
Langit sudah mulai gelap, tetapi suasana sekolah masih sedikit ramai, beberapa kelas ada yang gurunya mengadakan pelajaran tambahan, dan ada juga yang kelasnya sudah selesai sejak tadi, tetapi memilih melanjutkan belajar dikelas, atau di perpustakaan.
Rasen sudah dari tadi sangat tidak nyaman duduk ditengah-tengah kedua orang itu, karena tidak sekali dua kali tangan atau tubuh mereka mengenai dirinya. Lelaki itu mendengus, menatap samping kanannya sinis, lalu beralih menatap samping kirinya dengan tatapan yang sama.
"Diem nggak, Sa." Geramnya lirih menatap saudaranya.
"Yora tuh!" balasnya dengan nada kesal, meskipun juga tertahan, karena kan mereka sekarang sedang di perpustakaan, mana boleh berisik.
"Ya lo ngalah kek jadi laki!"
Yora yang mendengar itu langsung menatap Haksa dengan senyum kemenangan, tak lupa menjulurkan lidahnya yang membuat lelaki disana semakin mendengus sebal menatapnya.
"Nggak mau, Acca nggak mau ngalah sama Yoyor."
Buk!
"Aish!" Yora melotot tajam.
Baru saja tadi kepalanya terkena buku yang Haksa gulung terlebih dahulu, kemudian digunakan untuk memukulnya.
Buk buk!!
"Aaaa!!" Ringis Haksa sambil memejamkan matanya.
Percayalah, sekarang ini Haksa ingin sekali mengeluarkan teriakan mautnya. Sedari tadi mereka hanya bisa bersuara dengan bisikan, namun itu saja sebenarnya sudah membuat bising.
Nanggala dan Jia saja sedari tadi menatap kedua orang itu sambil terkekeh kecil. Sementara Jerga hanya sekilas mendongakan kepalanya, sesekali menggelengkan kepalanya melihat kelakuan keduanya.
Jerga ikut?
Kalau bukan Haksa yang menariknya paksa, lelaki itu juga tidak akan bergabung dengan mereka. Ada Nanggala, dia masih enggan berdekatan dengan lelaki itu.
Rasen pusing, Rasen geram, tekanan darahnya naik, napasnya tertahan.
Haksa dan Yora itu saling memukul lewat belakang tubuhnya, tak jarang lengan mereka menyenggol punggung dan kepalanya.
Buk buk buk!!!
Rasen dengan cepat mengambil alih gulungan buku pada tangan Haksa, dan langsung saja memukul kepala sang empunya dengan benda itu beberapa kali dengan keras. Otomatis langsung membuat Haksa memejamkan matanya kuat.
"Aaaa sakitt!!" seru anak itu.
"Ssssttttt!!"
Haksa menolehkan kepalanya, di tatapnya murid lain di sekelilingnya yang tengah menatapnya sinis. Dia memajukan bibirnya beberapa senti lalu menatap Rasen dengan kesal.
"Kok Yoyor nggak sih?!" ketusnya nadanya lirih lagi. Takut mereka akan menerkamnya kalau dia berteriak lagi.
"Diem nggak lo? Gue tendang keluar." tajam Rasen.
"Ish! Iya iyaa!" Cemberutnya membenarkan posisi duduknya.
Mereka ini ada-ada saja. Nanggala menggelengkan kepalanya sambil terkekeh, dia lalu melanjutkan kegiatan merangkumnya tadi, sebelum jari gadis di sampingnya beberapa kali menyentuh lengannya.
Nanggala menoleh, "hm?"
"Jia mau ke toilet." Bisiknya ditelinga kiri lelaki itu.
Jawaban itu membuat Nanggala tersenyum manis hingga beberapa detik kemudian menganggukkan kepalanya lembut.
Mereka berempat yang merasakan adanya pergerakan dua orang pun mendongakan kepalanya.
