
Nanggala berjalan seorang diri menuju ke kursi panjang yang terdapat di taman ini. Sebelumnya dia sudah lebih dulu menyenderkan sepedanya di pohon besar di belakang sana.
Ah, sepeda itu sudah menjadi miliknya. Jia beberapa hari yang lalu memberikan sepeda itu kepadanya. Sebenarnya sudah menolak halus, tetapi katanya gadis itu ingin dia yang merawat sepeda miliknya.
Jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Nanggala mendudukkan tubuhnya di pojok kursi panjang ini, lantas membuat seseorang yang sudah duduk di sini terlebih dahulu sedikit menolehkan kepalanya.
"Thanks, udah dateng." Kata lelaki itu mengawali.
Nanggala menghembuskan napasnya lirih, "mau ngomong apa?" tanyanya kemudian.
Terdengar helaan napas dari lelaki di sampingnya, Nanggala hanya bisa menunggu ucapan seseorang yang menyuruhnya bertemu disini beberapa menit yang lalu.
"Sorry."
"Gue minta maaf buat semuanya."
Nanggala melirik dengan ekor matanya.
"Gue minta maaf buat kejadian dulu. And, for now ..." lirih Maldev dengan napas tertahan.
"Gue udah jadi cowok berengs*k buat Jia. Dan akan selamanya dia anggap gue kayak gitu."
"Gue juga udah jadi cowok berengs*k buat lo," kekehnya kecil, "I'm so sorry ... gue dan temen-temen gue udah nyakitin lo waktu itu."
"Haha, alasannya bodoh," mata sayunya kembali menatap Nanggala yang duduk di sampingnya, "karena gue nggak mau Jia tahu tentang siapa lo sebenernya."
Nanggala masih mendengarkan setiap kata yang Maldev ucapkan di malam yang sunyi ini tanpa mau menyela lebih dulu.
Dia bisa melihat adanya penyesalan di mata itu. Mata yang mulai di genangi oleh air.
Entah kenapa, dia bisa melihat Maldev bukanlah lelaki yang jahat. Sorot mata lelaki itu tulus. Iya, dia tahu lelaki itu juga tulus menyayangi Jia hingga sekarang.
Namun tetap saja, boleh kan kalau dia egois untuk masalah ini?
"I'm sorry, Nanggala. I'm so sorry for everything. Lo cowok yang baik."
Telapak tangan yang sejak tadi Nanggala sembunyikan di antara kedua pahanya itu sedikit terkepal, dia lalu menghembuskan napasnya berat dan mengulum bibirnya.
"Gue nyesel. Gue nyesel dulu dengerin apa kata sepupu dan temen-temen gue. Ah, lo pasti udah denger itu semua dari Gasta. Gue jadi cowok berengs*k sejak saat itu." kekehnya kecil.
Tangan lelaki itu gemetar, dia menggunakan tangan satunya untuk menahan tangan gemetarnya. Kilasan kejadian saat mereka menjebak Jia di ruang karaoke, dan juga dia yang hanya diam saja ketika gadis itu tidak berdaya.
Rasanya sungguh-sungguh menyesal.
"Andai dulu gue langsung bawa Jia pulang, andai dulu gue nggak ninggalin dia dan balik ke Kanada, semuanya nggak bakal gini. Dan itu cuma andai."
"Tapi gue seneng. Jia ketemu orang baik kayak lo." Senyumnya lembut kepada Nanggala.
Maldev tidak akan memaksa lagi. Jia bukan untuknya Jia sejak awal sudah di takdirkan untuk Nanggala. Ataupun sebaliknya, Nanggala yang sudah di takdirkan untuk mencintai gadis itu dengan tulus.
"Selamat buat pertunangan kalian." Ucap Nanggala lirih sambil menatap lelaki itu dengan senyumnya.
Maldev semakin menatapnya sendu. Benar, Nanggala benar-benar lelaki yang sangat baik, berbeda dengannya. Sangat berbeda.
"Gue bakal bilang lagi sama om Dharma. Gue bakal lakuin apapun biar pertunangan itu batal."
"I know, lo yang Jia butuhin. Lo yang Jia cintai. Not me." Gumamnya lirih.
Nanggala menggeleng pelan dengan bibir yang masih tersenyum, "gue takut nggak bisa terus jaga dia ...."
