NANGGALA AKSHA

NANGGALA AKSHA
41. Aku Disini Untukmu


__ADS_3

Mendung sekali siang menjelang sore ini. Jia tengah duduk di kursi panjang yang terdapat di taman sekolah, matanya memandang kosong ke arah depan, dengan tangan yang menggenggam sebotol susu strawberry yang tadi di belinya.


Merasakan ada yang duduk di sampingnya, Jia hanya melirik dengan ekor matanya.


Seseorang yang baru saja duduk itu menatap gadis di sampingnya sekilas, sebelum matanya ikut memandang ke arah depan sambil menghembuskan napasnya lirih.


"Jia."


Tatapan Jia sedikit turun, dia mengenal suara milik siapa itu.


Ingin sekali pergi dari sini, tetapi sepertinya ada yang mau lelaki itu sampaikan. Karena tidak biasa juga dia seperti ini.


"Gue mau minta maaf."


"Buat semuanya."


Jia akhirnya menolehkan kepalanya dan menatap lelaki tersebut dengan tatapan yang sedikit marah.


Yunan yang di beri tatapan itu pun menunduk sejenak. Dia mengerti, dia sudah terlalu jahat untuk gadis itu. Tidak mudah dia akhirnya memberanikan diri seperti ini kepada Jia.


Egonya sangat besar, tetapi Yunan juga sadar akan kesalahan yang di perbuatanya hingga menjadikan gadis itu hancur.


Gadis yang di sayangnya. Tidak mudah dia mengakui kesalahannya dan meminta maaf seperti ini, baru pertama kalinya untuk Yunan.


Memang benar. Dia lelaki berengs*k dan sangat jahat. Kalau bukan karena Gasta, mungkin dia akan terus dengan egonya dan juga perasaan menyesal yang sudah sejak dulu di tahannya terus menghantuinya.


"Gue emang cowok berengs"k. Bajing*n. Gue ngelukain sendiri orang yang gue sayang."


Yunan mengangkat kepalanya lagi dan menatap gadis itu sayu.


"Lo. Orang yang gue sayang. Gue suka sama lo sejak kita sekelas di kelas satu dulu." Kekehnya kecil dan mulai menundukkan kepalanya lagi.


Jia yang mendengar itu tentu saja melebarkan kedua bola matanya tidak percaya menatap si pembicara.


Apa maksud lelaki itu? Dia menyukainya? Sudah sejak lama?


"Gue nggak suka lo deket sama Maldev. Sepupu gue sendiri."


"Tapi nggak gini caranya ..." Lirih Jia menahan untuk tidak meneriaki lelaki itu.


"Gue tahu. Gue tahu gue salah. Maafin gue, Jia ... Maafin gue."


Mata Jia mulai memanas sambil menatap Yunan masih marah. Lelaki itu mengingatkannya dengan kejadian dulu, serta mengingatkannya ketika dirinya di bully bersama Nanggala.


"Kalo lo ngerasa bersalah dan mau minta maaf, minta maaf sama Nanggala, dan lebih bersalah lah sama dia."


Suaranya mulai bergetar.


"Dia yang lebih lo sakitin, dia yang lebih nerima semuanya, dia yang selalu diem dan nggak pernah bales apa yang lo lakuin sama dia."


"Seharusnya lo ngucapin kata-kata tadi buat Nanggala, bukan buat gue. Dia yang lebih sakit, Yunan."


Yunan masih terdiam mendengar rentetan ucapan Jia dengan suara bergetarnya. Tubuhnya terasa berat untuk mencekal lengan gadis itu yang sudah mulai beranjak pergi dari sini.


Lelaki itu memandang sayu punggung Jia yang kian menjauh.


"Maafin gue ... Gue emang jahat. Tapi gue udah dapet karmanya." bibirnya tersenyum tipis.


"Gue udah dapet karma, keadaan dan sakit mentalnya lo selama ini, itu karma buat gue."


"Iya, gue tersiksa, gue tersiksa ngeliat lo sakit kayak gitu. Dan yang bikin semua itu kacau adalah gue sendiri. Maafin gue, Jia."

__ADS_1


.......


.......


Sudah tiga hari, sudah tiga hari Nanggala belum juga membuka matanya. Tentu saja membuat semua orang benar-benar khawatir, terlebih ketiga orang itu.


Yewina, Jia dan juga Jerga.


Mereka sangat khawatir Nanggala belum sadar hingga hari ini. Yewina dengan setia menemani putranya setiap hari disini. Terkadang juga di temani oleh Thalia. Kalau Jerga dan Jia, malam mereka akan kesini karena tentu saja paginya harus sekolah.


"Bunda, Nanggala pasti nggak papa ..." ucap Jerga berusaha menenangkan wanita itu.


Kini keduanya tengah duduk di Cafe kopi yang berada di lantai tiga rumah sakit. Jerga yang tadi mengajak Yewina kesini untuk menyegarkan diri, karena dia tahu wanita itu jarang tertidur ketika menemani Nanggala.


Mereka meninggalkan Jia di dalam ruang rawat Nanggala hanya berdua, dan akan membawakannya cake strawberry kesukaan gadis itu nanti saat kembali.


Yewina meremas jari-jarinya yang dia letakan di atas pahanya dan tertutup oleh meja, sehingga Jerga-pun tidak akan melihatnya. Karena perasaannya saat ini benar-benar takut, cemas dan juga sangat khawatir.


"Tapi, Jer ... Kata dokter—" Yewina menghembuskan napasnya panjang, terlalu sesak untuk mengatakan itu.


"Pasti sembuh. Nanggala pasti sembuh, Bunda. Dia anak yang kuat." Senyum lembut Jerga dia perlihatkan untuk meyakinkan wanita itu lagi.


