NANGGALA AKSHA

NANGGALA AKSHA
26. Rahasia Menyakitkan


__ADS_3

Matahari siang ini sangatlah terasa terik di atas sana. Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, dan lelaki yang sejak kemarin malam berbaring di ranjang tidurnya itu belum juga membuka matanya.


Thalia sebenarnya khawatir, tetapi tidak apa-apa, biarkan Nanggala beristirahat dulu.


Wanita itu pun tadi sudah menelepon Shandy, mengatakan jika Nanggala tidak masuk sekolah hari ini. Anak itu belum bangun tak lama sejak menangis di pangkuannya kemarin malam. Tetapi, kalaupun Nanggala sudah bangun, Thalia tidak akan mengizinkan anak itu untuk sekolah dulu. Dia harus beristirahat penuh di rumah, apalagi semalam juga badannya panas.


Thalia benar-benar tidak tidur dengan tenang. Wanita itu sesekali mengganti kain yang di gunakan untuk mengompres kening Nanggala, serta mengecek suhu badannya juga. Di temani anak lelakinya, Yodhan tidur di sofa ruang tv.


Sang suami sudah Thalia beri tahu, pria itu juga yang hari ini menjaga toko di bantu oleh anak lelakinya. Sedangkan dia yang akan menjaga Nanggala sampai anak itu terbangun.


Thalia tersenyum hangat menatap mata tertutup Nanggala dengan sendu. Tangannya terulur untuk mengelus rambut itu lembut, mata kirinya masih membengkak, bahkan lebih besar daripada kemarin malam.


Dia ingin sekali ikut membatu Nanggala menemukan sang bunda. Ingin sekali mempertemukan anak manis itu dengan bundanya. Tetapi, dia yang memang sering sibuk dengan pekerjaannya.


Thalia yakin, sosok bunda Nanggala pasti sama dengan anak itu. Dari wajahnya yang manis, sampai sifatnya yang begitu baik. Dia yakin mereka berdua sangat mirip, dan Nanggala juga pernah berkata seperti itu kepadanya. Dia kembali tersenyum dan masih mengusap lembut rambut itu, hingga beberapa detik kemudian harus terhenti ketika mata itu terbuka dan bergerak pelan seperti menyesuaikan cahaya.


"Wis bangun, Nak?" tanya Thalia lembut.


Mata Nanggala bergerak lalu menatap seseorang yang duduk di tepi ranjangnya yang juga tengah menatapnya dengan senyuman lembut. Ah, mata kirinya ... Dia seperti sedang melihat dengan satu mata. Mata kirinya tidak bisa dia buka dan tertutup rapat, kalaupun di paksakan akan sangat sakit dan pegal.


"Budhe ..." lirihnya purau.


"Ojo bangun dulu, kamu harus istirahat." Perintah Thalia menahan lengan anak itu untuk tidak bangun.


Memang, bangun sedikit saja tubuh Nanggala terasa sangat remuk.


Menghembuskan napasnya panjang, dia menatap lagi Thalia dengan sayu, "jam berapa, Budhe?"


"Jam dua belas siang. Uwis kamu tenang aja, Budhe tadi udah ngasih tau wali kelas kamu kalau kamu izin ndak berangkat."


Sedikit terkejut, dengan susah payah Nanggala menatap ke sekitarnya. Benarkah? Benarkah sudah jam 12 siang? Dia tertidur selama itu? Sekolah, sempat sedih juga dia tidak bisa masuk sekolah hari ini. Tetapi jika keadaannya yang seperti ini pun, pasti di sekolah dia akan menjadi pusat perhatian.


Lalu gadis itu. Nanggala tidak ingin membuat gadis itu khawatir.


"Sebentar yo, Budhe bikinin makan siang dulu buat kamu." Pamit Thalia.


Nanggala hanya mengangguk lemas mendengarnya. Lalu sepeninggal wanita itu dari kamarnya, matanya melirik ponsel yang tergeletak di meja samping ranjang tidurnya. Tangannya terulur dan meraihnya pelan, meskipun sakit dia rasa pada lengannya saat lengan itu terangkat. Hingga akhirnya dapat, dia lalu membuka ponsel itu.


