NANGGALA AKSHA

NANGGALA AKSHA
46. Because I Miss You


__ADS_3

Drrt ... Drtt ....


Gadis itu melirik ponselnya yang bergetar menandakan ada sebuah panggilan masuk. Matanya melebar dengan bibir yang mengembang senang saat nama itu tertera di layar ponselnya.


Ah, dua hari tidak mendengar suara Nanggala dan tidak bertukar pesan dengan lelaki itu membuatnya sangat merindukannya.


"Nalaaaa??" panggil Jia senang, dia bisa mendengar suara kekehan disana yang sangat dia rindukan.


"Iyaa Jiaa, ini Nala."


"Jia kangen Nala ..." suaranya lirih tidak seperti tadi, raut wajahnya pun berubah sedih.


"Nala juga kangen banget sama Jia."


Gadis itu sejenak terdiam. Kenapa suara Nanggala sangat lirih? Apa Cluster Headache-nya kambuh lagi?


"Jia udah makan?"


Bibirnya tersenyum, "lagi di ambilin makan sama Jerga."


"Makan yang banyak ya? Jaga kesehatan. Jaga juga anak kita. Dia bakal jadi malaikat kamu kelak."


Ah ... matanya memanas mendengar itu. Dadanya tiba-tiba terasa sesak saat Nanggala mengucapkan kata-kata itu dengan suara yang lirih.


"Sama Nala. Kalian malaikat Jia." Jawabnya dengan suara yang mulai bergetar.


Tidak ada suara. Hening. Salah satu dari mereka belum ada yang bersuara lagi.


"Nala sayang kamu ...."


Air mata yang sejak tadi mati-matian di tahannya akhirnya keluar juga. Jia sangat senang mendengar kata-kata itu dari Nanggala, namun kenapa dia juga merasa sedih secara bersamaan?


"Aku nggak pernah nyesel udah ketemu kamu. Dan bisa mencintai kamu seperti sekarang ini, Jia ... Kamu percaya takdir, 'kan?"


Kepalanya hanya bisa mengangguk mendengar itu meskipun Nanggala tidak bisa melihatnya.


"Mungkin kalau dulu Nala nolak om Dharma buat kerja di sana, Nala nggak akan ketemu kamu. Nala nggak akan inget siapa perempuan yang sama Nala waktu itu di ruang karaoke. Dan Nala nggak akan sesayang ini sama kamu."


"Na ...."


"Mungkin Nala kadang emang ngerasa marah sama om Dharma. Buat perlakuannya yang sering nyakitin kalian ... Dan buat ayah. Tapi Nala juga berterima kasih sama om Dharma, karena kita bertemu lagi ...."


"Inget ya, Nala sayang kamu. Nala berdiri disini dan melindungi kamu. Inget kalo Nala cinta kamu ...."


"Na ... hiks."


"Ssttt ... Jangan nangis. Nala jadi sedih."


Ah, Jia benar-benar rindu kata-kata Nanggala yang itu. Dia selalu berkata seperti itu kepadanya jika tengah menangis, ketika memeluknya, dan ketika menepuk punggungnya dengan pelan untuk menenangkannya.


"Jia sayang Nala ...."


"Iya Jia, terima kasih udah menyayangi Nala. Jangan sedih lagi, hm?"


Hanya anggukkan lagi yang Jia bisa lakukan. Tenggorokannya lama-lama terasa tercekat.


"Udah dulu, ya? Nala ngantuk ...."


Suaranya semakin melirih.


"Iya Nala, tidur ya? Istirahat. Tidur yang nyenyak, Na."


"Eum. Nala pasti tidur dengan nyenyak. Selamat malam, cantik. Nala love you"


"Selamat malam juga, Na ... Jia love you too."


Menurunkan ponsel itu perlahan, Jia masih merasa dadanya sangat sakit. Padahal dia seharusnya senang Nanggala sudah menghubunginya lagi.


Napasnya terhembus panjang dan suara pintunya yang terbuka membuatnya dengan cepat menghapus air matanya. Bisa di lihat Jerga di sana memasuki kamarnya sambil membawa nampan makanan.


Dia tersenyum.


.......


.......


.......


Mata sayu itu sejak tiga puluh menit yang lalu masih terus menatap ke arah depan, memandang tempat dimana dulu dia menangis di sana sambil memeluk sang bunda.


