
Sudah beberapa menit berlalu sejak kejadian tadi, keduanya saat ini tengah duduk di sofa ruang tamu.
Jia sejak tadi diam tak bersuara, gadis itu masih benar-benar ketakutan, tubuhnya saja sedikit gemetar dan sesekali menggigiti kuku jarinya. Hal itu membuat Nanggala yang duduk di sampingnya menoleh, dia tersenyum lembut menatapnya. Kasihan, gadis itu pasti sangat ketakutan.
"Jia salah ... Hiks, maafin Jia ...."
Senyumnya kini berubah sendu. Nanggala bisa melihat jika gadis itu sepertinya trauma dengan kekerasan, teriakan, nada tinggi, dan yang lainnya yang mampu membuatnya takut.
Nanggala memang belum tahu banyak tentang Jia, gadis yang mulai sekarang akan dijaga olehnya. Dan tentu saja mulai sekarang dia akan selalu berada di sampingnya. Hanya pertemuan singkat mereka saat itu.
Tangannya lalu terangkat untuk menyentuh tangan gemetar itu, dan untung saja sang empu tidak menolaknya, "Jia nggak salah ... Udah ya? Jangan nyakitin diri sendiri."
Nanggala menurunkan lembut kedua tangan Jia yang mulai memukuli kepalanya lagi, dia bisa melihat air matanya menggenang di sana. Gadis itu menatapnya, wajah yang masih ketakutan itu perlahan dia tundukkan ke bawah. Dia yang melihat itu pun mengikuti arah pandang Jia, dan merasakan tangan gadis itu membalikkan telapak tangannya.
Sshh, sebentar.
Kenapa terasa nyeri?
Dan saat telapak tangannya sudah terbalik, Nanggala terkejut dengan adanya darah di sana.
"Tangan Nala ...."
Benar. Nanggala baru ingat. Nanggala baru tersadar.
Ketika dia terjatuh akibat Janan melayangkan pukulan ke pipinya tadi, dia memang langsung jatuh terduduk, dan tangan kanannya dia gunakan untuk menumpu tubuhnya. Ternyata tangannya saat itu mendarat tepat di atas pecahan-pecahan gelas, yang tadi menjadi penyebab Jihan marah.
Nanggala sendiri baru tersadar dan baru merasakan sakit sekarang, karena tadi memang dia tidak memperdulikan dirinya.
"Nala pasti sakit ..." Gumam Jia lirih lalu menundukkan wajahnya, membuat Nanggala kembali menoleh dan menatapnya.
"Nala?"
Gadis itu mendongak dan mengangguk pelan, "Nala ... Nanggala ....?"
Senyum Nanggala mengembang setelah itu. Kenapa hatinya terasa hangat mendengarnya? Kenapa dia merasa senang?
Nala?
Ah, namanya menjadi lucu sekali. Baiklah baiklah. Kekehan kecilnya membuat gadis berambut panjang itu menatapnya sedikit bingung, dan jujur saja itu membuatnya gemas.
"Kamu lucu."
Gadis itu menautkan kedua alis nya, "Jia lucu?"
"Heeum."
Senyum Nanggala hangat sambil mengangkat tangan kanannya untuk mengusap lembut air mata yang tadi mengalir di pipi itu. Jia memang sempat menangis tadi, saat gadis itu berkata jika dia pasti sakit dengan tangannya yang seperti itu.
Gadis itu tersenyum senang, "Nala ... mau nggak, jadi temen Jia ....?"
Nanggala lagi-lagi tersenyum mendengarnya, "kalau jadi sahabat Jia, boleh?"
Jawabannya itu seketika membuat sang gadis mengangguk senang, ia tersenyum sangat cantik ke arah Nanggala.
Ah, mungkin kalau Jerga melihat ini akan sedikit tidak percaya. Entah sedikit, atau benar-benar tidak percaya. Kakaknya sulit bersikap seperti itu dengan orang lain. Sudah lelaki itu bilang kan, dengan orang yang dulunya dekat saja kakaknya masih sulit atau takut? Ini, dengan orang baru, orang yang baru ditemuinya kemarin, gadis itu sudah bisa tersenyum ceria seperti itu.
