NANGGALA AKSHA

NANGGALA AKSHA
31. Don't Cry


__ADS_3

Mobil berwarna hitam mengkilap itu baru aja sampai dan berhenti di samping gerbang sekolah, seseorang yang duduk di kursi kemudi melirik gadis di sampingnya dengan ekor matanya.


Inginnya mengantar sampai ke dalam, tetapi gadis itu tidak mau. Bahkan, sepanjang perjalanan mereka tadi kesini saja tidak ada satu kata pun yang gadis itu ucapkan kepadanya. Hanya diam, dengan pandangan yang terus menatap ke jendela di sampingnya.


Maldev menghembuskan napasnya pelan, di matikannya mesin-mesin mobilnya lalu memberanikan diri menatap ke samping.


"Nanti pulang aku jemput, ya?"


Tidak ada jawaban, Jia masih setengah menunduk menatap kosong ke dashboard mobil. Tetapi beberapa detik kemudian, kepalanya tanpa sadar mengangguk kecil.


Maldev lantas tersenyum, tangannya terangkat untuk menyentuh puncak kepala Jia, namun lebih dulu gadis itu menghindar dan menjauhkan kepalanya ke samping.


Lelaki itu hanya bisa tersenyum tipis dengan pandangan yang kini menatap pergerakan Jia yang mulai melepas sealtbet. Namun ketika tangannya akan membuka pintu, dia tiba-tiba mencekal lengan si gadis.


Jia menoleh bingung, apalagi melihat Maldev yang kini sudah keluar dari mobil dan berlari kecil ke arah kiri, hingga pintu sebelah kiri itu terbuka dan menampilkan lelaki itu yang masih setia tersenyum kepadanya.


"Baik-baik, ya? Ini juga—" ucapannya terhenti ketika Jia lagi-lagi menolak untuk di sentuhnya.


Tersenyum tipis, tangannya yang tadinya akan menyentuh perut besar Jia itu masih mengambang di udara. Maldev menurunkannya pelan, dia hanya memperhatikan gadis itu yang mulai berjalan menjauhinya untuk memasuki gerbang sekolah.


Maldev menatapnya sampai Jia benar-benar hilang dan memasuki area sekolah. Napasnya terhembus panjang. Kenapa dadanya terasa sesak?


Setelah memastikan gadis itu baik-baik saja, dia menutup lagi pintu di depannya. Pandangannya teralihkan dengan seseorang yang tengah menatapnya di belakang tak jauh dari mobilnya. Dia menatapnya datar lelaki itu, lelaki yang tengah duduk di atas sepeda sambil menatap ke arahnya juga.


Tidak memperdulikan itu, Maldev berjalan menuju jok kemudi lagi dan mulai menjalankan mobilnya lagi untuk pergi dari sini.


Nanggala di belakang sana terus menatap kepergian mobil itu dengan lesu, rasanya tidak ada semangat sedikit pun berangkat sekolah hari ini. Namun dia tidak boleh begitu. Dia menghembuskan napasnya, kakinya mulai mengayuh lagi sepeda yang tadi sempat lelaki itu hentikan.


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


...───• ~⸙ᰰ~ •───...


Bell masih lama sepertinya untuk berbunyi, banyak yang masih berkeliaran di koridor maupun di tempat lain.


Seperti halnya Haksa sekarang. Seperti biasa, lelaki itu pasti akan mengunjungi kelas kembarannya yang memang tepat di samping kelasnya.


Untuk mengganggunya. Untuk apalagi?


"Sumpah, Sa. Gue pengen banget masukin lo lagi ke dalam perut mamah." Sinis Rasen ketika Haksa terus memainkan rambutnya yang sudah dia tata rapi pagi ini.


"Ih, ya nggak muat lah, Ras!" seru Haksa sambil menarik rambut Rasen, membuat lelaki itu melotot ke arahnya.


"Nanti lo kangen sama guee. Iya, 'kan?"


"Najis."


Yora yang sejak tadi terus memperhatikan mereka hanya menggelengkan kepalanya, namun sesekali terkekeh juga jika keduanya sudah menggunakan tangan untuk bertengkar.


