
Berjalan seorang diri di jalanan sepi ini, jalanan taman, Jerga menghembuskan napasnya berat. Lelaki itu baru saja turun dari motornya yang dia parkir kan tak jauh, dengan tubuhnya yang kini berjalan mendekati kursi panjang yang terletak di pinggir jalan. Mendudukkan tubuhnya di sana, dia kembali menghela napas. Matanya kosong menatap ke bawah. Tangannya terkepal namun gemetar.
Tak terasa air matanya menetes membasahi celana sekolahnya. Jerga belum sama sekali berganti baju sejak tadi. Dia yang pulang langsung ke tempat Nanggala, dan pulang dari sana juga tidak sempat berganti karena ada pertengkaran seperti tadi. Lalu, dia kembali lagi ke kost Nanggala setelah mengetahui kenyataan yang begitu menyakitkan untuknya.
Tangannya mengusap air matanya kasar, Jerga mengatur napasnya setelah di rasa dadanya begitu sesak.
"Ma ..." lirihnya tercekat.
"Hiks ...."
Jerga benar-benar menangis sekarang, bahunya bergetar. Lelaki itu sudah menahannya sejak tadi. Menahannya dari rumah, sampai di kost Nanggala, lalu sekarang baru bisa menumpahkan semuanya.
Di jalanan yang sepi ini, hanya terdengar suara isakan Jerga yang begitu menyakitkan. Kedua kalinya dia menangis seperti ini lagi setelah kematian sang ibu empat tahun yang lalu.
Jerga masih tidak menyangka. Lelaki itu sungguh tidak menyangka kalau ayah Nanggala, yang membunuh ibunya. Benarkah ....?
Dia yang saat itu masih duduk di bangku SMP, memang tidak di perbolehkan tahu. Keluarganya tidak ada yang memberitahunya, siapa sosok yang membunuh ibunya dulu. Apalagi yang memang Jerga tidak begitu dekat dengan ayah dan kedua kakaknya sejak dulu.
Sedangkan kembarannya, Jia, gadis itu yang tengah berada di Kanada bersama neneknya. Gadis itu baru pulang setelah mendengar kabar sang ibu meninggal dunia.
Hidup Jerga benar-benar kacau setelah itu. Hidup kedua anak kembar itu kacau setelah ibu mereka meninggal. Karena ya ... seseorang yang menyayangi mereka hanyalah sang ibu.
Namun, mereka harus di tinggalkan sosok ibu secepat itu.
Tangan Jerga terkepal lagi dan mulai meredakan isakannya.
Kenapa harus Nanggala?
Kenapa harus lelaki itu lagi yang membuatnya benci? Yang bahkan mereka baru berbaikan beberapa hari yang lalu. Hatinya sesak mengingat itu.
Tatapan Jerga benar-benar tajam menatap ke depan, rahangnya mengeras lagi.
"Ma ... Jerga nggak akan pernah maafin orang yang buat Jerga kehilangan mama. Bahkan keluarganya sekalipun."
.......
.......
.......
Berangkat sekolah, Nanggala berangkat seorang diri. Tadi lelaki itu sudah datang pagi-pagi sekali untuk menjemput Jia. Namun yang ada di rumah hanyalah bibi. Katanya, Jia sudah berangkat sekolah bersama Jerga. Hingga dia akhirnya harus berangkat seorang diri ke sekolah.
Dalam perjalanan, Nanggala terus memikirkan kejadian yang kemarin. Tentang Jerga yang datang ke kost-nya lagi dan langsung menghajarnya, karena lelaki itu tahu ayahnya membunuh ibunya.
Dan satu orang lagi yang ada di pikirannya saat ini. Jiara.
Nanggala takut. Dia takut kalau gadis itu juga akan ikut membencinya.
Beberapa hari ini Jia yang dia lihat sedikit-sedikit ada perubahan. Tidak terlalu penakut, sering berbicara dengannya ataupun orang lain, dan hal lain lagi yang membuatnya begitu senang.
Meskipun tak jarang memang masih takut dengan orang asing. Namun tidak apa-apa, Nanggala akan terus membantu gadis itu melewatinya, menghilangkan traumanya, dan membuatnya sembuh.