"Mau kemana?" tanya Rasen lirih.
"Toilet bentar." Jawab Nanggala tersenyum.
Rasen hanya menganggukan kepalanya mengerti, sementara Jerga juga terlihat diam saja, tetap melanjutkan kegiatan menulisnya.
Mereka berdua pun mulai melangkah pergi dari sini. Entahlah, padahal disini ada Yora, bisa saja Jia meminta gadis itu untuk menemaninya, tetapi dia memilih Nanggala. Ya, karena hari memang sudah malam, dan Yora meskipun terlihat gadis yang pemberani seperti itu, dia takut dengan gelap.
Nanggala dan Jia melangkah bersama menyusuri koridor yang beberapa lampunya sudah dimatikan ini. Si gadis berjalan sambil memeluk lengan si lelaki, sampai akhirnya mereka berdua sampai di depan toilet perempuan.
"Gih, Nala tunggu dari sini."
Jia yang mendengarnya pun mengangguk, perlahan melepaskan tangannya yang sejak tadi memeluk lelaki itu, dan langkahnya mulai memasuki toilet.
Toilet sangat terang, jadi tidak akan merasa takut kalau ke dalam seorang diri. Lagi pula ada Nanggala yang menunggunya diluar.
Sementara Nanggala menunggu gadis itu sambil bersandar pada dinding di belakangnya, hingga tak lama kemudian bunyi seperti ketukan sepatu yang semakin mendekat mampu membuat lelaki itu menolehkan kepalanya. Tubuhnya dia tegapkan lagi saat melihat ke empat orang yang berjalan semakin mendekat ke arahnya.
Mau apalagi mereka?
"Ikut gue."
"Nggak."
Yunan menatap Nanggala tajam yang berusaha lepas dari cengkraman tangannya pada seragam bagian bahu lelaki itu.
"Ikut gue atau gue suruh mereka masuk ke dalem?" seringainya sinis.
Nanggala mulai menatap bergantian Gasta, Senno, dan Alwan yang berdiri di depannya. Mereka bertiga tersenyum sinis ke arahnya. Tidak. Mereka tidak boleh masuk ke dalam. Mereka tidak boleh menyakiti gadis itu!
Akhirnya, badannya dia lemaskan dan membuatnya tertarik begitu saja mengikuti langkah Yunan. Entah mereka akan membawanya kemana.
Kepalanya menoleh ke belakang, menatap sekilas pintu toilet itu, kemudian matanya membulat seketika saat melihat tiga orang gadis baru saja memasuki toilet. Tubuhnya berusaha memberontak lagi, sungguh demi apapun dia tidak ingin meninggalkan gadis itu sendiri.
Meninggalkan gadis itu bersama Kheylin yang baru saja masuk ke toilet beberapa detik yang lalu.
"Lepas."
Yunan memutar kedua bola matanya, tangannya beralih mencengkram erat kerah baju lelaki itu untuk terus berjalan ke depan.
"Lepas!" Nanggala semakin memberontak.
"Lo mau mati, ha?!"
Nanggala menatap lantai yang di pijakinya sendu, dia harus apa? Dia harus bagaimana? Rasen, Haksa, Jerga ... Dia terus memohon agar salah satu dari mereka ada yang keluar untuk menolong Jia.
Dia tidak ingin terjadi apa-apa dengan gadis itu.
Nanggala mohon ....
Sementara di toilet saat ini, Jia yang baru saja selesai itu langsung membuka pintu bilik toiletnya dengan cepat kala tadi sekilas mendengar suara seru Nanggala dari luar. Dan juga, Yunan. Dia hapal suara lelaki itu, dan dia khawatir terjadi apa-apa dengan Nanggala diluar.
Namun, baru beberapa langkah gadis itu keluar, seketika langsung terhenti saat tiga orang di depannya menghadangnya, tak lupa dengan senyuman sinis. Tubuhnya refleks mundur, sedikit gemetar, kepalanya menunduk.