Sementara Jia, yang masih duduk di bangkunya itu hanya terdiam sejak tadi. Pandangannya kosong menatap mejanya sendiri. Sudah tidak ada Bonny yang di peluknya. Kini, gadis itu lebih sering memeluk perutnya sendiri untuk menenangkannya jika dia merasa bersedih.


Seperti saat ini.


Ketiga dari mereka mengalihkan pandangan kepada seseorang yang baru saja memasuki kelas, terus memperhatikan sampai lelaki itu duduk di bangkunya.


Jia yang merasakan ada seseorang yang baru saja duduk di sampingnya itu pun menoleh, dia langsung menatapnya dengan tatapan sayu.


Sementara Rasen, Haksa dan Yora kini hanya saling memandang dengan tatapan bingung.


"Nala ...."


Jia sedikit memiringkan posisi duduknya untuk menghadap Nanggala, dengan lelaki itu yang juga menoleh ke arahnya.


Merasa tidak sanggup menatap mata itu, Jia menundukkan kepalanya. Apalagi dengan senyuman lelaki itu yang sekarang di tunjukan kepadanya, dan saat itulah dadanya mendadak sakit.


"Hey?" suara lembut Nanggala membuat gadis itu mengangkat kepalanya lagi.


"Jangan sedih ...."


Jia semakin ingin menangis saat ini juga. Kenapa senyuman Nanggala begitu lembut? Kenapa senyuman itu begitu manis?


Tidak tahu kah dia? Jia sedang mati-matian menahan bibirnya agar tidak mengeluarkan suara isakan atau bahkan tangisan sekarang.


"Nala nggak papa ... Jangan sedih, hm?"


Sungguh, dadanya sangat sakit. Jia sakit melihat senyuman manis Nanggala yang bahkan dia tahu, pasti hatinya tidak tersenyum semanis itu saat ini.


Nanggala menutupi semuanya. Nanggala menutupi semua kesakitannya dengan senyum manis itu bahkan sejak dulu. Lelaki itu dengan pintar menutupinya.


Karena Nanggala hanya ingin satu.


Dia hanya ingin orang yang di sayangnya terus bahagia, tanpa memikirkan masalahnya yang tidak seharusnya mereka rasakan juga.


Cukup dirinya.


Cukup dirinya yang menerima dan menahan rasa sakit ini sendiri. Hingga perlahan hilang dengan seiring berjalannya waktu. Meskipun dia tahu, sebesar apapun sakit yang pernah dia rasakan meskipun semua itu sudah berlalu, bekasnya akan selalu ada.


Dan bukan hal yang tidak mungkin dia dengan tidak sengaja akan teringat itu kembali.


"Ikut gue."


Suara itu membuat Nanggala dan Jia mengangkat kepala mereka. Sementara tiga lainnya lagi juga menoleh menatap kehadiran Jerga yang tiba-tiba.


Sungguh, Rasen, Haksa dan juga Yora sejak tadi tidak tahu ingin berbicara atau bertanya apa. Mereka bingung.


Merasa perintah tadi di tunjukan kepadanya, Nanggala mulai beranjak dari duduknya dan mengikuti lelaki itu yang pergi keluar lebih dulu darinya. Entah Jerga akan membawanya kemana, dia sejak tadi hanya terdiam sambil terus berjalan di belakang lelaki itu.


Hingga langkah kaki Jerga terhenti, membuat Nanggala juga menghentikan langkahnya. Kepalanya mendongak dan bertemu pandang dengan lelaki itu yang baru saja membalikan tubuhnya tidak jauh darinya.


"Gue tetep nggak setuju soal kemarin."


"Lo tau sendiri. Papa gue bilang begini, ya harus begini."


Jerga mengalihkan pandangannya ke arah lain. Kenapa dia begitu sakit menatap mata sayu lelaki itu?


Menghembuskan napasnya pelan, Jerga kembali menatap Nanggala yang sejak tadi masih terdiam, "tapi itu bukan berarti gue juga bakal nyerahin kakak gue buat lo." Ujarnya terkekeh sinis.