Nanggala tersenyum tipis mengingat itu. Hari dimana keluarganya mendapat laporan bahwa ayahnya menjadi tersangka kasus pembunuhan, dan di nyatakan meninggal atau hilang ketika jasadnya tidak pernah di temukan di sungai itu.


Ya, sampai sekarang.

__ADS_1


Pandangannya turun ke bawah, menatap kedua kakinya yang semakin hari semakin mati rasa. Tubuhnya bahkan selalu lemas. Nanggala tidak ingin seperti ini. Dia ingin melindungi gadis itu, dan jika dia lemah seperti ini, siapa yang akan menjaga dan melindungi gadis itu? Serta anaknya.


Kling


Suara pesan masuk itu membuat kepalanya terangkat lagi dan menoleh ke samping kanannya, tepatnya melirik ponsel miliknya yang berada di atas meja.


"Siapa, Bunda ...?" tanyanya lirih ketika melihat sosok Yewina yang berjalan ke arahnya dan meraih ponselnya.


Yewina yang membaca pesan itu pun menatap sang putra dan tersenyum hangat, "Jerga."


Nanggala tersenyum tipis lalu mengalihkan pandangannya lagi ke arah depan. Mereka selalu menghubunginya, mengirim pesan kepadanya, semua, sampai Gasta-pun kerap mengirim pesan kepadanya.


Tetapi, tak ada satupun yang lelaki itu balas. Tak ada satupun panggilan yang lelaki itu terima. Sejenak Nanggala terkekeh dalam hati, Jerga tidak akan marah lagi dengannya karena dia mengabaikan panggilan lelaki itu bukan?


Entahlah, membalasnya atau berbicara dengan mereka malah nantinya membuat rasa rindu Nanggala semakin besar kepada sahabat-sahabatnya. Terlebih lagi gadis itu. Dia sangat merindukannya ....


Meskipun baru kemarin dia mengobrol dengan gadis itu melalui telepon.


"Jerga cuma bilang, cepet sembuh, Jia udah seneng lagi waktu kamu telepon."


Senyuman Nanggala semakin mengembang mendengarnya. Jerga selalu mengabarinya tentang gadis itu, tidak ada satupun yang lelaki itu lewatkan untuk mengabarinya.


Yewina kembali meletakkan ponsel milik Nanggala ke atas meja, wanita itu bergerak semakin mendekat ke arah anak itu lalu mengusap bahunya lembut.


Tidak mungkin dia tidak ikut merasa sedih jika sudah begini. Sesak ... Tubuhnya lalu berpindah menjadi di depan Nanggala lalu mengusap pipi itu lembut. Pipi yang semakin tirus.


"Makan yuk? Masakan Bunda udah matang." Ajaknya masih mengusap pipi itu.


Nanggala merasakan tangan hangat sang bunda di pipinya sesaat membuatnya memejamkan matanya menikmati sentuhan lembut itu. Dia jadi rindu Jia yang mengusap pipinya seperti ini.


Kepalanya lalu mengangguk, lantas membuat Yewina tersenyum dan mulai memutar kursi roda yang di duduki Nanggala, kemudian akan membawanya menuju meja makan di rumah ini.


"Akhh!"


Wanita itu terkejut ketika mendengar suara kesakitan itu lagi. Dengan cepat dia memutar tubuhnya dan berjongkok lagi di hadapan Nanggala.


"Sayang ... mana yang sakit? Bilang Bunda ..." suaranya mulai bergetar ketika melihat apa yang kini sudah Nanggala mulai lakukan.


Ya, seperti biasa, anak itu akan memukuli kepalanya sendiri dengan suara erangan kesakitan yang mengiringinya dalam waktu yang lama. Dan saat itu juga Yewina merasa sangat hancur, sakit, dia tidak tega melihat Nanggala yang terus kesakitan seperti itu.


Duk! Duk!


Yewina berusaha meraih kedua tangan Nanggala yang terus memukuli kepalanya, di gantikan dengan salah satu tangannya yang mengusap kepala itu lembut. Dia memejamkan matanya ketika suara isakan anak itu mulai terdengar.


Menghentikan aktivitasnya sejenak, Yewina menatap wajah pucat putranya yang kini menatapnya sayu. Ibu jarinya yang sedikit gemetar perlahan mengusap bawah hidung lelaki itu ketika cairan merah mulai mengalir keluar.


"Bunda disini sayang ...."