Tetapi kalau sudah seperti ini, tidak tahu juga Jerga akan membiarkan dirinya dekat dengan Jia lagi atau tidak.
Itulah alasan Dharma memintanya bekerja untuk pria itu. Memintanya bekerja menjaga anaknya yang terkena gangguan mental. Katanya, hal itu untuk menebus kesalahan ayahnya yang telah membunuh istrinya empat tahun lalu.
Maka dari itu dulu Nanggala sangatlah bingung, sangat kacau. Bingung untuk menerima itu atau tidak. Tetapi karena Dharma berjanji akan membiayainya sekolah akhirnya dia pasrah dan menerima.
Sudah Nanggala katakan, sebenarnya dia tidak ingin bersekolah dengan cara seperti ini. Tetapi itu semua untuk menebus kesalahan ayahnya. Katanya. Meskipun dia masih sangat yakin bahwa ayahnya tidak mungkin melakukannya.
Kini, Nanggala sudah sampai di sekolah, lelaki itu berjalan seorang diri di koridor yang memang sudah lumayan ramai ini. Ramai akan murid yang beberapa menatapnya dengan tatapan aneh.
Ya, bekas luka kemarin memang masih beberapa ada yang membekas di sekitar wajahnya. Pantas saja hal itu mengundang perhatian orang-orang yang melihatnya.
Namun Nanggala tetap mengabaikannya, lelaki itu terus berjalan untuk sampai di kelasnya, meskipun tubuhnya terkadang ada yang masih nyeri bila di gerakan.
"Nanggala? Udah sembuh? Loh, wajah kamu kenapa?"
Suara itu membuat yang di panggil dan di beri pertanyaan pun menolehkan kepalanya ke arah samping, menatap seseorang yang baru saja sampai di sampingnya itu.
"Ah, tidak apa-apa, Pak. Hanya jatuh dari sepeda." Senyumnya manis.
Shandy tidak bodoh untuk menganggap luka-luka itu hanya sekadar jatuh dari sepeda. Tidak, tidak mungkin.
Kemarin memang pria itu mendapat telepon dari Thalia selaku wali Nanggala, wanita itu memberitahunya jika Nanggala tidak berangkat karena sakit.
"Yasudah, minggu ini kamu nggak usah ngajar Cleo sama Alji dulu, ya? Kamu harus istirahat." Kata Shandy lembut menepuk pelan bahu anak itu.
"Tapi, Pak—"
"Saya nggak menerima penolakan. Oke, sampai ketemu di kelas saya."
Nanggala hanya menatap sendu punggung sang wali kelas yang semakin menjauhinya. Lelaki itu menghela napasnya panjang, lalu melanjutkan langkahnya untuk menuju kelas.
Dia berjalan pelan memasuki kelas, dan ternyata sudah banyak anak juga yang berangkat. Sebelum melanjutkan langkahnya, lelaki itu menatap gadis yang duduk di bangku tepat di sampingnya itu.
Mata mereka bertemu, Nanggala menatapnya sayu. Namun yang membuat lelaki itu sesak adalah, Jia menundukkan kepalanya setelah berkontak mata dengannya.
Gadis itu menghindari tatapan matanya.
Nanggala ikut menundukkan kepalanya sedikit, hal itu membuat Rasen yang memang duduk di bangku paling depan menatap bingung.
Menghela napasnya panjang, Nanggala melanjutkan langkahnya untuk duduk di bangkunya.
"Jia ..." panggilnya lirih.
Gadis itu masih menunduk, membuatnya menatap sendu.
Tatapannya turun ke perut yang membesar itu, turun lagi ke kedua tangan yang gadis itu taruh di atas rok seragamnya. Kali ini tangan itu tak bergerak. Biasanya kalau Jia ketakutan, pasti tangannya bergerak saling meremas ataupun menggigiti kuku jarinya sendiri.
Bell masuk pelajaran pertama berbunyi, membuat semua anak berhambur ke bangku masing-masing. Sama halnya yang berada di koridor sekolah, mereka juga dengan cepat memasuki kelas.
Sejak masuk jam pertama tadi, Nanggala merasakan jika Jia benar-benar terus terdiam. Gadis itu bahkan tidak sedikitpun membuka suaranya, atau menatap matanya saja tidak.