"Umm, kasian~ Pahlawannya pergi tuh tadi?"
Kheylin berjalan mendekat sambil masih tersenyum sinis, hal itu tentu saja membuat Jia semakin berjalan mundur juga.
"Jangan ..." suaranya bergetar.
Tawa Kheylin menggema di toilet yang sunyi ini, apalagi hari sudah semakin malam.
"Emang kita mau ngapain coba?" tubuh tinggi itu semakin mendekat, "kita cuma mau nemenin lo, sambil main-main sebentar."
Tangan Kheylin terangkat dan mengelus rambut panjang Jia, tentu saja membuat sang empunya langsung tertunduk takut.
"Jia suka main, 'kan??" nadanya seperti anak kecil, dan itu benar-benar membuat Jia semakin ketakutan sekarang.
Kini, wajah Kheylin yang sejak tadi tersenyum itu sudah berubah menjadi tatapan yang benar-benar sinis, tajam, menatap gadis di hadapannya dengan penuh kebencian.
Tangan gadis itu terangkat lagi, menyentuh dagu Jia dan mencengkramnya erat.
"Hiks, Nala ...."
"Nggak usah nangis lo anak sakit mental!"
Plak!
__ADS_1
Kepala Jia memaling ke kiri saat Kheylin menamparnya dengan keras, lalu kemudian kepalanya terangkat lagi ketika tangan yang menamparnya tadi beralih menjambak rambutnya, sehingga membuat kepalanya mendongak ke atas.
"Bawa dia."
Kheylin menghempaskan jambakannya begitu saja, lalu kedua temannya yang mengerti langsung menarik tubuh Jia keluar dari toilet, mengikuti langkah Kheylin dari belakang.
Jia sudah sejak tadi ingin berteriak, tetapi lidahnya terasa kelu. Dia hanya ingin Nanggala saat ini.
Kemana lelaki itu ....
Semakin jauh berjalan, semakin minim pula penerangan di jalan atau koridor yang mereka lewati. Hingga akhirnya Kheylin memberhentikan langkahnya di gudang sekolah, dia membuka pintu itu dan kedua gadis yang sejak tadi membawa Jia bersamanya langsung mendorong tubuh itu masuk.
Mata Jia langsung membulat melihat pemandangan di depannya.
Lelaki itu.
Lelaki yang sejak tadi dicarinya, tengah terkapar sedikit jauh dari tempatnya sekarang. Di atas lantai, dengan keadaan yang sangat berantakan. Bibir yang sudah mengeluarkan darah, serta seragamnya yang sangat kotor di bagian perut lelaki itu.
"Nala ...."
Nanggala yang masih merasa pening di kepalanya akibat pukulan kayu itu perlahan mendongak, sesekali terbatuk dan memegangi perutnya yang sangat terasa nyeri.
"J-Jia ...."
Seketika itu juga Jia menangis melihat keadaan Nanggala seperti itu. Pun dengan Nanggala yang sangat ingin berlari menghampiri gadis itu sekarang juga, tetapi tubuhnya terasa nyeri, berat, dia tidak mampu mengangkatnya.
"Nala, hiks— Aaaa!"
Nanggala membulatkan matanya saat Kheylin dan teman-temannya disana mulai mengerubungi gadis itu dan ... Berusaha melepas seragamnya?
Suara tawa mereka begitu menggema di gudang yang sepi ini, bahkan Yunan dan teman-temannya juga ikut tertawa melihat itu. Mereka benar-benar tidak perduli.
Nanggala berusaha mengangkat tubuhnya, namun hanya nyaris dia bisa berdiri sempurna, sebelum tubuhnya terjatuh lagi dan lagi.
"Akh ..." ringisnya pelan.
Matanya menatap depan lagi. Jangan, tolong jangan gadis itu!
"Aaaa jangan! Hiks, jangaan ....!"