"Nangga capek, Bun ... Sakit ...."


Jujur, Yewina tidak bisa jika tidak menangis sekarang ini, padahal dia sudah berjanji untuk tidak menangis di depan Nanggala.


Dadanya sesak, hatinya sangat sakit, tenggorokannya pun tercekat. Di usapnya lagi pipi itu lembut yang kini sudah basah karena air mata.


Jika bisa, dia ingin sekali sakit itu berpindah kepadanya saja. Ibu mana yang tidak tega dan tidak sakit melihat serta mendengar erangan kesakitan anaknya sendiri? Nanggala sudah banyak menerima rasa sakit selama ini, dia hanya ingin kebahagiaan yang selalu bersama anaknya.


Di bawanya tubuh Nanggala ke dalam pelukannya, dan langsung saja dia merasakan anak itu memeluknya erat sambil meremas kuat kedua sisi bajunya, dengan isakan yang terdengar semakin keras.


"Sakit, Bun ... hiks."


.......


.......


Setelah terakhir Nanggala menelponnya tiga hari yang lalu, kini lagi-lagi tidak ada telepon ataupun pesan dari lelaki itu. Ah, Jia merindukannya lagi. Kemana lelaki itu? Apakah sakit kepalanya kambuh terus menerus?


Jika iya, dia sangat ingin pergi ke sana dan memeluknya, menenangkannya, dia tahu Nanggala pasti sangat tersiksa dengan Cluster Headache-nya.


Malam ini seperti biasa, Jia pasti akan terdiam di dalam kamarnya sambil memandangi fotonya bersama Nanggala.


Hari berlalu dan kerinduan Jia kepada lelaki itu semakin bertambah. Entah sejak kapan air hangat itu mengalir di pipinya. Lantas dengan cepat punggung tangannya menghapusnya, namun dengan cepat juga air itu akan turun lagi.


"Na ... Jia kangen ..." gumamnya lirih.


Matanya mulai mengabur lagi dan lagi. Foto yang sejak tadi di pandangnya juga mulai buram. Jia menghembuskan napasnya panjang untuk menghilangkan sesak di dadanya.


"Nala makan dengan baik, 'kan? Minum obatnya juga? Hubungi Jia lagi kalo Nala udah baikan ..." monolognya.


"Hiks ...."


Oh Tuhan, rasanya sakit sekali. Beginikah rasanya dia jauh dengan lelaki itu? Rasanya benar-benar tidak bisa. Dia merindukan senyuman Nanggala, dia merindukan tawa lelaki itu, dia merindukan kehadiran lelaki itu di sampingnya.


Tok tok

__ADS_1


Suara itu membuat Jia terkesiap, kepalanya menoleh ke belakang dan menatap pintu kamarnya yang tertutup yang baru saja di ketuk seseorang dari luar. Tangannya dengan cepat mengusap air mata yang sejak tadi membasahi kedua pipinya.


Meskipun seperti itu, tetap saja akan terlihat jika dia habis menangis. Matanya saja sudah membengkak.


"Kak?" panggilnya setelah membuka pintu.


Sosok Jerga lah yang saat ini Jia lihat. Gadis itu tersenyum kepada adik kembarnya, membuat lelaki itu mulai melangkahkan kaki memasuki kamar dan mendekatinya.


Jerga menghembuskan napasnya lirih, dia tentu saja bisa melihat mata gadis itu sembap. Dia tahu, pasti kakaknya menangis lagi karena merindukan Nanggala.


"Udah, Kak ... Nanti pasti Nanggala balas pesan Kakak." Ujarnya lirih sambil tangannya mengusap bahu itu lembut.


Jia yang mendengarnya malah ingin menangis lagi, bahunya mulai naik turun lagi, bahu yang sejak beberapa detik yang lalu di usap lembut oleh Jerga.


Jerga mengerti apa yang gadis itu rasakan, dia pun seperti ikut merasakannya. Kakaknya sulit makan beberapa hari ini. Sudah di bujuk olehnya, bahkan kedua kakaknya yang lain, namun gadis itu masih sulit. Padahal, ada kehidupan lain di perut itu. Dan Jerga khawatir.


"Kak jangan kayak gini ... Jangan sampe Kakak sakit. Kakak inget ada dia, 'kan? Nanggala pasti nggak suka kalo liat Kakak gini."


