NANGGALA AKSHA

NANGGALA AKSHA
32. When You Love Someone


__ADS_3

Bandung, 1999.


Perempuan cantik yang duduk seorang diri sambil memainkan jari-jari tangannya itu tengah menunggu kedatangan seseorang. Angin sore hari ini berhembus menerpa rambut sepunggungnya yang dia gerai bebas, hingga kepalanya menoleh ke samping kiri saat di rasa ada yang duduk di kursi tepat di sebelahnya.


Namun hanya sebentar, setelah itu kepalanya menunduk lagi sambil menatap jari-jarinya sendiri. Dia tidak tahu akan memulainya dari mana.


"Seminggu lagi aku nikah."


"Jangan ganggu aku lagi."


Pria yang duduk di sampingnya menoleh dengan wajah sedikit terkejut. Namun sesaat kemudian, wajahnya kembali dingin seperti saat dia baru tiba disini.


"Aku udah bilang, aku nggak akan ngelepasin kamu."


"Tapi kita udah nggak ada hubungan dari enam bulan yang lalu."


"Kamu putusin hubungan kita sepihak! Aku nggak pernah setuju itu, Win!"


Perempuan itu mendesah frustrasi. Kini mereka sudah saling menatap dengan tajam, tetapi perempuan dengan balutan dress selutut itu langsung merubah raut wajahnya kembali tenang.


"Aku udah bilang, aku nggak cinta lagi sama kamu."


Pria itu terkekeh kecil mendengarnya, dia menarik tangan kiri perempuan di sampingnya dan di genggamnya.


"Tapi aku masih cinta sama kamu, Win. Aku masih cinta sama kamu sampe sekarang." Suaranya melembut menatap mata itu.


Perempuan itu menggeleng kecil, "aku nggak bisa ...."


"Arghh, sialan!"


Pria itu berseru marah.


"Kamu nggak pernah bilang apa alasan kamu mutusin hubungan kita! Apa? Apa aku tanya?! Aku kaya, aku kurang apa buat kamu? Aku tanya aku kurang apa buat kamu, Yewina?!"


"Kamu kasar!" Yewina akhirnya mengeluarkan apa yang sejak tadi dia tahan, "kamu selalu kasar sama aku. Kamu akan memukulku walaupun aku cuma melakukan kesalahan kecil."


Perlahan, air mata itu turun lagi dengan deras.


"Kamu juga selingkuh di belakangku. Aku tau semua ...."


"Aku tau semuanya Dharma ...."


Dharma mengusap wajahnya kasar, lelaki itu menggenggam tangan Yewina lagi erat, lalu memposisikan tubuhnya berjongkok di depan perempuan yang masih di cintainya sampai sekarang itu.


"Aku bakalan tinggalin dia. Aku bakalan tinggalin dia buat kamu. A-aku ... aku nggak akan kasar lagi sama kamu. Jadi tolong, kembali Win ... Aku masih sangat mencintai kamu."


Suara lembut Dharma lagi-lagi membuat dada Yewina terasa sesak. Sudah yang ke berapa kalinya Dharma berkata seperti itu kepadanya, dan selalu di ulang lagi. Seperti itu terus hingga lama-lama membuatnya tidak tahan.


Yewina tidak kuat.


Itu alasan dia memutuskan hubungannya dengan Dharma enam bulan yang lalu.


Namun Dharma tidak begitu saja menerima. Bahkan sampai sekarang, pria itu masih kerap mengejarnya di samping dia yang sebentar lagi akan menikah dengan lelaki pilihannya.


Namun keputusan Yewina sudah bulat, dia tidak ingin berurusan lagi dengan pria bermarga Abhicandra itu. Sudah cukup, dia sudah tidak kuat dengan pria itu yang kerap berlaku kasar terhadapnya.


Apalagi, Dharma juga berselingkuh di belakangnya. Dia tahu itu.


"Aku nggak bisa. Aku sangat mencintai calon suamiku sekarang. Aku nggak bisa ...."


Rahang Dharma mengeras, tubuhnya perlahan mulai berdiri dengan mata yang juga mulai menatap tajam perempuan di bawahnya itu.


Plak!


"Akh ...."


Sebuah tamparan yang cukup keras dengan cepat Dharma layangkan ke pipi kiri Yewina, sebelum tubuh perempuan itu dia dorong hingga terjatuh ke rerumputan yang dia pijaki.