Padahal dia rindu, meskipun hanya hari kemarin dia tidak melihat gadis itu. Namun tetap saja dia merindukannya.
Senyum manis gadis itu, tawa senang gadis itu, Nanggala takut bila sekarang sia tidak bisa lagi melihat itu semua. Dia takut gadis itu membencinya. Sama dengan Jerga.
Nanggala menyayanginya.
Bahkan Jia berada di nomor dua perempuan yang di sayangnya.
Pertama tentu saja sang bunda.
Hingga tidak terasa bunyi bell makan siang terdengar di seluruh penjuru sekolah ini, membuat semua siswa langsung berhamburan menuju kantin.
Nanggala masih diam di bangkunya tak bergerak, sama halnya dengan Jia. Rasen berjalan dari arah depan ke bangku mereka berdua dam sesampainya di sana dia mengernyit bingung.
"Ayo kantin?"
Nanggala sedikit mengangkat kepalanya dan menatap Rasen, lalu mengalihkan lagi dan menatap Jia di sampingnya.
"Kalian duluan aja, ya? Gue rada sakit perut." Jawab Nanggala tersenyum.
Rasen sempat bingung, apalagi melihat wajah lelaki itu yang memang banyak luka lebam.
"Lo berantem lagi ya?" lirihnya bertanya, karena tak ingin Jia mendengarnya.
"Nggak papa, Sen." jawab Nanggala lagi sambil tersenyum manis untuk meyakinkan lelaki itu.
__ADS_1
Rasen yang mendengarnya hanya menatapnya intens. Dia tidak pernah percaya apa yang di katakan Nanggala jika lelaki itu terluka.
"Udah sana kalian makan aja. Jia, sama Yora dulu, ya?" pintanya lembut.
Nanggala masih menunjukkan senyum manisnya meskipun Jia hanya membalasnya dengan anggukkan kecil. Mata mereka sempat bertemu lagi, dan tatapan gadis itu sudah tidak seperti tadi.
Gadis itu sempat menatap sedih luka-luka lebam yang ada di wajah Nanggala.
"Beneran nggak mau makan? Gue beliin snack?"
"Minum?"
"Susu?"
"Roti—"
"Nggak, Rasenn. Udah sana kalian makan. Gue mau minta obat aja ke UKS, beneran nggak enak perutnya." Kekeh Nanggala kecil.
Rasen yang mendengar itu lalu menganggukkan kepalanya mengerti. Kemudian mereka bertiga mulai melangkah pergi menuju kantin.
Sedangkan Nanggala, kini terdiam lagi di bangkunya, perlahan dia juga bangkit dari duduknya. Soal sakit perut dan ingin meminta obat ke UKS itu memang benar. Dia tidak berbohong. Perutnya terasa sangat sakit, namun lebih seperti kram. Pukulan, tendangan dan injakan kemarin sangat terasa nyeri di perutnya.
Nanggala melangkah seorang diri di koridor yang cukup ramai ini. Kepalanya yang tadinya menunduk, lelaki itu angkat, dan langsung bertemu pandang dengan lelaki yang berjalan ke arahnya.
Tatapannya berubah sendu.
Lelaki itu kembali seperti dulu. Seperti saat dia baru bertemu lagi dengannya.
"Jer."
Nanggala memanggilnya lirih, namun bisa membuat lelaki itu menghentikan langkahnya yang tepat berada di sampingnya, lalu menatapnya sinis.
"Gue ... Gu—"
"Maaf?" tanya Jerga dengan suara dinginnya, "basi."
Jerga mulai melanjutkan langkahnya lagi membuat Nanggala langsung membalikkan badannya.
"Jer, maafin gue. Maafin buat semuanya."
Suara Nanggala yang cukup keras membuat semua orang yang berada di koridor ini menatapnya. Dan juga membuat Jerga yang berada di depan sana kembali memberhentikan langkahnya.
"Maafin gue buat semuanya. Tapi ayah gue nggak gitu."
Rahang Jerga mengeras, lelaki itu mengepalkan kedua telapak tangannya, kemudian tubuhnya berbalik dan menatap si pembicara tajam.
"Nggak gitu gimana maksud lo? Ayah lo emang pembunuh, 'kan?"
"Ayah gue bukan pembunuh—!"
"Ayah lo bunuh mama gue!!"
