
Sepeda itu berhenti tepat di depan rumah yang tidak cukup besar di hadapannya, Nanggala menghembuskan napasnya panjang, dia kembali menatap kosong ke depan.
Sejak kemarin dan seharian ini Nanggala terus menahan rasa sesaknya, terus menahan sakitnya. Entah kenapa baru sampai di sini saja matanya sudah mulai memanas. Apalagi jika dia menatap langsung wajah itu?
Di letakannya sepedanya di dinding samping, lalu Nanggala mulai melangkahkan kakinya pelan ke arah pintu. Dia sejenak menatap pintu yang masih tertutup itu dengan sedih.
Hingga akhirnya dia memberanikan tangan gemetarnya untuk membukanya.
Sebenarnya juga bundanya sudah memerintahkannya untuk tinggal bersama disini, tetapi rasanya dia masih belum bisa. Sakit di kepalanya masih sering kambuh di malam hari, dan dia tidak ingin membuat bundanya khawatir dengan suara benturan-benturan di tembok yang di ciptakannya.
"Bunda?"
Suara Nanggala mulai tercekat memanggil nama itu. Langkahnya pelan menyusuri rumah untuk mencari sosok bundanya.
Hingga kakinya berhenti di ruang tv dan melihat bundanya di sana tengah menunduk sambil memeluk sesuatu.
"Bunda ...."
Wanita itu mendongak dan tersenyum lembut melihat kehadiran anak lelakinya, dia lalu menggerakkan tangannya guna menyuruh anak itu untuk duduk di sampingnya.
Nanggala mendekat, dia mendudukkan diri di samping wanita itu. Tetapi ada yang aneh, wajah sang bunda seperti tengah menahan sesuatu.
"Bun ....?"
Mata Nanggala mengarah ke benda yang sejak tadi di peluk bundanya, dan seketika hatinya kembali sakit lagi melihat benda itu. Bingkai foto keluarganya yang mana masih ada sang ayah di sana.
"Bunda nggak papa ..." senyum Yewina tersungging sambil tangannya mengelus rambut putranya.
"Bunda ... tau?"
Yewina tersenyum mengulum bibirnya, wanita itu kembali menatap foto keluarganya yang tengah menunjukkan ekspresi tersenyum lebar menghadap kamera.
"Tadi ada anak laki-laki yang dateng ke sini. Dia bilang, dia sahabat kamu. Gantengnya mirip banget sama anak Bunda ini." Kekeh Yewina kecil mengelus pipi anaknya.
Tetapi Nanggala tahu, bundanya sejak tadi pasti sudah menahan tangisnya juga.
"Jerga, 'kan?"
Yewina terdiam.
"Anaknya om Dharma."
"Orang yang bunuh ayah."
Yewina mengalihkan pandangannya lagi dan mengulum bibirnya. Dia lupa dengan wajah Jerga yang sekarang ini. Dia memang pernah melihat Jerga saat kedua anak itu bersahabat dulu. Ya, Nanggala dan Jerga. Hanya sekadar tahu dan tidak terlalu mengenalnya, apalagi mengenal sebagai anak Dharma. Tidak.
Jerga sangat tertutup.
Yewina terlihat memegangi dadanya, dan itu membuat Nanggala langsung menggenggam lembut tangannya.
"Jangan pernah bilang nggak papa kalo yang di rasakan Bunda bertolak belakang dengan itu ... Kalo yang di rasakan bunda terus sakit dan sakit." Lirihnya dan membuat Yewina menatap ke arahnya lagi dengan mata yang sudah berair.
"Nangga disini ... Nangga disini buat Bunda ... Selalu disini sama Bunda. Nangga udah janji sama ayah buat jagain Bunda, meskipun Nangga nggak ngomong langsung sama ayah. Tapi Nangga yakin ayah pasti denger, Bun ...."
Yewina sudah tidak bisa menahannya, wanita itu dengan cepat menarik tubuh putranya ke dalam pelukannya. Memeluk tubuh itu erat.
Pun dengan Nanggala, lelaki itu yang sejak kemarin menahan sesak di dadanya, menahan agar tidak mengeluarkan tangisnya, kini dia mengeluarkan semuanya di dalam pelukan sang bunda.
Yewina sangat sakit, dia sangat sakit mendengar tangisan Nanggala. Bahu anak itu bergetar, suara tangisnya teredam di pelukannya.