Nanggala mengangguk pelan di sana, kedua sudut bibirnya tertarik, "gue ngerti, Jer."


Suara lembut Nanggala membuat Jerga kembali mengalihkan pandangannya.


Kenapa harus Nanggala lagi? Kenapa harus lelaki itu lagi yang di bencinya?


Jujur ... Jerga tidak ingin ada renggang lagi di persahabatan mereka. Tetapi, semua itu juga terlalu menyakitkan untuknya. Dia harus kehilangan sosok ibu di usianya yang masih kecil karena ayah lelaki itu.


Mengingatnya lagi membuat Jerga mengepalkan tangannya.


"Kak Jia udah mulai nunjukin perubahan. Dia nggak setakut dulu, dia kadang mulai berhenti main sama Bonny, dia jarang ngerasa cemas dan gugup sambil gigitin kuku jarinya sendiri," napasnya terhembus pelan, "gue takut, semua itu hilang lagi karena kembalinya cowok berengs*k itu."


Napasnya tertahan, Jerga kini benar-benar merasa marah. Otot-otot di tangannya sampai terlihat ketika lelaki itu mengepalkan kuat kedua telapak tangannya.


Nanggala mengerti. Kejadian dulu lah yang membuat Jia mengalami trauma seperti ini.

__ADS_1


"Gue bakal jagain Jia dari Maldev, sampai cowok itu pergi sendiri dari kehidupan Jia."


Jerga mendongak menatap Nanggala yang sejak tadi masih saja menunjukan senyumnya kepadanya.


"Gue bakal jagain Jia. Dan setelah Maldev bener-bener pergi, gue juga janji bakalan pergi dari hidup Jia."


Nanggala tersenyum.


"Lo nggak usah khawatit, Jer," langkahnya perlahan mendekat, "gue janji bakal pergi. Gue janji bakal tepatin itu." lanjutnya tersenyum sambil menepuk bahu Jerga pelan.


Sakit sekali mendengar itu. Kenapa Jerga merasa sangat sakit seperti ini? Dia tidak bisa menjawabnya, bibirnya tertutup rapat dan secara tidak sadar mulai bergetar.


Jerga hanya mampu terdiam hingga Nanggala yang mulai melangkah pergi dari sini. Pandangannya turun ke bawah, menatap jalanan yang di pijakinya kosong. Tak terasa matanya memanas.


Senyuman Nanggala masih setia terlihat di bibir itu, bahkan setelah dia pergi dari hadapan Jerga.


Namun, perlahan senyuman itu luntur bersamaan dengan langkahnya yang mulai berhenti, pandangan matanya kini sudah mengabur. Sesak, sangat sesak.


Kedua tangan Nanggala terangkat untuk memegangi kepalanya yang mulai berdenyut, matanya juga mulai terpejam.


Dia mohon jangan sekarang.


"Ahs ...."


Lelaki itu meringis lirih sambil mulai menarik rambutnya, kepalanya tiba-tiba terasa sakit lagi. Dan itu sangat sakit.


Nanggala ingin sekali berteriak. Dia tidak peduli dengan murid-murid yang tidak sengaja melihatnya saat mereka melewati jalanan ini, dia tidak peduli dengan tatapan aneh mereka.


Kepalanya ... terasa seperti akan pecah.


Bayangan-bayangan itu terputar di otaknya. Terputar seperti mozaik yang membuat kepalanya terasa sangat sakit. Hingga kilasan seperti kejadian di masa lalu itu semakin terlihat jelas di otaknya.


Bayangan yang menghantuinya di dalam mimpinya selama ini. Entah apa, kejadian itu seperti masa yang pernah di laluinya namun dia tidak bisa dengan jelas mengingatnya.


Nanggala membuka matanya pelan, tarikan kedua tangannya di rambutnya itu juga perlahan mengendur dan melemas, matanya menatap kosong ke depan.


Beberapa murid yang melihatnya sekarang benar-benar menatapnya dengan aneh, karena dia memang terlihat sedikit berantakan.


