NANGGALA AKSHA

NANGGALA AKSHA
05. Sebuah Kepercayaan


__ADS_3

"Maksud Papa apa?"


Suara lelaki yang memakai hoodie berwarna abu itu menghentikan langkah Dharma yang baru saja beranjak dari sofa ruang tamu. Pria itu menoleh dan menatap anak lelakinya dengan wajah tegasnya.


"Jerga masih bisa jagain Kak Jia, kenapa Papa—" Anak itu menghembuskan napasnya kasar sambil menatap ayahnya penuh pertanyaan.


Maksud ayahnya itu apa? Menyuruh orang lain bekerja disini dan menjaga kakaknya? Jerga masih bisa. Dia masih bisa menjaga kakaknya kenapa ayahnya mempekerjakan orang lain?


Lagi pula, belum tentu juga kakaknya mau. Dalam artian, tidak akan takut kepada orang baru. Orang yang dulunya dekat dan sudah kenal saja kakaknya masih takut, apalagi ini?


"Nggak usah ngatur Papa kamu Jerga."


Dharma membalikkan tubuhnya dan menatap anak itu tajam. Tentu saja membuat gadis yang sejak tadi diam sambil memeluk boneka putihnya langsung ketakutan.


Jerga bisa merasakan ujung hoodie-nya gadis itu remas kuat.


"Papa bakal hukum kalian lebih berat kalo kamu kayak tadi lagi."


Kata-kata itu membuat Jerga mendongak, masih dengan perasaan kesal kepada ayahnya. Namun mana bisa dia melawan? Bekas tamparan yang tadi sore saja masih terasa sangat perih di pipi kanannya. Juga pukulan di beberapa bagian tubuhnya.


Memang, tadi sore ada kejadian tidak mengenakan yang berakhir ayahnya itu marah dan menampar pipinya serta memukulinya. Sebenarnya Jia yang akan ditampar sang ayah, sebelum dia memohon kepada pria itu untuk menamparnya saja.


Mana tega Jerga melihat gadis itu ditampar ayahnya? Cukup dia saja.


Tadi, ada yang menyebabkan mereka berdua pulang terlambat, hingga membuat Jerga tidak berangkat les. Dan, jadilah dia pulang sampai rumah pukul setengah tujuh malam.


Dan yah ... Jerga di tampar dan di pukuli Dharma setelah itu, dengan Jia yang menangis kencang sambil memeluk erat Bonny. Sesekali juga meneriaki nama ayahnya untuk menghentikan pukulannya.


Setelah kejadian itulah, Dharma benar-benar menyalahkan Jia akibat Jerga yang melewatkan jam lesnya. Dan Jerga tentu saja memohon kepada ayahnya jika kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi. Dia juga memohon untuk tidak menyakiti kakaknya. Jerga benar-benar memohon untuk itu.


Hingga akhirnya mungkin, mungkin itulah alasan Dharma mencarikan orang untuk menjaga Jia. Jerga sebenarnya masih belum menerima itu, tetapi lagi-lagi dia bisa apa? Ini baru sehari kakaknya bersekolah dan beraktifitas di luar rumah, dengan satu kesalahan yang membuat ayahnya benar-benar marah. Lalu bagaimana dengan hari-hari selanjutnya? Baiklah mungkin memang itu akan sedikit membantunya nanti.


Tetapi dengan orang itu. Ah, lelaki itu ....


Kenapa harus dia?


Kenapa harus dia yang menjaga kakaknya?


Kenapa harus dia yang datang kesini?


Kenapa juga dia harus menampakkan sosoknya lagi di depan matanya?


Ah, sial.


.......


.......


.......


Malam hari yang dingin dengan rintik hujan yang turun beramai-ramai menemaninya, waktu menunjukkan pukul sepuluh malam, dan hujan dari pukul delapan tadi belum juga mereda.


Kaki panjangnya melangkah seorang diri menyusuri trotoar jalan yang mulai sepi ini, dengan tangan kanan yang menggenggam sebuah payung bening, Nanggala baru saja selesai dari pekerjaannya. Sebenarnya jam pulangnya masih satu jam lagi, namun dia sudah disuruh pulang oleh bosnya.