"Maafin Bunda, sayang ... hiks, maafin Bunda ...."
Yewina terisak sambil beberapa kali mengecupi puncak kepala Nanggala. Wanita itu sangat merasa bersalah. Secara tidak langsung, semua ini terjadi karenanya.
Jika saja dia dulu tidak pernah berurusan dengan pria bernama Dharma Abhicandra itu, mungkin semuanya tidak akan seperti ini. Keluarganya tidak akan merasa sakit seperti ini.
Tetapi dia tidak akan menyalahkan takdir. Biar bagaimanapun, Dharma dulu juga sempat menjadi pria yang di cintainya. Sebelum rasa itu perlahan memudar ketika pria itu mulai berlaku kasar kepadanya.
Nanggala masih menangis di pelukan itu, dengan Yewina yang sejak tadi mengusap punggung anak itu lembut.
"Akh ...."
Melepaskan pelukan itu sejenak, Yewina menatap khawatir Nanggala yang kini sudah meringis sambil memegangi kepalanya.
Anak itu seperti tengah kesakitan.
"Nangga kamu kenapa??"
Yang di panggil masih memejamkan matanya dengan kedua tangan yang mulai menariki rambunya sendiri. Tentu saja membuat Yewina semakin khawatir melihatnya.
Kedua tangannya memegang pipi itu, "kamu kenapa?? Jawab Bunda, sayang ...."
Raut wajah Yewina semakin khawatir kala tidak mendapat jawaban dari Nanggala, yang kini semakin menarik rambutnya keras dan mengerang tertahan.
"Jawab Bunda ...."
"Arghh, hiks sakit Bunda!!"
Yewina ikut merasa sakit ketika melihat air yang keluar dari ujung mata Nanggala. Pasti ... itu sangat sakit. Dia sampai kebingungan sendiri harus bagaimana.
Sedangkan Nanggala, kini ketakutannya terjadi juga. Sang bunda melihatnya dalam kondisi seperti ini. Sang bunda melihat sakitnya kambuh seperti ini.
Tetapi kesenangan Nanggala-pun terjadi juga. Disaat dia sakit seperti ini, sudah ada sosok bundanya yang memeluknya sambil menenangkannya.
Jujur, di samping rasa sakit yang luar biasa ini, ada rasa senang juga karena kehadiran sang bunda.
"Kamu sakit apa, sayang ... Bilang sama Bunda." isak Yewina membalas pelukan putranya yang baru saja memeluknya lagi.
Anak itu masih terdiam, tetapi masih sesekali meringis menahan sakit di kepalanya.
"Sakit, Bun ... Hiks ."
Nanggala meremas kuat baju belakang Yewina.
"Cluster headache ..." lirihnya sedikit purau.
Baru pertama kali ini Nanggala memberitahu penyakitnya kepada orang lain.
Ah, bukan orang lain.
Seseorang yang di peluknya erat ini adalah bundanya. Sosok bunda paling baik dan paling kuat yang pernah hadir di hidupnya.
Sosok malaikat tak bersayapnya.
"Nak ...?"
Mata Yewina membulat terkejut. Dia tentu saja tahu penyakit apa itu. Matanya kembali memanas dengan hati yang semakin sakit mendengar pengakuan anaknya beberapa detik lalu itu.
Nanggala menggeleng pelan, "Nangga cuma butuh Bunda disini."
"Jangan pernah pergi dari Nangga lagi, Bun ...."
Yewina mengusap matanya dan mencoba tersenyum meskipun Nanggala tak melihat itu.
"Enggak, sayang. Bunda nggak akan pergi lagi. Bunda punya malaikat Bunda di sini. Bunda nggak akan pergi dari kebahagiaan Bunda. Maafin Bunda sekali lagi ...."
.......
.......
.......
Jam kini sudah menunjukkan pukul 10 malam. Nanggala baru saja pulang dari rumah Yewina, dan kini tengah menyusuri jalanan pulang sambil menaiki sepedanya.
Tadi Yewina menyuruh putranya itu untuk menginap saja, apalagi setelah Nanggala sakitnya kambuh seperti itu. Tetapi Nanggala menjawabnya lain kali lagi, ada tugas sekolah yang belum di selesaikannya di rumah.
Hujan juga baru saja reda. Setelah beberapa menit Nanggala di rumah Yewina tadi memang turun hujan, dan ini baru reda. Maka dari itu dia juga baru pulang.