"Jia ...," napasnya terengah, matanya terpejam kala sakit itu menyerang kepalanya lagi, "Jia ... kamu ...."


Nanggala sedikit mengangkat kepalanya ketika bell masuk jam pertama baru saja berbunyi.


Kepalanya masih terasa sangat sakit, dia harus bagaimana? Tidak mungkin kembali ke kelas dalam keadaannya yang seperti ini. Jam pertama adalah mata pelajaran Shandy.


Tidak, Nanggala tidak akan masuk ke kelas seperti ini. Lebih baik dia melewatkan jam pertamanya daripada Jia melihatnya dengan keadaan yang seperti ini. Gadis itu tengah kacau, dia tidak mau menambahnya kacau.


Cukup dirinya saja.


"Arghh!!"


.......


.......


.......


Lelaki yang duduk di kursi meja belajarnya itu sejak beberapa menit yang lalu hanya diam sambil memandang kosong beberapa buku di depannya. Rasanya kepalanya sangat pening, dan dia tidak ingin melakukan apa-apa sekarang ini. Namun, tugasnya masih banyak dan harus selesai malam ini juga.


Baru pertama kali ini Jerga mengabaikan tugasnya selama beberapa hari ini. Masalah-masalah yang di alaminya membuat kepalanya sangat pusing dan benar-benar tidak ingin melakukan apapun.


Ketika di kamar, Jerga akan lebih banyak melamun. Entahlah, ketika dia melamun banyak sekali yang di pikirkannya.


Kematian sang ibu, Nanggala, kakak kembarnya, Maldev, bahkan ayahnya yang sekarang ini malah berpihak kepada lelaki tidak tahu malu itu.


Tetapi ... mengingat bagaimana kenyataan jika ayah Nanggala-lah yang membunuh ibunya, hatinya kembali terasa sakit. Dan membuat rasa benci itu muncul kembali.


"Ma, Jerga harus apa ...."


"Kenapa semuanya jahat sama Jerga ... Kenapa nggak ada yang sayang sama Jerga dan kak Jia ...."


"Bantuin Jerga hentiin Papa ... Jerga nggak mau kak Jia lebih sakit lagi ...."


"Jerga nggak tega ...."


"Kenapa mama pergi secepat ini ...."


Lelaki itu menundukkan wajahnya ketika di rasa air matanya sebentar lagi akan keluar. Dia menarik napasnya dalam dan menghembuskannya panjang lalu mengangkat kepalanya lagi. Tangan kanannya dia gunakan untuk mengusap pipinya yang sudah basah, lalu kembali menatap bingkai foto yang terletak di atas meja belajarnya itu.


Di sana, ketiga orang di sana tengah saling memeluk dan tersenyum manis menghadap kamera. Jerga sangat ingat, foto itu di ambil sebelum kembarannya berangkat ke Kanada untuk tinggal bersama neneknya. Dengan posisi Jerga yang menggendong Jia di punggung, dan sang ibu yang setengah berdiri di sebelah mereka sambil memeluknya hangat.


Jerga masih bisa merasakan kehangatan pelukan itu sampai saat ini.


"Jerga harus apa, ma ...."


"Jerga kangen mama ... hiks ...."


Lelaki itu meremas dengan kuat buku sekolahnya untuk melampiaskan rasa sakit di hatinya. Namun itu semua tidak berarti apa-apa, dia tahu hal itu tidak mungkin bisa mengurangi sakitnya.


Tatapan Jerga teralihkan dengan ponsel yang dia letakan tak jauh darinya, yang baru saja bergetar menandakan ada pesan line masuk.


Kak Deska


| Jer, Janan kemana deh? Gue abis kirim video buat kerja kelompok kita besok


| Tapi belum dia baca


| Gue telepon nggak di angkat


22.12


Menghembuskan napasnya panjang, jarinya mulai mengetik untuk membalas pesan itu.


^^^Nanti coba gue cek di kamar, kak |^^^


^^^22.13^^^


Jerga mulai beranjak setelah membalasnya. Dia mengusap lagi air matanya dan melangkah untuk menuju kamar kakak tertuanya itu, yang letaknya tidak begitu jauh dari kamarnya.