"Maksud lo?" tanya Maldev mengernyitkan alisnya.
Nanggala menghembuskan napasnya dengan pandangan yang mulai lurus ke depan. Senyumnya berubah sendu.
"Gue takut nggak bisa terus ada buat dia. Jadi ...," kepalanya menoleh lagi, "gue minta tolong sama lo, buat jagain dia, ya?"
"Jangan jagain dia buat gue. Jagain dia buat diri lo sendiri. Gue tahu lo sayang banget sama dia."
Ucapan Nanggala begitu tulus dengan senyum manisnya yang terus terukir di bibirnya.
__ADS_1
.......
.......
Suasana rumah begitu tegang malam ini. Cemas, mereka semua cemas adik dan kakak mereka belum pulang dari sore setelah di antar Nanggala ke rumah.
Jerga sudah berkali-kali menghubungi kembarannya namun tidak ada satu pun panggilannya yang gadis itu terima. Sama halnya dengan Nanggala, lelaki itu juga dia hubungi tetapi masih nihil.
"Kakak cari ke luar, ya? Yang tenang, Jer ...."
Suara dan tangan yang memegang bahunya pelan membuat Jerga menolehkan kepalanya ke belakang. Di lihatnya kakak tertuanya itu berekspresi sama sepertinya. Tentu saja khawatir adik kecilnya belum pulang.
"Lo di rumah aja sama Kakak, semoga bentar lagi Jia pulang."
Janan menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan Jihan beberapa detik yang lalu, hal itu membuat Jerga menghela napasnya panjang kemudian mengangguk pasrah.
Kakak kembarnya tadi berpamitan kepadanya untuk pergi ke minimarket, membeli susu strawberry karena yang di rumah sudah habis. Tidak lama setelah Nanggala mengantar gadis itu pulang, kakaknya langsung pergi keluar.
Bodohnya dia tadi tidak menemani kakaknya pergi.
"Gue coba telepon Nanggala lagi."
Jihan menganggukkan kepalanya sambil tangannya mengelus punggung sang adik. Sepeninggal Janan, gadis itu kembali membawa Jerga untuk duduk di sofa yang sebelumnya memang mereka berdiri, dengan Jerga yang mulai menempelkan benda pipih itu ke telinganya.
"Angkat Na, please ..." gumamnya lirih.
"Iya, Jer?"
"Na!"
"Ada apa?"
"Kak Jia hilang."
"Tolong, Na ... Dia nggak pulang-pulang. Na—"
Panggilannya terputus. Jerga kembali mendesah frustrasi. Tetapi dia tahu, Nanggala pasti akan langsung mencarinya.
Bodoh sekali memang, dia lupa menaruh ponselnya di keranjang sepeda.
Setelah mendapat telepon dan kabar dari Jerga beberapa saat yang lalu itu, dia lalu menaiki sepedanya dengan tergesa, kehadiran Maldev di sampingnya saja dia sampai tidak sadar.
"Ada apa?" Tanya Maldev yang tadi melihat dari kejauhan jika lelaki itu seperti gugup dan gelisah.
Cekalan tangan Maldev pada lengan Nanggala membuat lelaki itu menoleh, raut wajahnya terlihat sangat khawatir, "Jia hilang. Gue harus cari dia."
Maldev membulatkan kedua matanya terkejut mendengar itu. Dia yang melihat Nanggala akan memutar sepedanya pun mencekal lengan lelaki itu lagi.
"Pakai motor gue."
Nanggala menoleh dan menatapnya bingung.
"Pakai motor gue dan cari dia." Senyum tulus Maldev sambil menyerahkan kunci motornya kepada lelaki itu.
Nanggala sudah sulit berkonsentrasi, telapak tangannya yang bergetar menggenggam erat kunci motor milik Maldev. Lalu tubuhnya dengan cepat sedikit berlari ke arah motor lelaki itu terparkir dan menaikinya, lalu langsung saja dia pergi untuk mencari keberadaan Jia.
Sedangkan Maldev hanya menatap kepergian lelaki itu yang menaiki motornya dengan sendu, jujur dia juga khawatir. Jia hilang?
Nanggala beberapa kali mengatur napasnya di dalam helm milik Maldev yang di pakainya. Kemana gadis itu ... Tadi jelas-jelas dia sudah mengantarkannya sampai dalam rumah dan juga bertemu dengan Jerga disana.