Anginnya sangat dingin malam ini, sangat menusuk di kulitnya meskipun tubuhnya di balut dengan sweater berwarna soft blue-nya.
Kring!
"Selamat datang!"
Nanggala tersenyum mendekat ke arah meja kasir, membuat seseorang yang berdiri di balik meja itu langsung tersenyum senang.
"Nanggala?!!"
__ADS_1
Seseorang itu dengan cepat berlari ke arahnya dan memeluk tubuhnya erat, membuatnya sedikit meringis karena pelukan tiba-tiba itu.
"Ya ampunn lama bangett?? Kak Sayas kangen banget sama kamuu!"
Nanggala hanya terkekeh di sana, hingga perempuan itu melepaskan pelukannya. Mungkin pelukan kerinduan.
"Ihh, udah lama banget nggak main kesini?? Kak Sayas kangen tauu." Ungkapnya dengan wajah cemberut.
"Iyaa, Kak. Ini kan Nanggala disini." Kekehnya lagi.
Sayas tersenyum lagi, dia merapikan puncak rambut anak itu sayang seperti adiknya sendiri, "kamu udah makan?"
"Sudah Kak tadi." Balas Nanggala dengan senyuman tak kalah manis.
"Humm, baguss."
Mereka saling tersenyum bersamaan, hingga pandangan Nanggala teralihkan kepada seseorang yang baru saja meletakan sekaleng minuman di meja kasir.
Mata mereka bertemu, dan Nanggala perlahan melunturkan senyumannya dengan seseorang di sana yang kini menatapnya sayu.
Sayas yang tersadar dengan tatapan Nanggala-pun ikut menoleh.
"Bentar ya, Nanggala?"
Anak itu mengangguk dan tersenyum tipis ketika Sayas kini sudah berlari menuju ke belakang meja kasir lagi.
Menatap seseorang itu lagi, Nanggala menghembuskan napasnya panjang. Tadi niatnya dia kesini adalah untuk membeli sesuatu, tetapi sekarang rasanya sudah tidak ingin.
"Kak?" panggilnya kepada Sayas, "Nanggala pulang dulu, ya?"
Raut wajah Sayas seketika berubah lagi, "yaaah, padahal Kakak masih kangen kamu ... Yaudah deh, kamu hati-hati oke?"
"Siap, Kak. Besok-besok Nanggala main kesini lagi kok." Jawabnya tersenyum manis.
Pandangan mata Nanggala sempat bertemu lagi dengan seseorang itu, yang masih saja menatapnya sayu seperti awal mata mereka bertemu.
Jerga, sungguh tatapannya tidak seperti dulu. Tidak dingin dan sinis seperti biasanya.
Keluar dari minimarket, Nanggala menuntun sepedanya lagi untuk pulang ke kost-nya. Kali ini, dia akan menuntunnya saja. Kost-nya juga tidak sejauh itu.
Di jalanan sepi ini, langkah kakinya sampai terdengar di telinganya. Benar-benar sepi. Seperti biasa, Nanggala lebih suka pulang melewati jalanan taman atau sungai dari pada lewat jalanan kota. Meskipun ya memang sepi, tetapi nyaman saja.
Hingga sepertinya suara langkah kaki lain dapat di dengar Nanggala dari sini. Suara itu berasal dari belakangnya dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Dia membalikan setengah tubuhnya untuk menatap seseorang yang berjalan di belakangnya, yang hanya berjarak sekitar lima meter darinya berdiri.
Menghembuskan napasnya lirih, Nanggala terus berjalan tanpa memperdulikan itu.
Cukup lama Nanggala melangkah, dan sepanjang itu juga seseorang di belakang sana terus mengikuti langkahnya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Na."
Tidak memperdulikannya. Nanggala terus melangkahkan kakinya ke depan.
Jerga menatap punggung itu sayu dari belakang. Hatinya terasa sesak, beberapa kali dia menundukkan kepalanya lalu berjalan lagi mengikuti lelaki di depannya.
"Na ...."
Seperti menulikan pendengarannya, Nanggala tidak memperdulikan panggilan lirih Jerga di belakang sana.
Tetapi itu semua tidak membuat Jerga menyerah begitu saja karena di abaikan Nanggala, lelaki itu tetap mengikuti langkah yang di rasanya semakin lama semakin cepat.