Katanya, dia banyak melamun tadi. Bukan disuruh pulang lebih awal karena marah, tetapi kata bosnya dia khawatir. Khawatir kalau dia sedang sakit, padahal tidak. Dia tidak sedang sakit. Mungkin kalau soal melamun tadi Nanggala membenarkan itu, karena memang dia tersadar dia banyak melamun. Entahlah, semuanya begitu membingungkan untuknya.


Kenyataan yang harus Nanggala tahu satu hari ini begitu sulit untuk diterimanya. Namun mau bagaimana lagi? Suka atau tidak suka, siap atau tidak siap, dia memang harus menerimanya.


Siapa lagi kalau bukan dirinya? Semua ini memang satu-satunya cara untuk menebus kejadian yang dulu. Meskipun semuanya begitu menyakitkan sejak empat tahun yang lalu. Untuk dirinya, dan untuk keluarganya.


Tidak apa-apa. Nanggala selalu terus berusaha menyemangati dirinya sendiri.


Langkah kakinya terhenti, matanya menatap ke depan, toko kue Hardi sudah terlihat dari sini, dia juga bisa melihat seorang lelaki baru saja keluar dari sana dengan payung birunya.


Nanggala tersenyum.


Apa dia harus menceritakan yang tadi terjadi padanya? Kepada mereka? Tetapi jahat sekali jika dia tidak memberitahu mereka. Mereka lah orang tua keduanya. Dan keluarga keduanya.


Sebentar lagi mungkin pekerjaan Nanggala tidak akan sebanyak dulu. Dan sebentar lagi juga, Nanggala bisa merasakan bagaimana memakai seragam sekolah lagi. Sebenarnya dia tidak ingin impiannya itu terwujud dengan cara seperti ini. Tetapi mau bagaimana lagi ... Dia harus pasrah dan menerima semuanya.


Nanggala lagi-lagi berharap semua ini memang yang terbaik untuknya.


Semoga.


Kakinya Nanggala langkahkan lagi ke depan hingga tidak terasa tubuhnya sudah berada di depan toko berwarna putih kombinasi merah muda itu.


"Loh, Nanggala?"


Kepalanya menoleh ke samping saat ada yang memanggil namanya.


"Ngapain diluar? Masuk aja. Hujan."


Lelaki yang Nanggala lihat keluar dari toko beberapa menit yang lalu itu menyuruhnya masuk sambil dia yang menutup kembali payung yang di pakainya tadi.


"Hehe, iya Mas. Mas Yodhan dari mana?"


"Ini beli gorengan tadi. Ibu pengen."


Lelaki bernama Yodhan itu menghembuskan napasnya sebal. Sedang asik bermain game dengan di temani mie instant hangatnya, eh, sang ibu menyuruhnya membeli gorengan di warung yang hanya berjarak tiga toko dari rumahnya ini.


Sedang hujan pula, Yodhan tambah setengah hati melakukan semua itu. Tetapi dia lebih baik menuruti perintah sang ibu, dari pada ibunya menyuruhnya tidur diluar? Lebih tidak mau lagi.


Nanggala hanya ber-oh panjang sambil sedikit terkekeh.


"Yaudah yuk masuk? Makan gorengan kita!"


"Lah 'kan punya budhe, Mas?"


"Halah, nanti juga kalo ada lo di kasih ke lo semuanya."


Nanggala tertawa mendengar itu. Hingga akhirnya mereka berdua melangkah bersama memasuki toko, serta melewati pintu yang menghubungkan antara toko dengan rumah ini.


"Assalamu’alaikum. Yodhan pulang!"


Kedua sepasang suami istri itu menoleh ketika mendengar suara pintu terbuka, dan di susul suara teriakan keras dari anaknya.


"Waalaikumssalam, cepetan Ibu laper!"


Nanggala yang mendengar itu terkekeh lirih di belakang Yodhan, sedangkan lelaki itu mendecakkan lidahnya sebal.


"Iya iyaa!"


Yodhan berjalan mendekati kedua orang tuanya yang tengah duduk sambil menonton acara televisi di sana, "nih."


Thalia dan Hardi menoleh. Namun, bukannya menatap makanan yang baru saja di belikan anak semata wayangnya itu, pandangan mereka malah tertuju kepada anak yang berjalan di belakangnya.


"Eh, ada Nanggala? Sini sini!"


