membuat Nanggala yang mengerti lalu mengusap lembut tangan gadis itu yang memeluk pinggangnya.
"Makasih ... Buat semuanya."
Nanggala tersenyum ketika kepala itu bergerak memperdalam pelukannya.
"Nala nggak pernah kasih apa-apa buat Jia."
Kepala Jia menggeleng pelan, "Nala kasih segalanya buat Jia. Nala kasih kebahagiaan buat Jia, Nala kasih perlindungan buat Jia, Nala juga kasih rasa sayang Nala buat Jia ... Makasih udah sayang sama Jia."
Nanggala kembali mengecup lembut pucuk kelapa gadis itu ketika mulai mendengar isakan keluar dari sana.
"Jangan tinggalin Jia ...."
"Jangan tinggalin Jia. Jia cuma punya Nala sama Jerga ..." isaknya lagi.
"Jia punya banyak. Jerga, kak Janan, kak Jihan, temen-temen yang lain. Jia juga punya dia, 'kan?" tanyanya mengelus lembut perut besar gadis itu.
Mendengarnya, Jia semakin menenggelamkan wajahnya di dada lelaki itu. Nanggala meringis yang ke berapa kalinya saat kepalanya terasa pusing dan juga perutnya yang terasa mual.
"Jia seneng punya kalian."
Nanggala lantas tersenyum, dia tahu apa yang Jia maskud dengan kata 'kalian'.
Bayi itu adalah anaknya. Ah, ingin sekali bisa dengan cepat melihat bayi itu keluar menyapanya dengan tangis kecilnya.
Meskipun bukan sebagai ayah.
Entahlah. Sepertinya Dharma akan melanjutkan pertunangan Jia dengan Maldev, meskipun acaranya tertutup. Tentu saja, perut Jia sudah semakin membesar. Dan mereka akan di nikahkan jika bayi itu sudah lahir nanti.
Nanggala memejamkan matanya perlahan, menikmati angin yang menerpa lembut wajahnya.
"Jia ... Nala ngantuk."
Jia merasa bingung ketika Nanggala mulai melepaskan pelukannya setelah mengatakan itu tadi. Dia terus menatap pergerakan lelaki itu yang kini menggeser duduknya dan duduk membelakanginya, lalu perlahan punggung itu di jatuhkan dengan pelan ke kursi dengan kepala yang juga mendarat pelan di pahanya yang berbalut dress putih tulang.
Tentu saja hal itu membuat Jia tersenyum, lalu tangannya terangkat untuk mengusap rambut Nanggala yang tengah mencari posisi nyaman, meskipun tidak ada banyak ruang untuk kepalanya berbaring di sana.
Ya karena memang terhalang oleh perut Jia yang besar. Namun tidak apa, Nanggala masih nyaman dengan posisi ini.
"Nala tidur disini aja ... Sama Jia."
"Sama anak kita ...."
Senyum Jia mengembang cerah mendengar kata-kata itu keluar dari bibir Nanggala. Anak kita? Ah, kenapa Jia sangat senang mendengar itu?
Hingga Nanggala kini benar-benar memejamkan matanya sambil menikmati usapan lembut jari-jemari Jia di rambutnya.
Bahkan gadis itu sesekali mengusap kening dan juga pipinya, membuatnya sangat nyaman dan tidak ingin di bangunkan. Karena memang senyaman itu dan membuatnya semakin mengantuk.
"Jangan bangunin Nala, ya ... Nala cuma pengen tidur di samping dede bayi."
Jia tersenyum sendu menatap wajah itu dari atas. Ah, kenapa Nanggala sangat tampan seperti ini?
"Dan juga sama bidadarinya aku dan dede."
Tangan Nanggala meraih tangan kanan Jia yang sejak tadi mengusap rambutnya. Lelaki itu genggam dan menaruhnya di antara lehernya sambil tetap memejamkan mata, sebelum tadi tak lupa mengecup punggung tangan itu sekilas.
Nanggala hanya ingin seperti ini lebih lama lagi. Dia hanya ingin bersama Jia lebih lama lagi, sebelum dia pulang ke Bandung.
Walaupun tubuhnya terasa sangat lemas, dan juga kepala yang terasa pusing sejak tadi. Matanya bahkan berkunang-kunang.
"I love you."
"Me too, Na. I love you."
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
...• To be continued •...
...ㅤㅤㅤㅤ...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...Ciyeee pada bapeur ngga nihh? wkwk...
...Boom komen setelah membaca yaa♡...
__ADS_1