Suara keras Jerga seketika membuat seluruh murid yang berada di koridor terkejut bukan main. Beberapa bahkan ada yang menutup mulut mereka tidak percaya. Dan selanjutnya di koridor yang hening ini, terdengar bisik-bisik sambil menatap kedua lelaki yang saling menatap tajam di sana.
Terlebih Nanggala. Banyak yang menatapnya sinis.
Nanggala mengepalkan tangannya. Rasanya sesak, dia tidak terima ayahnya di katakan seperti itu. Tetapi dia juga merasa kasihan dengan Jerga, dia lalu menatap lelaki itu sayu.
Tanpa mengucapkan kata-kata lagi, Jerga melanjutkan langkahnya dan berlalu dari sini.
Nanggala masih terdiam dengan tubuhnya yang mematung. Untuk sekadar menggerakkan kakinya menyusul Jerga saja rasanya terlalu berat. Kepalanya sedikit dia tundukkan kemudian menghela napasnya panjang.
"Wah, jadi ayahnya Nanggala bunuh ibunya Jerga?"
"Gue kira mereka sahabatan."
"Bejad banget sih? Haha, anaknya pasti sama bejadnya."
"Nggak tahu malu emang mereka satu keluarga."
"Mati aja lo sana! Binatang! Nggak pantes hidup lo!"
Nanggala mengepalkan tangannya lagi mendengar itu. Telinganya sangat panas, juga dadanya yang sejak tadi tidak hilang rasa sesaknya.
Lelaki memberanikan diri dan membalikkan tubuhnya, lalu menatap anak-anak itu satu per satu dengan matanya yang memanas.
"Jadi, yang di bunuh ayah lo itu ibunya Jerga? Haha, kebetulan yang sangat menyenangkan."
Baru saja tubuhnya menghadap belakang, Nanggala langsung di hadapkan dengan Yunan yang kini menatapnya sambil terkekeh sinis.
Yunan maju selangkah lagi, masih dengan senyum sinisnya.
"Kasian banget, di benci sahabatnya lagi ya?" tanyanya lirih sambil meringis seakan-akan lelaki itu juga merasa sedih.
"Tau apa lo tentang gue." Dingin Nanggala.
Yunan tertawa tak percaya. Seorang Nanggala? Baru saja menjawabnya dengan nada seperti itu? Nanggala yang biasanya akan diam saja jika berhadapan dengannya?
Lalu ini? Wahh.
"Nggak usah belagu lo miskin. Anak pembunuh apa yang bisa di banggain, hah?!"
Bugh!
Nanggala menatap Yunan tajam dengan napasnya yang memburu. Dia tidak peduli, rasanya benar-benar sudah muak, semua mengatakan ayahnya adalah pembunuh, merendahkan dirinya karena ekonomi.
Apa mereka begitu hebat? Sehebat apa mereka hingga bisa menginjak-injaknya seperti ini?
Ya, uang.
Jabatan.
Semua itu membuat mereka menganggap diri mereka lebih tinggi derajatnya hanya karena uang dan jabatan.
Yunan menatap Nanggala semakin tidak percaya. Lelaki itu di bantu oleh Senno dan juga Alwan. Tidak sampai terjatuh, hanya saja tubuh Yunan terhuyung ke belakang karena pukulan Nanggala tadi.
Koridor saat ini penuh dengan murid-murid yang memberhentikan aktivitas mereka untuk menonton.
"Bangs**."
Dugh! Bugh!
Yunan dengan gerakan cepat menghantam pipi kanan Nanggala, lalu menendang perutnya hingga lelaki itu jatuh tersungkur ke lantai koridor.
Nanggala dengan posisi miring memegangi perutnya yang kini semakin terasa sakit. Lelaki itu memejamkan matanya kuat. Lama-lama seperti ini, sepertinya perutnya akan mati rasa.
Atau bahkan dia juga akan mati secara perlahan?
Napas Yunan juga memburu, lelaki itu menatap Nanggala sangat tajam, tubuhnya berniat maju untuk menghajar anak itu lagi, namun di tahan oleh Senno dan Alwan di belakang.
"Udah, Nan." Lerai Alwan.
"Lepas, anjing!" keras Yunan menghempaskan tangan kedua temannya yang mencengkramnya.
