NANGGALA AKSHA

NANGGALA AKSHA
07. Kamu Tidak Peduli Padaku


__ADS_3

Di UKS lah saat ini mereka berada. Nanggala dan Rasen.


Setelah kejadian yang meramaikan kantin tadi, Rasen membawa lelaki itu ke UKS. Sedangkan Yora dia suruh untuk membawa Jia pergi dari sana. Awalnya gadis itu menolak dan sedikit berteriak di kantin tadi, tetapi akhirnya Jia mau ikut dengan Yora di bantu juga oleh bujukan Nanggala. Lelaki itu bilang dia akan menghampiri gadis itu setelah selesai dari UKS.


Rasen juga sempat merasa tidak menyangka, Jia benar-benar menurut dengan anak baru itu. Menurutnya, Nanggala sangat hebat. Dan dia berharap juga lelaki itu akan terus menjaga sahabatnya dengan baik.


"Shh ...."


"Tahan, Na."


Tangannya dengan pelan dan telaten mengobati ujung bibir itu dengan kapas dan alkohol.


Dokter UKS tadi katanya ada urusan yang mendesak, sehingga dia meminta Rasen untuk mengobati Nanggala sendiri, juga sempat meminta maaf kepada kedua lelaki itu.


"Gue bilangin, lo jangan pernah berurusan sama Yunan, Na."


Nanggala yang mendengar itu pun menoleh, wajahnya masih meringis menahan sakit. Jujur itu sangat perih.


Dia juga sebenarnya bingung, kenapa lelaki bernama Yunan itu kata Rasen sangat ditakuti di sekolah ini. Tetapi menurutnya yang pasti jika seperti itu, orang tuanya adalah orang yang terpandang. Biasanya begitu bukan? Uang, jabatan, dan koneksi mengalahkan semuanya.


"Kenapa dia di takutin satu sekolah?"


Rasen menghentikan aktivitasnya dan menatap mata itu, "ya, dia sering bully anak-anak lemah disini, semuanya takut. Meskipun guru sering menegurnya, ayahnya pengacara, yaudah selesai," kekehnya kecil, "dengan uang semuanya beres, 'kan?"


Nanggala menatap Rasen yang kini menghela napasnya dan tersenyum tipis.


"Apa nggak ada yang laporin ke dinas pendidikan atau yang lainnya gitu?"


Lelaki itu terkekeh lagi, "jabatan dan uang. Semuanya udah selesai, Na."


Ya, seperti apa yang di pikirkannya tadi. Jika, memang benar pasti Yunan itu anak keluarga terpandang, yang menyelesaikan masalah mereka hanya dengan uang.


"Selesai."


Matanya melirik tangan Rasen yang mulai membenahi lagi barang yang tadi digunakan untuk mengobatinya.


"Sorry, Sen. Lo jadi nggak bisa makan siang karena gue," lirihnya menundukkan wajahnya, "besok gue traktir lo, buat permintaan maaf gue." Imbuhnya sambil mengangkat kepala lagi.


Nanggala dapat mendengar kekehan lelaki itu di sana.


"Santai aja kali, Na? Kan tadi gue yang mau traktir lo. Pulang sekolah gue traktir lo, oke?"


Nanggala tersenyum tipis. Kenapa lelaki itu baik sekali?


Dia pun sebenarnya ragu tadi mengatakan akan mentraktir Rasen. Apa makanan yang bisa dibelinya? Belum tentu juga Rasen mau dengan makanan yang dibelinya. Dia ini ada-ada saja. Dia bisa melihat kalau Rasen itu orang kaya. Ya, semua anak yang sekolah disini sepertinya orang berada semua.


Mungkin hanya dirinya.


"Yaudah yuk ke kelas aja?"


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


...───• ~⸙ᰰ~ •───...


Bell pulang sekolah berbunyi beberapa menit yang lalu, keadaan kelas 12-B saat ini sudah tidak terlalu ramai, banyak anak yang sudah keluar dari kelas untuk pulang.


"Ra, makan diluar yuk?"


Gadis yang masih mengemasi beberapa peralatan belajarnya itu mendongak, ketika ada seorang lelaki yang menghampiri mejanya.