Yodhan melirik ibunya sinis ketika dengan sengajanya wanita itu menyenggol tubuhnya, lalu beranjak dari duduknya untuk menghampiri Nanggala di belakangnya. Tentu saja membuat tubuhnya sedikit terhuyung ke samping akibat senggolan sang ibu. Hardi yang menatap itu hanya tertawa mengejek.


"Ya Allah basah koyo gini, baru pulang kerja?"


Nanggala sedikit memejamkan matanya kala kedua tangan itu mengusap lembut rambutnya yang basah karena air hujan.


"Ah, iya Budhe, hehe."


"Yodhan ki juga basah loh, Buk~"


"Kae loh handuk nang kamar mandi 'kan ono! Ora usah lebay deh!"


Yodhan cemberut mendengar itu, sementara Thalia tidak peduli, wanita itu terkekeh menatap mata di depannya yang sedikit terbuka itu. Lalu di tuntunnya tangan anak itu menuju yang lain berada.


"Nah Nanggala, tadi Yodhan beli gorengan, di maem yo?"


Tangan Thalia mulai membuka plastik yang membungkus makanan itu, sementara Yodhan yang mendengarnya lagi-lagi menatap ibunya sebal.


"Iyain aja yo, Pak?"


Hardi tertawa sambil mengacak rambut putranya kala lelaki itu menatapnya dengan wajah cemberut.


Mereka kemudian tertawa bersama sambil memakan gorengan yang Yodhan beli tadi, di bawah derasnya hujan yang bahkan belum mau reda sejak beberapa jam yang lalu.


"Oh iya, ada yang Nanggala mau kasih tau."

__ADS_1


Matanya menatap bergantian kedua orang yang duduk berhadapan dengannya, serta menatap seseorang yang duduk di sampingnya.


"Apa?" Sahut Yodhan mewakili rasa penasaran kedua orang tuanya.


"Mungkin, mulai besok pekerjaan Nanggala udah enggak sebanyak dulu."


"Loh, kenopo? Kamu keluar? Opo ono sing mecat kamu?" Celetuk Hardi yang seketika membuat Nanggala menoleh terkejut mendengar suara keras itu. Mungkin pakde marah jika benar kalau dia dipecat.


Tetapi kan bukan itu.


"B-bukan begitu, Pakde," dia tersenyum kikuk, "Nanggala nggak dipecat."


"Lho terus?" tanya budhe penasaran.


"Eum, mungkin juga mulai besok, Nanggala masuk sekolah lagi." terangnya kemudian.


"Beneran?!"


"Beneran?!"


"Heh, jangan belibet deh, kakak tabok nih!"


"Ibu sing nabok kamu dulu Yodhan! Diem!"


Yodhan lagi-lagi menatap ibunya cemberut. Sudahlah, memang lebih baik dia diam saja.


"Syukurlah kalau kamu wis bisa sekolah lagi. Pakde yo melu senang."


Nanggala tersenyum tipis mendengar itu, ketiga orang di hadapannya terdengar sangat senang. Mungkin pakde dan budhe pikir dia masuk sekolah dengan uang yang di kumpulkannya selama ini.


Tetapi bukan.


Sepertinya Nanggala akan berbohong tentang ini. Tidak enak rasanya jika dia bilang kepada mereka kalau dia masuk sekolah dengan uang orang lain. Tidak enak karena dulu mereka juga beberapa kali menawarkan untuk menyekolahkannya.


Maafkan Nanggala Pakde, Budhe, Mas Yodhan. Maafkan Nanggala berbohong tentang ini.


"Budhe juga! Budhe seneng banget denger kamu akhirnya bisa wujudin mimpi kamu!"


Thalia tersenyum hangat sambil tangannya terulur untuk menyentuh puncak kepala Nanggala lalu mengusapnya lembut. Wanita itu merasa bangga.


"Seragam wis beli? Buku-bukunya wis beli? Opo sing belum kamu beli biar Budhe beliin??"


Nanggala sedikit kaget mendengar pertanyaan Thalia yang begitu cepat itu. Sementara Hardi yang duduk di samping istrinya menatapnya terkekeh sambil menggelengkan kepalanya.


"Udah, Budhe. Nanggala udah persiapin semuanya. Budhe nggak perlu khawatir."


"Sayang, kamu koyo ndak tau Nanggala aja?"


"Iya juga ...."


Kini ketiganya yang terkekeh.


"Yodhan? Kamu ndak kasih selamat buat Nanggala?"