Yewina menatap anak itu sendu, "Jerga juga tahu kan kalau Nanggala punya penyakit?" lirihnya menunduk.


Dia yang mendengar kata-kata itu keluar dari bibir Yewina-pun mengernyit bingung.


Nanggala sakit? Lelaki itu terlihat biasa saja selama ini. Dia tidak sakit akibat pukulan-pukulan yang sering dia terima di tubuhnya bukan?


"Nanggala ... sakit apa Bunda?" tanyanya.


Wanita itu kembali mengangkat kepalanya dan tersenyum tipis ke arah Jerga, pandangannya sejak tadi sudah mengabur.


"Cluster headache."


Penjelasan Yewina baru saja membuat Jerga tercekat. Dirinya mengingat sesuatu, pernah suatu malam saat dia sedang bersama Nanggala, lelaki itu mengatakan jika kepalanya sakit, kemudian berpamitan untuk pulang kepadanya.


Jerga juga tidak sekali dua kali mendapati luka sobek yang sudah mengering di kening atau pelipis lelaki itu.


Jadi ini?


Kenapa Nanggala, ah ... kenapa lelaki itu tidak pernah memberi tahunya?


"Dan sekarang apa ...? Pembengkakan otak?" Yewina menundukkan kepalanya lagi dan mulai terisak.


"Segitu beratnya kah penyakit yang harus datang ke hidup Nangga? Dia masih anak kecil ... Anak kecilnya Bunda ...."


"Bunda nggak kuat Jerga ... Bunda nggak tega, Bunda nggak mau kehilangan orang yang berharga lagi di kehidupan Bunda ..." lanjutnya mendongakkan kepala dengan pipi yang sudah basah oleh air mata.


Mata Jerga-pun mulai buram, tangannya juga terkepal kuat. Sesak sekali yang dia rasakan mendengar semua itu, pun dengan rahangnya yang mulai mengeras.


Nanggala ... Kenapa sahabatnya serapuh ini?


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...───• ~⸙ᰰ~ •───...


Di ruangan ini, hanya tersisa Jia dan Nanggala. Dengan si gadis yang sejak tadi terus memandangi wajah si lelaki dengan senyuman tipisnya.


Tangannya Jia gerakan untuk menautkannya dengan jari-jari milik lelaki itu, mengelusnya lembut luka gores yang masih ada di sana.


"Na ... Jia kangen."

__ADS_1


"Aku kangen banget sama kamu. Kamu kapan bangun ....?"


Perlahan Jia meletakkan kepalanya di samping tubuh Nanggala. Kepalanya dia miringkan, berdekatan dengan tangan lelaki itu yang saling bertaut dengannya, lalu mengelusnya lagi sambil memandanginya.


"Na ... Makasih."


"Makasih udah sama Jia, udah ada buat Jia ...."


"Makasih udah nemenin Jia, di samping Jia sampai sekarang ..." suaranya mulai bergetar dengan air mata yang mulai mengalir di posisi miringnya ini.


Gadis itu memejamkan matanya kuat sambil mengulum bibirnya agar suara isakannya tidak sampai terdengar. Meskipun dia tahu, Nanggala juga tidak akan mendengarnya.


Dia membiarkan air matanya terus turun dan membasahi sprei putih brankar lelaki itu, bahunya naik turun menahan tangisnya yang benar-benar ingin ia keluarkan.


"Na, hiks ... Aku sayang kamu, hiks aku sayang Nala ..." isaknya kecil.


Biar bagaimanapun, sesak yang Jia tahan sejak tadi jika tidak di keluarkan seperti ini, akan membuat dadanya semakin sakit. Jia tidak kuat.


Kenapa sosok Nanggala yang sangat baik harus seperti ini? Kenapa sosok baik seperti lelaki itu harus semenderita ini ....


"Hiks, Na ...."


Jia masih menangis seorang diri, dia menarik tangan Nanggala yang dia genggam dan di letakan di pipinya. Dia sangat rindu usapan lembut dari tangan lelaki itu.


Dia pun rindu kata-kata lelaki itu yang selalu menenangkannya jika dia sedang bersedih atau menangis seperti ini


"Jangan nangis, Nala jadi sedih"


Ah , benar-benar rindu.


Hingga beberapa detik kemudian mata yang tadi Jia pejamkan itu terbuka perlahan, ketika merasakan tangan yang berada di atas pipinya itu bergerak. Jari itu bergerak. Air matanya otomatis langsung mengalir ketika baru saja dia membuka kedua matanya.


Badannya Jia tegakkan pelan-pelan, masih menatap tangan yang saling bertaut dengannya, kemudian beralih menatap mata lelaki itu yang juga mulai bergerak terbuka.


"Na ...."


Masih mengatur cahaya yang memasuki indera penglihatannya, bola mata Nanggala perlahan mulai melirik ke sumber suara yang tadi memanggilnya lirih. Lelaki itu menatap gadis yang masih diam dan berekspresi tidak percaya.


Nanggala mengedipkan kedua matanya pelan seolah memberitahu gadis itu jika dia tadi mendengarnya memanggil namanya. Senyuman tipis juga tersungging di bibir manis itu.


Jia sungguh tidak bisa menyembunyikan bahagianya saat ini. Tubuhnya dia condongkan lagi ke depan untuk bisa melihat dengan jelas mata itu. Mata yang selama tiga hari ini dia rindukan. 


Dia senang, senyuman itu kini Nanggala tunjukan lagi kepadanya. Dia benar-benar merindukannya.


"Nala, hiks."


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...• To be continued •...


...ㅤㅤㅤㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...Asiik Nanggala udah bangunn~...

__ADS_1


...Mau happy end atau sad end nih??>.<...


...Like, + favorit dan komen setelah membaca yaa, terus dukung author♡...


__ADS_2