Entah lah, Nanggala-pun juga tidak menyangka. Tetapi jujur dia sangat senang, senang karena Jia bisa menerimanya secepat ini.
Dengan karena pekerjaannya atau bukan, Nanggala sekarang ini benar-benar sangat ingin menjaga gadis itu. Melindungi gadis itu.
"Nala, kenalan sama Bonny dulu ya?"
Bonny?
Siapa?
Jika itu adalah saudara Jia yang lain, Nanggala baru mendengarnya. Dharma juga tidak menyebutkan adanya nama Bonny di keluarga mereka. Kepalanya lantas mengangguk dan membuat gadis itu tersenyum, hingga hanya selang beberapa detik dia mengangkat sesuatu yang sejak tadi di peluknya. Nanggala yang tahu seketika terkekeh kecil.
Jadi dia si Bonny? Boneka kelinci yang di peluk gadis itu juga saat di taman waktu itu?
"Aaah, ini Bonny?"
Gadis itu mengangguk cepat.
"Halo, Bonny? Aku Nang- eum, Nala."
Baiklah, mungkin mulai sekarang Nanggala akan membiasakan panggilan itu untuknya, dan membiasakan nama itu yang keluar dari mulutnya jika sedang bersama Jia. Masih terdengar lucu sebenarnya di telinganya.
"Halo juga, Nala! Bonny itu anaknya bunda Jia!"
Senyuman Nanggala perlahan meluntur. Jia menganggap boneka itu adalah anaknya? Dan saat itu juga tatapannya berubah sedih. Gadis itu mengucapkannya dengan nada anak kecil, sangat menggemaskan. Hingga kemudian si Bonny ini dipeluknya erat lagi.
"Ah, iya!"
Jujur Nanggala sedikit terkejut mendengarnya.
"Tangan Nala sakit ... Jia ambilin obat dulu ya?"
Belum sempat Nanggala menjawabnya, gadis itu sudah beranjak dari duduknya dan berlari ke arah belakang, lagi-lagi membuatnya terkekeh kecil.
Matanya menatap sekelilingnya, rumah ini benar-benar sepi seperti tidak berpenghuni. Rumah besar ini di tempati oleh empat orang kecuali pembantu dan sopir. Yang Nanggala tahu, Dharma memiliki empat orang anak. Anak pertama laki-laki yaitu Janan, yang kedua Jihan, lalu Jia, dan juga Jerga.
Itu yang Nanggala dengar sendiri dari Dharma kemarin.
Kepalanya menoleh ke depan saat dia mendengar adanya langkah kaki yang mendekat. Senyumnya perlahan luntur saat mata mereka bertemu.
Lelaki yang masih berdiri itu menatap Nanggala datar. Dia masih memakai seragam, yang dibalut hoodie berwarna putih. Sepertinya baru selesai les. Lalu tanpa sepatah kata pun, lelaki itu melangkah pergi dari hadapannya. Jangan lupakan tatapan sinis yang sejak dia masuk tadi masih di arahkan kepadanya.
"Jer."
Cekalan Nanggala pada lengan lelaki itu membuatnya berhenti. Dia mencekal lengan itu dari belakang, membuat seseorang yang di panggil namanya pun menoleh dan sedikit memutar tubuhnya.
"Minggir."
Suaranya begitu dingin. Nanggala rindu suara ceria lelaki itu.
"Jer, sebentar."
"Nggak usah sok kenal sama gue. Begitupun gue, juga nggak akan anggap lo ada di sini."
Mata itu menatapnya tajam. Nanggala bisa merasakan otot lengan yang sejak tadi di cengkeramnya itu mengeras. Tangan Jerga mengepal. Hingga selanjutnya, lelaki itu menghempaskan tangannya kasar, sehingga membuat cekalan tangannya di lengan itu pun juga terlepas.