Benar, jam kini sudah menunjukan pukul dua belas lebih delapan belas menit.


Pada layar locksrceen-nya, Nanggala bisa melihat ada beberapa panggilan dengan nama-nama yang berbeda di sana. Serta pesan whatsapp yang juga dari nomor berbeda.


Jerga, Jia, Rasen, bahkan Haksa dan Yora, semua menghubunginya.


Menghela napasnya panjang, Nanggala benar-benar tidak ingin membuka itu, rasanya sangat bingung memberi mereka alasan yang seperti apa. Terlebih jika Jia tahu, dia tidak ingin membuat gadis itu khawatir untuk yang kesekian kalinya.


Nanggala memejamkan matanya dan menghembuskan napasnya lagi. Biarlah, biarlah semua orang tidak ada yang tahu, sampai dia masuk sekolah lagi besok. Dengan keadaan yang ... dia berharap lebih baik dari keadaannya yang sekarang.


.......


.......


.......


Langit sudah mulai menggelap, jam menunjukan pukul delapan malam, dan lelaki yang baru saja keluar dari kelasnya itu menghela napasnya panjang. Kelas tambahan baru saja selesai.


Sebenarnya setelah ini dia harus menghadiri les, namun sepertinya dia tidak akan berangkat. Tidak peduli apa yang akan dia terima dari ayahnya jika tahu dia tidak berangkat les. Karena tujuannya setelah kelas tambahan malam ini, dia berniat menemui seseorang yang di carinya sejak tadi pagi.


Tidak hanya dirinya, namun sahabat-sahabatnya yang lain. Terlebih kembarannya.


Lelaki itu tidak ada kabar sejak pagi. Bahkan panggilan telepon dan pesan-pesan whatsapp-nya tidak ada yang di jawab atau di balas.


Jerga melangkah seorang diri menyusuri koridor sekolah, dia akan langsung ke tempat Nanggala.


Sedangkan Jia, Jerga meminta Yora untuk mengajak gadis itu bermain ke rumahnya, dengan alasan ya ... dirinya akan menemui Nanggala, mencari tahu sebenarnya apa yang membuat lelaki itu tidak berangkat sekolah. Tentu saja dia tidak memberi tahu kembarannya dengan alasan itu. Meskipun sejak pagi memang raut wajah gadis itu tak lepas berekspresi sedih karena mengkhawatirkan Nanggala.


Mengambil motornya yang berada di parkiran sekolah, Jerga langsung pergi meninggalkan sekolah dengan kecepatan penuh. Tidak terlalu jauh juga kost Nanggala dengan sekolah, dan juga dengan rumahnya. Hanya beberapa menit, Jerga sudah sampai di depan kost yang ditinggali Nanggala ini.


Melepas helmnya, kepalanya kemudian mendongak menatap pintu kost Nanggala dari bawah. Ini kedua kalinya Jerga kesini. Tetapi alasan yang membuatnya kesini sama saja, karena lelaki itu tidak berangkat sekolah dan tidak ada kabar.


Jerga mulai melangkahkan kakinya memasuki gedung kost, hingga tidak lama kemudian, lelaki itu sampai di depan salah satu pintu.


Menghembuskan napasnya panjang, tangannya terangkat untuk mengetuk pintu itu.


Tok tok tok


Cukup lama, cukup lama Jerga menunggu di depan, hingga beberapa menit kemudian pintu itu terbuka dan langsung menampakkan sang pemilik di balik pintu.


Jerga refleks membulatkan kedua matanya ketika melihat wajah Nanggala. Apalagi Nanggala, yang lebih terkejut dengan kedatangan Jerga malam ini.


"Masuk, Jer." Ajak Nanggala lirih.