Lelaki yang di sebutkan itu mendongakkan wajahnya menatap sang ibu. Wajahnya masih dia tekuk.


Sangat menggemaskan.


"Kan tadi Ibuk sing nyuruh Yodhan diem."


Kini Thalia yang menatap anaknya sinis. Sedangkan Hardi dan Nanggala tengah menahan tawanya.


"Iyo! Menengo nganti ngesuk!"


Setelah itu hanya terdengar suara tawa, dan suara tangisan Yodhan saat Thalia dengan kejamnya melempar wajahnya dengan gorengan berminyak yang berada di atas meja.


.......


.......


Suasana toilet sekolah siang ini terlihat sepi, karena bell istirahat berbunyi pun masih lumayan lama. Jia baru saja keluar dari bilik toilet yang terletak di paling ujung, kakinya melangkah pelan menuju wastafel dengan cermin yang cukup besar di depannya.


Gadis itu sedikit tersentak ketika mendengar ada langkah yang memasuki toilet ini, wajahnya seketika dia tundukkan takut, namun matanya masih bisa melihat dari cermin di depannya. Ada dua pasang kaki yang kini berjalan kian mendekat ke arahnya.


Wajah Jia semakin menunduk mendengar itu. Dia ketakutan.


"Ck ck ck, udah berani pergi sendiri lo?"


Jia bisa merasakan tangan salah satu gadis yang baru saja datang itu mengelus pelan rambut panjangnya, membuat tubuhnya mulai gemetar.


"Heh, anak gila tuh nggak seharusnya sekolah disini."


"Sekolah kita yang bersih jadi kotor gara-gara lo."


"Ahs!"


Jia memejamkan matanya kuat saat tangan yang tadi mengelus rambutnya itu dengan tiba-tiba menjadi tarikan yang sangat kencang ke belakang.


"Cih, kalo papa lo nggak kaya, lo juga bukan apa-apa!"


Tarikan di rambutnya semakin menguat, kepalanya juga semakin terasa sangat perih dan berdenyut. Hingga selanjutnya, Jia bisa merasakan gadis berambut panjang itu membawanya ke dekat dinding toilet dan membenturkan kepalanya di sana.


Kepalanya mulai pening sekarang.


"Lo nggak usah jadi sampah disini," tekannya tajam sambil mendorong-dorong kening itu dengan tangan kanannya, "mati aja lo."


"Dasar jal*ng."


Plak!


Pipinya terasa sangat perih, dan Jia benar-benar sangat ketakutan. Apa tidak ada yang akan menolongnya saat ini?


"Maafin Jia, Jia salah! Hiks ... Maafin Jia!!"


Tubuh gadis itu meringsut begitu saja jatuh ke bawah. Jia menangis sambil tangannya yang dia gunakan untuk menutupi kedua telinganya. Hal itu membuat kedua gadis yang tengah berdiri di hadapannya terkekeh sinis.


Teriakannya bahkan semakin kencang, sambil sesekali tangannya memukuli kepalanya sendiri.


"Sini lo!"


Gadis itu kembali menarik rambut Jia ke atas, sehingga membuat tubuhnya yang sejak tadi jongkok itu menjadi berdiri. Dengan kencang, tubuhnya gadis itu hempaskan lagi ke dinding toilet.


"Sampah itu nggak seharusnya disini."


"Lo tuh nggak seharusnya hidup tau nggak!"


Wajahnya kembali meringis dengan mata yang terpejam kuat saat kepalanya beberapa kali gadis itu benturkan ke dinding.


Brak!


Mereka yang ada di dalam kecuali Jia menolehkan kepala ke belakang, ketika dengan tiba-tiba ada seseorang yang masuk, dan langsung memposisikan tubuhnya di depan mereka. Melindungi seseorang yang berada di belakangnya.


"Gila lo ya?!" bentaknya dengan mata yang melotot tajam.


"Haha! Bukannya yang gila itu temen lo ya?" Balasnya terkekeh kecil.


Yora menatap tak percaya gadis di hadapannya yang sekarang ini juga tengah menatapnya sinis.


"Gue nggak nyangka lo gini, Lin ..." gumam Yora lirih.


"Emang gue kenapa? Gue cuma mau nyingkirin sampah di sekolah kita. Salah?"


"Jaga ya omongan lo!"