Yewina meringis memegangi pipinya yang mulai terasa panas. Perempuan itu terjatuh setengah duduk, dengan sigap langsung memegangi perutnya dengan salah satu tangannya lagi.


Dharma yang merasa bingung terus memperhatikan wanita itu, memperhatikan Yewina yang sesekali menatapnya dan menatap perutnya khawatir yang sejak tadi di pegangnya.


Kekehan sinis bisa Yewina dengar disini. Hingga selanjutnya, kepalanya mendongak ke atas ketika pria itu menarik rambutnya.


"Itu yang buat kamu nggak mau kembali sama aku?" tanyanya sambil menyeringai sinis, dan itu sukses membuat Yewina takut.


"J*lang."


Plak!


Kali ini pipi kanannya, dan membuat tubuh perempuan itu langsung menyetuh rerumputan lagi dengan posisi miring.


"Akh! Jangan ... hiks ...."


Yewina meringis sambil tangannya yang masih terus melindungi perutnya, ketika dengan tiba-tiba kaki berbalut sepatu kantoran itu menginjak perutnya dan sedikit menekannya.


"Jangan sakiti dia ... Aku mohon ...." air mata Yewina semakin deras, kini dia bisa merasakan perutnya mulai terasa sakit.


"Liat aja. Aku akan buat kamu menyesal dengan pilihan kamu."


Dharma terkekeh sinis.


"Aku akan buat kamu menyesal udah menolakku dan memilih pergi dengan lelaki berengs*k itu."


Punggungnya lelaki itu bungkukkan sedikit, ringisan Yewina semakin terlihat jelas di matanya dan itu membuatnya semakin terkekeh sinis.


"Dan bayi sialan ini."


Yewina mengerang tertahan merasakan perutnya begitu sakit. Dia menatap kepergian Dharma dengan mata yang mulai mengabur. Jujur, dia merasakan pohon-pohon yang berada di dekatnya seperti mulai berputar.


Napasnya seperti tercekat dengan tubuhnya yang juga terasa sangat lemas.


...───• ~⸙ᰰ~ •───...


Dharma memasuki rumah dengan perasaan yang sangat marah. Pintu itu tertutup dengan sangat kencang membuat seseorang yang tengah duduk di sofa ruang tamu itu terlonjak kaget.


"Ya ampun, kamu dari mana aja? Anak-anak nungguin kamu."


Wanita itu berjalan menghampiri Dharma yang wajahnya masih terlihat kesal. Tangannya terulur menyentuh bahu itu lembut namun langsung di tepisnya kencang.


"Nggak usah cerewet kamu, aku capek!" Sinis Dharma membuat wanita itu tersenyum tipis.


"Yaudah, kamu mandi aja dulu, aku udah siapin air hangat. Habis itu kita makan sama-sama."


Tanpa menjawab perkataan istrinya tadi, Dharma berlalu begitu saja meninggalkan wanita yang masih setia menunjukan senyum manisnya itu.


Tangan kanannya merogoh saku bajunya lalu menggenggam benda pipih panjang itu. Senyum manis semakin tersungging di bibirnya, matanya kembali menatap punggung sang suami yang sudah hilang di balik pintu kamar mereka dan menghembuskan napas pelan.


"Mamaa!"


Teriakan kecil itu membuatnya membalikkan badannya, dan seketika tubuhnya langsung di tubruk begitu saja olehnya.


"Jangan lari-lari sayang." Wanita itu tersenyum, membawa tubuh kecil itu untuk di gendongnya.


Lalu di lanjutkan dengan seorang pria yang baru saja datang sambil menggendong anak keduanya.


"Ya ampun, kok malah kamu yang gendong Jihan? Bibi kemana?"


"Ah, tidak apa-apa, Nyonya. Saya senang bermain dengan si gemas Jihan." Jawab pria itu tersenyum sangat manis.


"Wendra, saya sudah bilang panggil saja saya Jessika. Nggak usah pakai Nyonya. Lagian, kamu juga lebih tua dariku. Kamu tetap seniorku dulu di kampus."


Wendra tersenyum tidak enak. Memang, Jessika pernah memintanya begitu. Wanita itu adalah juniornya di kampus dulu, wanita yang enam bulan lalu menawarinya pekerjaan menjadi sopir di rumahnya.


"Baiklah." Jawabnya begitu ramah.