Meskipun sejak dulu hubungannya dengan sang kakak tidak begitu dekat, namun Jerga memang mengenal teman kakaknya yang bernama Deska itu. Ada satu lagi, namun dia tidak begitu tahu dan tidak mengenalnya.


Malah sepertinya, dia lebih dekat dengan Deska daripada kakaknya sendiri.


Tok tok


"Kak?"


Lama tidak ada jawaban, Jerga memberanikan diri memasuki kamar Janan yang tidak terkunci. Pandangannya mengendar ke seluruh ruangan.


Kamar Janan itu sangat rapi, hampir sama dengan kamarnya. Tetapi kalau kamar Janan lebih banyak terisi dengan buku-buku kedokteran miliknya.


"Kak?"

__ADS_1


Jerga mendekati meja belajar kakaknya. Di sana dia bisa melihat ponsel sang kakak yang terletak di atas meja. Kakaknya kemana? Apakah ponselnya tertinggal?


Akhirnya, Jerga meraih benda itu, membukanya dan langsung menampilkan layar lockscreen-nya. Benar saja, ada pesan whatsapp dari Deska yang belum terbaca, dan juga empat misscall dari lelaki itu.


Ibu jarinya mengusap ke atas hingga layar lockscreen itu terbuka. Namun saat membukanya, ponsel itu langsung membawanya ke sebuah tampilan video yang sepertinya sedang Janan tonton tadi.


Dahinya mengerut. Video apa? Kenapa ada sosok ayahnya disana?


Jerga menekan tombol play di video yang terjeda itu, hingga videonya pun langsung terputar.


Awalanya, Jerga masih menonton itu dengan tenang, namun lama-kelamaan dahinya mengerut lagi, hingga tergantikan dengan matanya yang mulai membulat lebar.


Tubuhnya terasa lemas, tangan yang menggenggam ponsel itu juga bergetar dan nyaris akan terjatuh.


Jerga menjatuhkan diri di kursi kakaknya, tubuhnya benar-benar tidak bisa di gerakkan sedikitpun. Bergetar, matanya memanas, pandangannya mengabur, dan kepala yang dia rasakan mulai pening lagi.


"N-nggak ...."


Matanya fokus lagi dengan video yang masih terputar, hingga tidak terasa air matanya mulai turun lagi. Tangannya meremas kuat ponsel itu.


Napasnya benar-benar seperti tertahan dan terasa sangat sesak.


Cklek


Suara pintu yang terbuka itu saja tidak membuat Jerga mengalihkan pandangannya.


Janan disana, menatap bingung lelaki yang tengah duduk di kursi yang tadi dia gunakan untuk belajar itu. Dia tahu kalau itu Jerga. Tetapi sedang apa adiknya disini?


Matanya membulat ketika sadar Jerga seperti tengah menatap sesuatu, dia mempercepat langkahnya dan langsung merampas benda yang berada di genggaman anak itu.


Jerga ... sudah menangis.


Janan sungguh menyesal meninggalkan ponselnya di sini.


"Maksudnya apa, Kak ..." tanya Jerga dengan bibir bergetar.


Kepalanya terangkat, dan mata mereka langsung bertemu. Janan mulai merasa sesak menatap mata penuh air mata adiknya.


"Maksudnya apa, Kak!!"


"Jer—"


"Papa yang bunuh mama ...?" napasnya tercekat melontarkan kata-kata itu.


Tubuh Janan-pun mematung, dia benar-benar tidak bisa menjawab pertanyaan sang adik.


"Kenapa lo sembunyiin ini ... Kenapa lo sembunyiin ini dari gue, berengs*k?!"


"Jaga mulut lo, Jerga!!"


Kini si adik sudah beranjak dari duduknya, berdiri di hadapan si kakak dengan tatapan tajam meminta penjelasan.


"Kenapa lo sembunyiin ini dari kita!!"


"Gue nggak pernah berniat sembunyiin itu!!"