Jia sudah jatuh terduduk, berusaha menahan seragamnya yang sejak tadi di buka paksa oleh kedua gadis di depannya, dia langsung berteriak dan menangis.
Kheylin tersenyum miring, masih di tatapnya ponsel yang beberapa menit yang lalu sudah di mode merekam ini.
"Cepet lepas! Hahaha, kayaknya nanti videonya bakal tranding nih?" tawa Kheylin masih fokus dengan ponselnya.
"Hiks, jangaan ... Jangan! Nala ... hiks."
Dada Nanggala sesak mendengar itu, air matanya juga sedari tadi sudah mengalir dengan posisinya masih tengkurap. Dia benci dengan dirinya sendiri kenapa tubuhnya sulit sekali di gerakkan. Dia ingin berlari dan menolongnya.
"Jia ...."
"Jia ... hiks, arghhh!!"
Tangannya bergerak ke depan seperti ingin menggapai gadis itu, hingga Nanggala saja sampai merasa marah dengan tubuhnya yang hanya diam saja dengan rasa sakitnya.
Yunan mulai memposisikan tubuhnya berjongkok di depan lelaki itu lalu tersenyum miring, "lo mau nolongin? Sana kalo bisa."
"Please ... Jangan dia ... Please ..." mohon Nanggala lirih.
Tubuh Yunan mundur dan perlahan berdiri lagi. Nanggala meringis lagi ketika tangannya yang sejak tadi menjulur ke depan diinjak oleh lelaki itu, dan ke empat lelaki yang memandanginya ikut terkekeh melihatnya.
Matanya menatap ke depan lagi, gadis itu masih berusaha mencengkram seragamnya, yang bahkan kancing atas seragamnya sudah terlepas.
Yunan dan teman-temannya berjalan meninggalkannya, lelaki itu memberi kode kepada Kheylin untuk ikut pergi. Hingga mereka semua pergi dan menyudahi kegiatan jahat mereka sejak tadi.
"Hiks ...."
Isakan Jia jauh di depannya sana membuat dada Nanggala sangat sesak. Gadis itu menunduk, menutupi seragamnya yang kancingnya sudah sempat terlepas. Wajahnya menunduk takut, tubuhnya gemetar.
Untuk yang ke berapa lagi Nanggala ingin menangis melihat itu. Tubuhnya dia angkat pelan, berusaha untuk duduk, dan dia bersyukur sudah tidak sesakit tadi. Hingga dia merasakan tubuhnya sudah bisa berdiri, langkahnya tertatih menghampiri gadis itu yang masih terduduk sambil terisak.
Nanggala mengusap air matanya dengan lengan tangannya, tubuhnya dia jongkokkan di depan Jia, lalu menyentuh tangan yang bergetar itu pelan. Namun dia sedikit terkejut saat gadis itu memundurkan tubuhnya dengan kedua tangannya yang mulai menutupi telinganya.
Nanggala-pun sedikit memajukan tubuhnya, "Jia, ini Nala ...," tangannya berusaha meraih tangan itu yang mulai memukuli tubuhnya untuk menjauh, "sssttt, ini Nala ....!"
Pukulan itu berhenti, kepalanya perlahan gadis itu dongakan, dan seketika itu juga tangisnya pecah menatap mata sayu Nanggala.
Nanggala dengan cepat membawa gadis itu ke dalam pelukannya, meskipun nyeri yang sangat menusuk dia rasakan saat gadis itu memeluk dan mencengkram punggungnya erat. Dia mengerti, gadis itu sangat ketakutan.
Yang mereka lakukan tadi benar-benar keterlaluan, mencoba melepas seragam Jia dan merekamnya? Nanggala sampai tidak habis pikir.
"Ssstt ... Nala disini ...."
Di elusnya rambut Jia lembut, gadis itu masih menangis di dalam pelukannya. Tangisnya sedikit keras, bahkan sampai sesenggukan. Sesaknya bertambah mendengar semua itu.