Jessika tersenyum membalasnya. Wendra adalah pria yang sangat baik, pria itu selalu menghiburnya ketika dia bertengkar dengan Dharma. Namun tidak berarti apa-apa, dia tetaplah seniornya. Dia sebenarnya dulu adalah anak orang terpandang, namun satu tahun lalu keluarganya jatuh miskin karena kesalahan sekretaris sang ayah di kantor.


Jessika sebenarnya berniat akan membantu saja tanpa ada embel-embel pekerjaan, tetapi Wendra meminta jika dia bekerja saja untuknya. Pria itu tidak mau mendapat uang dengan cuma-cuma.


Wanita itu pun ikut senang, karena Wendra sebentar lagi akan menikah dengan perempuan pilihannya. Kekasihnya.

__ADS_1


"Janan suka nggak dapet adik lagi? Ada adik bayi di dalam perut Mama." tanya Jessika kepada lelaki kecil di dalam gendongannya.


"Suka!" serunya dengan senang.


Hal itu tentu saja membuat Jessika tertawa kecil mendengarnya, jarinya menyubit gemas pipi gembul si sulung yang sangat menggemaskan dengan lesung di pipinya itu.


Wendra ikut tertawa kecil, pria itu juga kemudian bercanda dengan Jihan yang berada di gendongannya.


"Kayak keluarga bahagia aja kalian."


Suara sinis itu mampu membuat mereka menghentikan tawa, lalu menoleh bersamaan ke belakang menatap pria yang tengah menyorotkan tatapan tajam.


Keduanya. Ya, Jessika dan Wendra.


"Aku hamil lagi." Ucap Jessika dengan senyum senang.


Kata-kata itu tidak membuat Dharma merubah raut wajahnya, masih dingin dan sinis sejak tadi awal pria itu datang.


"Ngapain bilang ke aku? Bukannya ayahnya orang yang ada di depan kamu itu?"


Jessika melunturkan senyumnya dan menatap bingung ke arah suaminya. Pun dengan Wendra, yang sejak tadi tersenyum juga melunturkan senyumnya mendengar itu.


"Maksud kamu apa?"


Dharma terkekeh dan berjalan mendekat ke arah keduanya. Namun sebelum itu Jessika sudah memanggil bibi untuk membawa Janan dan Jihan menjauh dari sini.


Kini hanya tersisa Dharma yang menatap mereka tajam, serta Jessika dan Wendra yang menatap pria itu bingung.


"Memangnya aku nggak tau? Kamu kemana-mana sama dia, kamu deket banget sama senior kamu itu! Nggak sedikit aku liat kalian pelukan. Kamu masih mau mengelak?"


Jessika sungguh tidak tahu apa maksud dari suaminya itu. Tangannya menyentuh lembut tangan sang suami namun langsung di tepis kasar.


PLAK!


Hingga dengan tiba-tiba tangan besar itu melayang begitu saja ke pipi Jessika, tentu saja membuat Wendra yang di sampingnya pun membulatkan mata tidak percaya.


"Jangan kasar sama istri kamu!"


"Kamu? Haha!" tawa Dharma begitu menggema di rumah ini.


"Panggil saya Tuan! Saya ini majikan kamu!" serunya dengan mata melotot ke arah Wendra.


"Haha. Hebat ya kalian? Kedekatan kalian di belakangku sampai menghasilkan anak," kekeh Dharma lagi dengan sinis.


"Dia anak kamu!" Jessika membuka suaranya lagi.


"Dia bukan anakku! Sampai kapan pun dia bukan anakku!"


Jessika hanya bisa menangis, dia begitu sakit mendengar jawaban suaminya seperti itu. Kenapa pria itu tidak mau mengakui kalau janin yang di kandungnya adalah anaknya?


Dia tidak pernah sekalipun bermain di belakang suaminya, apalagi dengan Wendra. Tidak pernah. Wendra juga sudah mempunyai kekasih, dan mereka akan menikah sebentar lagi.


Dia dan Wendra tidak pernah seperti itu.


"Dia istri kamu?"


Suara lirih itu membuat ketiganya menoleh ke arah pintu utama rumah ini. Kedua dari tiga orang itu menatapnya tak percaya sambil melebarkan bola mata mereka.


"W-Win ...."


Yewina tersenyum tipis di sana. Dia melangkah pelan menghampiri ketiga orang itu, lalu di tatapnya Jessika yang tengah menatapnya bingung.


"Maaf ... Saya nggak tau ...."


Jessika yang mendengarnya semakin bingung. Tatapan wanita itu beralih kepada lelaki yang berdiri di sampingnya.