Lelaki itu mendekat ke arah Nanggala yang masih tersungkur di atas lantai koridor itu, matanya menatap sinis.
"Miskin nggak tau diri."
"Uhuk!"
__ADS_1
Nanggala terbatuk saat dengan kencangnya kaki Yunan menendang perutnya lagi. Dia meremas kuat baju seragamnya di bagian perut sambil memejamkan matanya kuat.
Yunan berlalu pergi meninggalkan lelaki yang masih kesakitan itu. Diikuti oleh Senno dan Alwan di belakangnya.
Anak lain tidak ada satu pun yang bersimpati dengan Nanggala. Mereka hanya menatap lelaki itu dengan mata sinis, tertawa, bahkan ada yang masih mengata-ngatai lelaki itu dengan kata tak pantas.
Puk! Puk!
Nanggala sedikit membuka matanya kala dirasa bagian dadanya baru saja tertimpa sesuatu, matanya menatap kotak susu yang sudah terjatuh di samping kepalanya.
Belum sempat melihat siapa yang melempar kotak itu, Nanggala kembali memejamkan matanya lagi ketika beberapa benda bertubi-tubi terlempar mengenai tubuh bahkan wajahnya.
Dari suaranya seperti kaleng minuman, kotak susu, botol jus dan ada beberapa lagi.
Nanggala masih terdiam dan menerima itu dengan rasa sakit di perutnya, juga di hatinya. Dia ikhlas menerima semuanya. Dia ikhlas.
Asal jangan ada lagi yang berbicara seperti itu tentang ayahnya.
Hingga sepasang sepatu putih berhenti di samping tubuhnya, membuat dia yang merasakan kedatangan itu pun membuka matanya perlahan. Dia menatap sosok yang kini sudah berjongkok sambil mengulurkan tangannya.
Jujur Nanggala sedikit terkejut melihatnya.
"Lo mau disini terus sampe sampah-sampah itu numpuk nutupin tubuh lo?"
Lelaki itu membuka suaranya karena Nanggala sedari tadi hanya terdiam dan tak kunjung menerima uluran tangannya.
Nanggala yang tersadar perlahan mulai menggenggam tangan lelaki itu dan berdiri di bantu olehnya.
Lelaki itu dengan cepat menarik lengan Nanggala untuk pergi dari sini. Jalannya yang juga cepat membuat Nanggala sedikit tertatih, karena tubuhnya masih terasa sakit bahkan untuk berjalan.
"Gas."
Lelaki yang selangkah di depan Nanggala itu menoleh, menatap dengan wajah datarnya.
Melihat Nanggala yang menatap sayu ke arahnya, lelaki bernama Gasta itu dengan cepat mengalihkan pandangannya agar tidak bertemu kontak dengan Nangga. Tangannya juga refleks melepaskan tangan lelaki itu yang sejak tadi di genggamnya.
"Sana masuk kelas." Lirihnya hampir tidak terdengar.
Memang, mereka kini tengah berdiri di samping kelas 12-B yaitu kelas Nanggala.
Gasta masih menghindari tatapan Nanggala, lelaki itu berlalu pergi meninggalkan Nanggala dengan langkah cepat membuatnya terkekeh kecil dalam hati.
Sepeninggal Gasta tadi, Nanggala melangkahkan kakinya memasuki kelas lagi.
Ya, dia sepertinya tidak jadi pergi ke UKS untuk meminta obat. Padahal sakit di perutnya kini semakin menjadi. Tetapi pasti bell masuk sebentar lagi akan berbunyi.
Saat baru saja memasuki kelas, semua anak yang berada di dalam langsung menatapnya sinis sambil ada yang berbisik-bisik. Mata Nanggala bertemu dengan Rasen di sana, yang tengah menatapnya tanpa ekspresi.
Rasen menghembuskan napasnya pelan. Lelaki itu melangkahkan kakinya mendekati Nanggala.
Dia tersenyum lembut sambil menepuk pelan bahu itu, "gue disini, Na."
Sebenarnya dirinya juga bingung. Sungguh sangat kekanakan jika dia ikut membenci Nanggala seperti yang lainnya.
Memang, dia sangat terkejut ketika mendengar murid-murid yang membicarakan Nanggala sejak tadi, kalau ayah lelaki itu membunuh ibu Jerga.