Lalu apa tadi? Jerga berkata jika gadis itu hilang dan tidak kunjung pulang hingga saat ini?
Ini memang salahnya. Seharusnya dia tidak mengatakan hal seperti tadi sore saat mereka jalan-jalan. Gadis itu pasti akan sangat kepikiran.
Ah, Nanggala merutuki kebodohannya sendiri sekarang ini.
Nanggala terus mengendarai motor menyusuri jalanan yang sudah sepi ini. Jam sebentar lagi menunjukkan tengah malam, dan gadis itu masih berada di luaran sana tanpa dia ketahui keberadaannya. Dia sangat khawatir.
Kepalanya lelaki itu tengokkan kesana-kemari, siapa tahu melihat sosok Jia. Jalan raya hanya di lewati oleh beberapa mobil pribadi dan juga truk besar. Benar-benar sepi.
__ADS_1
"Maafin Nala ... Maafin Nala udah ngomong kayak tadi ...."
"Jia ... Nala akan terus sama Jia, Nala akan terus bareng Jia. Maafin Nala ...."
Nanggala sangat khawatir. Tidak terasa ujung matanya juga mulai berair.
Ah, jangan sekarang!
Kepalanya mulai terasa sangat sakit. Nanggala mohon jangan sekarang. Dia benar-benar tidak ingin Cluster Headache-nya kambuh di saat-saat seperti ini.
Dia tidak peduli menyusuri jalanan sepi ini dengan kecepatan yang semakin lama semakin bertambah, juga tidak memperdulikan sakit yang teramat itu terus menyerang kepalanya.
Beberapa kali dia meringis sambil sesekali tangannya juga di gunakan untuk memukuli kepalanya sendiri yang tertutup oleh helm.
"Argh ..." ringisnya kecil.
Denyutannya menjadi semakin dalam dan saat ini Nanggala ingin sekali menariki rambutnya sendiri, atau bahkan membenturkan kepalanya ke tembok.
"Jia ...."
"Arghhh!!"
Nanggala berteriak sekencang mungkin meskipun teredam oleh helm full face milik Maldev. Tidak apa-apa, dia hanya ingin melampiaskan sakitnya.
Salah satu tangannya terangkat lagi untuk memukul-mukul helm itu. Pandangannya mulai buram, dan bahkan motornya beberapa kali meliuk tak seimbang di karenakan gerakan memukulnya itu.
Duk! Duk!
"Jia, tunggu Nala ...."
Telinganya mulai berdengung, dan bahkan suara yang sangat melengking itu tidak membuatnya sadar ataupun menoleh.
"Arghh!"
BRAK!!!
Baru saja tangannya dia turunkan yang tadi di gunakan untuk memukul helm serta menambah kecepatan laju motor, kini tubuhnya seperti melayang ke udara, terdorong begitu kencang ke samping dan berakhir dengan tubuhnya yang jatuh terseret cukup jauh di atas aspal.
Tubuhnya seperti sangat ringan dan tidak merasakan apapun, Nanggala linglung sendiri. Matanya yang terasa lemas melirik ke sampingnya dan bau anyir itu mulai tercium di hidungnya.
Ada darah yang mulai membasahi aspal keluar dari samping kepalanya.
"Ahhs ...."
Apa yang baru saja terjadi?
Dia hanya sekilas melihat cahaya putih dari sampingnya tadi serta suara kecil ketika telinganya berdengung, berbarengan dengan dia yang akan mempercepat laju motornya.
Nanggala samar-samar bisa melihat motor milik Maldev sudah tergeletak begitu saja jauh dari posisinya saat ini, serta sebuah mobil yang masih berhenti di sana dengan kaca depan yang sudah retak.
Lama kelamaan, tubuhnya mulai terasa sangat remuk. Belum lagi kepalanya yang sakitnya sudah menjadi berlipat-lipat. Matanya pun mulai terasa sangat berat dan lemas, bahkan napasnya. Dia terbatuk beberapa kali.
"Jia ...."
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...• To be continued •...
...ㅤㅤㅤㅤ...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...End-in sekarang belum nih?? Hshsh...
__ADS_1
...Like, + favorit dan komen setelah membaca yaa♡...