"Emang dia sampah 'kan? Sampah gila." tuturnya lagi sambil membenarkan rambutnya ke belakang.


"Jia kayak gini juga bukan salah dia!" Yora benar-benar merasa sakit dengan perkataan gadis di hadapannya beberapa detik yang lalu. Apalagi Jia, yang tepat berada di belakangnya.


"Terus salah siapa? Salah Lo? Iya salah lo karena lo pulang duluan waktu itu" tubuhnya sedikit maju mendekati Yora, "mending lo pikir-pikir lagi deh, buat temenan sama jal*ng gila itu."


Yora sudah tidak habis pikir dengan semua ucapan gadis di hadapannya. Matanya kini mulai memanas, dia tidak tega dengan Jia di belakangnya yang sudah pasti mendengar itu semua.


"Gue nggak nyangka."

__ADS_1


Singkatnya lalu menarik lengan Jia untuk pergi dari sini. Yora sudah benar-benar muak, dia berjalan cepat meninggalkan toilet dan menembus kerumunan murid-murid yang ternyata sejak tadi sudah ada disini.


Menonton mereka.


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


...───• ~⸙ᰰ~ •───...


Nanggala berjalan menyusuri jalanan yang masih basah ini. Hujan baru mereda beberapa menit yang lalu, lelaki itu akan berangkat bekerja. Pekerjaan barunya.


Ya, pagi tadi dia sudah pergi ke beberapa tempat kerjanya yang dulu, untuk menyerahkan surat pengunduran diri. Hanya beberapa, Nanggala juga masih mempertahankan pekerjaan yang memang benar-benar dia butuhkan.


Dari segi bayarannya.


Nanggala sudah meminta izin untuk berangkat sore, lagi pula yang dia jaga pun pasti pagi tadi tengah bersekolah, sedangkan dia akan bersekolah mulai besok. Dia sendiri tidak sabar untuk bersekolah lagi. Benar-benar tidak sabar.


Sebentar lagi dia akan merasakan belajar di kelas lagi, memiliki tugas lagi, mengikuti ujian lagi. Dan masih banyak lagi.


"Bun, besok Nangga mulai sekolah lagi."


"Bunda pasti senang, 'kan?"


"Nangga kangen sama Bunda ...."


Lelaki itu berhenti sejenak dan mendongakkan wajahnya, tersenyum tipis sambil memandangi langit abu-abu di atasnya. Hingga kakinya mulai melangkah lagi dan tidak terasa tubuhnya sudah sampai di depan gerbang besar berwarna hitam di hadapannya.


Dia juga ... tidak sabar bertemu dengan gadis itu lagi.


Nanggala langsung saja memasuki gerbang itu, dan menatap rumah besar berwarna putih di sana. Kakinya melangkah mendekati pintu dan membukanya. Karena kemarin sudah di pesankan oleh Dharma, jika dia ke rumah langsung masuk saja kalau dia menekan bell atau mengetuk tetapi tidak ada yang membukakan pintu.


Kan bisa saja bibi pembantu rumah tidak mendengar atau sedang ke pasar.


Prank!


Baru selangkah Nanggala memasuki rumah besar ini, dia sudah di kejutkan dengan suara seperti pecahan kaca dari dalam. Tubuhnya kemudian sedikit berlari untuk mencari sumber dari suara itu.


"Sssh, Jia! Lo punya mata, 'kan?!"


Nanggala bisa mendengar itu. Suaranya sepertinya berasal dari belakang.


"Hiks, maafin Jia ...."


"Nangis mulu lo kerjaannya!"


"Gue tau otak lo udah nggak bisa di pake! Tapi lo nggak buta, 'kan?!"


"Aaaaa!"


"Berisik!!"


Ketemu.


Nanggala menemukan asal suara itu berada, kakinya dengan cepat berlari lagi untuk mendekat ke arah mereka.


"Stop, Kak!"


Tubuhnya Nanggala posisikan di depan gadis itu, gadis yang duduk di lantai sambil tangannya yang menutupi kedua telingnya.


Dapat dia lihat, di samping tubuh Jia terdapat banyak pecahan beling di lantai, serta genangan air berwarna cokelat yang membasahi lantai berwarna putih itu.


"Minggir lo nggak usah ikut campur!" hardiknya cukup keras.