Tubuhnya saja sedikit terdorong ke belakang.
Ah, kenapa dia selemah ini?
Benar, rasa penasarannya dengan si panggilan nomor satu di ponsel Jia waktu itu pun terjawab sudah. Benar kalau itu adalah Jerga. Jerga yang di kenalnya empat tahun lalu.
Nanggala memandang wajah itu sendu yang sekarang sudah berpaling menatap ke depan, seperti tengah menatap sesuatu, hal itu membuatnya ikut menolehkan kepala ke samping kanannya.
Jerga menghembuskan napasnya lirih, matanya juga bingung menatap kotak yang dibawa kakaknya itu. Siapa? Siapa yang sakit? Kenapa kakaknya membawa kotak P3K?
"Kak ... Masuk kamar, ya?"
Suaranya melembut tidak seperti tadi. Jerga tidak mau kakaknya menjadi takut.
"Tapi ... tangan Nala luka ...."
Jerga mengernyit.
Seketika Jerga bisa melihat tangan kakaknya yang dengan pelan mulai terangkat dan menunjuk sesuatu, membuatnya mengikuti arahan dari gadis itu, kepalanya lalu menoleh, menatap seseorang yang di tunjuk kakaknya tadi.
Dia lagi-lagi menghela napasnya pendek.
"Kenapa harus lo sih yang di sini?" matanya masih menatap Nanggala tidak suka.
"Kenapa lo nggak pernah cerita, Jer ..." suaranya lirih.
"Lo siapa gue?" sinisnya.
Nanggala menatap mata itu sendu, mata yang sejak lelaki itu pulang tadi tidak berubah sedikit pun cara menatapnya, sinis. Sangat berbeda dengan yang dulu.
Dan Nanggala rindu itu.
"Minggir lo gila!"
__ADS_1
Suara bentakan itu mampu membuat kedua lelaki yang tengah dengan pikirannya masing-masing ini menoleh secara bersamaan. Jerga bisa melihat di sana kakaknya sudah jatuh terduduk, setelah seseorang yang berteriak seperti itu tadi sepertinya mendorongnya.
"Kak Jihan!"
Jerga mulai geram, tubuhnya berlari mendekati kedua kakaknya berada, dan langsung menatap kakak keduanya itu tajam.
"Nggak usah dorong bisa, 'kan? Apa lo lupa kalo jalanan ini luas?"
"Terus jadi masalah buat lo?" Gadis itu terkekeh sinis, "bocil nggak usah ikut campur." Imbuhnya.
Arghh! Jerga benar-benar ingin menampar Jihan jika perempuan itu bukan kakaknya.
Dan jika dia bukan seorang perempuan.
Bagaimana tidak? Kepala Jerga baru saja Jihan dorong-dorong dengan kencang ke belakang menggunakan jari-jarinya. Jerga yakin, kalau sekarang ayahnya berada di rumah, dia yang akan mendapat tamparan dari ayahnya itu. Meskipun bukan dia yang memulai.
Sudah biasa seperti ini, suatu kesalahan yang tidak dilakukannya saja ayahnya bisa menamparnya. Apalagi kesalahan yang memang di lakukannya?
Jerga menatap gadis di hadapannya sinis, wajahnya kemudian menoleh ke depan sana menatap lelaki yang sejak tadi menatapnya dengan tatapan sendunya.
Ah, Jerga muak!
.......
.......
.......
Suasana di kelas 12-B pagi ini belum terlalu ramai. Sebenarnya juga tidak akan seramai ini kalau lelaki berkulit sedikit cokelat itu tidak di sini sekarang. Anak itu saat ini tengah duduk di bangku yang berada di depan Yora, menghadap gadis itu. Sedang apalagi mereka kalau bukan berdebat. Mereka sering seperti itu.
Lain halnya dengan gadis yang duduk di samping Yora. Jia, gadis itu sedari tadi hanya diam sambil bermain dengan Bonny. Tak jarang juga sedikit terkekeh dengan kelakuan Yora dan Haksa.