"Ha?"


"Sama Jia. Jia mau, 'kan?" Rasen beralih menatap gadis berambut panjang yang tengah memeluk boneka putihnya, membuat sang empu yang di tanya seperti itu langsung mengangguk cepat dan tersenyum sangat manis.


Nanggala yang duduk di samping gadis itu terkekeh kecil.


"Sama Nanggala dong?"


"Iyalah, orang gue yang mau traktir Nanggala."


"Terus lo ajak gue tapi nggak traktir gue gitu?" Yora menatap Rasen sinis membuat lelaki itu tertawa.


"Iya iyaa, gue yang traktir. Seneng lo?"


"Yuhuu! Seneng banget gue, Sen!" Seru gadis itu dengan senang dan langsung mengambil tas sekolahnya, bahkan dia sudah berjalan lebih dulu menuju pintu kelas.


"Dih, gratis aja lo seneng!"


Nanggala hanya terkekeh melihat mereka, wajahnya lalu menoleh ke samping, menatap Jia yang juga tengah menatap kedua orang disana. Gadis itu langsung menurut ketika dia menyuruhnya berdiri dan mengikuti mereka. Keduanya berjalan berdampingan menuju Rasen dan Yora yang baru saja sudah keluar kelas.


"Aw! Heh, cokelat! Punya mata tuh dipake!"


"Lah, lo yang nabrak gue ya goblok!"


"Mana ada! Orang lo duluan!"


"Gelut kita!"


"Ssh, diem kenapa sih?!"


"Accen~ Yora tuh!"


"Lepas nggak? Lepas nggak?"


Suara gaduh itu berasal dari luar kelas. Nanggala yang penasaran pun sedikit mempercepat langkahnya. Tak lupa membawa tangan Jia untuk memegang lengannya, dan gadis itu tentu saja menurut.


Di depan kelas saat ini sudah ada beberapa orang. Di antara mereka, Nanggala melihat Rasen yang tengah di peluk tubuhnya oleh seorang lelaki di sana, tentu saja membuatnya bingung. Matanya lalu menangkap seseorang yang berdiri di antara mereka juga, Jerga.


Jerga yang tersadar dengan kedatangan Nanggala tadi seketika menoleh menatap lelaki itu. Tetapi saat mata mereka bertemu, Jerga mengalihkan pandangannya lagi dan menatap ke arah lain.


"Minggir gue mau pergi!"


"Ih, pergi kemana nggak ajak-ajak Acca!"


Rasen menghembuskan napasnya frustrasi. Lelaki itu masih berusaha melepaskan tangan Haksa yang sejak tadi memeluk lengannya sambil menyenderkan kepalanya disana.


Mari tenggelamkan manusia itu.


"Kita mau makan. Awas lo!"


Dengan dorongan kuatnya mampu melepaskan pelukan lelaki itu. Huff, Rasen lega.


"Ikut! Haksa mau ikut! Haksa harus ikut!"


"Iya bawel lo jadi laki!" geram Rasen kemudian.


Haksa tersenyum senang kala Rasen memperbolehkannya ikut mereka. Tidak di perbolehkan pun pasti seorang Haksa akan merengek dan meminta ikut.


Ketika yang lain sejak tadi hanya ikut terkekeh memperhatikan perdebatan itu, Jerga, lelaki yang sedari tadi tidak membuka suaranya kini mendekatnya tubuhnya ke arah kakaknya.


"Kak, Jerga les dulu, ya?"


Ucapannya itu dibalas dengan anggukan dan senyuman oleh kakaknya, dan membuatnya juga tersenyum.


Nanggala yang berdiri di samping gadis itu tersenyum tipis menatap Jerga. Sudah benar-benar lama dia tidak melihat senyuman itu. Kemudian dia melihat mata itu meliriknya. Sinis.


"Jagain kakak gue."


Nanggala hanya mampu mengangguk pelan menanggapi suara dingin itu. Benar-benar tidak selembut saat lelaki itu menatap Jia, atau menatap anak-anak yang lainnya.


"Lo nggak ikut, Jer?"

__ADS_1


"Gue ada les."