"Kalau saya tau Dharma sudah punya istri, saya akan memutuskan dia saat itu juga. Tapi ... saya tidak tau. Maafkan saya ...."


Kini tatapan Jessika beralih kepada suaminya seakan meminta penjelasan, siapa perempuan itu dan kenapa dia berbicara seperti itu.


"Itu bukan salah kamu, Win. Kita di jodohin saat aku masih menjalin hubungan sama kamu. Aku nggak bisa nolak karena ini ada kaitannya sama perusahaan papah."


Ya, dia dan Dharma menikah karena perjodohan orang tua mereka. Dan Jessika juga tidak pernah tahu jika saat itu Dharma tengah menjalin hubungan dengan kekasihnya.


Mereka ... Sama-sama tidak tahu.


"Nggak papa ...," tatapannya beralih kepada Jessika, "saya turut bahagia sama kehamilan kamu. Sekali lagi maafkan saya."


Yewina tersenyum lembut menatap raut wajah Jessika yang sudah campur aduk. Antara marah, terkejut dan juga sedih.


Dia pernah sekali bertemu dengan Jessika dan tempatnya adalah di rumah ini, dan memang hanya di depan gerbang. Di sana dia sempat bertukar senyum dengan Jessika yang kebetulan tengah berada di depan itu tadi.


Dia benar-benar tidak tahu dan tidak menyangka jika itu adalah rumah Dharma dan juga Jessika ... Istrinya. Karena saat masih berpacaran dengannya, rumah yang pria itu kenalkan bukanlah rumah ini.


Antara Yewina dan Jessika, mereka rasa-rasanya ingin sekali meminta maaf satu sama lain, ingin sekali menubrukkan tubuh mereka dan memeluk satu sama lain. Karena perasaan sesak yang mereka rasakan hampir sama.


Secara tidak langsung, mereka sama-sama di khianati.


Yewina di khianati karena Dharma tidak pernah memberi tahunya jika pria itu di jodohkan dan menikah. Serta Jessika yang di khianati karena pria itu tetap menjalin hubungan dengan kekasihnya bahkan setelah mereka menikah.


Mungkin posisi mereka sama-sama salah, namun mereka juga tidak tahu apa-apa tentang itu.


Yewina sangat tidak menyangka, Dharma membohonginya selama bertahun-tahun mereka berpacaran. Memang, pria itu mulai kasar kepadanya dari tiga tahun yang lalu. Sepertinya saat awal pernikahan dia dan istrinya.


"Kamu Dharma, hidup bahagia saja dengan keluargamu. Aku juga akan hidup bahagia dengan keluargaku." Tutur Yewina mendekatkan diri ke arah Wendra.


Dharma di sana terkejut lagi kala tangan Yewina memeluk lengan sopir di rumahnya itu.


Wendra sejak tadi hanya diam dengan perasaan bingung juga. Pasalnya, dia pun tidak tahu kalau Dharma adalah mantan kekasih Yewina yang kasar itu.


Mereka memang saling bercerita, Yewina sering bercerita tentang mantan kekasih kasarnya yang masih mengejarnya, serta Wendra yang juga sering bercerita tentang majikannya yang tidak terlalu akur itu.


Jadi mereka satu orang?


Satu orang yang bernama Dharma Abhicandra?


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


Bandung, 2014.


"Pa, ini bukan arah jalan pulang."


Pria yang sibuk menyetir itu menoleh sekilas, matanya fokus lagi dengan mobil yang tak jauh di depannya itu. Dia mengikutinya dari belakang.


"Iya bentar. Habis ini kita pulang."


Janan menghela napasnya panjang di jok belakang mobil. Anak itu beberapa kali meringis karena kakinya yang patah akibat kecelakaan beberapa waktu lalu itu bergoyang cukup kencang karena mobil sang ayah juga semakin melaju kencang.


"Pa, kita mau kemana sih?" kesal Janan.


"Ck, diam. Kamu tidur aja."


Masih merasa kesal, Janan akhirnya memejamkan matanya di jok belakang. Memang dia merasa sangat mengantuk setelah minum obat tadi.


Janan sepertinya sudah benar-benar tertidur hingga mobil ini berhenti di tempat yang cukup sepi di tepi sungai.


Dharma mematikan mesin mobilnya dan langsung turun dari sana, kakinya melangkah menghampiri kedua orang yang sampai lebih dulu darinya itu.


"Ternyata kalian masih berhubungan? Haha."