"Nala disini ... Maafin Nala ...."
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
...───• ~⸙ᰰ~ •───...
Nanggala dan Jia baru saja sampai rumah, mereka kini mengenakan pakaian olahraga. Nanggala tidak ingin ada yang memergokinya karena seragamnya kotor serta lusuh, dan juga seragam Jia yang sudah kehilangan dua kancing atasnya.
Meskipun memang sepertinya orang rumah tidak ada yang memperdulikan itu.
Tadi dia sudah mengirim pesan kepada Rasen, izin pulang terlebih dahulu bersama Jia dengan alasan kepalanya pusing. Dia berharap lelaki itu mempercayainya.
Membuka pintu dan memasukinya, Nanggala menghela napasnya pendek. Jemarinya sejak tadi masih bertaut dengan gadis yang berjalan di sampingnya, gadis yang sejak perjalanan pulang juga diam tak bersuara.
Nanggala tersenyum tipis, langkahnya menuju dapur dan dia akan memberikan gadis itu minum dulu agar lebih tenang. Bisa saja tadi sebenarnya mampir ke minimarket untuk membeli minuman. Tetapi Jia sepertinya ingin cepat pulang, gadis itu pasti sangat kacau.
"Jia minum dulu, ya?" nadanya begitu lembut.
Gadis itu mengangguk pelan dan langsung meminumnya. Nanggala tersenyum, di rapikannya rambut itu lembut.
"Malam, Bi?"
Wanita itu mendongak kala ada yang memanggilnya, tersenyum ke arah anak yang tengah tersenyum kepadanya.
"Eh, Nak Nanggala? Kalian baru pulang, ya?" ramahnya sambil membenarkan dua kantong keresek besar berwarna hitam di kedua tangannya.
"Iya, Bibi. Sini Nanggala bantu."
Dia yang tersadar wanita itu sedang kesusahan pun dengan cepat mendekat, lalu mengambil alih kantong keresek yang sepertinya isinya adalah sampah. Dan dari yang dia lihat juga sepertinya akan di buang ke depan oleh bibi.
"Ah, tidak usah tidak apa-apa, Bibi aja."
"Udah ayo, sama Nanggala ke depan." Senyumnya manis.
Si bibi hanya tersenyum hangat membalasnya. Anak itu begitu baik.
"Jia disini dulu, ya? Nala bantu Bibi buang sampah dulu, hm?"
Gadis itu mengangguk pelan, masih asik meminum air putihnya, bahkan dia sudah menuang lagi yang kedua kalinya. Sepertinya memang setakut dan secemas itu.
Nanggala tersenyum tipis, lalu mulai melangkah keluar bersamaan dengan bibi.
Kini Jia sendiri, hingga suara langkah kaki yang semakin mendekat ke arah dapur membuat gadis itu menunduk lagi. Entah langkah kaki siapa gadis itu tetap takut, tidak mungkin Nanggala atau bibi. Mereka tidak akan secepat itu.
Dari ekor matanya, Jia melihat kaki yang berjalan di depannya, dengan mengenakan sandal rumah berwarna merah berbahan bulu itu kini mulai membuka kulkas. Dia langsung tahu itu adalah kakak perempuannya.
Sementara Jihan, gadis itu melirik adiknya sinis. Dia tidak memperdulikan itu, kakinya terus melangkah sampai di depan kulkas, lalu membukanya. Mulutnya berdecak kecil, kenapa benda yang diinginkannya berada sangat jauh di dalam sana?
Tangannya terjulur ke depan untuk mengambilnya, namun susah, ada benda yang cukup besar juga yang menghalangi lengannya. Akhirnya Jihan berhasil menggapainya, namun ....
Brak!
__ADS_1
"Aish!"
Kepalanya menunduk, menatap sebal benda yang jatuh karena tersenggol oleh tangannya saat keluar tadi.