Rasen hanya menganggukkan kepalanya. Setiap hari lelaki itu pasti ada les, dia merasa kasihan, Jerga terlalu di tekan oleh ayahnya.


"Tenang, Nanggala pasti jagain Jia kok."


Jerga mengangguk dan tersenyum tipis menanggapi ucapan Rasen. Dia memang percaya dengan Nanggala, dia percaya lelaki itu bisa menjaga kakaknya. Namun entahlah, untuk bersikap baik lagi dengan lelaki itu rasanya masih berat.


Tolonglah, Jerga sedang tidak ingin mengingat semua itu. Membuatnya semakin membenci lelaki yang lengannya sejak tadi di gandeng kakaknya.


Ya, dia percaya itu, bahkan kakaknya bisa dengan cepat menerima Nanggala. Entah bagaimana lelaki itu melakukannya.


"Yaudah gue duluan. Bye?"


Jia melambaikan tangannya kala Jerga melambaikan tangannya ke arahnya, serta tangan satunya masih memeluk lengan Nanggala.


"Bentar deh, dia siapa?"


Suara lelaki itu membuat ke empat orang yang sejak tadi menatap kepergian Jerga menoleh, lalu mengikuti arah yang di tunjuknya.


"Nggak perlu tau lo!"


Dan selanjutnya wajah Haksa meringis ketika dengan tiba-tiba Rasen menarik kerahnya lagi, untuk yang kedua kalinya.


.......


.......


.......


Hari sudah semakin sore, langit berwarna jingga di atas sana benar-benar indah untuk di pandang. Beruntung sekali memang hari ini langit cerah.


Ke empat orang yang berada dalam satu mobil saat ini tengah dalam perjalanan pulang, setelah tadi lelaki yang kini duduk di depan bersama sopir sambil memainkan ponselnya itu mentraktir mereka pizza dan beberapa camilan lainnya.


"Lo, beneran kerja di rumah om Dharma?"


Nanggala yang merasa pertanyaan itu untuknya pun menoleh menatap seseorang yang duduk di sebelah kirinya. Sedangkan dia duduk di kanan, yang duduk di tengah ya gadis yang saat ini asik dengan tatapannya ke depan, menatap jalanan.


Sejenak membuatnya tersenyum.


Nanggala kembali menatap lelaki yang dia baru tahu namanya tadi adalah Haksa. Kepalanya mengangguk membenarkan pertanyaan anak itu.


"Kok bisa sih lo kerja? Kan masih sekolah?"


Dia yang mendengar itu hanya tersenyum, bingung juga harus menjawab bagaimana. Dia belum siap menceritakan kehidupannya kepada orang lain. Meskipun dia tahu, teman yang baru di temuinya hari ini, dan menjadi temannya, mereka semua sepertinya anak yang baik.


"Berisik deh lo, Sa!"


"Ya gue 'kan cuma tanya!" dengusnya sebal menatap Rasen yang duduk di jok depannya, membuat lelaki itu merotasikan kedua bola matanya.


"Oh iya, tahan juga lo kerja sama om Dharma? Dia 'kan orangnya nyeremin banget- Aaaa!!"


Pertanyaan Haksa seketika terhenti dan di lanjutkan lelaki itu yang memejamkan matanya kuat, dia kembali menatap jok depannya dengan kesal, "apasih, Ras!"


"Ras Ras, gue bukan miras! Emang harusnya gue jahit tuh mulut," ujarnya sinis, "ngomong lagi gue tendang lo keluar."


"Ish!"


Haksa hanya menatap sebal Rasen, yang ketika dia sedang bertanya tadi dengan tiba-tiba lelaki itu mencubit kencang pahanya dari depan. Rasen-pun hanya menatapnya sinis. Lama-lama hidup dengannya benar-benar bisa membuatnya mati muda.


Sementara Nanggala dan Jia yang sejak tadi hanya menonton perkelahian mereka sambil diam, kini mereka terkekeh bersamaan.


Hebat saja Jia tidak takut dengan Rasen dan Haksa yang memang setiap harinya bertengkar itu. Padahal, kemarin saat melihat Jerga dan Nanggala yang hanya saling menatap seperti itu dia takut.