Jerga meringis ketika kakinya semakin sakit untuk di gerakan dan berjalan terlalu lama. Lelaki itu sejenak berhenti untuk memegangi kaki kanannya, pandangannya ke depan lagi, lalu melanjutkan langkahnya mengikuti Nanggala.
"Ash."
Suara itu membuat Nanggala memberhentikan langkahnya, dia menghembuskan napasnya panjang dan membalikan tubuhnya ke belakang lagi.
Di lihatnya di sana, Jerga sudah jatuh setengah terduduk dengan wajah yang meringis. Lelaki itu mendongakkan wajahnya dan bertatap mata lagi dengannya.
Jerga menatap Nanggala sendu, sesekali menatap kakinya yang dia rasa sangat sakit sekarang ini.
Akhirnya dia pasrah. Nanggala pasti tidak akan peduli kepadanya lagi. Lelaki itu pasti akan terus berjalan meninggalkannya meskipun dia berteriak sekalipun. Memang, kesalahan keluarganya sudah tidak bisa di maafkan lagi. Kesalahan ayahnya tidak bisa di maafkan lagi.
Jerga mengangkat kepalanya ketika melihat sebuah telapak tangan berada tepat di depan matanya. Dia pun mengangkat kepalanya pelan hingga bertemu lagi dengan mata itu.
"Ayo bangun."
Suara Nanggala begitu lembut di telinga Jerga. Tanpa sadar lelaki itu ingin menangis saat ini juga.
Langkahnya sedikit tertatih karena kakinya, dan Nanggala dengan setia membantu lelaki itu sampai duduk.
"Kaki lo—"
Mata Nanggala sedikit membulat menatap lelaki di sampingnya. Karena kaki Jerga sekarang ini ... luka. Celananya bahkan robek di bagian luka itu.
Ada darah di sana.
Tidak mungkin hanya karena tadi kan?
"Gue nggak papa." Senyum Jerga lembut kepada lelaki itu.
"Baju lo juga kotor ... Lo kenapa, Jer?" tanya Nanggala yang memang mendapati beberapa bagian pakaian itu sedikit kotor.
Seingatnya, saat mereka bertemu di minimarket tadi, Jerga belum seperti ini.
"Gue nggak liat aja tadi ada mobil." Jawabnya mengulum bibirnya sambil setengah menunduk.
Nanggala menghembuskan napasnya berat dan menatap lelaki di sampingnya sendu. Jerga seperti ini karena mengikutinya? Jerga seperti ini karena mengejarnya?
Kepala Jerga mendongak lagi lalu menatap sedih ke arah Nanggala.
"Maafin gue ...."
"Maafin gue, Na ..." ulang Jerga dengan suara purau.
Raut wajah Jerga sudah seperti ingin menangis. Nanggala bisa melihat mata lelaki itu mulai memerah dan berair sambil menatapnya.
Nanggala masih belum menjawabnya, lelaki itu menatap Jerga diam. Namun selanjutnya, kedua sudut bibir itu tertarik membentuk sebuah senyuman.
Tangan Nanggala terulur merapikan pakaian Jerga yang memang sedikit berantakan. Lalu rambut itu, dan juga menepuk pelan di beberapa bagian jaketnya yang sedikit kotor.
Hal itu tentu saja membuat Jerga tertegun melihatnya.
"Nggak mungkin gue bisa marah sama lo, Jer."
Mata Nanggala yang sedari tadi mengikuti pergerakan tangannya merapikan pakaian Jerga, kini menatap si empu dengan senyuman lembut.
"Maafin gue juga."
"Maafin gue buat diemin lo. Gue cuma ... Gue cuma masih nggak nyangka. Gue terlalu sakit ... Gue masih nggak terima dengan semuanya. Tapi itu udah terjadi, nggak ada yang bisa ngembaliin semuanya ...."
Jerga mengusap matanya kasar, dia mulai sesak lagi mengingat kejadian itu.
"Maafin papa gue, Na ... Dia udah keterlaluan. Gue juga nggak nyangka papa bakal ngelakuin hal itu."
Pandangan Nanggala mengarah ke depan, lelaki itu tersenyum tipis.
"Mungkin masih berat bagi gue, bagi bunda gue. Tapi yang pasti," kepalanya menoleh kepada Jerga lagi dan tersenyum, "gue nggak pernah marah sama lo."