Keduanya menoleh bersamaan ke sumber suara, lalu menatap terkejut seseorang yang berjalan mendekat ke arah mereka.


"Kamu udah ambil Yewina dariku. Jangan ambil istriku juga."


"Aku ketemu dia cuma mau minta tolong." sahut Jessika sedikit marah kepada suaminya.


"Aaah ... Tapi kan dia juga ayah dari anak kamu. Bener juga dia pengen liat anaknya."


"Si kembar anak kamu, Dharma!!"


Jessika menatap sang suami dengan mata yang sudah mengabur. Masih saja, masih saja suaminya mengira bahwa si kembar itu adalah anaknya dengan Wendra hanya karena kedekatan mereka dulu.

__ADS_1


Yang bahkan tidak lebih dari sekadar majikan dan sopir, atau senior dan junior.


"Aku udah nggak tahan ya, kamu selalu memperlakukan beda si kembar sama kakak-kakaknya. Mereka juga anak kamu! Mereka anak kandung kamu!"


"Mereka bukan anakku."


"Mereka anak kandung kamu." Sahut Wendra mendekatkan diri ke hadapan Dharma yang menatapnya tajam.


"Jessika minta bantuanku untuk bilang ke kamu kalo mereka benar anak kamu. Kamu nggak pernah mengakui mereka, liat ini."


Wendra menyodorkan sebuah map kertas ke hadapan Dharma, namun pria itu hanya menatapnya sekilas dengan mata tajamnya.


"Jangan pernah buat si kembar hancur di masa depan karena sikap kamu itu, Dharma." lirih Jessika dengan nada terdekat.


Bugh!


Mengabaikan perkataan istrinya serta map itu yang juga tidak sedikitpun Dharma sentuh, kini dia dengan cepat menghajar pipi Wendra dengan kepalan tangannya.


"Dharma, kamu apa-apaan sih!"


Jessika mendekati Wendra dan membantu pria itu duduk.


"Aku bener-bener udah nggak ngerti lagi sama kamu. Kamu boleh benci aku tapi jangan Jerga sama Jiara! Mereka anak kandung kamu! Ayah mana yang tega bilang ke anak-anaknya sendiri untuk ikut membenci adik-adik mereka! Tolong ... Jangan buat Janan sama Jihan benci adik-adiknya ...."


Jessika sudah tidak bisa menahan tangisnya, tangannya meremas kuat baju bagian dadanya.


Sesakit itu ... Sesesak itu ....


"Kamu nggak ngerti sama aku? Oke, aku akan buat kamu mengerti."


Dharma dengan seringaian sinisnya mulai melepas sabuk yang melingkar di pinggangnya itu, tentu saja membuat Jessika yang melihatnya mengerutkan alisnya bingung.


Pria itu berjalan ke belakang istrinya, dan dengan gerakan cepat melingkarkan dengan kencang ikat pinggang miliknya ke leher sang istri hingga membuat wanita itu berdiri.


"Akh ... uhukk ... Dharma ...."


Wendra membulatkan matanya melihat itu. Tubuhnya dengan susah payah berdiri dan mendekat ke arah mereka, sebelum tubuhnya jatuh tersungkur lagi karena tendangan Dharma di kepalanya.


"Kehadiran kamu juga yang buat Yewina pergi dariku," Dharma terkekeh, "kehadiran kalian." Beralih menatap pria yang masih meringis di bawah sana.


"Tolong ... khh ... Jangan."


Dharma semakin menarik kencang ikat pinggang yang melilit di leher sang istri. Hingga beberapa saat kemudian, tubuh di hadapannya ini terlihat mulai melemas dan tidak memberontak.


Tidak ada suara sang istri juga yang sejak tadi meminta pertolongan kepadanya untuk menyudahinya.


Dharma mendorong begitu saja tubuh Jessika yang sudah melemas itu, hingga tubuhnya terjatuh di samping Wendra yang masih setengah terduduk.


"J-Jessika ..." lirih Wendra bergetar.


Tangannya beberapa kali menepuk pelan pipi itu, lalu menatap mata yang perlahan mulai tertutup itu.


"Jessika!"


Tidak ada pergerakan. Wendra mendekatkan telinganya ke wajah Jessika, menyentuh leher dan tangan wanita itu. Masih, masih sedikit terasa napas dan denyut nadi di sana.


Matanya kemudian membulat lagi ketika dengan teganya Dharma tiba-tiba menusuk pisau itu ke dada bagian kanan Jessika yang masih mengatur napas kecilnya.