Hingga tidak terasa mobil hitam itu sudah sampai di depan gerbang rumah Jia.


"Makasih ya, Sen. Buat semuanya."


Kedua lelaki yang menatapnya itu saling memandang.


"Makasih juga ya Ras dah makan pake duit lo, hehe." kekeh Haksa.


"Lo mah emang selalu gitu. Sekali lagi panggil gue Ras, gue bakar PS lo." Sinisnya menatap lelaki cokelat itu, sedangkan yang ditatap hanya tersenyum dengan wajah songongnya.


Nanggala lagi-lagi terkekeh dengan kelakuan mereka, hingga selanjutnya dia mulai turun dari mobil itu, menuntun gadis di belakangnya dengan hati-hati, sebelum tadi mengucapkan terima kasih lagi kepada kedua lelaki itu.


"Rasen anterin Haksa dulu dong?"


Masih di dekat pintu, Nanggala menatap mereka bergantian.


"Gue mah rumahnya disitu, Na." Tunjuk Rasen yang membuatnya mengikuti arah tangan lelaki itu yang menunjuk sebuah rumah. Rumah yang tepat berada di samping rumah milik Dharma ini.


Alisnya mengernyit. Jadi mereka tetangga?


Astaga. Kenapa lelaki itu tidak memberi tahunya? Tetapi benar juga, mereka kan baru bertemu dan kenal pagi tadi.


Bodoh sekali kau Nanggala.


"Terus Haksa? Pulang sama siapa?"


"Acca pulang sama Accen kok~"


Lagi-lagi Nanggala mengernyit bingung, dan tentu saja membuat kedua lelaki itu terkekeh.


Lalu sebelum mereka membuat Nanggala semakin kebingungan, Haksa dengan cepat langsung menutup pintu itu, tak lupa mengucapkan selamat tinggal kepada Nanggala dan juga Jia.


Sudahlah, Nanggala memang semakin bingung dengan sikap Haksa meskipun mereka baru sehari bertemu dan berteman. Anak itu terlalu random. Kepalanya lalu menoleh kepada gadis yang sejak tadi berdiri di sampingnya, bibirnya tertarik ke atas kala gadis itu juga tersenyum ke arahnya.


"Yuk masuk?"


Jia mengangguk.


Nanggala menuntun tangan Jia untuk memasuki rumah, dan dia juga bisa melihat mobil hitam milik Rasen tadi memang memasuki gerbang rumah yang berada di samping rumah ini.


Ah ... Jadi benar rumah lelaki itu memang disana.


Nanggala mengabaikan itu dan terus berjalan masuk, dia juga terus berdoa dalam hati, semoga Dharma tidak marah dengannya karena membawa Jia keluar dulu tadi. Tetapi jika memang nanti semua itu terjadi, ya dia akan bertanggung jawab karena ini memang kesalahannya.


"HEH, KALIAN ITU NGGAK BISA AKUR SEHARI AJA APAA?!!"


Teriakan keras itu membuat Nanggala terkejut bukan main, seketika kepalanya menoleh ke samping kirinya. Suara itu sepertinya berasal dari rumah samping itu.


"Kalian itu kembar! Akur sedikit kenapa sih biar mamah sama papah seneng ngeliatnya!!"


Suara milik wanita itu benar-benar menggelegar sampai terdengar dari sini. Apa tenggorokannya tidak sakit? Nanggala meringis sendiri membayangkan bagaimana wanita itu berteriak dengan suara yang begitu keras.


"RASEN HAKSA!! DASAR ANAK SETAN YA!!"


"BERARTI MAMAH IBU SETAN!!"


"IBU PENGABDI SETAN DONG? HAHAHA!!"


"HEH ANAK KURANG AJARRR!!!"


Nanggala benar-benar memejamkan matanya mendengar itu, membuat tangannya dengan refleks terakangkat menutup kedua telinga Jia.


Baiklah, terjawab sudah kebingungannya sejak tadi tentang kedua lelaki itu. Dirinya sedikit terkekeh dan mulai melanjutkan langkahnya lagi untuk memasuki rumah, bersama gadis itu tentu saja.