"Kalian. Gue nggak pernah marah sama lo dan Jia."
Baiklah, air mata Jerga keluar lagi mendengar itu. Ah, kenapa dia sangat cengeng seperti ini? Biasanya juga dia dingin, cuek, menatap orang lain dengan tatapan tajam dan dinginnya.
Kenapa sekarang malah menangis di depan Nanggala ... Jerga sungguh tidak menginginkan itu. Tetapi memang rasanya terlalu sakit.
"Gue minta maaf buat yang dulu. Dan buat yang sekarang." Senyum tulus Nanggala benar-benar membuat Jerga semakin merasa bersalah.
"Dulu, gue nggak pernah bermaksud nggak ngangkat telepon lo ... Gue nggak pernah bermaksud ninggalin lo. Tapi ini yang gue rasain, Jer ...."
Jerga masih setia menatap Nanggala dengan tatapan sendunya. Tangannya terangkat untuk mengusap lagi matanya yang berair.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Bandung, 2014.
Jerga tersenyum sambil menuruni anak tangga rumahnya. Lelaki itu baru saja melakukan video call dengan kembarannya yang berada di Kanada. Rasanya dia sangat merindukan kembaran manisnya itu.
Kakinya melangkah menuju dapur dan berniat ingin membuat minuman hangat, karena di rasa sekarang udaranya sangat dingin. Meskipun AC di rumahnya juga sudah beberapa di matikan.
__ADS_1
"Mama kemana, Bi?" tanya Jerga yang mendapati pembantu rumahnya juga tengah berada di dapur.
"Tadi katanya mau keluar sebentar. Jerga mau buat minum? Bibi saja yang buatkan, ya?" jawab dan tanya bibi kemudian dengan ramah.
"Oke, boleh deh. Teh hangat ya, Bi." Balas Jerga dengan senyum manisnya.
Matanya kini melirik ke ruang tengahnya yang dapat terlihat dari sini.
"Papa belum pulang juga jemput kak Janan?"
"Iya, belum juga."
Jerga hanya mengangguk menanggapinya. Kemudian tak lama dia menerima mug pemberian bibi, berisi teh hangat yang sudah selesai di buat wanita itu tadi.
Langkah kaki Jerga menuju ke depan, ke ruang tamu, di lihat kakak perempuannya di sana seperti tengah menerima telepon.
Tidak lama, Jihan terlihat membalikan tubuhnya dan berjalan melewatinya. Wajahnya begitu datar, tetapi seperti tengah menahan sesuatu. Jerga bisa melihat telepon rumahnya di sana belum di letakan ke posisi semula oleh sang kakak.
"Halo?"
Belum ada jawaban di sana, hanya suara berisik yang membuat Jerga bingung.
"Jerga?"
"Papa?"
Ayahnya yang menelepon.
"Jerga dengerin papa. Dengerin papa ...."
Suara ayahnya begitu lirih di sana, namun Jerga bisa menangkap suara sirine ambulance dan suara berisik lainnya.
Membuat lelaki itu semakin bingung.
"Mama meninggal ...."
"Mama meninggal, mama di bunuh orang ... Dengerin papa, jangan ngelakuin hal yang nggak-nggak, Jer—"
Deg
Gagang telepon itu terlepas begitu saja dari genggaman tangan Jerga. Tubuh anak itu mematung di tempat setelah mendengar apa yang di katakan ayahnya beberapa detik yang lalu.
Ibunya ... meninggal ....?
Tidak mungkin kan? Itu semua salah kan?
Mata Jerga kini sudah mengabur, napasnya tercekat, mug yang sejak tadi di genggamnya juga jatuh begitu saja ke lantai dan beruntung tidak mengenai kakinya. Lelaki itu berjalan cepat dan menaiki anak tangga, membuka pintu kamarnya dan menutupnya lagi dengan kencang. Dia kemudian duduk di pinggiran ranjangnya. Tubuhnya begitu lemas, ingin sekali rasanya berteriak sekarang juga.
Ibunya, beberapa jam lalu masih bercanda dengannya. Beberapa jam lalu masih mengusap lembut rambutnya. Masih mencium hangat keningnya. Dan sekarang ... dia sudah tidak bisa merasakan itu lagi?
Semua itu menjadi yang terakhir kalinya dilakukan ibunya kepadanya.