"Kakak nggak perlu main tangan juga, Kak!" Balas Nanggala tak kalah keras. Dia tidak peduli seseorang yang berada di hadapannya ini lebih tua darinya dan harus di hormati.


Dia memang melihat Jia tadi tengah di jambak rambutnya oleh kakak perempuannya itu. Dia benar-benar tidak tega melihatnya.


"Terus sama apa? Sama kaki? Gini?"


Matanya membulat dan terkejut saat dengan gerakan cepat gadis di hadapannya menendang adiknya sendiri dan mendorongnya ke belakang.


"Kak!"


"AAAAA! JIA MINTA MAAF! JIA SALAH HIKS! PAPAA JIA MINTA MAAF!! AAAAAA MAMAA!!!"


"ARGHHH, BERISIK SIALAN!!"


Nanggala dengan cepat menjongkokkan tubuhnya, memegang lengan gadis itu yang mulai memukuli kepalanya sendiri.


"Ada apa?"


Suara dingin khas yang entah datang dari mana itu membuat mereka berdua menoleh ke belakang.


Anak tertua di rumah ini, terlihat melangkah mendekati mereka, dengan wajah datarnya.


Nanggala memang tahu tentang saudara-saudara Jia yang lain selain Jerga, karena kemarin sempat Dharma ceritakan saat pertama kali dia ke rumah ini.


"Nggak usah bikin ribut di rumah." Janan Abhicandra.


Nanggala masih menatap mereka berdua dengan tatapan tak percaya, apalagi dengan yang perempuan tadi. Kenapa dia bisa berlaku seperti itu kepada adiknya sendiri?


Benar-benar tidak habis pikir.


"Lo? Anak yang di pekerjakan Papa buat jaga dia?"


Nanggala yang mendengar itu perlahan mulai berdiri, menatap Janan dan perlahan mulai mengulurkan tangan kananya kepada lelaki itu untuk bersalaman. Tetapi belum sempat di balas oleh Janan, sesuatu yang menghantam pipinya membuat dia lebih terkejut lagi.


Bugh!


Tubuhnya terhempas ke belakang dan jatuh setengah terduduk, yang entah karena apa dengan tiba-tiba Janan melayangkan pukulan ke pipi kirinya. Nanggala sedikit meringis memegangi pipinya yang mulai terasa nyeri.


Gadis yang berdiri di samping Janan hanya menatapnya dengan senyuman sinis. Kalau Nanggala tidak salah namanya adalah Jihan.


Hingga beberapa detik kemudian Nanggala bisa melihat kedua orang itu melangkah pergi dari sini tanpa sepatah kata pun. Dan tanpa rasa bersalah sedikit pun. Mereka itu kenapa? Mereka benar-benar, ah ... Mereka sama sekali tidak memperlakukan adik perempuan mereka itu seperti manusia. Apa mereka tidak punya hati?


Nanggala mengabaikan itu dan dengan cepat tubuhnya berbalik ke belakang, menyentuh pelan lengan gadis yang masih menutup kedua telinganya itu.


"Jia ... Nanggala disini ...."


Kemarin sudah sedikit berkenalan, dan gadis itu masih ingat dengannya. Nanggala cukup terkejut memang jika gadis itu mempunyai gangguan mental. Karena saat di taman bermain waktu itu, dia terlihat normal.


Nanggala memegang tangan gadis itu lembut, membuat kepala sang empu perlahan-lahan terangkat dan membuka matanya.


Mata mereka bertemu.


Jia menatapnya sayu dengan mata yang penuh dengan air mata.


"Nanggala disini ...."


"Kamu ... Orang baik yang waktu itu ...."


Dia lalu mengangguk dan tersenyum lembut, sepertinya Jia memang ingat dengannya.


"Iya ... Nanggala. Nanggala Aksha."


Bisa Nanggala lihat tatapan gadis itu juga sayu menatapnya. Masih ada ketakutan yang dia temukan di mata itu, tetapi bukan ketakutan kepadanya.


Karena saat ini dia merasakan tubuh itu sedikit meringsut mendekat ke tubuhnya, seperti meminta perlindungan kepadanya. Hingga selanjutnya Nanggala mendengar gadis itu menyebut namanya dengan suara yang bergetar.


"Nala ...."


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


...• To be continued •ㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...Vote dan komen setelah membaca yaa♡...

__ADS_1


...Ayo dukung author terus~!...


__ADS_2