Rumah terlihat sepi, mungkin kakak-kakak Jia belum pulang kuliah. Tetapi sebelum memasuki rumah tadi, Nanggala melihat mobil Dharma sudah berada di garasi, sama halnya dengan motor Jerga. Itu artinya kedua orang itu sudah pulang.


Langkahnya jauh memasuki rumah, melewati ruang tamu, dan beberapa ruangan lainnya yang tidak Nanggala ketahui itu semua ruangan apa. Hingga sepertinya dia melewati ruang keluarga, dia mendengar suara disana.

__ADS_1


Seperti orang yang tengah memukul sesuatu.


Tentu saja Nanggala penasaran. Dan selanjutnya dapat dia dengar beberapa kali seperti ringisan seseorang, langkahnya di percepat untuk sampai ke ruangan itu, serta tangannya masih menuntun Jia. Gadis itu mulai ketakutan.


Bugh! Bugh!


"Jerga ...."


Napasnya terasa berat, tercekat, matanya memanas melihat kejadian di depannya.


Dengan cepat Nanggala membalikkan tubuhnya, menutup lagi kedua telinga Jia dan membawa tubuh gadis itu menjauhi pintu. Sebisa mungkin dia membuat gadis itu tidak melihat apa yang terjadi disana.


Meskipun, mata Jia pasti sempat menangkapnya.


"Jia disini dulu, ya? Jia disini aja, jangan kemana-mana."


Tangannya dengan lembut mengelus puncak kepala Jia, sedikit menenangkannya. Karena bisa dia lihat tubuh gadis itu sekarang mulai gemetar dan cemas. Kakinya lalu dengan cepat berlari untuk menuju ke dalam, matanya membulat ketika lelaki di sana sudah jatuh tersungkur sambil memegangi perut serta lengannya.


"Minggir, Nanggala."


Nanggala bahkan tidak sedikit pun bergerak dari tempatnya sekarang. Lelaki itu diam tak bergeming, kepalanya menoleh ke belakang yang seketika membuatnya kembali sesak.


"Nanggala. Saya bilang minggir."


"Berhenti, Om. Berhenti sakiti Jerga."


Pria itu terkekeh sinis, "apa urusannya sama kamu?"


Nanggala bingung, apa yang sebenarnya terjadi hingga membuat Dharma sepertinya sangat marah dengan anak lelakinya itu? Tetapi apapun itu, yang harus dia lakukan sekarang hanya melindungi Jerga di belakangnya. Lelaki yang sesekali meringis sambil memejamkan matanya. Nanggala tahu itu pasti sangat sakit.


Dharma lagi-lagi terkekeh sinis dan menggulung lengan kemejanya yang sudah sedikit merosot ke bawah. Rambut hitamnya saja sudah berantakan.


"Okay, kalau itu mau kamu."


Genggaman pada benda di tangannya mengerat.


Bugh!


Nanggala memejamkan matanya kala benda panjang itu dengan kencang menghantam lengan kanannya. Lengan yang dia gunakan untuk melindungi kepala dan tubuhnya. Rasanya benar-benar perih, nyeri, sakit.


Beberapa kali stick golf itu mengenai tangannya dengan keras, tak jarang juga menghantam kuat punggungnya. Dia tidak peduli seberapa sakitnya sekarang, yang terpenting adalah melindungi lelaki itu. Jerga.


Matanya beberapa kali Nanggala pejamkan kuat. Sungguh sakit.


"Aaaaaaa!!"


Teriakan keras itu membuat Dharma menoleh, dan juga membuatnya menghentikan kegiatannya tadi. Tangannya mengusap wajahnya kasar.


Sama halnya dengan kedua lelaki itu, Jerga dan Nanggala yang mendengar itu pun juga mengangkat kepala mereka dan menatap ke arah pintu. Keduanya bisa melihat Jia disana tengah berjongkok sambil menutup kedua telinganya.


"Aaaaa jangan!! Hiks ... jangan! Maafin Jia!!"


Dharma menghembuskan napasnya kasar dan mulai melangkah mendekati gadis itu.