"Siapa yang naruh kue disini sih?!"
Jia yang terkejut itu langsung menolehkan kepalanya saat mendengar kata 'kue'. Bola matanya melebar ketika mendapati kue yang di buatnya dengan Nanggala kemarin sudah hancur di atas lantai.
Langkahnya mendekat, "kue Jia ...."
Jihan yang mendengar itu pun mendongakan kepalanya, menatap sinis gadis yang masih berdiri di sampingnya.
"Kue Jia ... Hiks, kue Jia ... Kue Jia ...."
Matanya menatap nanar kue yang sudah tidak berbentuk di bawahnya itu, air matanya juga mulai menggenang.
Sementara Jihan semakin menatap kesal adiknya, gadis yang sekarang tidak berhenti mengucapkan kata 'kue Jia kue Jia' dengan kakinya yang juga berjalan kesana-kemari, sambil menggigiti kuku jarinya.
"Ahh! Diem gila!!" teriak Jihan frustrasi.
"Kue Jia ... hiks, kue Nala ... Kue Jia ... hiks, jangan ...."
"Berisik!!"
"Ah! Jangan hiks, jangan!"
Kepala Jia seketika mendongak ke atas saat Jihan menarik rambutnya kencang ke bawah. Rasanya sangat perih, jambakan yang kedua kalinya untuk malam ini.
"Hiks, jangan! Maafin Jia!!"
Gadis itu memberontak lalu mendudukan tubuhnya pelan di lantai, dan membuat jambakan Jihan terlepas. Tubuhnya mulai gemetar lagi sambil memejamkan matanya kuat.
"Aaaaaaaa!!" teriaknya sambil menutupi kedua telinganya.
"Argh! Diem, sialan!"
"Kak Jihan!"
Suara itu membuat yang diserukan namanya menoleh ke belakang, menghentikan tangannya yang sudah melayang hendak menampar pipi sang adik.
Jihan berdecak kesal, "arghh! Cewek gila!" tangannya mendorong cukup kencang adik perempuannya itu dan membuat Nanggala dengan cepat berlari mendekat.
Gadis itu sempat menatap sinis Nanggala, lalu melangkahkan kakinya menjauhi dapur.
Sepeninggal Jihan, Nanggala menjongkokkan tubuhnya, memegangi bahu Jia lembut dan menenangkannya. Lagi-lagi lelaki itu merasa bodoh dan bersalah meninggalkan gadis itu sendiri.
"Hiks, Nala ...."
"Iya, Nala disini ...."
"Kue Jia ...."
Pandangannya turun ke bawah, menatap lantai yang sudah di penuhi dengan cream berwarna pink itu. Hancur berantakan, piringnya saja sudah berada di posisi terbalik.
"Besok bikin sama Nala lagi, ya? Udah, jangan sedih ..." senyumnya lembut.
Tangannya terangkat untuk menghapus air mata gadis itu, serta merapikan rambutnya yang berantakan.
Nanggala tidak tahu apa yang terjadi sebelum dia sampai dapur tadi, yang dia lihat saat Jihan akan menampar Jia. Tetapi memang sepertinya sebelum itu Jihan sudah lebih dulu menjambak rambut Jia.
"Nak, bawa ke kamar aja. Ini biar Bibi yang bersihkan."
Nanggala mendongak, kemudian tersenyum dan mengangguk, "terima kasih banyak, Bibi."
Bibi mengangguk pelan dan tersenyum, di tatapnya sendu juga nona mudanya itu. Sudah yang ke berapa kalinya bibi merasa kasihan dengan gadis itu, padahal dulu dia adalah gadis yang sangat ceria, sangat dekat dengan ibunya juga.
Nanggala membantu Jia untuk berdiri, hingga selanjutnya menuntun tubuh itu lembut untuk menuju ke kamarnya. Setelah sampai, lelaki itu mendudukkan Jia di ranjangnya sementara dia yang menaruh tas gadis itu di kursi meja belajarnya, lalu menaruh tas miliknya juga di atas karpet.