Ini urusan keluarga mereka, ini urusan orang dewasa yang terjadi empat tahun yang lalu. Dia tidak seharusnya ikut campur dengan ikut membenci Nanggala yang hanya seorang 'anak' yang tidak tahu apa-apa.
Nanggala membalas senyuman Rasen dengan haru. Dia benar-benar beruntung bertemu dan mempunyai sahabat seperti lelaki itu.
Rasen sungguh seseorang yang baik.
Matanya beralih menatap Jia, Yora dan Haksa yang juga tengah menatapnya d isana. Lalu berhenti di mata Jia yang menatapnya antara takut dan sedih. Nanggala bisa merasakan itu.
Ingin sekali dia mengajak gadis itu berbicara, tetapi dia masih takut. Takut jika gadis itu sudah tidak ingin berbicara dengannya lagi.
.......
.......
Tempat ini begitu ramai, seperti biasa, semakin malam tempat ini pasti akan semakin ramai. Maldev menghembuskan napasnya dan duduk di salah satu kursi yang sudah ada penghuni lainnya itu, hingga membuat mereka menoleh secara bersamaan.
"Tumben lo kesini lagi?"
Mengabaikan pertanyaan itu, tangan Maldev terulur untuk mengambil segelas cola di atas meja dan meneguknya. Padahal minuman itu milik Senno, dan tentu saja membuat sang empu berdecak kesal.
"Lo kayaknya stres banget akhir-akhir ini?" Kekeh Alwan menyenggol lengan lelaki yang tengah mengatur napasnya itu.
"Jangan terlalu stres. Ntar gila kayak pacar lo."
Mendengar itu, genggaman tangan Maldev di gelas yang tadi dia minum seketika mengerat. Dia meremasnya kuat seolah-olah gelas itu bisa hancur di tangannya. Pandangannya menatap Yunan sinis, yang sejak tadi masih asik tertawa kecil di sampingnya.
"Can you shut up?" perintahnya dengan nada dingin.
Yunan menatap Maldev tak kalah sinis, lelaki itu meraih gelas cola-nya dan langsung meminumnya.
"Inget, lo yang buat dia kayak gitu."
Maldev dengan cepat menarik kerah baju Yunan dan membuat lelaki itu tersedak minumannya. Apalagi tidak sedikit juga minuman itu tumpah mengenai bajunya.
"Gue emang udah menyesali perbuatan gue. Tapi apa lo nggak inget juga?" sinis Maldev menatap satu per satu tiga orang yang duduk di samping dan hadapannya, "kalian?"
Yunan menepis kasar tangan lelaki itu yang masih hinggap di kerah bajunya, menghembuskan napasnya kasar dan menaruh lagi gelas cola-nya di atas meja.
Mereka berempat sama-sama terdiam dengan pikiran masing-masing. Tidak ada Gasta disini, lelaki itu menolak saat tadi Senno mengajaknya ke sini. Entah karena apa.
"Beberapa hari yang lalu, Gasta sempet cerita sama gue. Dia yang cepet nyadarin dan inget."
Senno membuka suara, tatapannya masih menatap kosong ke meja di depannya, lantas membuat ketiga lelaki itu menoleh ke arahnya.
Beberapa detik kemudian dia mengangkat kepalanya, "Nanggala."
Kata-kata Senno membuat mereka sama-sama bingung dan menatap lelaki itu sambil meminta penjelasan lebih dengan ucapannya tadi.
"Kalian inget cowok yang dulu?"
Yunan merubah raut wajahnya menatap tajam Senno di hadapannya. Dia begitu terkejut dengan apa yang di dengarnya baru saja, karena dia sepertinya sekarang tahu kemana arah pembicaraan lelaki itu.
Sama halnya dengan Alwan, tetapi tidak dengan Maldev. Lelaki itu yang tadinya ikut menatap Senno, kini menundukkan kepalanya lagi dan sedikit meremas tangannya.
"Yeah, he is the one."
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...• To be continued •...
...ㅤㅤㅤㅤ...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...Hmm ada apa ini (◕‿◕)...
...Boom komen setelah membaca yaa♡ Dukung author terus buat penyemangat xixi...
__ADS_1