Karena dia tahu, pasti Jerga terkejut dengan kondisi wajahnya yang memang beberapa berwarna ungu bahkan abu. Nanggala bersyukur mata kirinya sudah bisa terbuka, yang tadi siang sama sekali tidak bisa terbuka.


Jerga masuk, lelaki itu berjalan di belakang Nanggala sambil terus menatap punggung itu yang memang jalannya sedikit tertatih, lalu mereka duduk di sofa yang menghadap tv. Masih sama-sama terdiam, Nanggala sendiri bingung memulai basa-basi bagaimana dengan Jerga.


"Siapa?"


Suara Jerga terdengar di sunyinya kost ini.


Nanggala mengangkat kepalanya menatap mata itu. Bibirnya terasa sulit untuk mengatakannya.


"Siapa yang buat lo kayak gini?" tanyanya lagi dengan mata tajam.


Nanggala menunduk dan membuat Jerga yang melihatnya langsung menghembuskan napasnya panjang.


"Kak Jia khawatir banget sama lo."


"Maafin gue."


Tatapan Jerga kini mulai melembut, lagi-lagi menghembuskan napasnya, Nanggala belum mau mengatakan siapa yang membuatnya babak belur seperti ini.


"Maafin gue kalo buat dia sedih. Maafin gue kalo buat dia khawatir ..." lirih Nanggala.


Jerga menatap mata itu dalam, ada rasa sakit juga melihat kondisi Nanggala yang sekarang. Entah bagaimana kondisi lelaki itu sebelum ini, pasti ... pasti lebih buruk daripada ini kan?


Tanpa sadar tangan Jerga terkepal kuat. Meskipun dia belum tahu dan Nanggala yang sepertinya tetap tutup mulut tidak mau memberitahunya siapa yang menghajarnya habis-habisan seperti ini.


Hingga keheningan tercipta, Jerga antara bingung dan sesak ingin bertanya apa lagi. Juga Nanggala, yang sejak tadi menunduk tanpa tahu ingin berkata apa.


"Bentar, Jer."


"Mau kemana?" tanya Jerga.


Dia yang melihat pergerakan Nanggala akan beranjak dari duduknya pun bertanya seperti itu tadi, hingga membuat si empunya menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah yang bertanya.


"Mau ambilin lo minum. Walaupun gue cuma punya air putih." balasnya tersenyum tipis.


Jerga menghela napasnya sejenak, "gue bisa ambil sendiri nanti. Sekarang, kita perlu bicara." jelasnya.


Mau tak mau Nanggala-pun mengurungkan niatnya yang akan pergi ke dapur tadi. Ah, dia tidak berhasil mengalihkan perhatian Jerga. Lelaki itu sangat ingin tahu siapa yang memukulinya kemarin malam.


"Oke, kalo lo belum mau kasih tau."


Nanggala mendongak.


"Gue emang masih pengen tau siapa yang buat lo kayak gini. Tapi kalo lo belum pengen cerita, it's okay," ucapnya mulai tersenyum, "cepet sembuh, dan bikin kakak gue senyum lagi."


Mata Nanggala memanas.


"Cuma sama lo kakak gue bisa senyum ceria. Senyum lebar yang bahkan sama gue pun masih jarang."


Mata Nanggala benar-benar mengabur mendengar perkataan Jerga sejak tadi, apalagi melihat senyum manis lelaki itu. Dia tidak tahu perkataan itu berarti menjaga dalam hal 'pekerjaannya' ... Atau yang lain.

__ADS_1


"Jer, gue ..." ucapan Nanggala terputus, dia menundukkan kepalanya, dia tidak tahu harus mengatakan ini atau tidak.


Bingung. Dia tidak tahu Jerga akan senang atau malah marah.


"Gue tau lo sayang sama kakak gue."


Kata-kata itu membuat Nanggala lagi-lagi mengangkat kepalanya. Jerga tahu? Dan dia tidak marah? Ya, Jerga masih tersenyum sembari mengatakan itu tadi.


"Gue nggak akan marah. Lo cowok baik, lo lebih pantes ngejagain kakak gue dari pada Maldev. Gue lebih percaya sama lo daripada dia." Lanjutnya lagi tersenyum.