"Sa, balik kenapa sih ke kelas lo!"
"Apa urusannya dengan anda?"
Rasen menghembuskan napasnya frustrasi, dia benar-benar ingin melempar anak itu ke danau Toba. Sehari saja anak itu tidak membuat tekanan darahnya naik. Apa tidak bisa?
Tentu tidak. Itulah hobi seorang Haksa Adlino.
Hingga bell masuk pun berbunyi, semua anak-anak berhamburan untuk duduk di bangku masing-masing. Rasen menolehkan kepalanya ke belakang, lagi-lagi dia menggeram dengan langkah yang mulai mendekat.
"Jahat banget sumpah lo, Ras!"
Haksa yang tiba-tiba kerah bajunya di tarik ke belakang pun terkejut, dia sempat menoleh dan mendapati wajah seram Rasen yang kini mulai menariknya menuju pintu kelas. Hal itu membuat seisi kelas tertawa melihatnya. Tidak heran lagi dengan kedua lelaki itu.
Rasen menulikan pendengarannya dan tetap melanjutkan langkahnya untuk kembali duduk di bangkunya. Mungkin besok-besok, dia akan menabur garam di sekitar kelasnya.
Baiklah, mereka semua kini terdiam saat pintu depan itu terbuka dan menampakkan sosok wali kelas mereka yang berjalan ke meja guru yang berada di depan sana.
Haksa? Tenang, kan sudah di tendang oleh Rasen.
Haha, tidak-tidak. Bercanda.
"Selamat pagi, Pak!"
"Iya, selamat pagi."
Guru tampan itu membalas sapaan murid-muridnya dengan senyum manisnya.
Kalau dari cerita siswa-siswi di sekolah ini, guru itulah yang paling tampan. Putih, tinggi, gagah, baik, ramah dan murah senyum. Mereka kadang menyebutnya seperti artis, atau bahkan seperti malaikat.
"Baiklah, hari ini saya akan melakukan absen terlebih dahulu," senyuman itu masih belum luntur, "tetapi sebelum itu, saya akan memperkenalkan teman baru kalian."
Beberapa anak di kelas terlihat menautkan alis mereka. Teman baru? Murid baru?
"Silahkan masuk."
Mata mereka kini tertuju ke arah pintu, penasaran dengan teman baru yang beberapa detik lalu wali kelasnya itu katakan. Suasananya mendadak sunyi, hanya terdengar langkah sepatu memasuki kelas 12-B ini. Melangkah ke tengah dan membalikkan tubuhnya menatap teman-teman barunya.
"Silahkan perkenalkan diri kamu."
Anak itu mengangguk, jantungnya berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya. Hari pertamanya dia sekolah lagi.
"Hai, senang bertemu dengan kalian. Namaku Nanggala Aksha."
"Saya harap, kalian bisa membantu Nanggala disini. Membantunya dengan baik." Pria itu menepuk lembut bahu Nanggala, seperti memberinya semangat.
"Pak, dia pindahan dari mana?"
Nanggala menatap lelaki yang bertanya seperti itu tadi, wajahnya sedikit dia tundukkan.
"Eum, dia tidak sekolah, dan hari ini hari pertamanya dia bersekolah lagi. Maka dari itu saya minta, bantulah Nanggala dengan baik, sebagai teman kalian."
Seketika banyak suara yang berbisik-bisik. Tatapan semakin aneh, tatapan sinis, dan masih banyak lagi.
"Tidak sekolah? Apa dia tidak punya uang, Pak? Miskin dong?"
"Hahahahaha!"
Nanggala menghembuskan napasnya pelan mendengar itu. Banyak siswa-siswi yang menertawainya sekarang ini. Baiklah, tujuannya disini hanya untuk giat belajar, lulus. Dan juga menjaga gadis itu.
Dia harap tidak akan ada hal yang tidak diinginkan terjadi kepadanya disini.
Dia harap seperti itu.