Awalnya ingin berjalan mendekat ke arah gadis itu berada, namun orangnya kini malah berjalan mendekat ke arahnya, berhenti di depannya, lalu menurunkan tubuhnya.
Nanggala tersenyum saat Jia duduk di atas karpet yang menghadap langsung ke balkon kamarnya. Tubuhnya pun ikut dia dudukkan di sampingnya, matanya menatap lembut gadis itu yang sekarang ini tengah memeluk kedua lututnya.
Dia lagi-lagi tersenyum, tangannya terangkat untuk menyentuh bahu itu, membawanya lebih dekat ke arahnya, dan menyenderkan kepala gadis itu di bahunya.
Jia, dia lihat hanya diam dan menurut.
"Bulannya sendirian."
Nanggala melirik dengan ekor matanya, lalu ikut menatap ke atas sana. Sepertinya memang gadis itu sedari tadi tengah menatap bulan yang bisa dilihatnya dari sini.
"Nggak ... Kan ada banyak bintang juga itu di sampingnya bulan." Jawabnya lembut.
"Bulannya sendirian, dia berbeda ... Dia sendirian ...."
Nanggala tertegun mendengar itu, dia sepertinya tahu apa yang gadis itu maksud. Tangannya menyentuh lembut tangan Jia yang tengah memeluk kakinya.
"Bulannya nggak sendirian. Jia liat, 'kan? Satu bintang yang paling deket sama bulan itu?" tunjuknya dengan tangannya ke atas.
Gadis itu mengangguk membuatnya tersenyum lagi.
"Dia nggak sendirian, bintangnya selalu nemenin bulan itu, walaupun dia berbeda dari yang lain, bintang itu akan terus di sampingnya."
Kepalanya menoleh, "Jia nggak sendirian, Nala selalu di samping Jia ... Nala disini, sama Jia ...."
Kata-kata beberapa detik yang lalu itu membuat Jia mengangkat kepalanya dari bahu Nanggala, matanya yang sudah berkaca menatap lelaki itu sayu.
"Nala bintang Jia ...."
Nanggala tersenyum lembut mendengar itu, "jangan sedih ... Nala disini sama Jia." Ibu jarinya bergerak menghapus air mata yang baru turun disana.
"Jangan ... tinggalin Jia ..." lirihnya menunduk.
"Nggak Jia." tangannya mengusap lembut rambut panjang gadis itu.
"Nala, Bonny dimana ....?"
Nanggala terkekeh mendengarnya, mengacak lembut puncak kepala gadis itu, "ada di tas Jia, Nala yang ambilin?"
Kepalanya menggeleng, "Jia aja yang ambil."
Gadis itu perlahan beranjak dari duduknya, menghampiri meja belajarnya dan membuka tasnya, dia merogoh Bonny yang kata Nangala tadi berada di dalam sana. Namun ada yang Nanggala rasa janggal saat gadis itu beranjak berdiri tadi, hingga gadis itu sudah kembali duduk di sampingnya. Merasa ada yang aneh.
Matanya menatap kosong karpet yang di duduki mereka.
"Perut Jia ... sakit?"
Gadis yang tengah tersenyum dan bermain dengan Bonny itu menoleh, "hung? Perut Jia nggak sakit." Kepalanya menggeleng.
Sesuatu janggal itu kini terlihat semakin jelas.
"Jia kenyang?"
"Enggak, Nala ...."
Lagi-lagi gadis itu menggeleng, dan tangannya terangkat untuk mengelus perutnya sendiri.
"Ada bayi bunda Jia disini." Lanjutnya dengan senyum hangatnya.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
...• To be continued •...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
__ADS_1
...vote dan komennya yaa...
...jangan lupa klik favorit biar ngga ketinggalan update~...