Nanggala merasa sedikit terharu. Dia kira Jerga akan marah kalau tahu dia menyayangi kakaknya 'lebih', namun ternyata tidak.


Nanggala membalas senyuman Jerha dengan hangat. Entahlah, dia merasa sangat senang lelaki itu sudah tidak marah dengannya, sudah tidak menjauhinya, dan juga sudah memaafkannya.


"Makan bareng?"


Pertanyaan Nanggala beberapa detik lalu langsung mendapat anggukkan dari Jerga, hal itu tentu saja membuatnya tersenyum senang. Meskipun dia juga sudah makan satu jam yang lalu. Makan lagi tidak apa-apa bukan? Lagi pula makanan yang di buatkan budhe Thalia tadi sore masih cukup banyak.


Nanggala hanya rindu makan bersama Jerga, meskipun mereka juga beberapa kali makan bersama di kantin sekolah.


Tetapi ini kali pertamanya lagi mereka makan bersama setelah Jerga sudah berbaikan dengannya.


.......


.......


Jam menunjukkan pukul setengah dua belas malam.


Jerga baru saja pulang dari kost-an Nanggala, lelaki itu mulai melangkahkan kakinya memasuki rumah. Dia sudah siap jika setelah ini akan kena marah ayahnya atau hal yang lainnya lagi.


Lainnya lagi, itu artinya menghukumnya bukan? Karena dia mengulang untuk yang kedua kalinya tidak berangkat les.


Jerga membuka pintu utama dan berjalan memasuki rumah dengan langkah gontai. Namun baru saja beberapa langkah dia masuk, telinganya dapat mendengar suara gaduh di tempat yang tak jauh darinya. Dia mengangkat kepalanya, dan benar saja, suara itu adalah suara kembarannya yang sekarang ini tengah di jambak oleh kakak keduanya di sana.


Dia membulatkan matanya dan hendak berlari untuk menolongnya, sebelum sosok sang ayah yang datang dari arah sampingnya membuatnya sedikit terkejut.


Hal itu membuat Jerga memberhentikan langkahnya, apalagi Dharma yang kini menatapnya dengan tatapan sangat tajam.


"Dari mana aja kamu." Dingin Dharma.


Jerga mengabaikan itu, tubuhnya sudah berniat menolong kembarannya di sana, namun sekali lagi terhenti karena bentakan sang ayah yang sangat menggema di rumah ini.


"JERGA!!"


Plak!


Dharma menarik lengan Jerga untuk menghadapnya, lalu dengan cepat tangannya melayang dan menampar pipi itu cukup keras membuat sang empu langsung memegangi pipinya.


Jerga mengangkat kepalanya dan menatap sang ayah sinis di hadapannya.


"Udah berani ngelawan Papa lagi kamu?" tanya Dharma menatapnya nyalang, "darimana aja kamu baru pulang dan nggak berangkat les, ha?!"


Jerga dengan napas memburu masih menatap ayahnya sinis, dia benar-benar tidak peduli. Tubuhnya sudah kebal dengan pukulan-pukulan pria itu yang sejak kecil dia terima.


"Bukan urusan Papa." Lirihnya dingin.


Jawaban itu tentu saja membuat Dharma terkekeh sinis mendengarnya. Pria itu mengusap wajahnya kasar. Dia merasa sangat marah sekarang.


Plak!!


Lagi-lagi wajah Jerga memaling ke kiri. Rahangnya mengeras, dia menatap lagi ayahnya dengan tajam.


Teriakan kesakitan kembarannya disana benar-benar terasa sesak di dadanya, maka dari itu Jerga mulai membalikkan tubuhnya lagi untuk menghampiri mereka.


Kali ini Dharma tidak mencegatnya, membuatnya dengan cepat berlari ke arah kedua gadis itu.