"Sudah sudah. Yora?" gadis yang dipanggil itu mendongak, "bisa kamu duduk di depan? Biarkan Nanggala duduk disitu."
Sebenarnya gadis itu sedikit bingung, kenapa wali kelasnya menyuruh anak baru itu duduk dengan Jia? Apa Jia tidak apa-apa? Namun akhirnya dia tersenyum dan mengangguk, mulai beranjak dari duduknya dan beralih duduk di depan, bangku yang berada tetap di depan bangku Jia. Bangkunya yang dulu sebenarnya, sebelum kemarin pindah duduk di samping Jia.
"Duduklah, Nanggala."
Anak sedikit membungkukkan badannya memberi hormat, dan setelah itu berjalan menuju bangkunya. Dia duduk di sana dan melemparkan senyumnya kepada gadis di sebelahnya, tentu saja dibalas dengan senyuman tak kalah manis oleh gadis itu.
Setelah itu, dilanjutkan dengan sang wali kelas yang mengabsen satu per satu nama mereka. Hingga kelas kembali gaduh lagi.
"Jangan ribut dan tunggu guru mata pelajaran kalian."
"Minggu depan saya akan membuat tugas berkelompok untuk kalian."
"Yaaah, Pak Shandy!"
"Tidak ada yang boleh membantah."
Pria itu terkekeh saat melihat ekspresi murid-muridnya yang terlihat frustrasi. Lalu tubuhnya sedikit berjalan ke depan, dan berhenti di salah satu bangku siswa.
"Rasen, tolong bantu Nanggala, ya? Cuma kamu yang bisa saya andalkan."
"Baik, Pak."
Shandy lagi-lagi tersenyum dan mengangguk, tangannya menepuk pelan bahu si ketua kelas. Hingga akhirnya pria itu berjalan pergi dari kelas, suasana kelas pun mulai ribut lagi.
"Woy, miskin!"
Nanggala sedikit menoleh dan melirik dengan ekor matanya mendengar itu.
"Dasar miskin. Kelas kita jadi tambah lagi dong sama orang-orang nggak berguna?"
"Mana duduknya barengan gitu?"
"Cocok banget emang mereka."
"Yang satu gila, yang satu miskin."
"Hahahahaha!"
Gadis berambut panjang yang mendengar itu langsung menutupi kedua telinganya dengan tangannya. Wajahnya menunduk takut.
Nanggala yang melihat itu lalu menolehkan kepalanya dan menatap Jia sendu. Dia memang tidak apa-apa anak-anak berkata seperti itu kepadanya, dia hanya tidak menyangka, ternyata di sekolah gadis itu mendapat perlakuan seperti ini juga.
Tidak di rumah, tidak di sekolah, kenapa mereka semua sangat kejam kepada gadis itu?
Nanggala hanya diam tidak menanggapi semua perkataan mereka. Yang harus dia lakukan saat ini ya hanya menenangkan Jia. Dia mulai menyentuh tangan itu dan menurunkannya, genggaman tangannya membuat gadis itu perlahan menoleh.
Yora yang sejak tadi menatap ke belakang pun semakin bingung dengan kedua orang itu. Mereka sudah benar-benar kenal kah?
__ADS_1
Kegaduhan mereka kembali terhenti saat guru mata pelajaran mereka memasuki kelas, seketika membuat semua orang kembali lagi ke tempat duduk mereka masing-masing.
Hingga tidak terasa, bell istirahat berbunyi beberapa menit yang lalu, banyak siswa siswi yang berhamburan keluar kelas mereka dan menuju ke kantin untuk mengisi perut mereka.
"Jia, ayo kantin?"
Gadis yang baru saja selesai merapikan buku-bukunya itu mendongak, lalu menganggukkan kepalanya.
Yora tersenyum lebar. Sejak kejadian di toilet waktu itu, Jia sudah tidak lagi takut dengannya. Dan tentu saja membuatnya sangat-sangat senang. Saat itu mereka sama-sama menangis setelah pergi dari toilet. Sejak itulah, Jia sepertinya mulai tidak takut lagi dengannya dan mempercayainya.
