NANGGALA AKSHA

NANGGALA AKSHA
44. Terasa Sepi


__ADS_3

Sepi sekali, Jia merasa suasananya sangat sepi sekarang. Meskipun rumahnya memang hari-hari selalu seperti ini, namun dia kini lebih merasa sangat kosong.


Ia melirik sebuah foto tanpa pigura yang terletak di meja belajarnya itu dan menatapnya sedih. Matanya mulai memanas lagi setelah kemarin juga dia lama menangis.


Tangannya meraih foto itu, bibirnya tertarik membentuk senyuman tipis. Ah, ini adalah fotonya bersama Nanggala ketika sekolah mereka berlibur ke puncak Bogor.


Foto ini adalah foto yang di ambil oleh Haksa, dan lelaki itu memberikan kepadanya kemarin. Juga memberikan satu cetakan foto lagi kepada Nanggala. Katanya untuk menemani lelaki itu saat dia berada di Bandung.


Ya, Nanggala sudah berangkat kemarin ke Bandung, lelaki itu akan pulang sebentar ke sana. Dia rindu kampung halamannya dan juga ayahnya.


Kampung yang meskipun menjadi kenangan menyakitkan untuknya, dan juga sosok ayah yang meskipun tubuhnya sudah tidak pernah di temukan lagi.


Nanggala sudah di perbolehkan pulang oleh dokter Iresh, atau istri sang wali kelas yaitu bapak Shandy.


Ah, sebenarnya dia sendiri yang meminta untuk pulang lebih cepat. Tubuhnya masih lemas, kondisinya pun belum membaik, tidak mungkin Iresh memperbolehkan pulang dengan keadaan seperti itu.


Tetapi Nanggala sendiri yang meminta, hingga wanita itu merasa kasihan menolaknya kala mengetahui alasannya. Lantas hal itu membuat Nanggala tidak berlama lagi mengemasi sedikit barang yang akan di bawanya pulang ke Bandung bersama Yewina.


Jia benar-benar merasa kosong dan sepi, walaupun lelaki itu nanti akan pulang lagi ke Jakarta.


"Jia kangen, Na ..." lirihnya memandangi foto itu lama.


Suaranya sudah mulai bergetar dan purau. Dia tidak ingin menangis lagi meskipun pandangannya kini sudah benar-benar mengabur. Terlalu sakit.


Jia masih ingat pesan Nanggala kemarin kepadanya dengan senyum manisnya.


"Bener-bener jaga diri baik-baik, jangan kecapekan. Ada dia juga. Banyak yang sayang sama Jia. Mereka, banyak yang sayang sama Jia."


'Dia' yang Nanggala maksud adalah bayinya, bayi yang ada dalam kandungannya. Dan 'mereka' yang dia maksud adalah sahabat-sahabatnya yang lain.


Nanggala seperti bilang kepadanya untuk tidak terlalu memikirkannya ketika dia tidak ada disini. Namun rasanya tidak bisa, sosok Nanggala-lah yang terus ada di pikirannya. Dan juga hatinya.


"Nala juga ... Nala jaga diri yang baik. Minum obat, makan yang teratur, dan balik lagi ke Jakarta." Gumamnya lirih.


Senyum tipis masih terukir di bibir Jia, namun ada perasaan senang juga kala melihat foto itu. Foto dimana Nanggala tengah menatapnya lembut. Sangat lembut ... Bahkan lelaki itu tidak melihat ke arah kamera ponsel yang di pegang Haksa kala itu.


Cklek


Pintu kamarnya berbunyi menandakan ada yang membukanya dari luar. Dengan cepat Jia menghapus ujung matanya yang sudah berair, kepalanya menoleh ke arah pintu kamarnya yang kini menampakkan seseorang yang tengah tersenyum ke arahnya.


"Makan dulu, yuk?" ajaknya lembut.


Jia mengangguk dan tersenyum, namun tubuhnya belum juga beranjak dari duduknya, serta tangan yang masih menggenggam foto itu.


"Baru kemarin Nanggala pergi, Dek. Udah kangen kamu?" kekehnya mengusap pucuk kepala adiknya dengan nada menggoda.