Yang membuat Jerga tak habis pikir lagi adalah, dia melihat Jihan yang dengan kejamnya tengah menarik kencang rambut kembarannya, lalu sang ayah yang dia yakin sejak tadi pasti sudah sadar akan hal itu, tetapi pria itu diam saja tidak mau melerai.


"Lepas!"


Sesampainya di hadapan keduanya, Jerga dengan cepat melepas tangan Jihan yang menariki rambut Jia dan menghempaskannya kencang, membuat sang empu mengaduh sakit.


"Minggir! Gue nggak ada urusan sama lo!"


"Tapi Kak Jia jadi urusan gue!!"


Bentak Jerga cukup keras di depan kakaknya, sedangkan dia sudah sejak tadi menggenggam tangan Jia yang berdiri di belakangnya.


Gadis itu masih menangis, sempat Jerga lihat tadi wajah kembarannya itu sudah cukup sembap. Dia tidak tahu selama apa Jihan berlaku seperti itu kepada kembarannya. Bahkan rambut panjangnya juga sudah berantakan.


"Nggak usah sok pinter lo bocil!"


Jerga terkekeh sinis, dia benar-benar sudah muak rasanya, "tapi otak gue lebih dewasa dari lo. Lo emang lebih dewasa dari gue, tapi otak lo, bahkan kalah sama anak SD."


Jihan menggeram mendengar itu, dia menatap sang adik tajam. Dirinya tentu saja tidak terima di katakan seperti itu oleh adik bungsunya.


"Lo, jaga ya mulut lo!"


"Lo yang harusnya jaga mulut kotor lo!"


Masih menatap tajam, Jihan beralih menatap Jia yang berada di belakang Jerga, menatapnya lebih tajam gadis yang tengah ketakutan itu, bahkan tubuhnya gemetar, tangannya juga gemetar sambil menggigiti kuku jarinya sendiri.


"Sini lo anak gila!"


"LO YANG GILA SIALAN!!"


Jihan menatap Jerga tak percaya, "ohh, lo berani ngatain kakak lo sendiri?!"


"Kakak? Sejak kapan lo bersikap seperti seorang kakak buat gue?" Tanya Jerga dingin.


"Arghh! Dasar anak gangguan mental! Stres! Gila! Mati aja lo, lo hidup juga nggak berguna!!"


PLAK!


Jerga sudah tidak tahan lagi, telapak tangannya terkepal dengan kuat yang sebelum itu sudah dia gunakan untuk menampar kakaknya.


Napasnya begitu memburu, Jerga bahkan tidak akan pernah menyesal sudah menampar Jihan. Gadis itu pantas mendapatkannya. Mulut kotornya itu, tangan kotornya itu, Jerga sudah sangat geram sejak dulu. Hanya karena dia bungsu, dia yang harus terus mengalah.


Tidak. Jihan sudah sangat keterlaluan.


Jihan memegang pipi kanannya yang terasa sangat panas. Tangan Jerga itu besar dan kuat, dia menatap sang adik sambil terkekeh sinis.


Sementara Jerga membalikkan tubuhnya, dia memegang kedua bahu Jia lembut. Bisa dia dengar mulut itu beberapa kali mengucapkan sesuatu sambil dengan tubuh yang gemetar takut.


"Nala ... hiks, Nala ..." lirihnya bergetar.


Jerga menghembuskan napasnya pelan, di tatapnya lembut mata itu, "Nala nggak papa ... Tadi Jerga udah ke kost-an Nala. Udah ya? Nala nggak papa, besok kita ketemu Nala." Jelasnya tersenyum untuk menenangkan gadis itu.


Jia mulai mengangkat kepalanya dan menatap adiknya dengan mata yang berair, membuat tangan sang adik terangkat dan mengusap lembut matanya.


"Ohh, ini alasan kamu nggak berangkat les?"


Suara itu terdengar bebarengan dengan kedatangan Dharma ke hadapan mereka bertiga. Matanya melirik Jihan disana yang tengah menatapnya dengan tatapan memelas.


"Bagus kamu kayak gitu? Ha? Bagus juga kamu nampar kakak kamu kayak gitu? Ha?! JERGA ABHICANDRA!!"