Janan mengatur napasnya yang mulai tidak teratur. Sama, napasnya terasa tercekat. Matanya yang sejak tadi melotot itu kini mulai melemas.


"Gue terlalu sakit waktu itu ... Gue bodoh, gue terus nyalahin diri sendiri kenapa nggak bisa nolongin mama."


"Kenapa gue nggak bisa nolongin mama saat itu ...."


Jerga tertegun mendengarnya. Dia teringat sesuatu.


Tatapannya kini mulai sayu sudah tidak seperti tadi. Dia masih belum membuka mulutnya lagi dan ingin mendengarkan apa yang akan kakaknya itu katakan selanjutnya.


"Gue benci sama diri gue sendiri."


"Gue selama ini nyimpen ini karena gue sendiri yang akan seret papa ke penjara. Gue waktu itu masih ragu, g-gue masih takut. Gue tau, cuma dengan video itu mungkin susah buat bawa ke polisi."


"Dan lo pikir, diemnya gue karena gue sama kayak papa? Karena gue di sayang papa?"


Janan terkekeh kecil, "nggak, Jer."


"Gue muak. Gue muak sama orang itu. Gue nggak pernah mau ngomong sama kalian karena gue malu, gue bener-bener benci, gue malu. Gue secara nggak langsung biarin mama meninggal. Gue secara nggak langsung yang buat kalian kehilangan mama. Gue nyesel, Jer ...."


Jerga masih mendengarkan itu dengan dada yang sakit, dia bisa melihat mata kakaknya juga mulai memerah dan berkaca.


Baru kali ini kakaknya berbicara panjang lebar seperti itu.


"Waktu gue udah ngerasa yakin buat bilang dan udah mau serahin video itu ke polisi, dengan adanya gue juga yang jadi saksi, tapi Jia ... Jia yang waktu itu tiba-tiba stres berat, sampe ngerusak mentalnya. Jia yang depresi, Jia yang trauma, gue lebih-lebih nyesel ... Gue nggak bisa jagain dia sebagai kakak yang paling tua ... Kakak nggak bisa jagain adik kecil Kakak ...."


Janan mengusap matanya dengan gerakan kasar. Terlalu sakit untuk mengingat semua itu.


Terlalu sakit untuk mengingat kembali.


"Maaf gue selalu diem dari dulu ... Maaf gue nggak pernah perhatian sama kalian dari dulu. Gue anak tertua yang harusnya jaga dan lindungin kalian. Tapi gue bodoh ...."


"Gue sayang kalian ... Adik-adik Kakak ...."


Jerga seperti sudah merasa tak sanggup mendengar itu semua. Kakaknya yang selama ini dia benci, ternyata menyimpan perasaan sakit yang lebih-lebih dari dirinya.


Janan tersenyum hangat dan membawa adik bungsunya itu untuk duduk di pinggir ranjang miliknya, kemudian membawa tubuh anak itu ke dalam pelukannya. Dia tahu, pasti Jerga sekarang ini sangat terkejut setelah mendengarnya, dan juga melihat video yang direkamnya langsung olehnya.


Kini, terdengar adiknya mulai menangis lagi di pelukannya.


"Gue tambah terpukul. Jia yang awalnya nggak separah itu, jadi semakin parah setelah liat ini."


Jerga yang mendengarnya lalu merenggangkan pelukannya, "maksud Kakak?"


"Jia udah liat video ini beberapa bulan yang lalu, waktu dia masuk ke kamar ini sendiri. Dan, Jia jadi lebih trauma karena itu."


Mata Janan menatap adiknya sayu, "gue bodoh ... Maafin Kakak, Jer ...."


Hingga malam ini, kamar miliknya hanya terisi oleh isakan-isakan Jerga yang terdengar begitu menyesakkan untuk Janan.


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...• To be continued •...


...ㅤㅤㅤㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...Hayoo jangan mewekk><...

__ADS_1


...Jangan lupa komennya yaa buat penyemangat author xixi, dan jangan lupa share ke teman kalian jugaa...


__ADS_2