"Kak Jihaan." Rengek Jia memalingkan wajahnya malu.


Jihan lantas semakin terkekeh melihatnya, dia menarik kedua pipi sang adik untuk menghadapnya lagi. Lalu selanjutnya, kedua ibu jarinya dia usapkan lembut di ujung kedua mata itu. Menghapus sisa-sisa air mata disana.


"Udah jangan sedih ... Nanggala kan nanti pulang lagi ke Jakarta." Ucapnya menenangkan Jia.


Yang Jihan bisa rasakan selanjutnya adalah tangan adiknya melingkar di pinggangnya, memeluknya dalam posisi duduk sedangkan dia berdiri. Dia menghembuskan napasnya lirih, tangannya mengusap rambut panjang Jia dengan lembut.

__ADS_1


Rasanya sakit juga, sakit melihat adiknya seperti ini, dan juga sakit ketika mengingat apa yang dulu dia lakukan kepada adiknya, sifat apa yang dulu dia perlakukan kepada adiknya. Jihan rasa-rasanya sungguh menyesal dengan semua itu.


Seharusnya dia yang menjadi sosok ibu kedua bagi adik perempuannya di saat sudah tidak ada ibu yang berada di samping mereka. Apalagi dengan kondisi sang adik yang memang dulunya terkena gangguan mental, tetapi malah hal jahat, perlakuan jahat yang dia lakukan kepada gadis itu.


"Kakak disini. Maafin Kakak, ya? Maafin Kakak pernah jahat sama kamu ..." lirih Jihan dengan mata yang mulai buram.


Jia menggeleng, gadis itu sudah terisak kecil di dalam pelukannya pada Jihan.


Wajahnya lalu sedikit terangkat, "Jia nggak pernah marah sama Kak Jihan ..." lirihnya membuat gadis itu semakin merasa bersalah.


Salah satu tangan Jihan mengusap lembut punggung Jia untuk menenangkannya, "yuk makan? Udah di tungguin kak Janan sama Jerga di bawah."


Merenggangkan pelukan itu, jari-jari Jihan kembali mengusapi lembut pipi dan mata Jia yang basah karena air mata.


"Papa ....?"


"Papa belum pulang kok," senyumnya lembut, Jihan tahu adiknya masih antara takut dan marah kepada ayahnya itu, "yuk? Kita makan bareng."


.......


.......


.......


Haksa menghembuskan napasnya panjang untuk yang ke berapa kalinya. Lengan yang sejak tadi dia gunakan untuk menidurkan kepalanya itu terangkat, lalu mulai menggerakan jari telunjuknya menggesek meja.


Rasanya bosan sekali. Dan juga sepi.


Rasen dan Yora hanya melirik dengan malas. Sementara Haksa kini mulai menegapkan tubuhnya, lalu menyenderkan kepalanya pada lengan lelaki di sampingnya. Kedua tangannya pun melingkar di lengan itu.


"Ras, kembaran lo nih!" sungutnya kepada Rasen yang hanya menatapnya masa bodoh.


Lelaki itu menoleh sinis, "nggak usah ikutan si item lo panggil gue Ras!"


Gasta mendengus kesal, dia terus berusaha menyingkirkan Haksa yang memeluk lengannya. Hal itu membuat Yora tertawa kecil.


Lagi pula, tumben sekali Gasta berada disini juga.


Lelaki itu menduduki bangku Nanggala, sementara Haksa menduduki bangku Jia, yang dimana penghuninya sama-sama sedang tidak ada disini sekarang. Nanggala yang tengah pulang ke Bandung, dan Jia yang sudah mulai cuti karena perutnya yang semakin membesar.


Tentu saja hal itu membuat Haksa bersedih karena sahabatnya menghilang secara bersamaan.


"Lo juga, Gas. Lo fans Nanggala apa gimana? Nempel terus sama Nanggala. Sekarang Nanggala nggak ada lo nempel sama bangkunya."


Rasen yang tadinya menghadap depan kini menghadap ke belakang lagi dan bertanya seperti itu tadi, lantas membuat yang di tanya menatap sinis dan langsung berusaha tidak berkontak mata dengannya.