Bentakan itu membuat Jerga sedikit memejamkan matanya, karena suara Dharma benar-benat tepat di telinga kanannya. Terlebih Jia, gadis itu sudah memejamkan matanya kuat sambil menutup kedua telinganya.


"Jerga bilang bukan urusan Papa!!"


PLAK!!


Ah, sudah tiga kali pipinya di tampar sang ayah dalam kurun waktu kurang dari sepuluh menit.

__ADS_1


"KURANG AJAR KAMU!!"


Dharma menoleh ke samping ketika ada yang menarik lengannya.


"Cukup, Pa."


Dharma menatap tajam anak pertamanya yang baru saja tiba di hadapan mereka. Dari penampilannya, sepertinya lelaki itu baru pulang, masih terdapat tas yang tersampir di pundak lelaki itu.


Janan menatap sang ayah sama tajamnya. Dia merasa marah, dia merasa marah ayahnya berlaku seperti itu kepada adik-adiknya. Tubuhnya berjalan ke arah Jia berada, dia menarik gadis itu lembut sedikit menjauh dari sini dan juga mulai memeluknya lembut.


Dharma tidak memperdulikan itu, tatapannya beralih ke Jerga lagi.


"Hanya karena Nanggala, hanya karena anak itu kamu ngelewatin les kamu, bener?! Kasih apa dia sama kamu? Kasih kamu makan? Kasih kamu apa Papa tanya?!!"


"Stop bawa Nanggala di urusan keluarga kita, Pa!" matanya membulat lebar menatap ayahnya, "dia selalu jadi korban pukulan Papa hanya karena nolongin Jerga! Dia diem aja! Diem aja dengan rasa sakitnya! Apa Papa pernah mikirin itu?" lanjutnya tak kalah keras.


Jerga benar-benar mengeluarkan semuanya, dia sudah tidak tahan. Perlakuan Nanggala ketika lelaki itu beberapa kali menolongnya hingga menjadi korban pukulan sang ayah, itu membuatnya sesak.


Dia sudah sejak lama menyadari, namun rasa benci di hatinya dulu masih menyelimutinya.


Dharma terkekeh sinis mendengar itu, dia mengusap rambutnya kasar ke belakang.


"Udah cukup, cukup Jerga aja yang dapet pukulan dari Papa! Jangan Kak Jia! Dan juga jangan Nanggala ..." Suaranya melirih di akhir kalimat.


"Nggak usah ngebela anak itu terus kamu!"


"NANGGALA SAHABAT JERGA, PA—!"


"TAPI AYAH NANGGALA YANG UDAH BUNUH MAMA KAMU, DENGAR JERGA?!!"


Kata-kata yang terucap dengan sangat keras beberapa detik yang lalu membuat Jerga langsung terdiam. Tubuhnya mematung tetapi bergetar, dadanya terasa sangat sesak, hingga lidahnya yang juga terasa kelu untuk berkata lagi.


Jerga menatap sang ayah tidak percaya. Matanya bahkan kini sudah mulai memanas.


Ayah Nanggala ....?


Membunuh ibunya ....?


Tidak. Itu tidak mungkin.


Jerga menelan ludahnya dengan susah payah, tenggorokannya benar-benar tercekat.


Janan yang berada di belakang sambil memeluk Jia hanya memejamkan matanya, dengan tangan kiri yang menutupi telinga sang adik, dan tangan kanan yang terkepal.


Sementara Jihan, gadis itu sama terkejutnya.


Jerga masih menolak kata-kata itu di dalam hatinya. Rasanya tidak mungkin. Memang benar, sang ibu meninggal karena korban pembunuhan. Tetapi ayah Nanggala ... tidak mungkin bukan?


Berita yang tersebar kala itu di sekolah bahwa ayah Nanggala adalah seorang pembunuh ....


Jerga merasa tubuhnya benar-benar lemas sekarang ini dan kepalanya yang juga sangat pening.