"DHARMA BERENGS*K!!"


Dugh!


Kepalanya pening ketika Dharma menghantam kepalanya dengan sebuah batu cukup besar, yang entah kapan dan darimana pria itu mendapatkannya, hingga membuatnya jatuh terlentang dengan napas yang sedikit terengah.


Matanya yang mulai mengabur itu menatap Dharma yang tepat berada di atasnya. Pria itu menyeringai sinis.


"Aku udah mengingatkan Yewina dulu. Jika aku, akan buat dia menyesal dengan pilihannya."


"Nanggala kan anak kalian?"


"Anak sialan itu yang udah buat Yewina pergi dariku dan milih kamu."


"J-Jangan ... Jangan Nangga ... Uhuk!"


Wendra merasakan dada dan perutnya begitu sakit sekarang ini. Pria itu terbatuk beberapa kali hingga mulutnya menyembur cairan berwarna merah ke atas sampai ikut melumuri wajahnya. Pisau yang di gunakan untuk menusuk Jessika baru saja menusuk perut dan dadanya.


Hingga tusukan ketiga membuat Wendra mulai merasa lemas. Dia tidak bisa bergerak ketika Dharma mulai menyeret tubuhnya menjauh.


Pandangan matanya juga perlahan mulai mengabur. Dan selanjutnya, terakhir kali yang Wendra bisa rasakan adalah tubuhnya yang tiba-tiba basah, terasa sangat sulit untuk dia bergerak, dan juga kesadarannya yang mulai menipis.


Napasnya juga semakin terasa berat, hingga lama kelamaan tubuhnya terseret ke bawah dengan air itu yang semakin menenggelamkannya.


Dharma tersenyum sinis, di tatapnya tubuh sang istri yang sudah tergeletak tak bernyawa di sana. Senyumnya semakin melebar ketika dia teringat, Wendra sempat menyentuh pipi itu sebelum dia menusuknya tadi.


Itu membuatnya sangat mudah menjadikan Wendra sebagai tersangka. Apalagi pisau yang di gunakan untuk menusuk Jessika tadi pun masih tertancap di dada pria itu dan sudah tenggelam juga hanyut bersamanya.


Dia? Dia akan tetap di sini untuk menjadi saksi kematian sang istri, dan juga kaburnya si pembunuh bernama Wendra itu.


"Ma ... hiks, Mama ...."


Sedangkan Janan yang berada di dalam mobil, sejak tadi berteriak tertahan dengan ponsel yang masih mengarah ke sana.


Anak itu bahkan beberapa kali memukuli kakinya. Kalau bukan karena kakinya yang sakit, dia bisa menolong ibunya dan ibunya tidak akan meninggalkannya seperti ini.


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


Jakarta, 2018.


Duk


Suara benda terjatuh baru saja membuat ketiga orang yang berada di ruang keluarga itu menoleh ke sumber suara.


Janan membulatkan matanya ketika melihat sang adik sudah menangis dengan sekotak susu yang baru saja terjatuh ke lantai.


"Hiks, nggak ... Nggak!!!"


Jihan yang berdiri di belakang gadis itu dengan cepat menghampirinya, lalu memeluk Jia dari samping sambil menangis. Dia menaruh begitu saja kantong keresek hasil belanjaan mereka dari minimarket tadi.


"Mama! Hiks ... Nggak!! Tali ... hiks, mama ...."


Karena Jia sudah melihat video itu, karena Jia sudah melihat bagaimana sang ayah membunuh ibunya dengan ikat pinggang itu. Dia menjadi sangat trauma dengan apapun itu yang berbentuk tali dan mengikat.


Janan yang melihat itu merasa tidak tega. Karena dia juga, karena dia adik kecilnya melihat semuanya.


Sementara Jerga sudah berjalan mendekati kakaknya di sana, lelaki itu mengusap matanya kasar yang sudah sejak tadi terus mengeluarkan air mata.


Lalu Dharma, pria itu masih terdiam dengan dadanya yang mulai terasa sakit setelah beberapa puluh menit yang lalu, saat kedua anak lelakinya itu mendatanginya di ruang keluarga dan langsung menanyakan tentang video itu.


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...• To be continued •...


...ㅤㅤㅤㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...Silahkan barangkali ada yg mau di sampaikan untuk orang² terhebat di part ini dan orang terdakjal di part ini:'v...


...Ampun om Dharma^^...


...Boom komen setelah membaca yaa♡...

__ADS_1


__ADS_2