Mendengar kata-kata itu membuat pandangan Jia sedikit turun ke bawah. Mata berairnya menatap perut besarnya dan mengusapnya lembut. Benar ... Ada bayinya. Ah, dia ibu yang jahat sekali.


Bahkan sejak kemarin dia hanya memikirkan dirinya sendiri, dirinya yang rindu dengan lelaki itu, tanpa memikirkan bayinya yang tentu saja menunggu asupan makan dari sang ibu.


Kepalanya kembali mendongak menatap Jerga yang masih tersenyum kepadanya. Lantas, anggukkan kepalanya membuat senyum lelaki itu semakin melebar.


"Jerga ambilin makanan kesini, ya?"


Sebuah usapan lembut di pucuk kepala Jia membuat gadis itu mengangguk lagi. Matanya menatap kepergian Jerga dari kamarnya sebelum tadi berkata akan mengambilkan makan untuknya.


Di liriknya lagi foto yang sejak tadi di tatapnya sebelum Jerga datang, kini tidak lagi merasa sedih, kedua sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk senyuman tipis.


Cklek


Suara pintu kamarnya yang terbuka membuat Jia terkesiap lagi. Jerga kah? Secepat itu mengambilkan makanan untuknya? Lalu setelah kepalanya menoleh ke belakang dan mata mereka bertemu, gadis itu tersenyum kembali menyambut lelaki di sana.


"Belum tidur?" suara berat khas lelaki itu bertanya dan di jawab gelengan kepala oleh sang adik.


"Oh iya, Jerga lagi ambil makan ya tadi?"


Jia kembali tersenyum saat sang kakak berjalan lebih mendekat ke arahnya, lalu bisa dia rasakan tangan lelaki itu mengelus lembut pucuk kepalanya. Sama seperti yang Jerga lakukan tadi.


Janan-pun ikut tersenyum melihat senyuman itu. Jerga berhasil membujuknya untuk mau makan. Dia juga kasihan melihat adik kecilnya seperti ini, dan jika mengingat perlakuannya dulu kepada kedua adik kembarnya, sangat-sangat membuatnya merasa bersalah.


Kini tidak lagi, dia berjanji akan terus menjaga adik-adiknya di dalam lindungannya, sebagai kakak tertua. Janan berjanji.


Lelaki itu terkekeh kecil saat melihat Jia mulai menguap, "ngantuk?"


Terlihat gadis itu mengangguk lemah, "Jia ngantuk ..." lirihnya.


Janan menegapkan lagi tubuhnya yang sejak tadi bersandar pada meja belajar di belakangnya, memegang lengan Jia dan membantu gadis itu berdiri. "tidur aja ya?"


Lagi-lagi Jia hanya mengangguk dan menurut saat Janan membawa tubuhnya ke ranjang ber-sprei soft pink miliknya. Lelaki itu dengan lembut membantunya berbaring dan memposisikan tidurnya senyaman mungkin.


"Kak ..." panggilnya lirih dan membuat Janan kembali menatapnya.


Hanya dengan tatapan itu, Janan mengerti apa yang di maksud adiknya. Jujur, dia juga rindu. Jia adalah adik yang paling dekat dengannya sejak kecil dulu. Gadis itu manja kepadanya, dan dia akan dengan senang hati menuruti apapun kemauan adik kecilnya.


Ya, sebelum dia membencinya karena perkataan sang ayah.


Janan tersenyum, tubuhnya dia dudukkan di samping gadis itu dan mulai berbaring di sana. Kemudian tubuhnya di miringkan sehingga mereka kini saling menghadap satu sama lain. Jujur memang sedikit canggung untuk dirinya, karena tentu sudah lama mereka tidak begini, sudah lama dia tidak memperlakukan sang adik begini.


"Tidur ya? Kakak disini."


Jia tersenyum dan mulai memejamkan matanya kala sentuhan lembut itu di usapkan di kepalanya lagi. Tentu saja Janan ikut tersenyum melihat mata sembap itu mulai tertutup. Biarlah, gadis itu bisa makan besok, kasian, pasti kelelahan.


Satu kecupan hangat mendarat lembut di kening itu.


"Sweet dream sayangnya Kakak ...."


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


...• To be continued •...


...ㅤㅤㅤㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...Kak Janan sweet banget ygy, jadi pengen punya abang kek kak Janan:'))...

__ADS_1


...Boom komen setelah membaca yaa♡...


__ADS_2