Dia pun begitu. Berjanji akan selalu melindungi sahabatnya.
"Nala, ayo!"
Yora mengernyitkan alisnya.
"Nala?"
Nanggala yang mendengar nada kebingungan itu lalu menoleh dan tersenyum kikuk, "eum, dia panggil gue Nala. Nanggala."
Jawaban lelaki itu membuat Yora ber-oh panjang, lalu seketika sedikit memajukan tubuhnya saat dia baru ingat sesuatu.
"Bentar-bentar, kalian itu ... udah saling kenal?"
Nanggala melirik Jia di sampingnya yang masih tersenyum dengan sangat manis.
"Nala sahabat Jia!" Gadis itu menjawabnya senang.
"Gue yang jaga Jia."
Yora mengernyit bingung lagi.
"Jaga?"
Bukan Yora yang bertanya seperti itu, melainkan sang ketua kelas kita, Rasen. Kehadiran lelaki itu juga membuat ketiga orang tadi menoleh dan menatapnya.
"Iya, gue di pekerjakan om Dharma buat jaga dia."
Sebenarnya mereka masih bingung mendengar semua perkataan yang muncul dari anak baru itu. Tetapi Rasen langsung paham, dia tahu betul bagaimana Dharma kepada Jerga.
Dia berpikir Jerga tidak bisa selalu menjaga Jia juga ketika di sekolah, ataupun pulang sekolah. Jerga kan selalu ada les. Mungkin itulah alasan kenapa ayah Jerga mempekerjakan Nanggala untuk menjaga Jia.
Ah, Rasen sangat bersyukur dengan otak cerdasnya.
"Gue minta, jaga Jia dengan baik ya?"
Mereka bisa melihat kalau Nanggala ini benar-benar orang yang baik. Mereka berharap juga seperti itu, Jia benar-benar di jaga oleh orang baik.
"Pasti."
Senyuman mereka bertiga kini menjadi kekehan kecil. Jangan lupakan Jia yang saat ini tengah tersenyum juga sambil bermain dengan Bonny.
"Yaudah, yuk kantin?" ajak Rasen.
"Eum ...."
"Udah ayo, Rasen ganteng yang traktir."
Nanggala merasakan bahunya di tarik untuk berdiri, lelaki itu menatap Rasen dengan kekehan kecil. Sebenarnya dia juga tidak enak. Dia juga tersadar, dia sepertinya tidak bisa membayar untuk makan siangnya, meskipun Dharma membayarkannya untuk sekolah, namun pria itu tidak membayarkannya untuk yang lain lagi.
Seperti ini misalnya. Uang makan siang.
Karena sekolah ini memang termasuk sekolah yang mahal dan juga bagus, maka dari itu ada juga sistem makan siang untuk para murid-murid ataupun guru.
Untungnya dia kemarin masih mempertahankan beberapa pekerjaannya. Mungkin nanti bisa sesekali untuk membayar.
"Ayoooo!"
Kini giliran Yora yang berdiri sambil menarik lembut lengan Jia, hingga membuat kedua lelaki yang sudah berjalan di depan itu semakin mempercepat jalan mereka.
Tidak lama perjalanan mereka menuju kantin. Jujur Nanggala masih sedikit gugup, sudah lama dia tidak merasakan situasi seperti ini. Sudah lama sekali. antara senang dan ingin menangis.
Tentu saja menangis senang, karena akhirnya dia bisa mewujudkan mimpinya untuk bersekolah lagi. Bibirnya kembali tersenyum, di tatapnya gadis yang saat ini berjalan di sampingnya, gadis itu menunduk takut tidak seperti di kelas tadi saat tengah bersamanya.
Keadaan kantin cukup ramai sekarang. Masih ada juga yang berjalan untuk menemukan tempat duduk mereka, atau bahkan yang sudah selesai dengan makanan mereka. Nanggala sejak tadi melindungi Jia agar tidak tertabrak dengan orang-orang yang berpapasan dengannya.