"Mama ... Hiks, mama ...." isak Jerga memegangi dadanya yang terasa begitu sakit.
Kemudian tangannya dengan cepat meraih ponselnya yang terletak di atas ranjangnya. Setelah menemukan kontak yang di cari, lelaki itu langsung menempelkannya di telinganya.
"Angkat, Na ...."
Beberapa kali dia menelepon, tetapi tidak satu pun yang sahabatnya itu angkat.
"Lo kemana ... Angkat Na, please ... hiks ...."
Jerga menundukkan kepalanya dan seketika itu juga air mata yang sejak tadi di tahannya tumpah begitu saja.
Namun lelaki itu masih berusaha menelepon sahabatnya, berharap seseorang yang dia butuhkan itu cepat mengangkat telepon darinya.
"Nanggala angkat ...."
"Arghhh!!"
"Gue benci ... Lo dimana, Na ... Lo ninggalin gue ... Gue benci lo, hiks ...."
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
...───• ~⸙ᰰ~ •───...
Anak yang memakai kaos putih itu sejak tadi berdiri sambil memeluk pintu di sampingnya, dia menatap sang bunda yang tengah menangis di sana.
Dia pun sudah ingin mengeluarkan air matanya sejak tadi.
Usapan lembut di bahunya membuat anak itu mendongak dan menatap sendu seseorang di sampingnya.
"Nek ... Ayah ...."
Wanita dengan wajah yang mulai keriput itu menatap sang cucu dengan matanya yang sudah sejak tadi memerah.
Tangannya mengusap wajah manis itu lembut, sambil berusaha menunjukan senyumnya, "anak manis ... Ayahmu tidak mungkin melakukan itu. Nangga percaya sama ayah, 'kan?"
Nanggala mengangguk cepat, anak itu pun matanya kembali mengabur karena air yang mulai menggenang lagi.
"Pergi peluk bundamu."
Mengangguk lagi, Nanggala melangkahkan kakinya mendekati wanita yang masih menangis di luar sana.
Mendudukkan dirinya di samping bundanya, Nanggala memeluk hangat sang bunda dan mulai menangis di dalam pelukan itu.
"Bunda ... hiks ...."
Yewina-pun bergerak membalas pelukan anak semata wayangnya, tangisnya semakin keras saat di pelukan itu. Dan membuat Nanggala yang mendengarnya sangatlah sesak.
"Nangga tau itu semua nggak bener ... Nangga tau ayah nggak mungkin ngelakuin itu, Bun ..." lirihnya di sana.
Pelukan Yewina semakin mengerat, "ayah belum di temukan ... hiks, ayah belum di temukan ...."
Keduanya saling memeluk dengan erat, menumpahkan tangis dan kesakitan satu sama lain di sana.
Nanggala benar-benar tidak tega mendengar erangan sang bunda seperti itu. Tidak ada yang di dengarnya saat ini selain suara tangisan bundanya.
Bahkan ponsel yang terus berdering di kamarnya itu. Suara ponsel itu juga tidak sampai di telinganya.
ㅤㅤㅤㅤ
Jakarta, 2018.
Jerga masih terisak di lengan Nanggala. Lelaki itu menyandarkan kepalanya di sana, menyandarkan keningnya pada lengan Nanggala, dia menumpahkan semua tangisnya di sana.
Nanggala tersenyum lembut, dia beberapa kali menepuk punggung Jerga untuk menenangkannya.
"Gue nggak pernah ninggalin lo ...."
"Gue nggak pernah ngehubungin lo sejak itu karena gue takut ... Gue takut lo bakal ngejauhin gue juga. Apalagi denger lo yang juga langsung pindah rumah."
Bibirnya tersenyum sendu.
"Kenapa orang dewasa nutupin itu semua dari kita? Kenapa orang dewasa nggak pernah kasih tau kita?"
"Gue nggak tau siapa yang ayah gue bunuh waktu itu. Dan lo juga nggak tau siapa yang bunuh mama lo waktu itu ...."
Nanggala menghembuskan napasnya yang terasa sulit, kemudian dia tersenyum lagi dengan begitu hangat.
"Gue nggak pernah ninggalin lo, Jer ...."
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...• To be continued •...
...ㅤㅤㅤㅤ...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...Avvv mewek...
__ADS_1
...Nge-feel ngga?:"...
...Boom komen setelah membaca yaa. Vote komen tambah favorit♡...