Nanggala yang melihatnya sedikit melebarkan matanya. Tubuhnya dengan perlahan mulai berusaha untuk berdiri. Jangan. Jangan gadis itu!


Dia berjalan dengan pelan menghampiri mereka disana. Jia terlihat masih jongkok sambil memejamkan matanya.


"Ah!"


"Jangan, Om!"


Nanggala mencekal lengan Dharma yang dengan tiba-tiba menarik rambut gadis itu hingga membuat sang empunya berdiri. Dharma menghela napasnya kasar, sempat melempar tatapan tajam kepada anak lelakinya yang masih duduk membungkuk di sana, sebelum dia mulai melangkahkan kakinya pergi dari sini.


Napas Nanggala sedikit memburu, di baliknya tubuhnya ke belakang dan langsung memegang pundak itu lembut.


"Jia ...."


"Aaaaa lepasin Jia, hiks!!"


Nanggala tentu saja terkejut menerima itu. Jia tiba-tiba memberontak hingga melepaskan kedua tangannya dari pundaknya. Gadis itu berteriak dan menangis sambil mulai memukuli kepalanya sendiri.


"Jia, ini Nala!" tubuhnya mendekat, berusaha membuat gadis itu diam. Sambil lagi-lagi tangannya mencekal pundak itu.


Tangan satunya yang Nanggala gunakan untuk mencekal tangan yang sejak tadi Jia gunakan untuk memukuli kepalanya sendiri, "Nala disini ...."


Tubuh Jia melemas, sudah tidak seperti tadi, matanya yang penuh air mata itu menatapnya dengan perasaan takut.


"Nala disini ... Jia yang tenang, ya?"


Nanggala mengusap pipi itu lembut, menghapus air matanya. Ah, sial, tangannya yang membekas garis merah itu benar-benar terasa perih.


Saat melihat bibi yang baru saja tiba di ruangan ini dengan wajah khawatirnya, Nanggala meminta bantuan bibi untuk membawa Jia ke kamar. Beruntung Jia langsung mau, dan mereka akhirnya pergi dengan bibi yang menuntun lembut tangan gadis itu.


Tubuh Nanggala lalu membalik ke belakang, menatap Jerga di sana, dia melangkahkan kakinya menuju ke arah lelaki itu.


"Jer ...."


Tangannya terulur untuk menyentuh pundak itu, "lo nggak papa?"


Jerga masih terdiam membuatnya lalu menyentuh tangan yang juga sudah penuh dengan garis-garis merah seperti dirinya. Namun hanya sebentar, sebelum dengan tiba-tiba tubuhnya sedikit terdorong saat lelaki itu menepis tangannya dan mendorongnya ke belakang.


"Nggak usah sok peduli lo sama gue." desisnya dingin.


Tubuh mereka sudah sama-sama berdiri, dengan Jerga yang mulai melangkah keluar.


"Jer, luka lo harus di obatin ...."


Tangannya mencekal lengan itu lagi, dan di hempaskannya lagi.


"Gue bilang, nggak usah sok peduli sama gue."


"Gue peduli sama lo!"


Jerga terkekeh sinis mendengarnya, "peduli?" lelaki itu memutar tubuhnya hingga benar-benar berhadapan dengan Nanggala, "lo nggak pernah peduli sama gue, Na."


Nanggala masih menatap sendu lelaki itu, hatinya juga sesak mendengar kata-kata yang keluar dari mulut itu.


"Sejak lo pergi dulu, lo nggak pernah peduli sama gue."


Sorot mata tajam lelaki itu menunjukkan tatapan kecewa di sana. Nanggala bisa merasakannya.


Tidak terasa juga matanya memanas yang sejak tadi masih menatap sendu lelaki di hadapannya. Bahkan saat lelaki itu mulai berjalan pergi lagi, tubuhnya terasa sangat berat untuk bergerak atau mengejarnya.


Hatinya begitu sesak.


"Maafin gue, Jer ...."


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


...• To be continued •...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...

__ADS_1


...Jerga kayak benci banget sama Nanggala, ummm ada kejadian apa ya sama mereka yg dulu?...


...Terus dukung Author yaa!>.<...


__ADS_2