"Y-ya suka-suka gue lah!"


"Awas minggir lo, sialan! Awas!" sergahnya lagi melepaskan tangan Haksa yang memeluk lengannya.


Gasta berlalu pergi dari hadapan mereka dan juga dari kelas ini membuat Rasen dan juga Yora terkekeh bersamaan.


Tidak dengan Haksa, lelaki itu meletakan kepalanya lagi di meja Jia dengan rambut yang berantakan. Ya karena tadi Gasta melepaskan pelukannya dengan mengguncang badannya sedikit kencang.

__ADS_1


Sementara Gasta yang baru saja keluar dari kelas 12-B itu seketika menghentikan langkahnya ketika ada seorang gadis yang menghadang jalannya.


"Mana temen lo?" tanyanya sinis.


Gasta menatap gadis itu malas, "siapa?"


"Ck, Yunan!"


"Dia yang bilang ke Maldev kan, kalo semua yang dulu itu ide gue sama dia?"


Gasta merotasikan kedua bola matanya lalu menghembuskan napasnya panjang dan menatap sinis gadis itu. Namun ketika mulutnya akan terbuka lagi, sudah lebih dulu terpotong oleh seseorang yang baru saja datang dari sampingnya.


"Terus kenapa? Udah saatnya kebusukan lo itu ketahuan, Lin. Lo itu busuk, lo memperalat dan nyakitin sahabat lo sendiri cuma karena cowok yang lo sukai lo anggep di rebut sama dia, 'kan?"


Melihat kedatangan Yunan, gadis itu menolehkan kepalanya dan menatapnya sinis. Sama halnya dengan Gasta yang menatap lelaki yang kini berdiri di sampingnya.


"Dia emang udah rebut Maldev dari gue! Kenapa? Lo juga sama kayak gue 'kan, Nan? Nggak usah munafik!" keras Kheylin menatap Yunan marah, bahunya bahkan naik turun.


"Dia rebut semua yang gue punya lo tahu sendiri, 'kan? Dia selalu di atas gue, dia selalu di puji dengan baik di atas gue! Dia selalu rebut kebahagiaan gue, hhh ..." gadis itu mengatur napasnya.


"Gue benci, gue pengen hancurin semua tentangnya," Kheylin terkekeh kecil, "nggak sia-sia dulu ide gue sampe bikin dia sakit mental. Itu yang gue mau, bahkan lebih dari yang gue mau."


"Haha, nggak sia-sia juga gue bikin kembarannya suka sama gue, terus gue sakitin."


Gasta menatap gadis itu dengan tatapan tak percaya, sedangkan Yunan hanya terkekeh sinis.


"Ngaca lo, ngaca," ucapnya sinis, "liat sekeliling lo."


Kheylin mengikuti apa yang di katakan Yunan beberapa detik yang lalu, bola matanya seketika melebar saat sudah banyak murid-murid lain yang kini menatapnya dengan tatapan tak percaya juga. Matanya berhenti kepada Jerga disana, yang berdiri di antara anak-anak lain dengan mata tajamnya.


Gadis itu menggeram tertahan, kenapa dia lupa kalau ini sekolah? Dia mengucapkan semua itu tadi di koridor sekolah yang mana banyak murid-murid berlalu lalang. Dia membuka kejahatannya sendiri.


Sempat menatap Yunan dan Gasta sinis, Kheylin melangkahkan kakinya pergi dari sini. Anak lain bahkan berbisik-bisik sambil menatap kepergian gadis itu masih dengan tatapan tak percaya.


Gasta menoleh menatap Yunan di sampingnya. Lelaki itu melemparkan senyum tipis kepadanya lalu ikut melangkah pergi dari sini. Dia merasa senang jika lelaki itu sudah bukan Yunan yang dulu.


Kini sudah Yunan yang berbeda.


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


...• To be continued •...


...ㅤㅤㅤㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...Kheylin ngebongkar aib nya sendiri wkwk, sadar lo Linn....

__ADS_1


...Boom komen setelah membaca yaa♡...


__ADS_2