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


...───• ~⸙ᰰ~ •───...


Tok tok tok


Nanggala melangkahkan kakinya pelan menuju pintu kost-nya. Siapa yang larut malam begini mengunjungi kost-nya? Dia memang belum tidur, belum bisa tidur juga karena dia saja baru bangun jam 12 siang tadi.


Membukanya dengan pelan, Nanggala langsung terkejut melihat siapa seseorang yang berdiri di di hadapannya saat ini.


"Jerga? Ada yang ketinggalan?"


Lelaki itu, Jerga.


Yang di tanya masih belum menjawabnya membuat Nanggala bingung, apalagi raut wajah lelaki itu yang sangat tajam menatapnya.


Ada apa?


Belum ada satu jam Jerga pulang dari sini, lalu lelaki itu sudah kembali lagi, dengan wajah yang sangat tidak enak cara menatapnya. Serta penampilan yang sangat kacau, dengan rambut yang berantakan.


Bugh!


Hingga pikirannya buyar dengan pukulan tiba-tiba itu yang membuat tubuhnya langsung jatuh ke lantai. Nanggala mengangkat kepalanya dan menatap Jerga bingung. Pipi kanannya yang masih terasa nyeri sudah di timpa dengan pukulan lagi.


"Jer ..." lirihnya.


Jerga di sana dengan napas yang memburu menatap Nanggala sangat tajam, tubuhnya dia majukan pelan lalu dia posisikan duduk di atas tubuh itu sambil mulai memegang kerah kaosnya.


Bugh!


Wajah Nanggala memaling ke kanan lagi saat pukulan itu menghantam pipi kirinya. Sedikit merasa marah karena tiba-tiba Jerga seperti itu kepadanya, padahal sebelum pulang saja lelaki itu masih bercanda sambil makan malam bersamanya.


"Jer!"


"Ayah lo yang bunuh mama gue." Desisnya sinis.


Nanggala yang masih berada di bawah lelaki itu pun membulatkan matanya terkejut mendengarnya. Dari ... dari mana Jerga tahu?


Mulutnya seakan tidak bisa terbuka untuk menjawab itu, dadanya terasa sesak. Nanggala menatap kosong Jerga di atasnya yang dengan mata yang mulai memanas.


Hingga saat ini dia bisa mendengar kekehan Jerga.


"Lo udah tau?" tanyanya terkekeh kecil, "anjing." Lanjutnya lagi tajam.


Jerga bisa bertanya seperti itu karena memang melihat reaksi Nanggala yang diam saja. Lelaki itu tidak mengelak atau bahkan bertanya yang lebih jelas kepadanya.


Jadi memang benar? Semua itu benar? Jika ayah Nanggala-lah yang membunuh ibunya?


Jerga mendongak dan menatap ke sembarang arah dengan sesak di dadanya, bibirnya masih terkekeh sinis. Ingin menolak semua itu, tidak membenarkan semua itu, tetapi kenyataannya memang benar. Kenyataan yang di dengar dari ayahnya sendiri, dan juga dari lelaki di di bawahnya ini.


Mata Jerga berhenti dan menatap Nanggala, tatapnnya berubah sangat tajam lagi menatapnya. Yang bahkan lelaki itu sudah tahu, dan menyembunyikan semua ini darinya seolah tidak pernah terjadi apa-apa.


Tangannya yang masih mencengkram keras kaos Nanggala juga dia eratkan.


"Ini alesan lo kerja di sana? Buat kasihanin gue? Buat kasihanin kak Jia? Buat kasihanin keluarga gue?!!" Hardik Jerga.


Bibirnya terkekeh sinis lagi, "gue nggak perlu di kasihani."


"Lo emang bereng*** , Na."


BUGH!!


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...• To be continued •...


...ㅤㅤㅤㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...Part ini penuh emosi sekali:'))...


Ada yang kebawa emosi kah? Hihi, ayo terus dukung author ^^


...Boom komen setelah membaca yaa♡...

__ADS_1


__ADS_2