Prank!
Nanggala terkejut mendengar suara itu. Suara yang berasal tepat di sampingnya.
"Argh! Lo punya mata nggak sih?!"
Matanya membulat saat lelaki yang nampan makanannya baru saja jatuh itu memarahi Jia, gadis itu tetap menunduk dan sedikit mendekatkan tubuhnya kepadanya.
Pasti Jia ketakutan.
"Maaf, dia nggak sengaja."
Lelaki yang sejak tadi menatap marah ke arah Jia, kini beralih melirik seseorang yang berkata seperti itu tadi dengan sinis.
"Wah, lo siapa? Anak baru?" lelaki bertubuh tinggi itu terkekeh sinis, "oh, lo anak baru yang miskin itu? Wah!"
Kini di gantikan dengan tertawa mengejek. Suasana kantin yang hening, membuat suara lelaki itu menggema kemana-mana, dan pandangan seluruh orang yang ada dikantin pun tertuju pada mereka.
Nanggala tidak peduli, dia menyembunyikan tubuh Jia di belakangnya.
"Nggak usah belagu lo miskin!" dorongnya di dada Nanggala, "bersihin makanan gue."
Yang di perintah pun menundukkan kepalanya menatap lantai yang sudah berceceran makanan itu. Nanggala menghela napasnya lirih, hingga selanjutnya tubuhnya dia jongkokkan dan mulai mengambilnya.
Rasen yang berdiri di samping Yora seketika memajukan tubuhnya melihat itu, namun ditahan oleh Yora dengan gadis itu yang mengucapkan kata 'jangan' tanpa suara.
Jangan. Jangan melawan Yunan, lelaki yang ditakuti hampir satu sekolah. Meskipun parasnya tampan, namun kelakuannya membuat semua murid disini takut kepadanya.
Yunan menatap remeh Nanggala dan masih dengan senyum sinisnya.
"Makan."
Kata itu membuat Nanggala menghentikan gerakan tangannya. Kepalanya dia dongakkan ke atas dan menatap lelaki yang berdiri menjulang tinggi di hadapannya.
"Makan!"
"Atau dia yang makan."
Yunan dengan tiba-tiba menarik kasar lengan Jia yang berdiri di belakangnya, membuat Nanggala seketika berdiri dan menepis tangan lelaki itu.
"Wah?"
"Dasar miskin belagu."
Bugh!
Pukulan tiba-tiba itu membuat siswa-siswi yang ada di kantin dan sejak tadi melihat mereka benar-benar terkejut, ada yang refleks berteriak juga. Tubuh Nanggala tersungkur ke belakang saat pukulan itu mengenai pipinya. Ah, pukulan dari Janan kemarin saja masih terasa nyeri di pipinya.
Lelaki yang duduk tak jauh dari mereka hanya menatap itu tanpa ekspresi. Tangannya sudah terkepal sejak tadi, namun tubuhnya terasa berat untuk beranjak dan mendekat ke sana.
"Jer, Jia!" Bisik Haksa di sampingnya sambil menyenggol lengan Jerga. Dia juga sebenarnya tadi ingin ke sana, namun di tahan oleh lelaki itu.
"Biarin. Udah ada dia." Gumam Jerga datar dan kembali melanjutkan suapan nasi ke mulutnya. Tetapi rasanya sangat sulit menelan makanan itu.
Jerga ingin sekali ke sana, dia ingin sekali membantu kakaknya. Dia sejak tadi juga tidak tega, tidak terima dengan kakaknya yang di perlakukan seperti itu. Namun dia tahan, dia urungkan.
Ada lelaki itu juga di sana. Jerga sangat benci itu, meskipun dia ingin sekali membantu kembarannya.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
...• To be continued •...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
__ADS_1
...Wah, sepertinya baru di mulai nih...
...Ayo dukung terus yaa, komen sebanyak-banyaknya biar author semangat>.<...